Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Hari Pernikahan.


__ADS_3

Pagi hari semua sudah siap akan ke pesta pernikahan Khanza dan Damar.


Farah, Dev dan Lucia sudah siap dengan penampilan mereka. Dev terlihat tampan dengan jas yang dikenakannya, tubuh tegap dan tinggi Khas warga Amerika. Farah yang tak Kalah cantik dengan gaun yang berwarna senada dengan gaun yang digunakan Lucia, gadis cantik bermata biru dan berambut pirang sebahu dan menambah bandana yang berwarna senada dengan gaun mereka. Menjadikan mereka terlihat begitu sangat terasi.


Mereka semua menghampiri kediaman Abizar, mereka akan pergi bersama ke acara Khanza.


Di kediaman Abizar.


Setelah melewati drama pagi akhir Abizar bisa membujuk Aziel untuk mandi.


Saat bangun, Aziel mencari Aisyah, setelah mendengar penjelasan papanya Aziel ngambek dan tak mau mandi dan memakai pakaiannya.


Abizar menjanjikan akan mengizinkannya memainkan ponsel selama 2 jam barulah Aziel mau mandi.


Sekarang ia tak mau memakai bajunya. Ia marah pada papanya yang membawa Aisyah pulang dan tak membawanya juga.


"Aziel pakai bajunya! Kita mau ke mama sekarang, kalau kamu nggak pakai bajunya nanti kita bisa terlambat ke pernikahan mama," jelas Abizar.


"Apa kalau kita tidak datang pernikahannya akan di batalkan?"


"Tidak, mama akan tetap menikah, jadi jangan mengambil alasan tak mau datang agar mama batal menikah."


"Itu Lucia sudah datang. Apa kamu mau tinggal sendiri di rumah?" tambah Abizar saat melihat mobil Dev sudah memasuki pekarangan rumahnya.


Aziel yang masih memakai handuk berlari melihat ke jendela yang benar jika Lucia sudah datang dengan gaun yang begitu cantik.


"Ya Udah, Pah. Aziel pakai baju," ucapnya kemudian.


Aziel sudah siap dengan kemejanya, terlihat begitu tampan. Ia langsung berlari turun dan bermain bersama dengan Lucia sambil menunggu yang lainnya.


Warda dan Santi juga sudah siap dengan kebaya mereka.


"Ziel Papa dan adik Aisyah mana?" tanya Farah yang hanya melihat Aziel yang turun sendiri.


"Aisyah sudah pulang semalam," jawab Warda. " Semalam Aisyah terbangun dan menangis. Abizar membawanya pulang."


"Lalu mas Abi kemana? Ini sudah jam berapa?" Farah melihat Jam tangannya dan jam menunjukkan pukul 8 sementara acara akan dilaksanakan pukul 10. jaraknya lumayan jauh belum lagi jika terkena macet.


"Abi … kita bisa ketinggalan prosesi pernikahannya, ayo kita berangkat sekarang," teriak Warda menaiki tangga. Ia menyusul putranya yang tak ada tanda-tanda akan keluar kamar


"Tadi Papa baru mandi, saat Aziel turun."


"Oh, yaudah. Kita tunggu saja." Mereka mengerti jika Abizar pasti mengurus Aziel yang terlebih dahulu kemudian bersiap-siap.


Di kamar Abizar.


Abizar sebenarnya sudah siap. Namun, ia ragu untuk pergi. Apakah hatinya siap untuk menerima semuanya, akankah ia siap melihat Damar menyebutkan nama Khanza dalam ijab kabulnya.


Ia Duduk disisi tempat tidur, terus merenungi apa yang akan terjadi beberapa jam kedepan.


Lama ia duduk menenangkan hatinya hingga terdengar teriakan mamanya.


Abizar menguatkan hatinya, ia akan datang menghadiri Pesta mantan istrinya. Ia harus pergi dan berusaha menerima semuanya.


"Ayo kita berangkat! Yang lain udah di mobil. Kamu baik-baik saja 'kan?"


"Iya, Mah. Aku baik-baik saja."


"Jika kamu tak sanggup, sebaiknya kamu jangan memaksa untuk datang. Anak-anakmu biar Mama yang mengurus mereka."


"Nggak apa-apa, Mah. Aku bisa melalui semua ini."


Mereka pun turun dan menghampiri yang lainnya.


"Kamu lama banget sih Mas? Kita bisa telat. Masa ia kita menjadi tamu yang tak ikut menyaksikan akad nikahnya."


"Iya, ayo cepat, sebagai kita berangkat sekarang." Warda sudah masuk ke mobil Abizar bersama Aziel dan yang lain ke mobil Dev.


Ponsel Abizar berdering dan itu panggilan dari Fahri.


"Halo Fahri? Ada apa?" tanyanya.


"Klien kita di luar negeri tiba-tiba mengadakan rapat dadakan dan mereka ingin bertemu langsung denganmu. Mereka menolak jika aku yang mewakilimu," jelas Fahri.


Abizar melihat jamnya, "Sekarang sudah jam 8.30. Masih ada waktu."


"Mah, aku ada urusan penting, Mama dan yang lainnya pergilah lebih dulu, biar supir yang mengantarkan kalian."


"Iya, baiklah. Kami akan menunggumu disana."


Mereka pun pergi meninggalkan Abizar dan Abizar sendiri menggunakan mobil lainnya menuju ke tempat diadakannya Rapat.


Di kediaman Khanza.


Acara sebentar lagi akan dimulai, Khanza sudah siap dengan gaun pengantinnya. Walau bukan lagi seorang gadis. Namun, Khanza tetap terlihat sangat cantik.

__ADS_1


Khanza sudah memiliki dia anak, tapi badannya masih tetap langsing dan bisa dikatakan ia bahkan lebih cantik saat pernikahan keduanya dibanding yang pertama.


"Bude, Aziel dan yang lainnya belum datang ya?" tanya Khanza yang sedari tadi gelisa saat Abizar dan Aziel serta yang lainnya belum datang.


"Belum, Bude sudah menelepon Farah mereka sebenar lagi sampai."


"Syukurlah jika mereka bisa datang tempat waktu," ucap Khanza legah, ia ingin mereka juga menyaksikan proses ijab kabulnya.


Damar Sudah menunggu di meja penghulu. Jika hari ini Khanza ratunya Damar adalah rajanya. Ia terlihat semakin tampan dengan pakaian pengantin berwarna putih bersih, senada dengan gaun Khanza.


Tak lama kemudian Rombongan Warda memasuki tempat acara, Bude Maya langsung menyambut mereka dan mempersilahkan ikut bergabung dengan tamu lainnya.


"Abizar mana?" tanya Bude yang tak melihat Abizar ikut bersama mereka.


"Iya sedang ada pekerjaan, tapi dia akan usahakan datang sebelum acaranya," jawab Warda.


Bude menghampiri Khanza yang sudah duduk di tempat mempelai perempuan. Menunggu panggilan saat ijab kabul akan dilaksanakan.


"Aziel sudah datang," ucap Bude.


Khanza meresa senang mendengarnya.


Sementara itu Abizar sedang rapat di sebuah restoran mewah. Mereka sedang membahas proyek kerjasama mereka dan akan menandatangani kontrak kerjasamanya hari ini.


Sepanjang pertemuan Abizar terus melihat jamnya.


Klien yang mengerti jika sepertinya Abizar memiliki urusan penting, mereka pun mempercepat proses penandatanganan kerjasamanya.


"Terima kasih Pak atas pengertiannya saya benar-benar sangat berburu," ucap Abizar menjabat tangan para rekan bisnisnya.


"Sama-sama, Pak." ucap mereka, Abizar langsung meninggalkan tempat tersebut dan sisanya diselesaikan oleh Fahri.


"30 menit lagi, aku harus bisa sampai ke sana."


Abizar mengendarai kendaraannya di luar batas kecepatan normal, ia menyalip kendaraan yang menghalanginya.


"Semoga saja aku tidak terlambat," gumamnya masih memacu kendaraannya.


Sementara itu di tempat lain Khanza sudah dipanggil untuk duduk di samping Damar. Aziel juga ikut duduk di samping mamanya.


Tadinya Khanza merasa lega saat melihat mereka semua datang. Namun, saat berjalan menuju Damar ia memperhatikan semua tamu dan ia tak melihat Abizar.


"Aziel, Papa dimana?" tanya Khanza.


Penghulu sudah mulai membacakan syarat-syarat pernikahan dan menanyakan jika mereka berdua benar-benar siap untuk menikah dan dijawab iya oleh Khanza dan juga Damar.


"Mas Abi belum datang ya, Mah? Acaranya akan dimulai," bisik Farah.


"Iya, sepertinya Abizar belum datang." Warda kemudian menelepon Abizar berkali-kali, juga tak di menjawab.


"Apa dia masih rapat ya? Jadi tak menjawab panggilan, Mama?" ucap Warda.


"Coba sekali lagi, Mah." pinta Farah.


Warda kembali mencoba menghubungi Abizar dan tersambung.


"Halo, Abizar. Kamu dimana?" tanya Warda.


"Ini masih di jalan, Mah. Sebentar lagi Abi sampai."


"Cepatlah sebentar lagi mereka akan ijab Kabul."


"Iya, Mah." Abizar langsung matikan panggilannya.


Abizar yang mendengar jika Khanza sebentar lagi akan melaksanakan ijab Kabul semakin menginjak gasnya, entah mengapa ada rasa tak rela di hatinya dan ia ingin menggagalkan semuanya.


Bayangan kebersamaannya dengan khanza terus terbayang, begitu juga dengan keseruan mereka dengan anak-anaknya. Belum lagi tatapan mata Aziel yang selalu meminta agar ia dan Khanza kembali bersama.


Ponselnya lagi-lagi berdering.


Abizar melihat itu panggilan dari mamanya.


Saat ingin meraih tiba-tiba ponselnya terjatuh.


Abizar berusaha menjangkaunya tanpa mengurangi kecepatannya.


Dengan susah akhirnya ia dapat menjangkau ponselnya dan mengangkat panggilan dari Mamanya.


"Ia, Mah? Ada apa?" tanya Abizar fokus ke jalan.


"Kamu di mana? Apa masih lama?"


Baru saja Abizar ingin menjawab pertanyaan mamanya, ada sepeda motor yang tiba-tiba menyeberang di depannya membuat Abizan langsung membanting setir menghindari sepeda motor tersebut.


Dengan kecepatan diatas batas normal membuat Abizar tak bisa menguasai kendaraannya, Abizar menabrak pembatas jalan dengan keras menyebabkan mobilnya terpental jauh dan terguling hingga beberapa kali.

__ADS_1


Warda membungkam mulutnya dengan salah satu tangannya saat mendengar suara benturan keras. Warda menatung Perlahan, tubuhnya melemah, hampir saja ia terjatuh beruntung ada Fatah yang dengan sigap menahan tubuhnya.


"Ada apa, Mah?" tanya Farah ikut panik melihat wajah pucat Warda.


Dev mengambil ponsel Warda yang sudah lolos dari genggamannya.


"Hallo?" Dev mencoba mencari tau apa yang terjadi melalui sambungan telepon yang masih terhubung.


Dev bisa mendengar kegaduhan disana.


"Hallo? Ada yang mendengarkanku?" Dev terus memanggil berharap ada yang mendengarnya.


"Bagaimana?" tanya Farah melihat pada Dev. Dev menggeleng. Ia mematikan sambungnya dan kembalilah melakukan panggilan ke nomor Abizar.


Warda sudah lemas bersandar di pelukan Farah dia masih syok dan tak bisa berkata apa-apa.


Bude yang melihat itu semua menghampiri.


"Apa apa, Bu?" tanyanya Khawatir melihat kondisi Warda.


Panggilan ke empat ada yang mengangkat panggilan Dev.


"Hallo, Abizar?" Panggilan.


Farah langsung mengambil ponsel yang dipegang Dev dan mengaktifkan pengeras suaranya.


"Halo mas Abi?"


"Maaf Bu, pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan sudah dibawa kerumah sakit X, kondisinya sangat parah, tolong jika ibu tau beritahu keluarganya!" ucap salah satu orang yang menolong Abizar.


Warda semakin melemah mendengar kabar itu. Tak ada suara Isak tangis yang keluar dari mulut hanya airmata yang menetes.


Semua sangat terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengarkan.


Dev dan Daniel yang juga mendengar kabar itu, membantu Warda ke Mobil dan mereka langsung menuju ke Rumah Sakit X.


"Ada apa?" tanya Aqila pada Daniel.


"Abizar kecelakaan aku akan kerumah sakit. Katanya kondisinya parah."


Aqila langsung berlari, ia ingin memberi tahu Khanza apa yang sedang terjadi.


Sementara Bude minta Supir mengantar ke rumah sakit. Mendengarkan jika keadaan Abizar yang parah Bude langsung berpikir negatif dan ingin membawa anak-anak Abizar bertemu dengan papa mereka.


"Ada apa ini?" tanya Khanza melihat kepanikan mereka.


"Aku juga tak tau, seperti ada yang tak beres," ucap Damar.


Aqila menghampiri Khanza.


"Abizar kecelakaan dan kondisinya parah."


"Apa?" Pekik Khanza tak percaya.


Damar langsung menarik Khanza dan Aziel.


Ia melihat Bude sedang berlari menghampiri mereka.


"Kita kerumah sakit sekarang," ucap Damar langsung membawa


Khanza, anak-anaknya, Aqila serta Bude kerumah sakit.


Damar juga mendengar kabar dari temannya jika Kondisi Abizar sangat parah.


UGD.


Mereka menghentikan langkahnya saat melihat Warda sudah pingsan dan Farah yang terus menangis di pelukan Dev.


Khanza melihat pada Daniel yang juga ada di sana. Samar Daniel menggelang dan menunduk.


Khanza perlahan berjalan mendekati mereka.


Daniel menunjuk ke salah satu ranjang pasien, Khanza melihat ke arah yang ditunjuk Daniel.


Hanya ada Satu ranjang pasien disana.


Khanza membekap mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat seseorang berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan kain yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha 🥰🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2