
Sepulang dari kebun binatang, Mereka langsung ke rumah lama. Mereka pulang saat menjelang magrib dan Aziel sudah tertidur karena kelelahan.
Aziel mendapat giliran bersama dengan Farah sedangkan Abizar masih menginap di rumah Khanza.
"Kami pulang dulu," pamit Abizar setelah menidurkan Aziel di kamarnya.
Khanza mengecup kening putranya,
"Mama pulang dulu ya, Aziel baik-baik disini," ucapnya pada Aziel yang sedang tertidur pulas.
Abizar juga mencium kening putranya sebelum pergi begitu juga dengan Farah.
"Mas ke rumah Khanza dulu, ya," ucapnya yang mendapat anggukan dari istri pertamanya itu.
Selama Aziel sudah tidur di kamarnya sendiri Farah ikut tidur disana menemaninya saat Abizar tidur di rumah Khanza.
Saat di mobil.
Abizar terus memikirkan apa yang Mama Santi katakan.
"Khanza," panggil Abizar sambil terus fokus mengemudi.
"Ada apa, Kak?" tanya Khanza menoleh pada suaminya.
"Kita ke rumah sakit, ya!" ucap Abizar menatap sebentar pada Khanza kemudian kembali fokus pada jalan raya.
"Rumah sakit?" tanya Khanza memasang wajah bingung nya, mengeryitkan keningnya menatap suaminya penuh tanya.
"Iya, kita ke rumah sakit dulu," ucap Abizar mengubah arah mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Mas, sakit?"
"Nggak kok, kita kan sudah lama nggak periksa, kita periksa aja," ucapnya.
"Oh …" ucap Khanza mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh suaminya. Ia terakhir memeriksakan kesehatannya sudah sangat lama.
Mereka sampai di parkiran rumah sakit, jantung Khanza langsung berdebar kencang, ia masih trauma dengan suasana rumah sakit.
Mereka berjalan beriringan, Abizar tau jika Khanza masih enggan menginjakkan kakinya ke rumah sakit. Ini pertama kalinya ia kerumah sakit setelah melahirkan Aziel, jika membutuhkan dokter Abizar akan langsung mendatangkan dokter ke kediamannya.
Sebelumnya Abizar sudah menelpon dokter yang menangani persalinan Aziel dulu, memberitahu jika ia ingin kembali melakukan check up tentang kondisi rahim Khanza, berencana ingin memulai program kehamilan. Namun, Abizar merahasiakan itu semua dari Khanza, ia ingin tahu terlebih dahulu kondisi rahim Khanza apakah sudah siap untuk kembali melahirkan lagi, setelah yakin semua baik barulah ia mengutarakan niatnya pada Khanza.
Abizar tak memberitahu Khanza lebih dulu karena biasanya setiap membahas masalah untuk memiliki anak lagi Khanza akan selalu menolak.
Begitu Abizar datang dia sudah disambut oleh perawat, dokter sudah menunggu untuk melakukan pemeriksaan.
"Mari pak, ikut saya," ucap suster.
Khanza dan Abizar mengikuti kemana suster itu pergi.
__ADS_1
"Kak, kok kita kebagian dokter kandungan?" tanya Khanza yang tahu kemana mereka akan pergi.
Abizar tak menjawab.
"Kakak nggak berencana ingin punya anak lagi kan?" tanya Khanza menghentikan langkahnya.
"Kita cek aja dulu. Nanti kita bahas masalah itu," ucap Abizar kembali menggenggam tangan Khanza untuk berjalan masuk kedalam ruangan dokter kandungan.
Khanza menepis tangan Abizar,
"Kak, aku belum siap," ucap Khanza tetap berdiri di tempatnya.
"Iya, aku tahu. Kita hanya mengeceknya saja."
Abizar terus membujuk Khanza untuk masuk ke dalam ruangan dokter, setelah dibujuk beberapa lama akhirnya Khanza pun masuk walau dengan perasaan kesal.
Setelah melakukan beberapa rangkaian tes dan pemeriksaan, Abizar dipersilahkan duduk di depan dokter.
"Bagaimana Dokter, kandungan istri saya?" tanya Abizar.
"Kandungan Ibu baik-baik saja dan sudah tak ada masalah lagi untuk bisa hamil kembali. Anda bisa memulai proses program kehamilan."
"Nggak Dokter, aku nggak mau hamil lagi. Aku belum siap," jawab Khanza.
Dokter melihat Abizar, Ia berpikir mereka sudah sepakat untuk melakukan program kehamilan.
Mereka berjalan di lorong Rumah Sakit, Khanza berjalan lebih dulu. Ia tak ingin sejajar dengan Abizar.
Abizar mengalah, dia tahu jika istrinya itu sedang marah padanya, dia hanya mengikutinya dari belakang.
Sepanjang perjalanan pulang Khanza juga terus diam dan memasang wajah juteknya.
Mereka sampai di rumah, Abizar memarkirkan mobilnya di garasi.
"Kakak jahat banget sih, kita kan sudah sepakat untuk tidak membahas masalah memberikan adik kepada Ziel, tapi apa yang tadi kakak lakukan, kakak punya rencanakan untuk aku bisa hamil lagi, Kan," ucap Khanza melipat tangannya didada menatap tajam pada suaminya.
"Aku kan sudah bilang, kita hanya mengeceknya dulu, masalah program kita bisa bahas lagi nanti."
"Tapi, Kakak punya niat kan biar aku hamil lagi."
"Kalau niat tentu saja, aku sangat ingin kita mempunyai anak lagi, tapi tentu saja itu harus dengan persetujuan kamu juga," jelasnya.
Abizar menggenggam tangan Khanza,
"Apa kau tak ingin kita punya anak lagi, kita bisa bermain dengan anak-anak Kita."
"Kak, aku masih takut. aku masih trauma. Bagaimana jika kejadian Aziel dulu terulang lagi, bagaimana saat aku melahirkan aku … Aku ingin melihat Aziel besar Kak," ucapnya dengan suara bergetar. Air matanya sudah menetes, isakan kecil tak berhasil di tahannya.
Dalam hati Khanza juga ingin memiliki anak lagi, memberikan adik pada Aziel. Namun, bayangan akan kematian saat persalinan terus saja menghantuinya. Ia sangat bersyukur bisa selamat saat melahirkan Aziel, waktu itu Ia bahkan berpikir jika bisa tak bisa melihat putranya itu.
__ADS_1
"Maaf, aku tak akan memaksamu, aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap untuk memberi adik buat Aziel."
Abizar merasa bersalah, entah mengapa kata-kata Santi terus saja terngiang di kepalanya. Ucapan putranya yang selalu ingin menghabiskan waktu bersamanya terus terngiang. Bayangan akan memiliki banyak waktu bermain bersama anak-anak kelak terus terbayang di benaknya.
"Apa yang aku lakukan, aku sudah menyakiti hatinya lagi," batin Abizar mempererat pelukannya.
Setelah lama menangis dan sabun mulai menguasai dirinya dan mencoba untuk tenang. Khanza melepas pelukannya.
"Kakak janji ya, jangan maksa aku untuk melahirkan lagi!" Ucapnnya sambil mengusap air matanya.
"Iya, aku janji akan menunggu sampai kau benar-benar siap untuk melahirkan. Terima kasih sudah memberi Aziel, Putra kita sudah cukup. Kita akan membesarkannya bersama-sama." ucapnya Abizar merasa bersalah.
Sementara itu di rumah lama Aziel terus menangis saat terbangun, ia terus mencari Papanya.
"Ziel, papa 'kan lagi di rumah mama, Aziel sama bubu ya," ucap Farah terus membujuk Aziel. Namun, Aziel terus menangis sampai suara anak itu parau.
"Mah, bagaimana ini," Farah mulai panik saat sudah berjam-jam Aziel tak juga berhenti menangis.
Warda yang merasa kasihan kepada cucunya langsung menelpon Abizar.
"Halo, Mah! Ada apa?" tanya Abizar saat mendapat telepon di tengah malam dari mamanya.
"Kamu bisa kesini? Aziel Sudah dari tadi menangis mencarimu," ucap Warda.
"Ziel? tak biasanya dia menangis, Mah?" tanya Abizar yang juga bisa mendengar suara tangis anaknya.
"Mama juga nggak tahu, dia terbangun dan langsung mencarimu, Ziel terus menangis sampai sekarang."
"Ya sudah, Abi kesana sekarang," ucap Abizar mematikan panggilannya.
"Ada apa kak?" tanya Khanza juga terbangun saat mendengar suara dering ponsel Abizar.
"Aziel terbangun dan menangis mencariku, aku kesana dulu, ya!" izin Abizar.
Khanza hanya mengangguk.
Abizar mengecup kening Khanza sebelum beranjak dari tempat tidur, terburu-buru mengambil kunci mobil dan memakai jaket.
Khanza hanya melihat suaminya itu pergi hilang di balik pintu dan menghela nafas, kemudian mengambil bantal guling kembali mencoba untuk tidur.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1