
Farah juga telah datang untuk menghadiri acara pernikahan Khanza. Namun, Dev dan Lucia tak bisa ikut. Mereka akan datang sehari sebelum acara dilaksanakan acara pernikahan Khanza, berhubung Lucia yang sekolah dan Dev yang memiliki pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan.
"Sepertinya pernikahan ini tak bisa dihentikan lagi," ucap Wardah duduk disamping Farah yang sedang memangku Aisyah.
Hari ini Warda kembali mengambil Aisyah karena Khanza harus mengurus persiapan Pernikahan yang Tinggal beberapa hari lagi.
Aisyah hanya kau dijaga Oleh Warda apabila Khanza Sedang Sibuk.
"Sudahlah, Bu. Aku juga sudah menyerah membujuk Mas Abi, sepertinya memang ini keputusan yang mas Abi inginkan, kita tak bisa memaksakan apa yang kita inginkan padanya."
"Kamu benar, mungkin semuanya akan lebih baik jika kita juga bisa menerima semuanya."
"Walaupun Khanza sudah tak disampingnya setidaknya Aisyah dan Aziel bisa menghibur Abizar, aku yakin suatu saat nanti mas Abi akan menemukan wanita yang cocok dengannya." Harapan Farah yang di aminkan oleh Warda.
Setiap Ibu pasti menginginkan kebahagiaan untuk anak-anaknya dan Warda yakin kebahagiaan Abizar adalah Khanza. Namun, ia tak bisa memaksakan kehendaknya agar mereka bersatu, ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka Semua.
Sore hari Khanza menjemput Aisyah dan Aziel, Ia sangat senang saat bertemu dengan Farah.
"Mbak Farah, kapan Mbak Farah datang?" tanya Khanza menghampiri Farah dan memeluknya.
"Iya, mbak baru saja datang. Mbak sudah mendengar pernikahanmu dari Mama, makanya mbak datang, masa adik Mbak mau nikah mbaknya nggak datang," ucap Farah kembali memeluk Khanza.
"Kebetulan Mbak, Nenek mengundang semuanya untuk acara malam di rumah, kalian datang ya?"
"Iya, tentu saja kami akan datang."
"Kami pulang dulu ya mbak, kita ketemu lagi nanti di rumah," ucap Khanza terlihat begitu bahagia.
Khanza juga mengundang keluarga Damar untuk datang berkumpul malam ini di kediamannya.
Malam hari,
Kehangatan keluarga pecah di halaman rumah rumah Khanza, mereka larut dalam keseruan, kebersamaan dengan keluarga Damar. Daniel dan Aqila juga turut dalam acara tersebut.
Mereka mengadakan acara barbeque di halaman.
Tak lama kemudian Farah yang datang bersama dengan Warda dan Abizar.
Khanza yang melihat mereka datang langsung menghampiri mereka.
"Ayo masuk, Mah, Kak Abi." seru Khanza mempersilahkan mereka berdua masuk dan bergabung dengan yang lainnya, sementara Farah diajak ikut bergabung menyiapkan makanan untuk mereka semua.
Farah bisa melihat kedekatan Khanza dan juga Damar.
Kemudian ia melihat Abizar yang duduk sambil memangku Aisyah tak jauh dari mereka.
Abizar bergabung dengan keluarga Khanza, mereka terlihat baik-baik saja, tak ada kecanggungan di antara mereka. Abizar tetap baik di mata Keluarga Khanza.
"Kenapa semua jadi seperti ini, bukan ini yang aku harapkan," gumam Farah merasa jika semua ini salah, Khanza tak boleh menikah dengan Damar, ia harus kembali pada Abizar.
Tatapan Farah terus berganti melihat Khanza yang tertawa bahagia dengan Damar sambil membolak-balik daging yang ada di panggangan.
Seperti itulah hubungan Khanza dan Damar, mereka bahkan tak segan saling tendang dan tarik rambut di hadapan keluarga mereka.
__ADS_1
Tatapan Farah kembali tertuju pada Abizar yang duduk di taman, terlihat Abizar begitu bahagia menyuapi Aziel dan Aisyah potongan daging panggang, terkadang Aziel dan Aisyah berebut daging panggang yang didinginkan Abizar dengan cara meniupnya.
Abizar dan Aisyah akan tertawa saat melihat Aziel kepanasan saat memasukkan potong daging yang masih panas ke mulutnya.
Kebahagiaan memang sudah menghampiri mereka semua.
Ia yang sudah bahagia dengan Dev dan Lucia, Khanza yang terlihat begitu bahagia dengan Damar dan Abizar yang terlihat begitu bahagia dengan Kedua anaknya.
"Khanza boleh kita bicara sebentar," ajak Farah.
Farah ingin mencoba sekali lagi untuk menyatukan mereka. Jika kali ini ia juga tak berhasil setidak ia sudah mencoba dan tak akan ada yang perlu disesalkan.
Khanza mengerti jika sepertinya Farah ingin berbicara penting padanya, Khanza mengajaknya masuk dan mereka berbicara di ruang kerja Khanza.
"Ada apa Mbak? Apa ada hal yang penting tanya Khanza mempersilahkan Farah untuk duduk.
"Bagaimana perasaanmu dengan Damar?" tanya Farah langsung pada inti tujuannya.
"Maksud Mbak? Perasaanku Seperti apa?"
"Apa kau mencintai Damar seperti kau mencintai Abizar?"
Khanza tersenyum malas mendengar ucapan Farah, pernikahanya sudah tinggal beberapa hari lagi dengan Damar dan masih ada yang menanyakan perasaannya pada Abizar.
"Mbak aku dan kak Abi Itu sudah masa lalu, kami sudah berpisah. Aku dan Damar sebentar lagi akan menikah, aku rasa aku tak harus menjawab pertanyaan Mbak kali ini!"
"Tapi, Mbak yakin dihatimu masih mencintai mas Abi 'kan? Begitu juga dengan mas Abi, sampai sekarang dia masih sangat mencintai mu sehingga ia rela membiarkanmu bahagia dengan Damar meski hatinya terluka.
"Aku tau kak Abi masih memiliki perasaan padaku mbak, tapi aku juga yakin seiring berjalannya waktu kita akan bahagia dengan jalan masing-masing."
"Kamu salah, Mbak yang salah dalam hal ini, jika Mbak tak memaksa mas Abi menikah lagi dan menyembunyikan pernikahan Kami, semua ini tak akan terjadi. Mbak minta maaf," ucap Farah tulus mendekati Khanza.
"Sudah lah Mbak, kita tak perlu membahas masa lalu, kita pikirkan saja masa depan kita."
"Kamu benar, kita bisa memikirkan masa depan kita, kita mungkin saja bisa bahagia lebih bahagia dari saat kita bersama dengan mas Abi. Lalu bagaimana dengan Mas Abi? Bagaimana dia akan memikirkan masa depannya jika hatinya ada bersamamu?"
"Aku yakin Mbak akan bisa membantu Kak Abi keluar dari semua ini. Mbak adalah istri sekaligus sahabatnya, kak Abi akan bahagia jika Mbak ada di sisinya. Aku sangat berharap Mbak bisa kembali dan mengurus kak Abi, dia sangat membutuhkan Mbak di sampingnya."
Para mengerutkan keningnya mendengar Jawaban Khanza.
"Apa Mas Abi belum cerita Kalau kami sudah bercerai?"
"Cerai?" tanya balik Khanza yang terkejut mendengar kata cerai dari Farah.
"Iya, kami sudah bercerai, itu sudah setahun lebih. Apa mas Abi tak pernah memberitahumu?" tanya Farah yang mengira Khanza sudah tau tentang perceraian mereka.
Khanza menggeleng, karena memang ia tak tau. Yang ia tahu Abizar Farah masih suami istri sampai sekarang.
"Tapi, kenapa Mbak bercerai dengan kak Abi?"
"Karena Mbak merasa pernikahan Mbak dan mas Abi seharusnya memang harus berakhir. Bukan kau dan Mas Abi.
Mbak sadar jika dihati mas Abi lebih banyak untukmu."
__ADS_1
"Khanza, sekarang aku sudah menikah lagi, dan aku sudah bahagia dengan pernikahan, tapi aku tak yakin jika kamu bisa bahagia saat ada bayangan Mas Abi dihatimu."
"Mas Abi sangat mencintaimu. Khanza, Mbak mohon kembalilah pada mas Abi." Farah menggenggam tangan Khanza, ia bisa melihat ekspresi keterkejutan saat mengetahui jika ia dan Abizar sudah bercerai.
Farah tak menyangka jika Abizar merahasiakan itu semua dari Khanza.
"Semuanya sudah terlambat, pernikahanku dan Damar tinggal beberapa hari lagi. Walau aku sangat mencintai mas Abi, aku tak mungkin menyakiti Damar. lagian mungkin saja kak Abi memang tak untuk bersamaku."
"Khanza pernikahan bukanlah hal yang main-main, jika kamu masih mencintai Mas Abi kemudian kau menikah dengan Damar, hanya tak ingin menyakitinya, justru itu hanya akan semakin menyakiti Damar."
"Nggak Mbak, aku nggak mencintai mas Abi lagi. Aku akan berusaha mencintai Damar," ucap Khanza tegas.
"Kamu bohong, kamu bilang kamu tak mencintai mas Abi lagi, tapi matamu berkata lain."
Mereka terus berdebat di ruang kerja Khanza, Farah terus meyakinkan agar Khanza mau membatalkan pernikahannya dengan Damar, ia bahkan sampai memohon pada Khanza. Namun, Khanza tetap tak mau mengabulkan permintaan Farah.
"Terserah kamu saja, yang penting Mbak sudah memberitahumu. Mbak tidak bisa memaksamu untuk kembali dengan mas Abi, tapi coba tanyakan hati kecilmu Siapa yang kau pilih. Jangan hanya karena kau terlanjur memilih Damar dan mengabaikan perasaan hatimu." Farah kemudian keluar dari ruangan itu.
Khanza terduduk lemas di kursi kerjanya, ia tak menyangka jika Farah dan Abizar ternyata sudah bercerai.
"Mengapa kak Abi tak mengatakan semua itu sedari di awal, mungkin saja hubungan kami bisa kembali dipertahankan." Lirihnya.
Aqila yang tak sengaja mendengar perdebatan tadi, begitu melihat Farah keluar ia langsung masuk ke ruang kerja Khanza.
"Khanza, apa yang baru saja kudengar? Farah sudah bercerai dengan Abizar?"
Khanza hanya mengangguk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Aqila sangat tahu jika Khanza masih mencintai Abizar.
"Saranku batalkan pernikahan ini dan kembalilah pada Abizar. Pada pria yang kau cintai dan juga mencintaimu. Aku yakin kalian akan bahagia."
"Apa Kau pikir aku akan bahagia diatas penderitaan orang lain. Sudahlah Aqila aku sudah memutuskan semuanya, aku akan tetap menikah dengan Damar."
"Kita anggap saja kesendirian kak Abi hukuman dari kebohongannya kepadaku, dia membohongiku bukan cuman sekali Aqila, tapi berkali-kali.
"Tapi Khanza seperti …."
"Aqila, Aku mohon jangan ngebahas masalah ini lagi. Pernikahanku dengan Damar tinggal beberapa hari lagi, aku tak ingin mendengar masalah mas Abi lagi.
Dia hanya akan menjadi masa laluku dan Damar yang akan jadi masa depanku," ucap Khanza kemudian kembali bergabung dengan yang lainnya.
Saat keluar tatapan yang langsung mengarah pada Abizar yang terlihat begitu bahagia bersama dengan anak-anaknya begitupun sebaliknya, anak-anaknya terlihat sangat bahagia bersama dengan papa mereka.
Khanza kemudian melihat ke arah Damar yang masih setia dengan daging panggangannya.
Khanza berjalan ke arah Damar. Ia akan tetap memilih Damar.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca m
Salam dariku Author M Anha 🥰🥰
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖