Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2: bab 18


__ADS_3

Mentari hanya menghela napas melihat mobil ibu dari Azriel itu pergi meninggalkan gerbang kampusnya. Ia pun berjalan menuju ke motornya dan mengambil kue pesanan teman-temannya, senyum yang tadi terus mengembang di wajahnya membayangkan akan mendapatkan keuntungan dari semua kue itu entah mengapa menguap sudah, karena pembahasannya dengan Farah tadi.


Apakah kemiskinan adalah sebuah aib? Mengapa kata kemiskinan dan kata tak layak dijadikan seseorang sebagai tolak ukur untuk memandang seseorang layak atau tidak. Apakah jika dia miskin dan berasal dari keluarga tak mampu, ia tak pantas untuk mencintai seseorang yang juga ia cintai? Tak pantas untuk memiliki perasaan pada seseorang yang ia cintai?


Selama ini Mentari memang mencintai Azriel, menyukainya. Namun, selama ini ia tak menyangka jika Azriel juga ternyta mencintainya. Ia tak menyangka jika ternyata Azriel juga merasakan perasaan yang sama seperti apa yang ia rasakan, membuat ia selama tak berani untuk berharap. Namun, sepertinya walau saat ini ia sudah mengetahui jika Azriel juga mencintainya, dia harus mencoba mengubur dalam-dalam rasa cinta itu. Benar apa yang dikatakan oleh ibu dari Azriel itu, mereka bagai bumi dan langit, terlalu banyak perbedaan di antara mereka.


Mentari kembali menarik napas panjang, ia harus tahu diri akan perbedaan mereka. Lagian Azriel dan Lucia sudah dijodohkan, ia tak boleh menjadi penyebab kegagalan dari rencana kedua orang tua mereka.


Mentari melangkahkan kakinya masuk ke dalam kampus, ia langsung mendatangi satu persatu orang yang telah memesan kuenya, walau dengan bersusah payah membawa semuanya. Namun, karena sudah terbiasa akan hal itu, membuat beban yang cukup berat itu sudah menjadi sesuatu keharusan yang harus dibawanya kemana-mana.


"Terima kasih ya, sudah memesannya kueku, jika ada keluarga lain yang ingin memesan bisa langsung hubungi nomor yang ada di kotaknya ya, kami akan menyediakan kapan saja," ucap Mentari, setiap ia menyerahkan kue pesanan teman-temannya itu, baik kue yang harganya cukup mahal atau kue biasa yang harganya lumayan bersahabat dengan kantong para mahasiswa ia selalu tak lupa melakukan promo.


Mentari menghitung uangnya, semua cukup dan pas, ia pun kembali mengikuti mata kuliah mereka. Seharian ini mood-nya sangatlah hancur, semua diawali dengan pagi yang hancur saat bertemu dengan ibu dari Azriel.


"Mentari, kamu kenapa sejak tadi hanya diam terus?" ucap salah satu teman menegurnya.


"Nggak papa kok," ucap Mentari lemas.


"Oh ya, aku sudah mencicipi kuemu tadi, rasanya benar-benar enak."


"Wah makasih ya. Jika ga keberatan bantu promo, ya."

__ADS_1


"Tentu saja. Aku sudah melakukannya. Ini aku mau pesan 20 kotak dan bawa ke perusahaan ini," ia menyerahkan alamat pada Mentari, "Ini perusahaan tempat kakakku bekerja. Orang yang biasa tampat kakakku memesan kue, meraka tak sempat membuat pesanannya karena sakit, aku diminta mencari toko kue yang enak untuk menggantikan kue buatan toko langganannya itu dan aku pikir kue buatanmu sangat enak. Jadi, aku merekomendasikan kue ku."


"Apa? 20 kotak?" tanya Mentari tak percaya.


"Iya, 20 kotak dan di bawah pagi besok sebelum jam 09.00, apa bisa?" tanya teman Mentari lagi.


"Iya, tentu saja. Aku akan membawanya tepat waktu, kebetulan sekali besok kan tak ada mata kuliah," ucap Mentari berbinar senang, membuat temannya itu pun ikut senang dan mengangguk.


"Ya sudah, besok kepastiannya bisa atau tidak tetap hubungi aku lagi ya. Infokan kamu jadi atau tidak membawanya. Ini tanggung jawab sudah diserahkan oleh kakakku padaku, takutnya aku mengecewakannya dan dia juga mengecewakan perusahaan tempatnya bekerja, pasti kakakku yang akan mendapat masalah."


"Iya, tenang saja pasti aku akan usahakan selesai tepat waktu, kepercayaan pelanggan adalah prioritas kami," ucap Mentari.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya," ucapnya membuat Mentari kembali mengangguk. Ia sangat senang, semoga saja depannya akan lebih lancar lagi.


"Iyq, sama-sama. Kur kamu memang enak, Kok."


Mentari pun langsung melajukan motornya kembali ke kediamannya, ada beberapa kue lagi yang harus diantarnya. Mentari menjalankan rutinitasnya setiap hari, kuliah dan mengantar pesanan-pesanan kuenya.


"Ibu!" teriak Mentari begitu ia baru saja sampai bahkan ia belum masuk ke dalam rumah. Namun, teriakannya sudah terdengar oleh ibunya yang berada di dalam rumah, membuat Rusmi sangat panik, berpikir jika terjadi sesuatu pada Mentari. Ia pun langsung berlari keluar.


"Ada apa, Nak?" tanyanya melihat Mentari yang berlari ke arahnya, ia sangat panik saat mendengar anaknya terus saja berteriak.

__ADS_1


"Ibu, lihat ini. Kita mendapat pesanan lagi," ucap Mentari memperlihatkan kartu nama yang diberikan oleh temannya tadi.


"Wah, benarkah? Alhamdulillah, ya sudah ibu buatkan, berapa yang harus ibu buat?" tanya Rusmi.


"20 kotak kue spesial," ucap Mentari berbinar senang menyebutkan angka 20, berarti mereka akan mendapatkan 2 juta dalam sehari. Mereka akan mendapatkan keuntungan banyak jika mampu membuat kue tersebut.


"Apa? 20?" tanya Rusmi yang ikut terkejut.


"Iya, alhamdulillah, Bu. Ya sudah aku antar kue-kue yang lainnya, Ibu langsung buat ya setelah aku pulang nanti akan aku bantu," ucapnya membuat Rusmi pun mengangguk cepat, beruntung kemarin ia membeli bahan yang cukup banyak, sehingga membuat 20 kue serta membuat kue tambahan lainnya semua bahannya masih cukup. Ia pun bergegas langsung membuat kue tersebut sementara Mentari kembali melajukan motornya mengantar kue-kue pesanannya dan secara kebetulan kue-kue pesanannya tak begitu jauh diantarnya hanya sekitaran daerahnya saja sehingga hanya sekitar 2 jam semua sudah rangkum.


Dengan bersemangat Mentari pun kembali ke rumah, ia harus mandi dulu sebelum membantu ibunya di dapur. Saat selesai mandi, Mentari pun kembali memastikan lukanya itu aman. Ia pun kembali membalutnya.


"Syukurlah, Ibu tak melihat luka ini, pasti ibu akan panik jika tahu kemarin aku hampir saja kecelakaan parah," gumam Mentari sambil membersihkan lukanya dan kembali membalutnya.


Mentari baru mengingat tentang amplop yang diberikan oleh orang yang menabraknya kemarin, ia pun dengan cepat menghitung uang tersebut dan ternyata ada sekitar 3 juta.


"Apa ini nggak kebanyakan ya?" gumamnya lagi, tetapi ia menepis semua itu, membuat ia kembali menggeleng menjawab pertanyaannya sendiri.


"Nggak, ini sudah sepantasnya. Aku terluka, motorku juga lecet," gumamnya kemudian ia tak sengaja melihat kartu nama yang diberikan oleh pria kemarin, yang ia ketahui bernama Dewa.


Mentaripun mengambil dan membaca seksama nama perusahaan tersebut.

__ADS_1


"Tunggu," gumam Mentari kemudian mengambil alamat yang diberikan oleh temannya, alamat di mana besok kue-kue pesanan temannya itu harus diantar ke sana.


"Wah, ternyata ia bekerja di perusahaan yang sama," gumam Mentari saat melihat nama perusahaan yang tertera di sana, DW group.


__ADS_2