Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Kepanikan dan ketakutan ( part 2 )


__ADS_3

Khanza mencengkram erat pada jok mobil,  ia tak pernah merasakan sakit seperti  yang dirasakannya saat ini. Terlintas dalam pikirannya jika ia mungkin akan menyusul kedua orang tuanya, hatinya benar-benar perih.


Bayangan kakek, nenek dan Abizar silih berganti terlintas di pikirannya, air matanya menetes, rasa sakit memenuhi ruang dadanya yang terasa sesak dan rasa sakit di bagian  perutnya yang kian memuncak.


Pikir negatif mulai menghinggapinya, berpikir mungkin kah ini adalah akhir dari semuanya.


Rasa sakit itu semakin di tahannya semakin terasa, bahkan saat ini sakit itu menjalar di bagian belakangnya. Pinggang terasa ingin patah saja.


"Tuhan. Jika kau ingin mengambil ku, tolong selamatkan bayiku. Ampuni aku jika selama ini aku selalu mengeluh dengan apa yang telah engkau takdirkan, tapi aku mohon Tuhan, jangan ambil bayiku kasihanilah bayiku ini." Doa Khanza terus dipanjatkannya demi keselamatan bayi.


Mengelus perutnya, meresakan gerakan bayinya. Mama sangat ingin memelukmu, maaf jika mama bukanlah mama yang baik untuk mu. Mama menyayangimu," batin Khanza.


Meresakan setiap gerakan bayinya seolah menjadi penyemangat nya untuk berjuang.


Khanza tak bisa berbuat apa-apa, hanya menangis dan menangis, itulah yang ia lakukan saat ini. Rasa sakit, rasa perih, rasa takut semua berkumpul menjadi satu.


Menghantam pertahanan hatinya. 


"Kak Abi, kamu di mana, Aku sangat membutuhkanmu saat ini," ucap Khanza di sela-sela perjuangannya.


Khanza bisa mendengar jika Farah di luar sana juga menangis dan terus berteriak meminta tolong.


"Nggak, aku pasti bisa melahirkan bayiku, Aku pasti bisa membesarkannya," ucap Khanza menyemangati dirinya sendiri.


Khanza terus mengatur nafas dan mencoba untuk tetap menahan sakitnya.


"Aku pasti bisa, aku pasti bisa, aku pasti bisa," kalimat itu terus terlontar dari mulutnya saat sakitnya kembali memuncak.


"Khanza kamu baik-baik saja kan?" tanya Farah menghampiri Khanza yang sudah terbaring lemas di jok belakang dengan tasnya sebagai bantalan.


"Baik, Mbak. Aku baik-baik sajakah. Cepat cari bantuan, aku nggak mau mbak seperti ini, Aku ingin melihat bayiku," ucap Khanza semakin mengeraskan tangisnya.


"Kamu pasti akan baik-baik saja," ucap Farah kemudian kembali mengambil ponselnya, lagi lagi ia memanggil nomor Abizar.


"Kemana sih kamu Mas, apa sepenting itu pekerjaan kamu." Kesal Farah.


"Fahri, ya aku harus menelpon Fahri."


Dengan susah, Farah mencari nomor Fahri tangannya yang bergetar hebat.


"Kak tenang lah, kalau kakak panik seperti ini apa yang akan terjadi padaku," ucap Khanza menggenggam tangan Farah yang bergetar.


"Aku sudah menemukan nama Fahri," ucapnya saat melihat nama Fahri tertera disana dengan cepat ia menekan nomor panggilan, Fahri terhubung.


Farah bernafas lega saat mendengar suara sapaan Fahri di balik telpon. 


"Halo Fahri, apa kamu bersama dengan mas Abi?" tanya Farah langsung pada inti pertanyaannya.

__ADS_1


"Pak Abizar?" tanya Fahri memastikan.


"Iya, suamiku. Aku sudah dari tadi menghubunginya. Namun, dia tak mengangkat panggilanku. Apa kamu masih bersama dengannya?" tanya Farah cepat.


"Ya, tadi aku bersamanya, tapi sekarang aku sudah di jalan pulang. Emangnya ada apa?" tanya Fahri mulai cemas mendengar suara kedua istri bosnya yang terdengar jelas dari ponselnya sedang menagis.


"Aku sudah menelponnya berkali-kali, sekarang aku sedang membawa Khanza ke rumah sakit, tapi mobil Kami tiba-tiba mogok, aku akan share lokasi cepat kau susul kami kemari bersama mas Abi," ucap Farah.


"Iya, aku akan segera kesana," ucap Fahri  dengan cepat membanting setir mengubah arah tujuannya kembali ke kantor.


Fahri menginjak gasnya dan terus mencoba menghubungi Abizar. Namun, ternyata benar nomornya terhubung, tapi Abizar tak mengangkatnya.


Fahri melempar ponselnya ke Jok samping dan semakin memacu mobilnya. Begitu sampai di halaman perusahaan Fahri memakai parkir asal mobilnya kemudian berlari masuk.


Fahri berlari masuk kedalam ia bahkan hampir menabrak satpam yang berpapasan dengannya dan melewatinya kemudian ia kembali menghampiri satpam,


"Pak, bapak melihat pak Abizar?" tanya pada satpam.


"Tadi pak Abizar masih ada di ruangannya Pak," jawab Pak satpam.


"Ya sudah, makasih Pak," ucap Fahri kembali berlari menuju lift dan menekan tombol dengan tidak sabar, memencet beberapa kali hingga pintu lift terbuka.


Sambil menunggu lift terbuka, Fahri terus menghubungi atasannya itu.


"Ya ampun. Apa yang kau lakukan sampai kamu tak sempat mengangkat panggilan seperti ini," gumam Fahri.


Begitu pintu lift terbuka Fahri tak menyia-nyiakan waktu, ia langsung berlari menuju ke ruangan Abizar, tanpa mengetuk pintu ia langsung membuka. Namun, pak Abizar  tak ada disana, ia beralih pada salah satu ruangan yang ada di ruangan itu, itu adalah ruangan tempat beristirahat tempat itu seperti layaknya kamar pribadi.


Fahri melakukan hal yang sama, tanpa mengetuk langsung membuka pintu, membuat Abizar yang sedang memakai baju sehabis mandi terkejut.


Abizar mengelus dadanya "Kamu bisa ketuk dulu nggak sebelum masuk," geram Abizar masih Mode kagetnya.


"Maaf Pak, tapi tadi ibu Farah menelpon ku, katanya beliau sudah menelpon Bapak berkali-kali, tapi bapak tak mengangkatnya," ucap Fahri masih mencoba mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan.


"Iya, aku lupa mengaktifkan nada deringnya. Memangnya ada apa, sampai ia menelepon mu?" tanya Abizar masih santai merepikan pakaiannya dan santai berjalan ke salah satu meja meminum kopinya yang ada di mejanya.


"Istri bapak mau melahirkan dan sekarang dia sedang terjebak di jalan karena mobilnya mogok pak," jelas Fahri dengan satu tarikan nafas setelah berhasil menguasai ngos-ngosan nya..


Fahri mengatakan itu bertepatan saat Abizar meminum kopinya, kopi yang sudah mulai masuk ke tenggorokannya kembali tersembur keluar.


Abizar sampai terbatuk-batuk, wajahnya sampai memerah. "Apa maksudnya, apa yang kau katakan?" tanya Abizar di sela-sela batuknya.


"Iya, pak. Tadi bu Farah menelpon ku katanya dia sudah mencoba menghubungi bapak, tapi tak bisa, mendengar itu habis langsung berlari keluar mengambil ponselnya yang ada di meja kerjanya dan benar saja ada puluhan panggilan Farah di sana dan juga panggilan Khanza.


Abizar mencoba menghubungi kembali nomor Farah.


"Halo Farah, di mana Kalian?" tanya Abizar saat  mendengar suara Farah sambil berjalan cepat keluar ruangannya di susul Fahri, 

__ADS_1


Abizar sangat panik saat mendengar suara istrinya itu menangis.


"Mas, kamu kemana saja, dari tadi aku menghubungi mu, cepat  tolong kami, Mas. kami terjebak di jalan pintas, aku tadinya ingin mengantar Khanza ke rumah sakit, Khanza sudah ingin melahirkan. Cepat kesini Mas, aku takut," ucap Farah semakin mengeraskan tangisannya mendengar suara suaminya.


Farah  sangat ketakutan melihat wajah Khanza yang semakin pucat, membuat ia juga merasa lemas. Namun, saat melihat panggilan dari Abizar ia seperti yang mendapatkan nyawanya kembali dengan cepat ia mengangkat panggilan tersebut.


"Aku akan kesana, jaga Khanza!"


"Iya, Mas. Cepatlah, Khanza sudah sangat kesakitan."


Abisar mematikan panggilan, menekan tombol lift,


"Sial," umpatnya menendang pintu lift yang tak terbuka.


Abizar berjalan bolak-balik menunggu pintu lift terbuka.


Begitu pintu terbuka mereka bergegas masuk. Menekan tombol ke lantai dasar.


Lift mengantar mereka ke lantai bawah, Abizar merasa kali ini lift itu begitu lambat.


"Kenapa lift ini begitu lambat," kesalnya tak sabaran.


Fahri hanya diam, menurutnya selama ini memang seperti ini lamanya, berhubung mereka berada di lantai paling atas.


****


Khanza bertahanlah, Mas Abi sedang menuju kemari," ucap Farah menggenggam tangan Khanza.


Khanza hanya mengangguk, ia tak lagi menagis dan menjerit, Khanza hanya  mencengkeram tangan Farah saat rasa sakitnya kembali datang.


Khanza sudah sangat lemah, ia bahkan  sudah tak punya tenaga lagi untuk menangis, hanya suara sesegukannya yang terdengar, mata khanza bahkan tertutup.


Farah hanya bisa mengetahui jika Khanza masih tersadar saat Khanza kembali menggenggam erat tangannya.


"Mas, cepat datang," batin Farah ia hanya bisa mengelus perut Khanza saat tangannya kembali di genggam.


"💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Beri dukungan kalian ya dengan memberi like, vote, dan komennya 🙏💗


Salam dariku Author m anha ❤️😘


Love you all 💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2