
Mentari dan Shinta memekik secara bersamaan saat melihat dua garis yang ditunjukkan hasil tespek yang telah mereka lakukan tadi, keduanya langsung berpelukan dan melompat kegirangan. Mentari kembali melihat hasilnya dan membekap mulutnya, dua garis yang menandakan jika dia hamil.
"Shinta, aku hamil," ucapnya membuat Shinta pun mengangguk dan ikut terharu melihat kebahagiaan dari atasannya itu. Ibu Erwin yang mendengar teriakan mereka juga ikut masuk, dia juga ikut berteriak saat mendengar ucapan Mentari yang mengatakan jika ia hamil, membuat ketiganya pun langsung berpelukan.
"Alhamdulillah, alhamdulillah," hanya itu yang bisa diucapkan Mentari dengan lelehan air matanya memeluk hasil tespeknya. Membuat Azriel yang baru tiba panik saat melihat Mentari menangis.
"Mentari, Sayang! Kamu kenapa?" ucapnya memeriksa Mentari dengan tatapannya, takut jika terjadi sesuatu pada istrinya.
"Shinta, Ibu. Ada apa dengan Mentari?" ucap Azriel saat Mentari hanya menangis saat melihat suaminya datang. Mentari langsung memeluk suaminya dengan erat dan tak bisa menjawab pertanyaan dari Azriel.
Shinta yang masih memegang dua alat tespek yang tadi digunakan Mentari memberikan tespek itu kepada Azriel.
Azriel melihat hasil dari tespek tersebut, ia langsung melerai pelukan Mentari dan menatap istrinya itu.
"Kamu hamil?" tanyanya membuat Mentari hanya mengangguk dan kembali terisak, ia memeluk istrinya, ia merasa sangat senang mendengar kabar kehamilan istrinya.
"Alhamdulillah," kata itu juga terus diucapkannya, ia tak menyangka mereka akan dikaruniai anugerah yang indah secepat itu. Mereka tak ada sama sekali selama ini membicarakan masalah kehamilan, mereka akan menerima kapanpun diberikan anugerah terindah itu dari sang pencipta. Mereka siap menerimanya kapan saja.
Berita kehamilan Mentari sudah tersebar di seluruh keluarga, semua sangat bahagia mendengarnya. Begitupun dengan Khanza. Ia salah satu orang yang paling bahagia saat mendengar menantunya itu hamil.
Saat ini mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah, Azriel sengaja mengumpulkan mereka semua. Ibu, ayah dan juga adiknya untuk memberitahu kabar bahagia tersebut.
__ADS_1
"Maaf, Mentari. Kali ini ibu harus tegas padamu. Mulai hari ini kamu tak boleh bekerja lagi, kamu harus berada di rumah menjaga kondisi kehamilanmu, maaf jika ibu harus melarangmu untuk bekerja dulu. Kamu boleh bekerja, tapi hanya dari rumah saja dan mengawasi toko kuemu. Ibu tak mengizinkanmu untuk melakukan semuanya sendiri," ucap Khanza.
Mendengar itu Mentari pun mengangguk dengan patuh, ia tahu jika ibu mertuanya melarangnya untuk bekerja semua itu karena rasa kasih sayangnya padanya dan juga bayi yang dikandungnya.
Sejak tahu jika ia mengandung, ia sudah memutuskan untuk berhenti dulu bekerja dan mempercayakan semuanya pada Erwin dan ibunya sesuai dengan apa yang dikatakan ibu Erwin tadi. Ia sadar ia selama ini terlalu memposir dirinya untuk bekerja, mungkin sudah saatnya ia istirahat sejenak untuk memberikan kebahagiaan pada keluarga suaminya, selama ini mereka sudah memberikan yang terbaik untuknya.
****
Hari-hari dilalui Mentari dengan penuh kebahagiaan, dengan perhatian dari semua keluarga khususnya Azriel. Apapun yang diinginkannya selalu didapatkannya bahkan sesuatu yang tak diinginkan akan diberikan oleh semua keluarganya, baik suami, ibu mertua, ayah mertua dan juga adik iparnya.
Sedetikpun Mentari tak pernah merasa jika dia tak memiliki siapapun, sedetik pun ia tak pernah merasa kesepian walau sudah tak ada ibu di sampingnya. Ia memiliki ayah, ibu dan adik yang begitu perhatian padanya.
Azriel selalu menemani Mentari saat detik-detik persalinannya, dimulai dari permukaan pertama hingga pembukaan lengkap bahkan Azriel ada di samping Mentari saat putri kecil yang dikandung Mentari lahir ke dunia ini dan mendengarkan suara tangisannya untuk pertama kalinya.
Mentari hanya bisa meneteskan air mata menyambut haru kedatangan putrinya, begitupun dengan Azriel.
Aisyah, Khanza dan Abidzar ikut bahagia saat mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang persalinan Mentari. Mereka bisa mendengar suara sapaan dari keluarga baru mereka, anak pertama dari Mentari dan juga Azriel.
Kabar kelahiran putri mereka sampai ke telinga Lucia, ia ikut bahagia saat melihat foto yang baru saja diterima oleh ibunya. Walau kini Lucia tak lagi berhubungan dengan mereka semua. Namun, ia selalu tahu kondisi mereka dari pesan-pesan yang dikirim oleh Azriel untuk ibunya, sampai saat ini Lucia terus merahasiakan apa yang terjadi malam itu dari ibunya. Farah hanya berpikir jika putrinya itu memang menyerah untuk mendapatkan Azriel dan hidup dengan kehidupannya sendiri.
Lucia memutuskan untuk fokus pada pendidikannya, apa yang terjadi di masa lalu akan dijadikannya sebuah pelajaran yang sangat berharga. Jika waktu itu ayahnya tak datang tepat waktu entah apa yang akan terjadi padanya.
__ADS_1
****
Setelah mendapat perawatan dan dinyatakan ibu dan anak sehat, Mentari pun di bawah pulang begitupun dengan bayi cantik yang sejak tadi digendong oleh Khanza. Aisyah terus saja menggenggam tangan mungil ponakannya, kini ia memiliki mainan di rumah mereka.
Pagi hari Mentari terbangun, ia sangat terkejut saat putrinya tak ada di sampingnya. Ia baru bernapas lega saat melihat ternyata putrinya itu sedang digendong oleh Azriel, keduanya tengah berdiri di balkon kamar menikmati cahaya pagi. Ia memeluk Azriel dari belakang, merasakan hangatnya tubuh sang suami.
Azriel menarik tangan Mentari agar ikut bergabung dengan putrinya, ia memeluk keduanya dengan erat, mencium keduanya secara bergantian. Ia benar-benar merasa pria yang sangat beruntung memiliki istri yang sangat dicintainya dan juga anak yang begitu menggemaskan.
"Terima kasih ya sudah hadir dalam hidupku, membawa putri kecil ini untukku. Aku merasa orang paling bahagia di dunia ini karena memiliki kalian berdua, mulai saat ini apapun yang kamu inginkan katakan saja padaku. Aku akan mengabulkan semuanya, kamu telah memberiku sebuah kebahagiaan yang sempurna untukku," ucap Azriel kembali mengecup pucuk kepala istrinya.
"Aku akan meminta banyak padamu. Jadi, bersiap-siap saja menuruti semua apa yang aku inginkan," ucap Mentari dengan senyum di wajahnya.
"Tentu saja, katakan apa yang kamu inginkan ratuku, begitupun dengan putriku ini. Semua hanya untuk kalian."
Keduanya tertawa kecil dengan Mentari yang terus memeluk Azriel, keduanya menatap putri mereka yang terlihat tertidur pulas dengan menghisap jari jempolnya, sesekali matanya berkedip-kedip karena merasa silau dengan matahari pagi.
Abidzar dan Khanza yang berada di taman melihat ke arah Azriel dan juga Mentari, Khanza menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Mereka duduk di bawah pohon sambil menikmati udara pagi.
Beberapa waktu yang lalu Khanza sempat berpikir apa yang terjadi padanya dulu mungkin akan kembali terjadi pada kisah anak-anaknya, di mana Azriel akan menikah dengan Lucia dan juga Mentari. Namun, ia sangat bersyukur semua itu tak terjadi pada anak-anaknya, ia tak akan membiarkan semua itu terjadi. Khanza tahu bagaimana rasanya berbagi suami dengan wanita lain, berbagi cinta dengan wanita lain.
Tamat
__ADS_1