Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Mencoba saling menerima.


__ADS_3

"Apa kau merahasiakan sesuatu dari nenek?" Tanya nenek mengagetkan Khanza yang sedang menunggu jawaban dari Aqila.


Khanza refleks mematikan panggilannya, berbalik dan menatap nenek terkejut.


"Nenek, sejak kapan disitu?" Tanya Khanza sambil mengelus dadanya.


"Sejak kau berada di sini. Khanza, jawab pertanyaan Nenek. Apakah terjadi sesuatu dengan rumah tanggamu? Dengan hubungan mu dan suamimu?" Tanya nenek untuk yang kedua kalinya.


Nenek yang sedang menyiapkan makanan untuk para pekerja bersama dengan ibu-ibu lainnya, melihat Khanza sepertinya ia sedang menjauh dari yang lain dan sedang menerima telepon. Nenek yang merasa penasaran melihat gerak-gerik  cucunya itu. 


"Kenapa anak itu menjauh menerima teleponnya, apa ada hal yang penting. Apa dia membahas masalah rumah tangganya, sepertinya obrolannya tak ingin didengar oleh orang lain," batin nenek perlahan mendekat dan mendengar semua apa yang Khanza bicarakan. Nenek bisa menangkap pembicaraan mereka, jika yang mereka bicarakan tentang hubungan pernikahan Khanza.


"Jika kau punya masalah dengan Abizar, kamu bisa cerita sama nenek, siapa tahu sajakah nenek bisa membantu menyelesaikan segala masalah kalian."


"Nggak kok Nek, aku ga punya masalah dengan kak Abi," jawab Khanza.


Nenek tak berbicara. Namun, menatap Khanza dengan tatapan yang membuat hati Khanza tak tega untuk berbohong dengan neneknya. Orang yang selama ini mengurusnya semenjak kepergian kedua orang tuanya.


"Iya, Nek. Khanza merahasiakan sesuatu dari Nenek," jawabnya kemudian.


Nenek masih saja terus diam menatap cucunya.


"Sebenarnya, Kak Abi punya istri lain selain Khanza, Nek. Kak Abi menikahinya sebelum menikah denganku," ucap Khanza berkaca-kaca.


Nenek menarik tangan Khanza agar mereka bisa duduk dan mencari posisi yang enak untuk mereka berbincang.


"Bagaimana perasaanmu dengan suamimu?" Tanya nenek.


"Aku sangat mencintainya, Nek. Aku tak tahu kenapa rasa cinta ini begitu besar kepadanya, bahkan setelah tahu jika kak Abi sudah menikahi dengan wanita lain dan  menyakiti perasaanku, sudah mengkhianati kepercayaan ku, Khanza masih tetap mencintai nya."


"Bagaimana sikap istri pertamanya kepadamu?" Nenek ingin mencari tau lebih banyak lagi.


"Namanya Farah, Mbak Farah sangat baik sama aku, Nek. Awalnya kak Abi memperkenalkannya sebagai saudara sepupunya, aku bahkan sudah menganggapnya seperti kakak sendiri."


"Apa kamu sengaja merayu suami orang atau kamu tak tahu jika suamimu sudah menikah? Maksud nenek apa suamimu merahasiakan pernikahan pertamanya?"


"Nenek demi apapun, aku nggak pernah berniat untuk merusak rumah tangga orang, aku benar-benar tak tahu jika kak Abi sudah menikah, dia juga tak memberitahuku. Bukan hanya aku Nek, orang-orang di kantor juga tak ada yang tahu jika kak Abi sudah menikah, tapi memang Khanza lah  yang pertama mendekatinya. Tapi, itu semua Khanza lakukan karena aku pikir kak Abi tak punya istri dan belum menikah," jelas Khanza membala diri.

__ADS_1


"Saat menyatakan ingin menikahimu apa dia tidak mengatakan jika dia sudah menikan?"


"Tidak, bahkan dua bulan pertama Khanza tinggal dengan istri pertamanya, Khanza nggak tau Nek, kalau dia itu istri pertama kak Abi, kami hidup layaknya saudara. Tak  ada rasa curiga sedikitpun di hati Khanza jika mbak Farah itu adalah istri pertama kak Abi. Bukan cuma kak Abi, Nak. Mbak Farah, mertua Khanza dan juga ibunya mbak Farah semua merahasiakan pernikahan pertama kak Abi."


"Tapi, kenapa mereka merahasiakan itu semua itu darimu?"


"Kata kak Abi, awalnya dia ingin menceritakan semuanyaa kepadaku Nek, tapi karena aku mengatakan jika aku tak ingin dimadu makanya Ia memutuskan untuk merahasiakannya dan itu semua disepakati oleh Mbak Farah," kata Khanza. 


Nenek menghela nafas mendengar cerita Khanza. Ia masih belum bisa mencerna apa masalahnya sebenarnya, siapa yang salah di sini!"


"Apa dia mendapat izin dari istri pertama untuk menikah lagi?" Tanya nenek.


"Iya, Nek. Bahkan kata Mbak Farah selama ini dia sudah sering mencari istri untuk kak Abi, tapi ke Abi selalu menolak. Namun, setelah mengenal Khanza kak Abi setuju untuk menikah lagi." Khanza menjeda Kalimatnya.


"Saat kak Abi meminta izin untuk menikahiku, mbak Farah langsung setuju." Lanjutnya.


"Tapi kenapa dia ingin suaminya menikah lagi?"


"Mbak Farah nggak bisa punya anak, Nek. Dokter sudah mengangkat kandungannya. Mbak Farah ingin kak Abi  punya anak walau bukan dari rahimnya. Mbak Farah  pasti sangat mencintaimu kak Abi," lirih Khanza mengusap perutnya.


Nenek kembali menghela nafas dalam, "Dia merelakan kebahagiaannya demi membahagiakan suaminya," ucap nenek memandang Abizar.


"Dia mencintaiku, Nek. Tapi dia juga mencintai mbak Farah. Dia mencintai diriku dan dirinya." Khanza juga menatap suaminya.


"Farah sangat mencintai suamimu, kau juga sangat mencintainya sedangkan suami kalian mencintai kalian berdua, apa seperti itu? Pada akhirnya kalian semua akan saling menyakiti." Menghela nafas berat.


"Ya, begitu lah, Nek." Menyandarkan kepalanya di bahu nenek.


"Nenek yakin, istri pertama juga pasti merasakan sakit seperti yang kamu rasakan, ia bisa menahan nya demi membahagiakan orang yang dicintainya. Bagaimana denganmu?" Mengelus rambut cucunya.


"Maksud nenek?" Tanya Khanza melihat kearah nenek.


"Ada beberapa poligami yang berhasil dan hidup bahagia, ada juga yang menyerah dan memilih berpisah. Bukan hanya perasaan mereka yang menjadi korban, yang lebih menderita adalah anak-anak mereka. Anak-anak kehilangan kasih sayang yang selama ini mereka dapatkan dari keduanya. Belum lagi jika kedua orang tuanya menemukan pasangan baru, mereka akan semakin merasakan dampak dari perpisahan itu."


"Jika kedua wanitanya benar-benar ikhlas berbagi dan suaminya mampu berbuat adil seadil-adilnya. Mungkin itu lebih baik." Lanjut nenek.


"Kak Abi sudah berjanji akan adil jika aku mau menerima pernikahan ini."

__ADS_1


Nenek berbalik menatap Khanza, memandang cucunya yang sudah berkaca-kaca.


"Apa kata hatimu?"


"Aku ingin tetap bersama kak Abi, aku mencintainya Nek, aku juga takut jika aku tak bisa membahagiakan anakku dengan menjauhkannya dari ayahnya. Khanza tak yakin kami berdua bisa hidup bahagia tanpa kak Abi, tapi Khanza tak tahan dengan rasa sakit saat mengetahui kak Abi sedang bersama dengan Mbak Farah."


"Nenek tak tau rasanya dipoligami, tapi nenek tahu rasanya mencintai. Nenek sangat mencintai kakekmu, Nenek sangat mencintai anak-anak Nenek, sangat mencintai kalian semua. Apapun akan Nenek lakukan demi kalian. Melihat kalian bahagia."


"Apakah Khanza harus mencoba menerima semua ini, Nek?"


Nenek mengambil tangan Khanza, mengelus nya dengan sayang.


"Apa kau kembali kesini untuk menghindari pernikahan ini?"


"Iya, Nek. Aku memutuskan untuk berpisah dengan kak Abi. Khanza sudah meminta kak Abi untuk menceraikanku, tapi dia tidak mau. Malah kak Abi bilang, sampai mati pun dia takkan menceraikanku, karena dia sangat mencintaiku. Kak Abi akan tinggal di sini menunggu Khanza sampai benar-benar mau ikut dengannya kembali ke kota."


"Itu sudah bisa membuktikan kalau dia sangat mencintaimu, saran nenek cobalah untuk menerima apa yang sudah terjadi. Cobalah menjalaninya dulu, cobalah untuk ikhlas. Jangan pikirkan hal yang dapat menyakiti dirimu, pikirkan kebahagiaan yang bisa kau dapatkan dan pikiran bayi yang ada di dalam rahimmu."


Khanza mencoba mencerna apa yang dikatakan nenek, selama ini ia masih ragu dengan keputusannya.


"Khanza Semua orang punya masalah sendiri, punya cobaan sendiri, semua tergantung bagaimana cara kita menghadapinya. Poligami, membagi suami dengan wanita lain memang sangat menyakitkan, tapi cobalah berpikir dari sisi lain, kau memiliki suami yang sangat mencintaimu yang dapat memberimu kenyamanan dapat membahagiakan orang-orang di sekitarmu terutama untukmu. Coba lihatlah, semua sangat bahagia dengan kebaikan hatinya. Cobalah untuk menerima dan menikmati apa yang bisa kamu nikmati jangan terlalu memikirkan apa yang membuatmu menjadi bersedih."


"Apakah Khanza harus kembali bersama Kak Abi?"


"Kembalilah, cobalah untuk meraih kebahagiaanmu bersamanya, jika kau benar-benar sudah sangat menyerah datanglah pada Nenek. Jika memang itu yang terjadi berarti kebahagiaanmu memang bukan padanya, tapi mungkin berada di tempat lain."


"Terima kasih ya, Nek. Khanza akan coba menerimanya demi bayi ini," Mengusap perutnya. "Mengikuti apa yang hati Khanza inginkan. Aku akan mencoba ikhlas berbagi dengan Mbak Farah." Tekad Khanza.


"Nenek doakan, semoga kalian bertiga bisa bahagia dalam rumah tangga ini, bersama anak-anak kalian."


"💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏


Salam dariku Author m anha ❤️

__ADS_1


love you all 💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2