Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2: bab 9


__ADS_3

Mendengar pertanyaan ibunya, Aisyah mengangkat bahunya tanda jika ia juga tak tahu seperti apa hubungan kakaknya dan gadis yang bernama Mentari itu.


"Masa sih kamu nggak tahu, apakah kakak kamu nggak pernah cerita?" tanya Khanza. Walaupun Azriel sudah mejelaskan semuanya ia masih ingin tau lebih banyak.


"Nggak sih, tapi beberapa kali saat jalan dengan kakak kami bertemu Mentari. Kakak terlihat sangat senang dan terlihat memperhatikan Mentari, yang aku tahu Mentari itu hanya tinggal bersama ibunya dan mereka menjual kue untuk biaya kuliahnya dan kehidupan mereka sehari-hari," jawab Aisyah masih terus memakan kue yang ada di depannya itu.


"Jualan kue?" tanya Khanza tersentak dengan penjelasan Aisyah.


"Hmmm ... Iya."


Mendengar itu ada rasa bersalah di hati Khanza saat pekerjaan itu ternyata adalah penghasilan utama di keluarga mereka dan tadi Lucia menghinanya.


"Aisyah dengar nasehat ibu, apapun pekerjaan orang lain kamu jangan pernah menghinanya, apapun kondisi orang lain kamu jangan pernah menghina orang itu walaupun kamu tak suka akan mereka. Apalagi sampai menghina pekerjaan mereka yang jelas pekerjaan itu halal, mereka bekerja keras untuk mencari uang, jika kita menghina pekerjaan mereka hanya karena pekerjaan kita lebih tinggi dari pekerjaan mereka itu hanya akan membuat mereka merasa sakit hati dan tak semangat untuk bekerja. Jika memang kita merasa kita lebih dari mereka seharusnya kita memberi semangat dan berbagi, bukan malah mematahkan semangatnya," ucap Khanza yang tak ingin apa yang dilakukan Lucia tadi juga dilakukan oleh putrinya itu.


Abidzar dan Khanza juga sangat memanjakan Aisyah, ia takut jika sampai karena terlalu memanjakan Aisyah, putrinya itu bersikap seperti sikap Lucia pada Mentari tadi saat ia berada di luar pengawasan mereka.


Farah yang turun mendengar obrolan mereka, ia tahu apa yang dikatakan Khanza itu adalah sesuatu yang menyinggung pada Lucia.


Farah menghampiri mereka.


"Aisyah, kamu istirahatlah di kamar. Mommy ingin bicara pada ibumu," ucap Farah membuat Aisyah pun mengerti dan ia pun menghabiskan jusnya dan memilih untuk naik ke kamarnya.


Kini di meja makan hanya ada mereka berdua, Khanza dan juga Farah.


"Aku tahu kamu pasti terkejut dengan sikap Lucia tadi, aku juga sama sangat terkejut akan hal itu. Aku tahu jika itu bukanlah sikap putriku. Aku selalu mengajarinya untuk tak bersikap tak sopan seperti yang dilakukannya tadi pada Mentari tadi."


"Iya, aku percaya kamu pasti mendidik putrimu dengan baik. Aku hanya tak menyangka jika Lucia mengatakan hal itu pada Mentari, menurut Aisyah Mentari bisa dibilang tulang punggung keluarganya dan menjual kue itu adalah penghasilan utama mereka. Aku hanya takut jika ucapan Lucia tadi membuatnya tak bersemangat untuk melanjutkan pekerjaannya, apalagi hasil dari menjual kue itu juga dipakai untuk membayar kuliahnya."


"Iya, aku tahu dia pasti anak yang sangat baik, mandiri dan juga pintar, ia seumuran dengan Lucia. Namun, ia bekerja keras membiayai kehidupannya sendiri. Tak seharusnya Lucia menghinanya seperti itu, aku juga tak membenarkan sikanya."

__ADS_1


"Iya, apapun masalanya Lucia sudah keterlaluan."


"Kita bisa menilai seseorang dari berbagai macam sisi. Mungkin dia memang tak seberuntung Aisyah dan juga Lucia yang lahir dari orang tua yang lengkap dan serba bisa memenuhi kebutuhannya, tapi aku bisa melihat jika anak itu anak yang baik dan pekerja keras," ucap Farah membuat Khanza pun mengangguk membenarkannya.


"Lucia melakukan semua itu karena cemburu padanya."


"Cemburu?" tanya Khanza dengan tatapan penuh tanya melihat ke arah Farah.


"Iya, Lucia cerita jika Azriel menjadikan foto gadis tadi sebagai wallpapernya, bukankah jika sudah sampai menjadikan foto seorang gadis sebagai wallpaper ponselnya gadis itu merupakan gadis yang istimewa! Apa mereka memamg ada hubungan istimewa?" tanya Farah membuat Khanza menggeleng.


"Aku tak tahu sejauh mana hubungan mereka, tapi yang aku tahu Azriel menyukainya dan mengatakan jika mereka belum berpacaran, tapi jika sampai Azriel sudah memakai foto Mentari sebagai wallpapernya sepertinya mereka memang memiliki hubungan yang cukup dekat, walau Azriel menyangkal jika mereka hanya berteman."


"Apa Azriel yang mengatakan jika mereka hanya berteman?" tanya Farah membuat Khanza kini mengangguk.


"Iya, katanya dia mencintai Mentari dan ingin mengungkapkan perasaannya, tapi setiap dia ingin mengungkapkannya ia merasa gugup dan takut jika sampai Mentari menolaknya. Sampai sekarang mereka masih bertama. Kami memberi semangat untuk menyatakan perasaannya pada Mentari, siapa tahu saja kan Mentari juga menyukainya."


"Iya, ayahnya juga setuju jika Azriel mencoba untuk menyatakan perasaannya pada Mentari," ucap Khanza walau Azriel mengatakan padanya jika dia baru ingin mengatakan perasaannya pada Mentari. Namun, entah mengapa ia berhadapan jika anaknya dan Mentari sudah memiliki hubungan lebih dari sekedar teman, mungkin saja Azriel malu mengakui hubungan mereka.


"Khanza, sepertinya Lucia juga menyukai Azriel," ucap Farah membuat Khanza langsung menatap Farah, hal yang ditakutkannya sepertinya terjadi.


"Apa Lucia yang mengatakan sendiri padamu?" tanya Khanza membuat Farah pun mengangguk.


"Lalu bagaimana, apa yang akan kamu lakukan? Aku bisa melihat jika Azriel tak menyukai putrimu, dia hanya menyayanginya sebagai seorang adik."


"Tak bisakah kita menjodohkan mereka?" tanya Farah tiba-tiba membuat Khanza terdiam, ia juga pernah berpikir akan menjodohkan mereka. Namun, karena mengetahui jika putranya itu sepertinya sangat menyukai Mentari, sepertinya itu tak mungkin.


"Bagaimana?" tanya Farah lagi saat Khanza hanya terdiam tak menjawab pertanyaannya.


"Aku tak bisa memberi jawaban, jika kamu menginginkan jawabanku aku akan menjawab tidak! Karena aku juga bisa melihat jika Azriel menyukai Mentari, bukan Lucia. Akan tetapi selebihnya kita bisa bicarakan pada Mas Abidzar dan juga Azriel sendiri, apapun yang terjadi semua akan terjadi sesuai dengan keinginannya, kita tak boleh memaksanya."

__ADS_1


"Baiklah, jika memang Abidzar setuju maka kamu harus membantuku untuk membujuk Azriel."


"Tidak, itu pilihannya, dia mencintai siapa."


"Kita coba saja untuk membujuknya bukan memaksa."


"Tidak, aku tak mau melakukan hal itu. Azriel sudah dewasa, dia pasti bisa menentukan ia ingin menikah dengan siapa. Farah aku tak mau kau ikut campur masalah anak-anak."


"Aku bukannya ikut campur, tapi Lucia menyukai Azriel, hatinya pasti sakit jika Azriel memilih Mentari. Khanza, ini belum terlambat. Kita masih bisa menjodohkan mereka dan menjauhkan Mentari dari Azriel."


"Menjauhkan? Apa maksudmu menjauhkan Mentari? Jangan bilang kamu ingin melakukan sesuatu yang bisa membuatmu menjauhi putraku dan gadis yang ia cintai."


"Khanza, kamu jangan lupa Azriel juga putraku dan aku juga tahu apa yang terbaik untuknya. Aku tak mungkin menjodohkan mereka jika aku tahu putriku bukanlah orang yang tepat untuk putra kita."


"Aku tahu, kau juga menyayangi Azriel, tapi Farah bagaimana jika kita menjodohkan mereka, tapi Azriel tetap bersikeras ingin bersama dengan Mentari. Bukankah sebaiknya kita memberitahu putrimu untuk menyimpan perasaannya untuk Azriel, semua sudah jelas Azriel menyukai Mentari."


Mereka terus berdebat, Khanza terus menginginkan jika Azriel akan menikah dengan wanita pilihannya, sedangkan Farah tetap bersikeras untuk menjodohkan mereka. Ia tak mau putrinya itu merasa sakit hati karena penolakan Azriel, ia yakin jika mereka bersatu ingin menjodohkan mereka. Azriel pasti mendengarkan apa yang mereka bertiga katakan, Azriel anak yang penurut.


"Ada apa ini?" tanya Abidzar yang baru saja datang.


Keduanya terdiam membuat Abidzar duduk di tengah-tengah keduanya menatap mereka bergantian.


"Apa yang kalian bahas sehingga kalian terlihat bersitegang seperti ini?" tanya Abidzar masih menatap wajah keduanya.


"Mbak Farah ingin menjodohkan Azriel dengan Lucia, katanya Lucia menyukai Azriel, tapi aku tak mau. Aku akan menyerahkan keputusan kepada Azriel sendiri. Ia mau menikah dengan siapa, Lucia atau Mentari," tegas Khanza.


"Tapi, Mas. Jika Azriel memilih Mentari, putriku akan sakit hati dan aku tak mau melihatnya menangis dan merasakan sakit hati. Kita bisa mencobanya dulu, kita bisa beritahu Azriel jika kita ingin menjodohkan mereka dan mencoba untuk mereka lebih dekat. Kita juga bisa melakukan cara agar Mentari menjauh Azriel, kita bisa melakukan berbagai cara jika kita memang ingin keduanya bersama."


"Kamu ingin mendukung siapa, Mas?" tanya Khanza tegas menatap tajam pada suaminya, begitupun dengan Farah. Ia juga menatap tajam pada mantan suaminya itu, kini keputusan ada di tangan Abidzar. Apakah ayah Azriel ingin mendukung Khanza atau Farah.

__ADS_1


__ADS_2