
"Khanza. Apa kamu mau suamimu menemanimu dalam proses persalinan nanti? Jika mau, ia bisa masuk ke dalam ruang operasi untuk menemanimu," ucap dokter Nita, menggenggam tangan Khanza.
Sebenarnya Dokter Nita juga ingin jika khanza setuju suaminya menemaninya saat persalinannya, setidaknya dengan begitu hubungan mereka akan menjadi lebih baik lagi. Seorang suami akan lebih menyayangi istrinya saat melihat perjuangan seorang istri melahirkan keturunannya, mereka akan lebih menghormati dan menyayangi istrinya saat melihat betapa besar pengorbanan seorang istri melahirkan anak mereka dan dokter Nita ingin khanza juga mendapat rasa simpati itu dari suaminya.
"Apa kak Abi tahu kalau aku sedang ada di rumah sakit ini dan akan melahirkan?" tanyanya pada dokter Nita, Khanza sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Nita.
"Suamimu baru saja menemui kami dan dia ingin menemanimu saat persalinan, ia memohon dan meminta maaf padamu."
Khanza terdiam, entah mengapa mendengar jika suaminya ada disekitarnya membuat hatinya sakit dan kembali terbayang rasa kecewanya disaat suami itu membohonginya dengan menukar obat yang seharusnya menunda kehamilannya justru menyuburkan Kandungannya agar ia Kembali hamil lagi, walau iya sudah menolak dan meminta waktu untuk menyiapkan dirinya melawan rasa takutnya. Khanza belum bisa memaafkan itu, memaafkan kesalahannya suaminya.
Dia sangat mencintai suaminya. Namun, rasa kecewanya jauh lebih besar.
"Aku nggak mau ditemenin sama kak Abi, Dokter! Aku nggak mau dia melihat dia, jika bisa aku juga tak mau dia melihat anakku. Ini hanya anakku. Aku nggak mau mereka menemuinya," ucap Khanza yang kini terisak.
"Khanza tenanglah, jika kau tak mau menemuinya kami tak akan memaksa, keputusan ada ditangan kamu."
Dokter Nita langsung membawa Khanza ke pelukannya,
"Tenanglah kamu harus tenang, ingatlah bayimu. Aku akan bicara padanya jika kamu tak ingin menemuinya. Dia tak akan bisa walaupun memaksa, tenanglah," ucap Dokter Nita.
Dokter Dewi masuk,
"Bagaimana?" tanyanya.
"Khanza tak ingin bertemu dengan suaminya," ucap Dokter Nita masih berusaha menenangkan Khanza.
"Kalau kamu tak ingin bertemu kami tak akan memaksa, operasinya akan kita lakukan 15 menit lagi tenangkan dirimu aku akan meminta Damar dan Daniel untuk mengurus suamimu, jika ia tetap memaksa kami akan meminta bantuan pihak keamanan rumah sakit. Jika kamu tak mau, maka itulah yang akan kami lakukan."
Dokter Dewi menemani Khanza sekaligus menyiapkannya untuk operasi sesar sebelum masuk ke ruang operasi, sedangkan dokter Nita kembali ke ruangan dokter Dewi di mana Abizar masih menunggu disana.
Abizar menunggu dengan tidak sabar keputusan Khanza, ia sangat berharap Khanza mau mengijinkannya untuk menemaninya, sudah cukup dirinya tak menemaninya saat proses persalinan Aziel, kali ini ia sangat ingin menemani Khanza dalam proses persalinan.
Ponsel Abizar berdering itu adalah panggilan dari Farah.
"Mas, kamu di mana. Kamu nggak pulang?" tanya Farah.
__ADS_1
"Aku sedang di rumah sakit, Khanza akan melakukan operasinya malam ini juga, mungkin malam ini aku akan menginap di sini," jelas Abizar.
"Apa ... Khanza akan melahirkan! di rumah sakit mana, Mas. Aku juga akan kesana?"
"Di rumah sakit X, operasinya akan laksanakan sekitar 15 atau 20 menit lagi."
"Aku akan kesana sekarang juga," ucap Farah mematikan ponselnya.
Begitu Farah berbalik ia terkejut saat melihat Warda ada di belakangnya dengan ekspresi lebih terkejut lagi darinya. Ia mendengar semua percakapan mereka.
"Apa maksudmu Khanza ingin melahirkan? Apa di hamil lagi?" tanya Warda masih dalam keterkejutannya.
"Mah, aku ingin pergi dulu, aku pamit dulu," ucap Farah tak ingin menjawab pertanyaan mertuanya.
Wadah langsung menarik lengan Farah.
"Jawab Mama, apa kalian sudah menemukan Khanza dan apa yang tadi kau bicarakan dengan Abizar? Siapa yang mau melahirkan?"
Farah terdiam, ia bingung apakah harus menjelaskan kepada mertuanya atau merahasiakannya.
"Iya Mah, Khanza ada di rumah sakit X dan sebentar lagi akan melakukan operasi, Mas Abi sudah ada di sana."
Warda langsung berlari menuju ke kamarnya mengambil tas dan merapikan penampilannya.
"Ayo tunggu apa lagi, kita harus pergi kesana. Warda berjalan cepat menuju ke mobil sambil terus berteriak memanggil Farah yang masih larut dalam pikirannya.
Apakah tindakannya benar dengan memberi tahu mertuanya jika mereka sudah bertemu dengan khanza, pada kenyataannya kondisi mereka masih menegang.
"Farah Ayo cepat, panggil Wardah membuat Farah tersadar dari lamunannya dan kemudian menyusul mertuanya yang sudah berada di dalam mobil.
Mereka pun berangkat ke rumah sakit dan mama terus saja menyuruh Farah membawa mobilnya dengan cepat, ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Aziel, belum lagi kabar jika Khanza akan melahirkan semakin membuatnya tak sabar ingin sampai ke rumah sakit.
Dokter Nita menemui Abizar di ruangan dokter Dewi, begitu melihat dokter Nita datang Abizar langsung berdiri.
"Bagaimana dokter? Khanza mau kan aku menemaninya?" tanya Abizar.
__ADS_1
"Maaf Pak, Ibu Khanza menolak dan kami mohon Anda menerima keputusannya. Saat ini istri Anda tidak baik-baik saja, iya sedang dalam tekanan, melawan rasa takutnya akan proses persalinan, jadi kami mohon jangan menambah bebannya kami mohon pengertian Anda jika memang menyayangi istri dan anak Anda," jelas Dr Nita.
Abizar tak bisa berkata apa-apa, ia juga mengerti kondisi Khanza dan memang saat ini ia tak boleh memaksakan kehendaknya.
"Baiklah dokter, saya akan menunggunya di luar," ucap Abizar akhirnya.
"Terima kasih Pak, atas kerjasamanya. kalau begitu saya permisi dulu saya juga harus menenangkan Khanza dalam ruang persalinannya, kita doakan saja semoga Ibu dan bayinya selamat sehat," ucap Dr Nita sebelum berlalu dari ruangan itu.
Disaat Khanza sudah masuk ke ruang operasi, Abizar dan yang lainnya hanya bisa menunggu di luar ruang operasi sambil melihat lampu ruangan yang sudah mulai dinyalakan, pertanda jika operasi sedang berlangsung.
Semua diam, larut dalam pikiran mereka masing-masing, tak ada yang saling tegur.
Daniel, Damar, Abizar, kakek dan nenek semua menunggu di luar, sementara Azrliel sedang dibawa oleh Aqila ke taman di mana di sana sudah disiapkan untuk anak-anak bermain.
Belum juga Farah memarkirkan mobilnya dengan benar Warda sudah turun dari mobil dan berjalan cepat masuk rumah sakit.
"Aziel di mana kamu Nak, nenek sangat merindukanmu," ucap Warda terus saja memanggil nama asli setiap langkahnya, ia sudah sangat merindukan cucunya, beberapa bulan tak bertemu dengannya sungguh sangat menyiksanya.
Warda bertanya pada resepsionis di mana tempat operasi Khanza.
Begitu mendapat lokasinya Warda kembali berjalan cepat disusul oleh Farah yang sedikit berlari mengejar mertuanya itu.
"Nenek … Bubu," panggil Aziel melihat nenek dan bubunya berjalan di lorong rumah sakit.
"Cucuku … ," teriak Warda berlari merentangkan tangannya begitu juga dengan Aziel.
Warda memeluk cucunya dengan sangat erat, mencium seluruh wajahnya air mata bahagia tak bisa ia tahannya, tak mempedulikan orang-orang di sekitarnya yang menatapnya heran. Warda sampai terisak saking bahagianya ia kembali bisa melihat cucunya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote, gift dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖