
"Eh ... Apakah ini klarifikasi?" Tanya seseorang dengan suara sedikit nyaring, sengaja agar didengarkan oleh orang lain.
"Klarifikasi apa?" Sahut yang lainnya.
"Postingan dari Khanza," jawabnya masih dengan sengaja mengeraskan suaranya membuat orang-orang yang mendengarnya langsung mengambil ponsel dan melihat apa postingan yang dimaksud oleh orang tersebut.
Semua terkejut melihat apa isi postingan tersebut, di sana tertulis pernyataan yang menegaskan jika Khanza dan Farah memanglah istri dari bos mereka, unggahan 2 foto pengantin bos mereka dengan 2 wanita yang berbeda, menyertakan beberapa penjelasan singkat.
Selain keterangan mengenai hal tersebut, Abizar juga menyatakan kalimat ancaman agar berhenti menghujat Khanza istrinya, jika mereka masih ingin bekerja di perusahaannya.
Semua bisa tau jika bukan Khanza yang mengirim postingan itu dilihat dari kata-kata yang tertulis di sana.
****
"Ayo kita masuk," ucap Abizar menggenggam tangan Khanza lalu mengecupnya.
Khanza tak bergeming, tak menjawab atau pun tak merespon apa yang Abizar ucapkan.
Abizar turun dari mobil kemudian mengitari mobil membuka pintu untuk Khanza.
Khanza masih tetap duduk di tempatnya dan kini membuang pandangannya melihat ke arah berlawanan dari Abizar, berusaha menahan air matanya, kini rasa sakit hatinya kembali datang menyerang pertahanan yang membuat air mata kembali membasahi pipinya.
"Aku minta maaf kalau lagi-lagi aku menyakiti perasaanmu," ucap Abizar yang kini duduk di samping Khanza.
"Aku malu sama orang-orang yang terus aja menganggapku sebagai perusak rumah tangga Kakak dan mbak Farah. Mereka terus saja membanding-bandingkan aku, Kak. Aku sadar, aku ini hanya gadis desa yang jauh berbeda dari mbak Farah, mbak Farah jauh lebih unggul dari segala hal dibanding aku," ucap Khanza yang kini terisak, Ia sudah tak tahan lagi, rasanya benar-benar sakit, mengetahui dirinya terus dibandingkan dengan sosok Farah, madunya.
"Di mataku kalian berdua itu sama, kalian memiliki kelebihan masing-masing," ucapnya mengelus lembut perut Khanza. "Kamu jangan terus bersedih, kasihan bayi kita, ia pasti sedih saat tahu namanya juga bersedih," ucap Abizar menghapus air mata Khanza yang jatuh karenanya.
"Apa kau ingin kita mengadakan pertemuan langsung dengan para karyawan dan mengungkapkan jika kamu itu adalah benar-benar istri sah ku bukan seperti yang mereka pikirkan?"
Khanza menggeleng.
"Ya sudah kalau begitu, kamu tak usah menangis, tak usah mendengarkan perkataan mereka, mereka hanya bisa berkomentar tanpa tau jika itu bisa saja menyakitkan orang lain," kesal Abizar.
Membawa Khanza ke pelukannya.
__ADS_1
Abizar mengeraskan rahangnya, ia sangat marah saat melihat hinaan yang di yang ditujukan pada Istri, Abizar mengancam jika satu hinaan saja yang istrinya dapatkan ia tak akan segan-segan memecat mereka.
Di kantor.
Farah selama ini sebenarnya tahu jika semenjak ia bekerja di perusahaan suaminya, ia sudah menjadi bahan gunjingan orang-orang kantor, ia juga sering melihat postingan postingan yang mereka kirim.
Ya, Farah melihat saja postingan mereka tanpa ada niat ingin berkomentar sedikitpun walau iya sangat gemes dengan postingan mereka.
Saat di kantin tadi Farah bisa melihat jika Abizar terlihat cemburu saat beberapa pria melihat dan terus memperhatikan Khanza, ia bisa melihat jika suaminya itu sudah sangat mencintai madunya.
Farah bisa melihat tatapan orang-orang saat Abizar menghampiri Khanza dan membawanya pergi dari kantin perusahaan itu.
Farah yang memang memiliki akun media sosial bisa melihat betapa ramainya postingan daripada karyawan mengenai hubungannya, Khanza dan Abizar. Namun, lagi-lagi Farah tak berkomentar.
Farah hanya terus melihat semua postingan mereka, hingga ia melihat satu postingan dari Khanza yang memposting foto pernikahan mereka berdua, foto pernikahannya dan juga Abizar serta foto pernikahan Abizar dan Khanza.
Farah membaca kata-kata yang menyertakan foto tersebut, ia tahu betul jika kata-kata itu pastinya ditulis oleh Abizar. Farah tersenyum saat membaca pada bagian ancaman yang berada pada kalimat terakhir tulisan Abizar. Farah hanya bisa menggeleng.
"Mas Abi, kamu sudah banyak berubah, semenjak mengenal Khanza Sepertinya aku sudah tak mengenalmu lagi. Kau bukanlah Abizar ku yang dulu aku kenal," batin Farah.
Farah masih mengingat dengan jelas, jika sewaktu dulu jika Farah mendapat hujatan dari media sosial saat mendekatinya dan diawal pernikahan nya, Abizar hanya mengatakan abaikan saja, seberapa julitnya pun mereka tak memicu kemarahan Suaminya.
Abizar yang ia kenal adalah sosok yang tak terlalu peduli dengan orang-orang di sekitarnya, yang ia pedulikan hanyalah sesuatu yang menyangkut dirinya dan perusahaannya.
Farah mendapat pesan dari Abizar jika hari ini ia tak akan kembali ke kantor. Abizar minta dia dan Fahri untuk mewakili semua rapatnya hari ini.
"Coba lihat dirimu mas, kamu sudah berubah, jika dulu rapat biasa saja tak pernah kau lewatkan.Tapi sekarang, rapat yang begitu penting kau abaikan demi menemani Khanza," gumam Farah kemudian menyimpan ponselnya lantas beranjak untuk menghadiri rapat berikutnya.
***
Di ruangan staf Aqila sudah ditodong pertanyaan-pertanyaan dari Nindi dan Sinta, bukan pertanyaan lebih tepatnya keluhan dan protes.
"Kalian benar-benar ya, tega kalian merahasiakan ini semua dari kami," ucap Nindi melipat tangannya didada berdiri menatap Aqila yang duduk di kursi kerjanya.
"Maaf hari itu aku bener-bener lupa dengan kalian," alasan Aqila.
__ADS_1
"Emangnya pernikahan mereka nggak diselenggarakan apa? Sampai tak satupun orang kantor yang tahu?" Tambah Nindi.
"Pernikahan itu diselenggarakan secara sederhana, hanya dihadiri oleh kedua pihak keluarga, orang kantor hanya orang-orang penting saja yang datang."
"Mengapa pernikahan mereka tak diselenggarakan besar-besaran?"
"Ya, mana aku tahu, yang pastinya katanya itu semua keinginan pak Abizar, Khanza cuma menurut saja."
"Tapi, kok Khanza mau ya jadi istri kedua!"
Aqila menghela nafas, sepertinya sudah tak ada lagi yang harus ditutupi dari kedua temannya ini.
Aqila melihat ke kiri dan ke kanan memastikan tak ada orang yang akan mendengar pembicaraan mereka, Nindi dan Sinta juga melakukan hal yang sama kemudian mereka mendekat, mereka tahu jika Aqila ingin mengatakan sesuatu yang bersifat rahasia. Jiwa kepo mereka meronta-ronta ingin segera mendengar apa yang akan Aqila katakan.
"Jadi sebenarnya begini, Khanza dan pak Abizar itu tak sempat pacaran, mereka baru sekitar seminggu PDKT gitu dan Pak Abizar langsung melamar Khanza."
"Yang benar, aku pikir mereka pacaran diam-diam gitu di belakang kita," sahut Nindi memotong pembicaraan Aqila.
"Terus-terus," ucap Sinta masih dengan raut wajah penasarannya.
"Jadi tuh sama dengan kita, Khanza juga nggak tahu kalau Pak Abizar itu sudah menikah!"
"Apa," Pekik keduanya, dan langsung membekap mulutnya masing-masing.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
sambil nunggu update terbaru, yuk kita ramaikan karya salah satu teman sesama author. Tak kalah seru lho kak.
Salam dariku 🙏 Author m anha ❤️
jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏
__ADS_1
love you all 💕💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖