Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Menyarah.


__ADS_3

Khanza kembali berteriak histeris dan melempar obat yang dipegangnya, membuat bibi yang berada tak jauh darinya ikut tersentak kaget mendengar teriakkan Khanza.


"Bibi. Kenapa Kak Abi jahat sama aku, Bi. Apa salahku, Bi," ucap Khanza terus mengadu pada asisten rumah tangganya.


Khanza terduduk menangis menutup wajahnya dengan 10 jarinya, ia benar-benar merasa kecewa dengan sosok yang selama ini dikaguminya, sosok yang ia harap menjadi pelindungnya justru dialah yang selalu saja menyakiti hatinya.


Khanza kembali berteriak histeris menumpahkan segala rasa sesaknya, Bibi hanya bisa melihat majikannya itu sambil ikut menangis, Bibi tak bisa berbuat apa-apa.


Khanza berdiri dan menepis semua barang-barang yang ada di atas meja kerja Abizar, semua barang-barang di atas meja itu jatuh ke lantai berserakan. Khanza kembali mengobrak-abrik seluruh ruangan itu sambil terus berteriak histeris, Bibi yang melihatnya bahkan sudah ikut meraung mencoba menenangkan Khanza


"Kenapa, Bi. Kenapa?" Khanza terus mengacaukan ruangan Abizar.


"Sudah Non, jangan seperti ini, Bibi mohon," ucap bibi mencoba menahan Khanza yang terus saja menggila ia menghamburkan semua barang-barang yang ada di sana.


Khanza yang merasa kelelahan menghentikan kegilaannya, Bibi langsung menarik Khanza ke pelukannya mengelus-ngelus punggung majikan itu. mereka terduduk dilantai.


Khanza kembali menangis, menangis, dan terus menangis, ia hanya bisa menangisi apa yang terjadi pada dirinya.


Lama Khanza menangis di pelukan Bibi.


Bukan cuman Khanza yang sesegukan, bibi juga mengalami hal yang sama. Bibi juga sesegukan sambil terus memeluk majikannya itu.


Ponselnya berdering.


Khanza melepas pelukannya pada bibi dan mengambil ponsel yang ada di tas ponsel yang masih menggantung di pundaknya,


"Aqila," ucapnya saat melihat orang yang memanggil adalah sahabatnya.


"Khanza kamu dimana, aku dah dari tadi nunggu, ini udah mau jam kantor lagi, Nih," ucap Aqila saat Khanza mengangkat panghilannya.


Aqila yang sudah menunggu di mall menelpon Khanza saat ia tak juga datang. Mereka sudah janjian akan berbelanja make up. Namun, khanza yang ditunggu sejak tadi tak kunjung datang.


"Aqila, Kak Abi jahat, mereka semua jahat," keluh Khanza yang kembali menangis membuat Aqila di seberang sana menjadi khawatir.


"Ada apa, katakan kamu jangan membuatku takut?" tanya Aqila mulai panik.


Khanza yang terbiasa curhat dan akhirnya mulai menceritakan semua apa yang dialaminya, dimulai dari keinginan Abizar yang memintanya untuk hamil lagi, menceritakan mimpinya dan terakhir menceritakan apa yang telah Abizar dilakukan. Abizar yang telah membohongi dan menukar obatnya dan juga keluarganya yang seolah tak menghargai keberadaannya.


"Aqila, mereka semua jahat," ucap Khanza mengadu pada sahabatnya.


Bibi yang tadinya tak tahu menahu menjadi tahu apa penyebab dari kegilaan majikannya itu. Bibi merasa kasihan mendengar apa yang dialami oleh Khanza.


Aqila mendekap mulutnya mendengar semua cerita dari sahabatnya itu.


"Kamu yakin. Pak Abizar melakukan itu semua, kamu sudah memastikannya?" tanya Aqila yang masih belum percaya, dia bisa melihat betapa besarnya cinta Bosnya itu kepada sahabatnya.

__ADS_1


"Aku sudah membuktikannya sendiri, aku mendengar kak Abi sendiri yang berbicara jika dia yang menukarnya, aku juga sudah memeriksa memang benar semua buktinya ada. Aqila, apq yang harus aku lakukan, aku benar-benar tidak mengerti mengapa semua ini terjadi padaku," ucap Khanza kembali menagis menumpahkan segala rasa sakitnya.


Bibi hanya terus mengelus punggung Khanza agar majikannya itu lebih tenang.


"Aku akan kesana sekarang?" ucap Aqila.


"Jangan, aku tak mau kau masuk dalam masalahku. Biar aku yang ke kost, nanti kita bicara lagi di sana."


"Apa maksudmu?" tanya Aqila.


"Aku sudah tidak tahan. Aku ingin pergi dari sini, aku ingin meninggalkan semua duka ini. Kita ketemu setelah aku menjemput Aziel." Khanza melihat jam di pergelangan tangannya.


Sekarang menunjukkan jam istirahat kantor berarti suaminya masih di kantor biasanya Abizar akan pulang pukul 4 atau 5 sore dan malam ini Abizar bergiliran tidur di rumah Farah, sedangkan Aziel akan tidur bersamanya.


"Sebentar lagi jam kantor, aku harus masuk kantor kamu ke kos-kosan saja dulu, sepulang dari kantor aku akan langsung pulang kita bicarakan di kos-kosan."


"Ya sudah, aku akan menjemput Aziel kemudian ke kos-kosan. Kamu harus tetap masuk kerja jangan sampai kak Abi curiga padamu. Aku tak ingin kau terkena masalah karena aku," ucap Khanza mengingat Abizar pernah menggunakan Aqila untuk membuatnya patuh.


"Ya sudah, aku siap-siap, dulu!" ucap Khanza mengusap air matanya dimantapkan hatinya.


"Bibi bantu aku," ucap Khanza langsung menarik Bibi menuju ke kamarnya.


Bibi yang tak tahu apa-apa hanya mengangguk dan mengikuti saja.


Khanza mengambil koper dan memasukkan barang-barangnya dan Aziel, tak lupa ia mengambil semua perhiasan serta barang-barang berharga yang mungkin dibutuhkannya.


"Bi. Bibi mendengar semua pembicaraanku dengan Aqila, aku mohon Bibi merahasiakannya dari siapapun."


"Tapi, Non alangkah baiknya bicara dulu dengan tuan Abizar, bicaralah baik-baik," ucap bibi.


"Tidak, Bi. Kalau aku bicara baik-baik aku tak akan pergi dari tempat ini kak Abi pasti akan menahanku dan juga Ziel."


"Tapi" ucap Bibi.


"Bi. Bibi sudah tahukan Bagaimana keluargaku Rumah tanggaku jika anak Bibi ada di posisiku akankah Bibi menyuruhnya bertahan atau justru mengambil anak Bibi?" ucap. Khanza menatap Bibi.


"Ya Sudah, Bibi akan membantumu," ucap bibi kembali membantu Khanza memasukkan barang nya. Khanza menang majikan. Namun, dia sudah menganggap Khanza sebagai putrinya sendiri, kebaikan hati Khanza yang tak pernah membeda-bedakan mereka membuat mereka sangat dekat.


Khanza masuk ke kamar mandi mencuci wajahnya yang terlihat sembab, memberi sedikit polesan make up agar tak terlalu kentara jika ia habis menangis, sebelum keluar Khanza membuka cincin kawinnya dan meletakkannya di atas nakas di samping tempat tidur.


"Maaf Kak, aku memang sangat mencintaimu. Namun, rasa sakit yang kau berikan mengalahkan rasa cintaku padamu. Aku harap kau bisa bahagia dengan Mbak Farah, aku benar-benar sudah tidak tahan dengan hubungan keluarga kita, aku bahagia pernah menjadi istrimu," tulis Khanza di secarik kertas dan menyimpan cincin kawin mereka di atas catatannya.


Sebelum keluar, Khanza melihat kembali kamar yang sudah sangat berantakan kemudian menarik kopernya keluar.


Bibi dengan setia menemaninya mengantarnya ke luar.

__ADS_1


Sebelum pergi Khanza kembali memeluk Bibi. selama ini Khanza seperti memiliki ibu kandung, memiliki Ibu yang perhatian padanya dia sudah sangat menyayangi bibi.


"Kamu baik-baik ya disana, dimanapun kamu berada. Jangan lupa telepon Bibi


Kalau ada apa-apa ya, Bibi janji akan merahasiakan keberadaanmu dari tuan."


Pak Tarno juga menghampirinya, mengambil tas dan memasukkannya ke jok belakang taksi. Khanza sengaja memesan taksi, ya tak ingin pak Tarno mendapat masalah.


"Pak, Khanza minta maaf ya, kalau selama ini Khanza punya salah sama Bapak," ucap Khanza pada Pak Tarno. Pak Tarno hanya mengangguk.


"Kamu hati-hati ya di luar sana, jika butuh sesuatu telepon Bapak saja. Bapak juga berjanji akan merahasiakan keberadaanmu dari pak Abizar.


"Makasih ya, pa Tarno, Bibi. Khanza pamit," ucap Khanza.


Bibi membukakan pintu dan sebelum masuk Bibi kembali memeluk Khanza.


"Semoga keputusan yang kamu ambil bisa membawa kebahagiaan untukmu, doa Bibi selalu bersamamu," ucap Bibi.


Sepanjang perjalanan ke rumah lama Khanza terus memantapkan hatinya.


Khanza menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan nafasnya, ia berusaha mengatur ritme jantungnya.


Khanza menelpon Abizar.


"Halo, Kak! Kakak dimana" tanya Khanza.


"Aku masih di kantor, Ada apa?" tanyanya.


"Aku sedang menuju ke rumah lama, malam ini Aziel tidur denganku, ya?" ucap Khanza sengaja melakukannya agar mereka punya waktu untuk mencari tempat tinggal dan Abizar tak curiga.


"Iya, kemarin malam 'kan Aziel tidur bersama dengan Farah, jadi malam ini Ziel tidur denganmu," jelas Abizar, sedangkan ia sendiri masih mendapat giliran tidur di rumah Farah.


"Udah ya kak, aku tutup," Khanza menutup panggilannya, suaranya mulai bergetar, ia tak ingin banyak berbicara takut jika Abizar bisa mengetahui kondisinya.


Khanza mulai berkaca-kaca mendengar suara Abizar. Iya mencoba menenangkan hatinya agar tak kembali menangis, Khanza harus terlihat baik-baik saja saat menjemput Aziel.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like vote dan komennya..🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


Maaf ya komentarnya ga dibales, tapi dibaca kok🙏🙏


__ADS_2