Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Abizar vs Daniel part 3


__ADS_3

Abizar mengerjapkan matanya saat merasa sakit di sekujur tubuhnya, ia tidur di lantai hanya beralaskan karpet tipis dan ada Aziel di atas dadanya, terasa sangat sulit untuk bergerak, tubuhnya terasa remuk. Dengan perlahan Abizar coba bangun sambil tetap mendekap Aziel yang masih tertidur pulas.


Mereka berdua tidur saat menjelang subuh, bahkan Abizar tak tahu kapan Aziel tidur, Ia lebih dulu tertidur dibanding anaknya.


Dengan perlahan Abizar menggendong Aziel mengangkat dan membaringkannya di samping Khanza di sana ia sudah tak melihat Farah.


"Sepertinya Farah sudah bangun," ucapnya.


Aziel seperti bisa meresakan kehadiran mamanya, ia langsung masuk ke pelukannya Khanza begitupun dengan Khanza langsung memeluk putranya.


Abizar yang masih merasa ngantuk dan tubuhnya yang terasa remuk, tidur di samping Khanza, menyingkirkan Aziel dan mengganti dengan bantal kemudian ia yang tidur sambil memeluk Khanza.


Khanza terbangun saat merasakan sesak, saat membuka mata ia melihat wajah tampan suaminya ada di depannya, wajah yang sangat dirindukannya. Sejenak Khanza menikmati pemandangan yang sudah lama tak lihatnya.


Beberapa hari tak melihat Abizar sungguh membuatnya sangat merindukan sosok suami yang sudah memberi kebahagiaan dan luka di hatinya.


Khanza kembali mengingat kata-kata Daniel semalam. Entah mengapa kata-kata itu terus saja terlintas di pikirannya.


Khanza terus memperhatikan wajah Abizar hingga yang di pandang membuka mata.


"Selamat pagi," ucap Abizar dengan suara seraknya, membuat jantung Khanza langsung berdegup kencang. Cintanya pada suaminya semakin hari semakin besar.


Abizar sekilas mengecup bibir Khanza,


"Pagi Kak. Aku sangat merindukanmu," ucap Khanza tanpa disadarinya.


Abizar kembali mengecup Bibir Khanza dan memperdalam ciumannya.


Khanza menutup matanya menikmati apa yang dilakukan suaminya pada tubuh, bayangan suaminya telah melakukan hal yang sama pada Farah semalam tiba-tiba terlintas di pikirannya buat Khanza mendorong dada Abizar.


"Ada apa?" tanya Abizar yang mendapat penolakan dari Khanza.


Khanza tak menjawab, ia duduk dari tidurnya dan ingin beranjak dari tempat tidur.


Abizar menahan lengan Khanza, "Ada apa, katakan padaku?"


"Nggak apa-apa, Kak. Aku mau ke kamar mandi," ucap Khanza tanpa melihat ke arah Abizar, matanya terasa panas, ia berusaha menahan air matanya.


Abizar menarik Khanza ke pelukannya.


"Katakan padaku, ada apa? Apa semalam Daniel melakukan sesuatu padamu? Apa Ia mengatakan hal yang menyakiti hatimu?"


Khanza menggeleng, denger isakan kecil disana, Abizar mempererat pelukannya, ia sangat merindukan istri kecilnya itu, Khanza membalas pelukan Abizar, ia juga menginginkan pelukan Suaminya.


"Ada apa ini?" ucap Farah masuk dan melihat Khanza menangis.

__ADS_1


Khanza melepas pelukannya dan mengusap air matanya dengan cepat.


"Nggak papa kok Mbak," ucapnnya.


Abizar mengelus lembut rambut Khanza, dia tahu istrinya itu sedang tidak baik-baik saja. Namun, ia tahu apa penyebabnya.


"Mas, kamu pulang nggak beritahu ibu?"


"Ya ampun, aku lupa!" Abizar menepuk jidatnya.


"Mas ada-ada aja sih, bisa-bisanya Mas lupain mamaku," kesal Farah.


"Semua itu gara-gara Daniel dan kamu," ucapnya melihat Khanza.


"Lah ... kok, malah nyalahin aku sih, Kak. Aku kenapa?" sahut Khanza tak terima.


"Udah jangan saling salah-salahan, tadi mama nelpon marah-marah katanya dia baru saja mengkonfirmasi Mas pada pihak hotel dan mereka mengatakan Mas udah check out."


"Mama sangat marah saat tahu kalau Mas sudah ada di sini," tambah Farah.


"Ya sudah, aku akan pesankan tiket untuk mama, meminta orang untuk mengantarnya ke bandara. Nanti biar Fahri yang menjemputnya," ucap Abizar.


"Enggak usah, aku sudah mengaturnya. Mama sudah di pesawat sekarang dan aku sudah meminta Fahri untuk menjemput mama di bandara, Mama pasti sangat marah sama kamu Mas."


Abizar mengusap lehernya,


"Itulah, kak selalu cemburu, tak percaya padaku, walaupun Daniel ke sini belum tentu kan aku dekat-dekat dengannya, keganjenan dengan dia. Pasti kakak berpikir seperti itu kan, kalau aku dekat-deket sama Daniel, makanya kakak cepat pulang."


"Lalu semalam apa?"


"Bukan aku kok yang ngajak, dia datang sendiri."


"Ya pastilah dia akan terus mendekati kamu."


"Malah aku sudah memintanya untuk pergi, aku udah bilang nanti mas Abi marah! Eh dia malah bilang Mas Abi saja bersama dengan Mbak Farah, kenapa aku katanya nggak boleh bersama dengan pria lain," ucap Khanza mengingat percakapannya dengan Daniel semalam.


Farah dan Abizar saling pandang, Apakah itu yang membuat Khanza bersedih pagi ini.


Itulah yang ada di pikiran mereka saat ini.


"Udah Ah! Aku mau mandi, aku mau jalan-jalan ya Kak, sama Aqila hari. Besok dia akan pulang. Aku ingin membawanya ke tempat-tempat liburan di daerah sini," ucap Khanza beranjak dari tempat tidur, mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi tanpa beban. Tanpa ia sadari sudah membuatku Farah dan Abizar merasa bersalah.


Abizar mengusap wajahnya, ia lupa jika istrinya itu belum seikhlas Farah saat mereka bersama.


"Bagaimana dengan rumah, apa semuanya sudah siap?"

__ADS_1


"Sudah Mas, aku sudah menyiapkan semuanya. Sepulang dari sini kita bisa langsung pindah, aku rasa memang kita harus tinggal di rumah yang berbeda, itu adalah jalan yang terbaik, dengan begitu kita tak saling menyakiti."


Abizar hanya mengangguk mengiyakan apa yang diucapkan Farah.


"Jangan biarkan Daniel berduaan dengan Khanza, aku takut dia akan meracuni pikiran Khanza dan mengatakan yang tidak-tidak. Daniel bisa saja mengatakan hal-hal yang bisa menyakiti hati Khanza mempengaruhinya. Khanza masih sangat labil."


"Ya Mas, selama ini aku selalu mengawasi mereka, tapi sepertinya Daniel selalu mencari kesempatan untuk bisa dekat dengan Khanza."


"Hmmm, aku sangat ingin menghajarnya."


"Daniel itu kurang kerjaan banget sih, Mas. Ia sudah tahu jika Khanza itu istri kamu, kenapa dia tidak mendekati Aqila saja yang jelas-jelas menyukainya," kesal Farah.


"Sudahlah aku akan bicara padanya, dia benar-benar sudah kelewatan."


"Sebaiknya jangan di sini, Mas. Mas masih belum dimaafkan seutuhnya, takutnya jika Mas kembali buat masalah itu hanya akan menambah buruk nama Mas di mata kakek."


"Daniel benar-benar memanfaatkan semua kesempatan yang ada dan aku yakin, aku akan mencari bukti jika yang mengganggu bisnismu adalah Daniel, aku yakin ini adalah rencana lain di balik semua itu, pasti dia merencanakan sesuatu yang tidak kita ketahui."


"Mas Fokus saja sama pekerjaan Mas dan Khanza. Aku akan coba menangani sendiri sepulang dari sini, setelah Khanza pindah.


"Tidak, aku sudah meminta beberapa orang untuk mencari informasi, kita tunggu saja informasi dari mereka, mereka orang-orang kepercayaanku."


"Baiklah, terserah Mas saja."


Khanza keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di dadanya, Ia lupa membawa pakaian ganti karena terlalu terburu-buru, masih terbawa suasana sedih bercampur kesal.


"Anak bubu sudah bangun, ya," ucap Farah saat Aziel menggeliat dan langsung duduk.


"Kita ke kamar mandi ya, pipis dulu," ucap Farah membawa Aziel ke kamar mandi, membersihkan tubuh anak itu, mengganti popok dan mengajarinya untuk buang air kecil di kamar mandi saat pagi.


Abizar yang melihat Farah membawa Aziel ke kamar mandi langsung menghampiri Khanza yang sedang memilih baju.


Abizar tak bisa menahan, melihat pemandangan indah yang ada di depannya.


"Kak," pekik Khanza saat Abizar menerkamnya.


Khanza menikmati setiap sentuhan suaminya. Nafas keduanya sudah saling memburu. Mereka saling merindukan kehangatan satu sama lainnya.


Abizar harus menghentikan kelakuannya saat mendengar suara Farah keluar dari kamar mandi.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2