
Hari-hari berlalu begitu cepat Daniel terus melancarkan aksinya untuk mendapatkan hati Khanza, Namun Khanza hanya menganggapnya sebagai seorang teman.
Walau tau perhatiannya tak di anggap Daniel tetap saja berusaha untuk kembali mengambil hati dari wanita yang pernah singgah di hatinya itu.
Kerja sama mereka terus berjalan dengan lancar, Khanza mampu memimpin perusahaannya dengan sangat baik. Walau dibantu oleh Matteo, Ia belajar banyak dari proyek pertamanya ini.
Setiap hari Daniel akan mengantar dan menjemput Khanza. Walau telah mendapat peringatan dari Abizar. Namun, Ia tetap melakukannya. Tak jarang Daniel juga memberikan hadiah kecil kepada Khanza, baik itu hanya berupa pulpen, jepitan rambut dan hal kecil lainnya, karena Khanza akan menolak jika ia memberikan hadiah-hadiah yang mahal.
Bukan hanya untuk Khanza Daniel juga gencar mendekatkan diri pada anak-anak Khanza, memberi hadiah kepada Aziel dan juga Aisyah.
Aziel yang memang sudah sangat akrab dengan Daniel membuat ia tak masalah untuk mendekati anak itu. Namun, tetap saja Papa mereka nomor satu di hati mereka berdua.
Bukan hanya di rumah, Daniel juga melancarkan aksinya saat di kantor.
Semakin sibuknya pekerjaan mereka, semakin sering mereka bertemu untuk membahas pekerjaan, membuat Daniel mengambil kesempatan itu untuk mendekati Khanza.
Beberapa Rekan bisnisnya yang tak tahu Khanza dan Abizar adalah pasangan suami-istri membuat beberapa dari mereka memberi dukungan kepada Daniel untuk mendekati Khanza khususnya para wanita.
Walau Abizar sangat kesal mendengar semua itu ia terus mencoba untuk menahan diri, Ia mengerti jika Khanza saat ini masih marah padanya. Ia tak ingin membuatnya semakin marah dengan menambah masalah baru mereka. Abizar akan terus menunggu sampai Khanza mau memaafkannya.
"Khanza, Kamu ngerasa nggak sih kalau Pak Daniel itu semakin gencar mendekati kamu?" tanya Aqila yang selama beberapa hari ini memperhatikan sikap Daniel.
Khanza hanya mengangguk dia sendiri merasa apa yang dikatakan oleh Aqila itu benar.
"Sepertinya pak Daniel memang serius ingin menjalin hubungan denganmu, apa kamu tak berpikir untuk mencoba menjalin hubungan dengan Daniel Setelah kalian bercerai nantinya?" tanya Aqila dengan hati-hati.
"Aqila, Aku ini masih istri kak Abi. Aku tak mau membahas masalah itu aku sudah bilang padamu jika saat ini aku hanya ingin fokus pada pekerjaan dan anakku. Aku tak ingin membahas masalah Abizar atau Daniel.
"Aku sering mendengar jika Pak Abizar sering memperingati Pak Daniel saat di rumah untuk tak mendekatimu dan anak-anak."
"Itu haknya dia, Aqila. Biarkan saja. Untuk saat ini aku benar-benar ingin menata hatiku terlebih dahulu. Aku tak ingin mengambil keputusan saat hatiku masih kacau seperti ini, aku takut akan mengambil keputusan yang salah dan akan ku sesali nantinya."
"Kau benar kita memang harus mengambil keputusan saat kita benar-benar sudah tenang. Terkadang ada beberapa orang yang mengambil keputusan saat dia masih marah dan terkesan terburu-buru akhirnya mereka menyesali keputusan mereka sendiri."
"Hmmm, apalagi ini masalah pernikahan dan menyangkut masa depan anak-anakku, aku tak ingin mengambil keputusan dengan terburu-buru."
Mereka berbincang-bincang sambil terus berjalan menuju ke parkiran. Hari ini Daniel sudah menelpon mereka jika ia tak bisa mengantar mereka pulang karena ada urusan mendadak.
Khanza dan Aqila memilih mencari taksi dari pada harus menelpon supir.
Sebuah mobil berhenti di depan mereka,
Abizar turun dan membukakan pintu untuk Khanza.
"Khanza aku mohon biar aku yang mengantar kalian sekalian, aku juga ingin bertemu dengan anak-anak," ucap Abizar saat Khanza tetap berdiri di tempatnya.
"Kami akan naik taksi saja, kakak kalau mau ke rumah, duluan saja!" Jawab Khanza menunduk tak ingin melihat wajah suaminya.
"Masuklah! jangan membantah!" ucap Abizar sedikit memaksa Khanza masuk dan menutup pintu mobilnya.
Abizar berlari mengitari mobilnya dan masuk ke mobil. Aqila yang tak mau ketinggalan dengan cepat ikut masuk.
__ADS_1
"Apa kau menunggu Daniel yang mengantar pulang?" tanya Abizar tanpa melihat Khanza dan mulai memajukan mobilnya.
Khanza tak menjawab. tiba-tiba ia tersentak kaget saat Abizar mendekat padanya.
"Pakai sabuk pengamanmu," ucapnya memakainya pada Khanza.
Khanza refleks menutup matanya dan menghirup aroma tubuh suaminya yang sangat di rindukannya.
Klik.
Khanza tersadar saat Abizar berhasil memasang sabuk pengamannya. Ia membuang muka melihat ke arah jendela, memaki kebodohannya.
Sepanjang perjalanan mereka bertiga hanya terdiam, hingga memasuki gerbang kediaman Khanza. Aziel yang melihat mereka menyambut kedua. Ia memegang tangan papa dan mama di kedua tangannya berjalan masuk dan menceritakan apa yang telah dilakukannya hari ini bersama adiknya.
"Ziel, Mama ke kamar dulu ya, Mama mau ganti baju, Ziel main sama papa dulu!" ucap Khanza kemudian naik ke kamarnya, Khanza tak keluar lagi hingga Abizar pulang.
Di luar negeri.
"Apa kamu yakin akan berpisah dengan Abizar?" tanya Santi.
"Jika memang itu bisa membuat mereka bersatu lagi, Farah yakin, Mah."
"Abizar tak akan menceraikanmu walau kau memisahkan diri ke negara seperti ini."
"Farah tau, Mah. Mas Abi tak akan mau menceraikan Farah, justru itu aku menjadikan bisnis ini sebagai alasan."
"Mama perhatian Abizar dan Khanza hubungan mereka semakin jauh, Mama tak yakin mereka bisa bersatu lagi."
2 bulan kemudian.
Produk kerja sama mereka sukses besarnya. Malam ini mereka mengadakan pesta atas keberhasilan kerja sama mereka.
"Waw, kamu cantik banget!" seru Aqila melihat penampilan Khanza.
Khanza memakai gaun panjang berwarna navi polos dan dan bagian belakang yang sedikit terbuka. Menaikkan rambutnya sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Menambahkan kalung mutiara menghiasi lehernya dan Anti yang menjuntai sejajar dengan dagunya.
"Ini acara istimewa, bukti kerja keras kita selama ini. Sesekali berdandan tak apa kan?" tanyanya melihat penampilannya yang terkesan berani di cermin besar yang ada di kamarnya.
"Ya, sesekali memanjakan diri aku rasa tak masalah," jawab Aqila menaikkan jempolnya.
Mereka berdua pun pergi ke tempat acara digelar diantar oleh supir. Aqila juga tak kalah cantiknya malam ini.
Semua sudah berkumpul di ruangan tempat berlangsungnya acara begitu Khanza dan Aqila datang keduanya langsung menjadi pusat perhatian. Khususnya Khanza yang terlihat begitu cantik dan memang sejak tadi dia lah yang ditunggu untuk memulai acara tersebut.
"Wow," ucap Daniel saat melihat mereka kemudian langsung berjalan ke arahnya, ini benar-benar tak mengira jika gadis yang sedang ada di depannya ini adalah Khanza. Terlihat begitu cantik dan seksi.
Disaat semua sedang terkagum-kagum dengan kecantikan Khanza Abizar justru sangat marah dibuatnya, untuk pertama kalinya Khanza memakai pakaian terbuka seperti itu, Ingin rasanya ia menyeret istrinya itu keluar dari pesta itu.
Khanza naik ke panggung yang sudah di siapkan, melakukan pidato sambutan sebagai ucapan terima kasih kepada semua rekan bisnisnya yang sudah mau membantunya, mempercayainya yang masih pemula untuk memimpin kerjasama tersebut hingga menjadi sukses seperti saat ini.
Sebagai simbolis Khanza kembali memotong sebuah pita kecil yang ada di depannya sebagai tanda berakhirnya kerjasama mereka.
__ADS_1
Semua bertepuk tangan dan saling mengucapkan Selamat atas kesuksesan mereka semua.
Acara dansa pun digelar, Daniel yang sejak tadi berada di samping Khanza mengajaknya untuk berdansa.
"Maaf, aku tak pandai berdansa ajaklah Aqila," ucap Khanza menarik Aqila dan mendorongnya pada Daniel.
Khanza memberi kode kepada Aqila agar menerima ajakan Daniel, tadinya Daniel ingin menolak. Namun, Aqil langsung menariknya ke lantai dansa.
Beberapa kali pria mengajak Khanza untuk berdansa tetapi ia tetap saja ia menolaknya dan hanya berdiri sambil bertepuk tangan melihat yang lainnya sedang berdansa
Habis terus saja memperhatikannya. Namun, Khanza tak pernah sekalipun melihat ke arahnya.
Semua bertepuk tangan saat lagu selesai Daniel dan Aqila kembali bergabung dengan Khanza.
"Wah kalian pasangan yang serasi," ucap Khanza memberikan jempolnya kepada mereka.
"Benarkah? Ya sudah, Bagaimana kalau kita menjadi pasangan?" tanya Aqila menggoda Daniel.
"Aku pikir-pikir dulu," ucap Daniel membuat mereka bertiga tertawa.
Semua itu tak luput dari perhatian Abizar yang sudah dikuasai amarah dan api cemburu, tanpa sadar ia terus mengambil gelas yang berisi alkohol dan meminumnya.
Lagu kedua dimainkan semua kembali berdansa dengan pasangan mereka.
"Kali ini kau tak boleh menolakku sebagai seorang teman." Daniel mengulurkan tangannya.
"Ya sudah, sebentar saja ya?" ucap Khanza menyambut uluran tangan Daniel dan ikut berdansa.
Mereka berdansa sambil mengobrol entah apa yang mereka bicarakan membuat seseorang semakin tak senang melihat semua.
"Sudah ya! " ucap Khanza mengakhiri dansanya.
"Kalian lanjutkan saja, aku ke kamar mandi dulu," ucap Khanza dengan cepat berlalu dari pesta itu menuju ke kamar mandi, tanpa ia sadari ada yang mengikutinya.
Khanza melihat ke belakang saat merasa ada yang mengikuti. Namun, saat berbalik ia tak melihat siapapun, "Mungkin hanya perasaanku," ucap Khanza mengendikkan bahunya kemudian kembali berjalan menuju ke kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi tiba-tiba ada seseorang yang membekapnya dan menyeretnya keluar dari gedung.
Khanza dibawa ke parkiran dan dimasukkan ke dalam sebuah mobil, pintunya ditutup dan dikunci.
"Apa yang kau lakukan? buka pintunya!" ucap Khanza terus berusaha membuka pintunya, dia benar-benar panik. Ia tak tau siapa yang membawanya.
Pintu mobil terbuka dan masuklah seseorang. Khanza membulatkan matanya saat orang yang baru masuk itu adalah Abizar suaminya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha 🥰
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1