
Mereka sudah berjam-jam di dalam ruang kerja Khanza, Warda ingin menghampiri mereka, tapi takut jika akan mengganggu mereka, Warda yakin ada hal penting yang mereka bicarakan hingga selama itu.
"Bi, apa sudah tidak stok ASI lagi?" tanya Warda saat cucunya terus menangis.
"Sudah tidak ada, Bu. Sudah seminggu ini ibu Khanza tidak memompa ASInya, ibu langsung menyusui Aisyah karena dia tidak ke kantor," jawab Bibi yang hanya bisa melihat Aisyah yang terus menangis.
"Nenek ade Aisyah kenapa? kenapa adik menangis?" tanya Aziel yang juga sudah mulai berkaca-kaca melihat adiknya yang terus.
"Ade lapar sayang, tapi sepertinya mama sama Papa kamu masih bicara di ruang kerja. Mungkin ada hal yang penting yang mereka bicarakan, Nenek tidak enak mengganggu mama papamu."
"Nggak papa kok, Nek. Mama pasti nggak marah, kasihan ade Aisyah, dia nangis mau susu," ucap Aziel kemudian turun dari kursinya dan berlari ke ruang kerja mamanya.
Karena terburu-buru Aziel langsung masuk tanpa mengetuk pintunya terdahulu terlebih dahulu.
Khanza yang melihat Aziel masuk langsung menghapus air matanya.
"Mama kenapa nangis?" tanya Ziel panik dan langsung menghampiri mamanya sambil menangis.
"Nggak kok, Mama ga nangis," ucap Khanza mencoba tersenyum tapi air matanya kembali lolos membuat Aziel kembali mengeraskan suara tangisnya.
"Papa nakal ya?" teriak Aziel pada Papanya sambil memeluk erat mamanya.
"Nggak kok sayang, papa enggak nakal, Mama cuma senang Papa datang makanya Mama nangis," ucapnya dengan cepat memeluk putranya yang menangis sampai sesegukan sambil terus melihat Papanya.
Aziel mendongak melihat mamanya. Setelah mendengar apa yang Khanza ucapkan tangis Aziel mulai mereda.
"Papa nggak nakal kan sama Mama? Aziel sayang sama mama sayang sama Papa. Aziel nggak suka Papa nakal sama mama dan buat mama nangis," ucap Aziel disela tangis nya.
"Nggak kok Sayang, Papa nggak mungkin nakal sama Mama, Papa sayang sama kalian," ucap Abizar mencoba memanggil putranya itu yang masih memeluk Mamanya.
Abizar sangat kaget saat melihat Aziel tiba-tiba datang dan menangis saat melihat mamanya menangis.
Aziel bahkan berteriak kepadanya.
"Ayo sini! sama Papa," ucap Abizar yang mencoba mengambil Aziel dari pelukan mamanya, anak itu sepertinya marah padanya karena membuat mamanya menangis.
"Papa nggak nakal 'kan sama Mama?" tanya Ziel memandang lekat papanya.
"Nggak kok Sayang, Papa nggak akan buat mama kamu nangis, Papa sayang sama Mama."
"Ayo sama Papa," ucap Khanza membantu meyakinkan jika papanya tak membuatnya menangis. Aziel berpindah ke pelukan Papanya.
"Jangan buat Mama menangis ya Pah! Aziel Sayang Mama," ucap Aziel yang kini sudah berada di pelukan Papanya.
"Papa nggak akan buat mama kamu menangis lagi, maaf jika selama ini Papa tidak bisa menjaga kalian ya, Nak."
"Iya, Aziel maafkan," ucap Aziel mengusap air matanya tanpa tahu apa yang harus dimaafkan dari Papanya.
Aziel yang sudah tenang baru mengingat tujuannya masuk ke ruangan itu.
"Mama ade nangis dia lapar mau minum susu," ucap Aziel menunjuk dada mamanya.
"Ya ampun," menepuk keningnya. "Aisyah pasti kelaparan," Dengan cepat Khanza beranjak dari duduknya dan sedikit berlari keluar mencari Aisyah.
__ADS_1
"Mama, kenapa nggak memanggil Khanza jika Aisyah menangis?" ucap Khanza langsung mengambil Aisyah dari gendongan Warda dan memberikan ASI.
"Maaf ya, Aisyah kelaparan ya, sayang?" ucap Khanza pada bayinya.
Aisyah yang menangis langsung diam. Saat diberi ASI, ia menyusu dengan lahap sambil terus bergumam tak jelas. Ia masih terisak dan kembali menyusu.
Abizar menghampiri mereka sambil menggendong Aziel.
"Ini kenapa cucu Nenek juga nangis sampai matanya merah begini?" tanya Warda merentangkan tangannya meminta untuk mendudukkan Aziel di pangkuannya.
"Nggak apa-apa kok Mah! Aziel anak yang baik yang sayang sama Mamanya," ucap Abizar mengusap rambut putranya.
"Ziel juga sayang Papa," ucapnya cepat.
Abizar melihat Khanza yang sedang menyusui Aisyah, pemandangan yang sungguh sangat menyejukkan hatinya di mana ia melihat Khanza ya terus mengajak bicara sambil menyusui Aisyah dan Aisyah yang terus berusaha menggapai wajah Khanza.
'Kalau memang kamu akan bahagia jika berpisah denganku, Aku akan mengabulkannya.'
Walau tak ingin melepas Khanza Abizar juga tak bisa terus menahannya dan itu bisa menyakiti.
"Khanza apa boleh Mama membawa Aziel untuk pulang? Hanya malam ini," ucap Warda yang masih memangku Aziel.
"Aziel mau ikut sama, Nenek?" tanya Khanza.
"Iya, Mah, Ziel mau bobo sama, Nenek," ucapnya.
"Ya udah, Mah. Boleh." Khanza mengizinkan Warda membawa putranya, ia tak ingin anaknya itu merasa kehilangan kasih sayang Papa dan neneknya. Walau mereka berpisah ia ingin mereka tetap berhubung karena ada Aziel dan Aisyah yang membuat mereka.
"Iya, Mah, Aziel? juga 'kan cucu Mama."
Selain meminta pendapat kakek dan neneknya sebelum mengambil keputusan, Khanza juga meminta pendapat Damar. Teman sekaligus Dokter spesialis anak.
Khanza tak ingin perceraiannya memberikan dapat bagi anak-anak.
Khanza mengangguk membalas warda dengan senyuman, Khanza ingin mencoba maafkan semua dan berdamai dengan keadaannya, walau akan sangat sulit, demi anak-anaknya ia akan mencoba memulainya dari awal.
Khanza dan Abizar sudah sepakat akan berpisah, dan mereka tak akan mempermasalahkan masalah hak asuh anak dan membiarkan anak-anak mereka memilih ingin tinggal dimana dan dengan siapa.
Abizar pun pamit pulang. Sepanjang perjalanan warda terus mengajak bermain cucunya, Mereka singgah ke tempat bermain, menghabiskan waktu disana, juga membelikan beberapa mainan baru untuk Aziel ia benar-benar memanjakan anaknya itu.
"Nenek beli untuk Aisyah juga ya?"
"Iya dong, masa adiknya ga dibeliin." Aziel yang mulai memasukkan beberapa jenis mainan ke dalam troli yang didorong oleh Warda.
Abizar hanya ikut di belakang sambil sesekali melihat mainan yang menurutnya cocok untuk Aisyah.
Saat perjalanan pulang Aziel sudah tertidur.
"Kalian membahas apa tadi?" tanya Warda Yang penasaran ia bisa melihat wajah sembab keduanya saat keluar dari ruang kerja tersebut.
Abizar tak menjawab, ia hanya terus fokus nyetir.
"Abizar, Mama ingin kita kumpul kembali seperti dulu, mama sangat kesepian di rumah ini."
__ADS_1
"Maaf, Mah. Tapi semua itu takkan terjadi, aku dan Khanza sudah memutuskan untuk berpisah.
"Kamu yakin, sanggup berpisah? Jujur Mama tak ingin jika kalian sampai berpisah, Mama ingin kita semua kembali berkumpul seperti dulu, Mama tahu Mama juga banyak salah, tapi apa kita tak bisa saling memaafkan dan menjadikan semua itu sebagai pelajaran."
Abizar hanya tersenyum menatap mamanya kemudian kembali fokus pada jalan raya.
"Mama yakin kamu bisa kembali menyatukan mereka," ucap Warda.
"Aku juga sangat ingin kalian kembali bersatu. Namun, jika memang perceraian yang di Khanza aku akan mengabulkan jika itu yang terbaik untuk kami semua."
Mereka pun sampai, Abizar mengangkat Aziel masuk dan membawanya ke kamar mamanya, malam ini Aziel akan tidur bersama dengan neneknya.
"Mah, aku juga mau tidur dulu, Aku sangat lelah," pamit Abizar pada mamanya dan kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Abizar menelpon Farah mengatakan apa yang sudah menjadi keputusannya dan Khanza.
"Apa keputusan Khanza sudah benar-benar bulat? Apa sudah tak bisa lagi diganggu gugat?" tanya Farah.
"Aku sudah berusaha membujuknya dengan segala cara, tapi sepertinya dia benar-benar sudah tak ingin lagi melanjutkan pernikahan ini.'
"Apapun yang terjadi, aku harap hubungan Mas dan Khanza tetap baik-baik saja, aku masih berharap Mas mempertahankan hubungan Mas demi anak-anak."
"Kami sudah sepakat untuk saling menjaga perasaan anak-anak, tak akan ada perebutan hak asuh atau sejenisnya. Khanza sudah sangat yakin dengan keputusannya, aku tak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya."
"Kamu yang sabar ya! aku akan selalu mendoakan kalian bisa bersatu lagi, Khanza wanita yang baik. Dia wanita yang sangat polos, semoga saja kekerasan hatinya bisa luluh dan mau kembali bersama denganmu, Mas."
"Semoga saja. Kamu sendiri sampai kapan kamu di sana?"
"Aku benar sibuk, Mas dan tak bisa kembali dalam waktu dekat ini. aku tak tahu Sampai kapan aku di sini, tapi setelah semua selesai Aku akan segera kembali."
"Apa kau sangat sibuk, bahkan kau pun tak pernah menelponku."
"Mas jangan pikirkan aku dulu, fokuslah pada Khanza dan anak-anak, aku baik-baik saja di sini. Aku seperti mendapat kehidupan lamaku yang sangat aku rindukan. Ini sudah larut malam di sana, sebaiknya Mas istirahat, walaupun sedang banyak masalah jangan melupakan kesehatan, Mas."
"Ya sudah, aku istirahat dulu." Abizar mematikan ponselnya dan kemudian beristirahat, ia sangat lelah dengan beban pikiran yang sudah dari tadi dipikirkannya.
Di luar negeri.
"Khanza, tak bisakah kau maafkan Mas abi. Aku tahu Mas Abi banyak salah, tak bisakah kamu memaafkannya. Aku pikir cintaku lebih besar darimu ke mas Abi, ternyata aku salah, cintamu lebih besar. Cinta kalian justru menyakiti kalian. Aku tau mas Abi sangat mencintaimu, ia hanya tak cara mengungkapkan perasaannya, mas Abi belum menyadari betapa ia sangat mencintaimu." Farah mengingat sosok Khanza yang begitu periang dan ceria.
Keceriaan itu menghilang saat mereka membawanya masuk dalam kehidupan mereka dan menjadikan yang kedua.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha 🥰🥰
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mampir kak ke karya teman ku🙏
__ADS_1