
Beberapa bulan kemudian.
Semua berangsur kembali membaik keadaan rumah tangga Abizar kini sudah kembali seperti sejak pertama ia menikahi Khanza, bahkan lebih bahagia semenjak kehadiran Aziel di tengah-tengah mereka. Khanza sudah bisa menjaga dan bermain bersama dengan Aziel yang semakin aktif.
Mereka selalu menyempatkan waktu untuk bermain dengan Aziel. Tak ada hari tanpa kebahagiaan. Namun, tidak dengan Santi, ia tak suka melihat semua kebahagiaan mereka apalagi saat tanpa ia mengetahui jika Farah sedang mencari rumah untuk Khanza dan Khanza akan pindah kesana secepatnya.
Santi bukannya tak ingin berpisah dengan Khanza, tapi ia sangat geram dan iri pada istri kedua suami anaknya itu.
Bagaimana mungkin istri yang dinikahinya baru beberapa saat sudah memiliki rumah, Sedangkan putrinya sendiri yang sudah bertahun-tahun menemaninya masih tinggal bersama dengan mertuanya.
"Farah, kamu ini gimana sih, kamu mencarikan rumah yang begitu mewah dan nyaman untuk Khanza. Namun, kamu tak memikirkan dirimu sendiri, jika Khanza saja bisa meminta rumah pada Abizar pasti dia akan memberikanmu juga," ucap Santi.
"Mah, kita kan sudah punya rumah, ini jauh lebih besar dan mewah, untuk apa juga kita membeli rumah baru lagi. Apalagi sekarang mas Abi harus membagi waktunya, jika kita juga berpisah bagaimana dengan Mama mertuaku, siapa yang akan menemaninya di rumah sebesar ini," jawab Farah.
"Itu kan masalah dia, yang jelasnya Mama sudah bosan menumpang di rumah orang, Mama juga ingin punya rumah sendiri."
"Yaudah, kalau itu masalahnya, nanti Farah beliin rumah buat Mama, yah!"
"Mama gak ingin rumah dari kamu, Mama ingin Abizar yang membelikan rumah buat kamu. Kalau kamu tak ingin meninggalkan mertuamu biar mama yang tinggal di sana."
"Mah, untuk apa sih kita memiliki rumah lagi, itu hanya akan merepotkan kita semua, kalau Farah tak tinggal bersama Mama siapa yang akan menjaga Mama."
"Mama bisa jaga diri mama sendiri, yang jelas Mama ingin kamu meminta rumah pada suamimu dan harus lebih besar dari Khanza, dia 'kan hanya istri kedua."
"Tapi Mah, mas Abi akan sangat sibuk jika kita juga pindah, ia harus mengunjungi Khanza, aku, dan juga Mamanya."
"Itu resiko dia sendiri, jangan mau enaknya aja punya istri 2."
"Mah. Aku nggak suka Mama ngomong gitu, biar gimana pun semuanya sudah terjadi, Mama lihatkan sekarang kalau mas Abi begitu bahagia memiliki Aziel."
"Iya, Abizar begitu bahagia sudah mempunyai anak, bagaimana dengan dirimu?"
"Tentu saja Farah juga sangat bahagia, Mah. Kebahagiaan mas Abi adalah kebahagiaan Farah dan Farah juga sangat menyayangi Aziel. Farah sudah menganggapnya sebagai anak sendiri."
"Tapi tetap saja dia bukan anak kamu, Khanza yang melahirkannya, Khanza suatu hari nanti dia akan pergi ke rumah barunya, dia akan membawa Aziel 'kan, dengan begitu Abizar akan lebih betah tinggal disana daripada disini." Menjeda kalimatnya, mengatur nafasnya yang memburu, "Bagaimana denganmu, mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu dan Mama yakin, suatu saat nanti pasti dia akan melupakanmu."
"Itu nggak mungkin, Mah. Aku percaya sama mas Abi, lagian Khanza juga sudah menerima pernikahan ini, Mama lihat sendiri kan, Iya bahkan mau berbagi dalam mengurus Aziel dan mengizinkannya memanggilku ibu."
"Iya, Mama yakin itu semua hanya untuk sementara, lihat saja nanti suatu saat dia pasti akan mempengaruhi suamimu untuk menjauhimu."
"Sudah lah Mah, aku tak ingin membahas masalah itu, aku percaya mas Abi tak akan meninggalkan ku, cinta kami hanya kami yang tau."
Mereka terus berdebat, Farah yang merasa tak akan menang melawan mamanya memilih untuk keluar dari kamarnya, ia tak ingin semakin berdebat dan akan membuatnya menjadi anak yang berdosa karena terus membantah mamanya.
"Farah kamu mau ke mana," panggil Santi dengan suara sedikit meninggi. Namun Fara tak menghiraukannya dan terus keluar.
Santi melihat kembali beberapa brosur rumah yang ada di atas tempat tidur Farah, ia melihat lihat semua gambar rumah yang ada di sana, rumah yang mewah dan berada di kawasan yang elit.
"Khanza. Sepertinya kau sudah mulai memeras suamimu, sekarang kamu meminta rumah, berikutnya kamu pasti meminta lebih banyak lagi," kesal Santi meremas brosur yang dipegangnya, nafasnya memburu, yang ada dalam pikirannya Khanza pasti akan menertawakan dirinya yang telah kalah.
Di kantor,
Kerjasama Daniel dan Abizar sudah berlangsung, mereka sering bertemu baik Abizar yang ke kantor Daniel ataupun sebaiknya.
__ADS_1
Hari ini mereka sedang berada di sebuah restoran mewah, membahas kelanjutan kerjasama mereka.
Ada Fahri dan Farel yang selalu setia menemani mereka di setiap pertemuan.
Awalnya mereka membahas pekerjaan, selesai dengan urusan pekerjaan, mereka makan siang sambil mengobrol santai. .
"Ohya Pak. Bagaimana kabar anak Anda?" tanya Daniel berbasa-basi.
"Aziel baik, dan sekarang ia sedang sangat aktif," jawab Abizar. Jika membahas masalah Aziel ia akan menjadi sangat semangat.
"Lalu bagaimana dengan … hmmm," menjeda kalimatnya, seolah memikirkan sesuatu. " Oh, iya. Bagaimana dengan Khanza?" tanya Daniel yang membuat Abizar menghentikan makannya.
"Kenapa Anda menanyakan Khanza?" tanya Abizar mengerutkan keningnya, menatap tak bersahabat pada Daniel.
Daniel baru akan menjawab teleponnya berdering.
"Maaf Pak, saya angkat telepon dulu." Beranjak dari duduknya sedikit menjauh untuk mengangkat telepon.
Abizar sudah tak berselera makan, ia meletakkan sendok nya di meja dengan kasar. Duo F bahkan sampai terkejut dibuatnya.
"Pak Farel, maaf kami ada rapat lain." ucap Abizar berdiri dan langsung pergi tanpa berpamitan lagi pada Daniel yang masih menerima telepon. Fahri juga ikut pergi dan hanya berpamitan pada Farel.
"Apa pak Abizar sudah pergi?" tanya Daniel yang sudah tak melihat mereka berdua.
"Iya, Pak. Katanya mereka ada rapat penting."
"Kenapa kau tak memberi ini padanya?" tanya Daniel menunjuk berkas yang seharusnya diberikan kepada Abizar.
"Maaf, Pak. Akan saya bawa ke kantornya."
"Baik, Pak."
Farel langsung kembali ke kantor.
"Aku akan mengantarnya sendiri ke rumah pak Abizar, Ini bisa dijadikan sebagai alasan untuk mengunjungi kediaman mereka lagi," gumam Daniel, ia berpikir akan menjadikan berkas itu sebagai alasan agar bisa melihat Khanza.
Daniel bergegas menuju ke kediaman Abizar, memarkirkan mobilnya di depan rumah mewah Abizar.
Daniel sangat senang saat ia bisa melihat jika Khanza ada di taman rumah bermain bersama Aziel yang diketahuinya adalah anak dari Farah dan Abizar.
Khanza dan Aziel hanya berdua, Farah sedang mengambil sesuatu.
Daniel turun dari mobil langsung menghampiri mereka.
Khanza yang tahu juga Pak Daniel ada rekan kerja suaminya menyambutnya dengan ramah.
"Maaf, Pak. kak Abi belum pulang," ucap Khanza saat Daniel sudah berada di dekat mereka, berjongkok mengambil mainan Aziel yang terjatuh.
"Oh ya? Aku pikir dia sudah ada di rumah." Berpura-pura.
"Anda bisa langsung ke kantor saja, jam segini biasanya kak Abi memang masih di kantor," jawab Khanza menjelaskan.
"Biasanya, Pak Abizar pulang jam berapa?" tanya Daniel berbasa-basi.
__ADS_1
"Mungkin satu atau dua jam lagi," jawab Khanza mengira-ngira.
"Apa nggak apa-apa kalau aku menunggu di sini?"
"Tentu saja, Pak. Mari kita masuk ke dalam."
"Nggak, kita disini saja. Kamu lanjutin saja mainnya, aku akan menunggu," ucapnya menuju ke salah satu bangku yang ada di sana dan duduk.
Khanza kembali bermain, dia menggelar tikar di tengah taman dan membawa beberapa mainan Aziel, bermain di sana.
Beberapa pohon yang rindang membuat taman itu terasa nyaman.
Daniel terus memperhatikan mereka berdua, Daniel tersenyum sambil terus memperhatikan Khanza menggoda Aziel..
"Apa hubungan Khanza dan Abizar, tadi ia memanggilnya dengan sebutan kakak, apa dia adik Abidzar," batin Daniel yang tak pernah lepas memandang Khanza.
Tak lama kemudian Farah datang membawa beberapa cemilan untuk Khanza dan Aziel.
"Pak Daniel," sapa Farah saat melihat Daniel yang duduk tak jauh dari Khanza.
"Iya, Bu Farah. Tadi di aku lupa memberi berkas ini kepada Abizar," ucapnya memperlihatkan berkas yang ada di atas tas.
"Anda tunggu saja, mungkin satu jam lagi Mas Abi akan datang."
Farah menemani Daniel duduk dan meminta Bibi membuatkan minuman untuknya.
Mereka terus berbincang-bincang hingga Aziel terus rewel.
"Sepertinya Aziel sudah mengantuk, biar Mbak tidurkan dulu," ucap Farah menggendong Aziel dan masuk ke dalam.
"Saya masuk dulu ya, Pak," pamit Farah.
Daniel hanya mengangguk dan mempersilahkannya dengan isyarat tangannya.
Khanza menggantikan Farah menemani Daniel.
Daniel yang memang dasarnya humoris dan cepat akrab seperti mendapat teman yang sama. Khanza juga memiliki sifat yang sama, ramah dan periang mereka berdua langsung cocok bahkan pembahasan mereka hingga mengenang masa lalu di masa-masa SMA mereka.
Daniel tak menyangka jika Khanza ternyata sangat mudah akrab dan mereka sangat nyambung dalam setiap pembahasan.
Abizar datang dan melihat mereka berdua, ia mencengkram setir mobil yang sedang ia pegang saat melihat Khanza tertawa lepas bersama dengan Daniel.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote komennya🙏
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Sambil nunggu update terbaru kakak bisa
mampir di karya temanku.
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan Favoritkan 💖