
Hari terus berganti, pernikahan Khanza semakin dekat. Semua semakin bahagia, begitu juga dengan Abizar, ia ikut bahagia dengan pernikahan Khanza dengan begitu akan ada yang menjaga mereka.
Dua minggu kini berlalu dengan sangat cepat. Kini waktunya Abizar menemui Rekan bisnisnya yang ada di luar negeri.
Warda yang tak sengaja mendengar pembicaraan Abizar dan Fahri jika Abizar akan ke luar negeri meminta ikut, ia sudah sangat merindukan Santi dan juga Farah.
Ia juga sangat bosan tinggal di rumah sendiri, lebih baik dia ikut dengan Abizar dan bertemu dengan Farah dan Santi sambil menunggu pekerjaan Abizar selesai.
"Abi kesana untuk bekerja, Mah."
"Iya, Mama tau, tapi kan bisa kita mampir sebentar bertemu mereka, ini sudah sangat lama kita tak bertemu dengan mereka. Biar bagaimanapun mereka pernah menjadi bagian dari kita," ucap Warda.
"Tapi, Mah."
"Mama janji tak akan bertindak macam-macam. Mama akan menjaga semuanya tetap pada tempatnya," mohon Warda dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Ya udah Mama boleh ikut, tapi kita tak lama ya Mah! Pekerjaan Abi lagi menumpuk."
Mendengar persetujuan dari Abizar Warda langsung menelpon Khanza.
"Iya, Mah. Ada apa?" tanya Khanza mengangkat panggilan Warda.
"Mama ingin keluar negeri, apa boleh Mama membawa Aziel lagi?"
"Mama ingin bertemu dengan mbak Farah?" tanya Khanza memanggil Azriel yang sedang bermain bersama Aisyah.
"Iya, Abizar ada pekerjaan di sana, sekalian mama mau mengunjungi mereka."
Aziel yang melihat mamanya melambaikan tangan padanya dengan cepat berlari menghampiri mamanya.
"Ada apa, Mah? Papa telepon ya?" tanyanya yang mengira mamanya memanggilnya karena papanya menelepon seperti biasanya.
"Bukan ini dari nenek, ***** mau kerumah Bubu, Ziel mau ikut?"
"Iya, Mah. Aziel ingin ke rumah Bubu," ucap Aziel bersorak gembira, ia sudah sangat lama tak bertemu dengan Bubunya, ia hanya berbicara ditelpon dengan Bubunya saat ia menginap di rumah Papanya.
"Mama perginya kapan?"
"Mama perginya besok pagi kalau Mama ga salah, Mama juga ga tau pasti.
Kalau begitu Mama minta Abi jemput Ziel sekarang ya?"
"Ya udah, Mah. Khazan siapkan dulu perlengkapan Aziel," ucapnya kemudian mematikan panggilannya.
"Abi, kamu jemput Aziel, Mama sudah izin Khanza. Sekali kita membawanya, Farah pasti sangat merindukannya."
Abizar hanya mengangguk, kemudian pergi menjemput putranya.
Selama 2 tahun belakangan Aziel baru dua kali diajak Abizar untuk ke luar negeri dan ini untuk yang ketiga kalinya.
Abizar berangkat lebih awal karena ia harus mengejar waktu rapatnya. Ia harus sudah ada di sana sebelum rapatnya dimulai. Membuat dia harus mengambil Aziel malam itu juga.
"Ziel senang mau ketemu bubu?" tanya Warda pada cucunya saat Aziel sudah ada di kamarnya, ia melihat nenek nya mulai mengemas barang-barangnya.
"Iya, Nek. Ziel kangen Bubu, kanapa Bubu tinggi di sana?"
"Bubu sudah punya kehidupan lain di sana, jadi Bubu ga tinggal sama kita lagi," jelas Warda.
"Papa dan Bubu sudah cerai juga sama seperti Papa dan Mama?"
__ADS_1
Aziel kambali mengingat penjelasan Damar tentang perceraian.
Baru saja Warda ingin menjawab pertanyaan cucunya Abizar ikut bergabung dengan mereka, membuat Warda mengurungkan niatnya.
"Ini sudah malam, waktu kita Bobo biar kita tak ketinggalan pesawat."
"Papa gendongan!" ucap Aziel langsung naik ke punggung papanya yang sedang duduk disisi tempat tidur.
"Selamat malam Nenek," ucap Aziel melambaikan tangan pada neneknya saat papanya sudah berdiri dan menggendong di punggungnya.
Warda hanya bisa balas melambaikan tangannya melihat Putra dan cucunya keluar kamarnya sambil terus tertawa, terlihat sangat bahagia.
Abizar kehilangan 2 istrinya dan digantikan kehadiran kedua anaknya.
'Semoga Anak-anak dapat mengobati luka hatinya,' batin Warda.
Abizar berangkat pagi buta, Aziel Sangat antusias akan bertemu dengan Bubunya.
*****
Mereka sudah sampai di Bandara luar negeri, Warda bisa melihat Farah dan Santi melambaikan tangan pada mereka.
"Hah itu mereka," ucap Warda membalas lambaian tangan mereka dan berjalan cepat ke arah keduanya sambil memegang tangan Aziel.
"Ya ampun, lama tak bertemu dengan kalian, kenapa kalian tak pernah mengunjungi kami?" protes Warda pada Santi. Mereka berpelukan begitu juga dengan Farah.
"Aku juga bisa mengeluhkan hal yang sama, kenapa kamu tak pernah menjenguk kami. Abizar sering ke sini, tapi kenapa baru sekali ini kau ikut," Santi balas mengeluh.
"Iya maaf, karena biasanya aku baru tau jika Abizar akan pergi saat sudah berpamitan ingin ke Bandara. Kalau sekarang aku tau sendiri dari dari Fahri," kesal Warda menatap putranya yang masih berjalan menuju ke arah mereka.
"Bagaimana kabar kamu Mas?" sambut Farah dengan Aziel yang sedari tadi sudah ada di pelukan Farah.
"Bubu kok ga pernah pulang, Aisyah juga kangen Bubu."
"Maaf sayang Bubu 'kan lagi ada kerjaan di sini, jika Bubu pulang kasih 'kan karyawan Bubu," jelas Farah agar Aziel tak marah padanya.
"Bagaimana kabar Dev?" tanya Abizar pada Farah yang masih memeluk gemes Aziel.
"Dev baik dan aku baik dan bahagia. Berkat kamu, Mas. Terima kasih sarannya, Terima kasih semuanya."
Abizar hanya mengangguk pelan tersenyum, ia juga bahagia apabila Farah bahagia.
"Aziel kamu kok nggak ngajak mama dan Aisyah sih, sayang? Bubukan kangen mereka juga."
"Khanza sedang sibuk, 2 Minggu lagi dia akan menikah dengan Damar," ucap Warda melirik kesal pada Abizar.
"Abizar menatap mamanya dengan pandangan memohon.
"Abizar selalu mewanti-wanti mamanya agar tak menyinggung pernikahan Khanza dan Damar.
"Menikah? Khanza mau nikah dengan damar? Ko bisa sih, Mas?" tanya Farah terkejut mendengar kenyataan itu. Selama ini Abizar selalu mengatakan jika hubungan ia dan Khanza semakin membaik.
"Mah, sudahlah! Sebagai kita istirahat, Aziel pasti lelah perjalanan jauh." ucap Abizar mengalihkan pembicaraan mereka.
"Apa Khanza akan menikah dengan Damar karena kemauannya sendiri atau karena dorongan orang-orang di sekitarnya?" tanya Farah melihat ke arah Abizar.
"Damar pria yang baik, Khanza pasti akan bahagia jika bersama dengan Damar."
"Mas kamu keliru sebaik apapun Damar jika Khanza tak mencintainya mereka tak akan bahagia, dan aku yakin Khanza sampai kapanpun hanya akan mencintaimu," tegas Farah menatap kecewa pada Abizar.
__ADS_1
"Kita tidak tahu kedepannya. Kebaikan Damar bisa saja membuat Khanza mencintainya, tak ada yang tau hati seseorang."
"Mas, bener. Tak ada yang tau hati seseorang. Lalu bagaimana dengan hati kamu Mas?"
"Aku sudah merasa menjadi orang paling bahagia, aku lebih baik dari sebelumnya aku bahagia bisa melihatmu bahagia dengan Dev, begitupun dengan Khanza, aku juga akan bahagia saat dia bahagia dengan yang Damar."
Farah menggeleng melihat Mantan suaminya itu.
"Mami," teriak seorang gadis kecil yang berlari menghampiri Farah.
"Hei anak Mami, kalian juga menyusul ke sini," seru Farah menyambut Lucia yang berlari menghampirinya.
Lucia adalah gadis kecil berusia 6 takut. Yang kembali bahagia setelah bertemu Farah.
"Mas Aku dan Khanza berbeda. Aku memang sudah bahagia setelah menikah dengan Dev, tapi apakah Khanza akan bahagia juga setelah ia menikah dengan Damar?" Kamu kali ini salah, Mas.
Flashback on.
3 bulan setelah Farah meninggalkan Abizar ia terus merasa sedih dan ingin mencoba keluar dari kesedihannya. Fatah kembali mendatangi hypnotherapy yang pernah mengajarkannya tentang cara merangsang seseorang untuk mengetahui apa yang ada di alam bawah sadarnya, apa yang sebenarnya hatinya Inginkan.
Orang itu adalah Dev. Dia seorang dokter psikiater dan mendalami dunia hypnotherapy.
Untuk menghilangkan rasa sedihnya Farah sering menemuinya Dev untuk berkonsultasi tentang masalahnya.
Farah juga menceritakan semua masalah poligami yang mereka jalankan.
Dev dengan yakin mengatakan jika dialah yang ada di antara Abizar dan Khanza bukan Khanza yang ada di antara mereka.
Mendengar semua cerita Farah Dev bisa menyimpulkan jika Abizar mencintai mereka berdua dan dalam hal ini cinta nya kalah dari cinta Khazan.
Dev juga mengatakan dengan yakin jika Abizar melepas Khanza karena dia sangat mencintainya. Mereka saling mengorbankan demi kebahagiaan satu sama lainnya, dan mereka berdua terlalu baik dan sangat menyayangi dirinya.
Mendengar hal itu Farah merasa yakin jika perceraian seharusnya miliknya.
Beberapa kali Farah meminta Abizar menceraikannya. Namun Abizar selalu menolak.
Di Suatu kesempatan saat Farah sedang berkunjung ke klinik Dev, ia tak sengaja bertemu dengan anak Dev.
Farah pernah mendengar jika Putri dari Dev memiliki trauma, saat ia melihat langsung mamanya meninggalkan tertabrak mobil. Anak itu syok dan terus diam dan merasa ketakutan, tapi saat anak itu melihat Farah anak itu langsung menghampiri Farah dan menangis dan mengatakan untuk tidak meninggalkannya lagi, anak itu bahkan memanggilnya dengan sebutan Mami dan mengatakan jika Farah adalah Maminya.
Demi kebahagiaan dan bersatunya Abizar dan Khanza akhirnya Farah memilih mundur. Dengan bantuan Dev akhirnya Abizar menceraikan Farah di 5 bulan setelah Farah memutuskan pindah ke Negaranya yang sekarang.
Demi Lucia Dev dan Farah akhirnya menikah.
Seiring berjalannya waktu Farah dan Dev sudah saling menerima dan bahagia bersama dengan Lucia.
Farah beranggapan jika hubungan Abizar dan Khanza juga sudah mulai bahagia, saat Abizar mengatakan jika ia dan Khanza sudah baik-baik saja.
Mendengar hal itu, Dev menyarankan agar ia tak lagi ikut campur masalah Khanza dan Abizar. Namun, ternyata dugaannya salah. Abizar kembali mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan Khanza.
Flashback off.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1