
Abizar yang melihat Farah menangis saat baru masuk ke kamar menjadi khawatir, "Ada apa?" tanyanya menghampiri Farah yang duduk disisi tempat tidur.
"Mas, coba kamu lihat, Khanza menggenggam tangan Ziel," ucap Farah menunjuk pada tangan Khanza yang terlihat mengepal memegang tangan putranya.
Abizar terhenyak sesaat, mencerna apa yang Farah katakan, Rasa senang, haru, bahagia mendengar jika Khanza merespon sungguh kabar sangat menggembirakan, mereka bisa melihat pada tangan Khanza dan melihat bayinya yang terlihat tersenyum kepadanya.
Dengan perlahan Abizar mendekati tangan Khanza, mencoba melepas tangan Aziel dari genggaman tangan istrinya itu. Namun, semakin ia mencoba melepaskan tangan Aziel semakin Khanza mengeratkan genggamannya.
Aziel kembali melihat Papanya "ma-ma" ucapnya, walau masih terdengar samar ia bisa mengerti jika Putranya itu mengatakan mama.
"Iya, sayang. Mama sayang Ziel."
"Khanza, apa kau bisa mendengarku?" ucap Abizan menggenggam tangan Khanza yang satunya lagi, mengecupnya dan menyimpannya di dadanya.
Abizar bisa merasakan gerakan kecil di tangan Khanza yang ia genggam walau hanya gerakan kecil, gerakan itu sudah membuat Abizar sangat bahagia.
"Farah, apa kau sudah menelpon Dokter?" tanya Abizar.
"Iya, Mas. Dokternya sudah menuju ke sini, kita doakan saja semoga ini kabar baik," ucap Farah ikut duduk di samping Khanza mengelus rambutnya.
"Khanza kamu harus kuat, kamu harus coba buka matamu. Kami semua sangat merindukanmu," ucap Tarah terus menyemangati Khanza.
mereka terus memberikan kata-kata penyemangat pada Khanza, begitu juga dengan Aziel yang terus saja diam duduk di tempatnya, sesekali ia menggoyang-goyangkan tangan mamanya, narik-narik tangannya yang dipegang oleh mamanya.
Tak lama kemudian Dokter datang dan langsung memeriksa Khanza.
Warda yang melihat Dokter datang ikut menyusul masuk ke kamar, menyusul Dokter yang diantar oleh bibi. Santi yang melihat itu juga ikut masuk.
"Ada apa ini? kenapa Dokter datang?" batin Santi tak ingin ketinggalan informasi.
"Farah ada apa?" tanya Warda menghampiri Farah yang kini berdiri di samping Abizar, membiarkan Dokter memeriksa keadaan Khanza.
"Mah, tadi Khanza merespon, dia menggenggam tangan Aziel," ucap Farah menunjuk tangan Aziel yang dipegang oleh Khanza.
"Syukurlah," ucap Warda. Mereka semua bahagia. Namun, tidak dengan Santi,
"Khanza, kenapa kamu harus sadar, sih!" batin Santi menggerutu tak senang mendoakan agar Khanza hanya cukup memberikan respon saja dan tak akan sadar dari komanya," harap Santi.
Santi melipat tangannya didada berdiri tak jauh dari mereka."
Santi sangat kesal dengan keadaan di kamar itu. Saat Dokter mengatakan jika Khanza sudah mulai memiliki banyak perubahan. Dokter sedang memeriksa dan mengetes beberapa fungsi saraf Khanza, semua dalam keadaan yang baik.
__ADS_1
"Dokter, lalu kenapa Khanza belum bangun juga?" tanya Farah yang di iyakan oleh Abizar.
"Bapak dan Ibu tenang saja, pasien sudah mengalami koma selama berbulan-bulan, walau ia sudah sadar, ia masih butuh pemulihan, butuh waktu. Kalian sabar saja, teruslah membujuknya, memberikan semangat agar dia mau membuka mata dan bersemangat untuk segera bangun."
"Terima kasih Dokter," ucap Abizar.
Warda mengantar Dokter keluar, sementara Abizar, Farah dan Aziel masih tetap menemani Khanza sesuai dengan arahan Dokter, mereka terus mengajak Khanza berbicara agar mau membuka mata dan berusaha untuk tersadar dari komanya.
Santi yang kesal melihat semua itu ikut menyusul Warda keluar.
"Aku harus cari cara agar bisa memisahkan Khanza dengan anaknya dan juga Abizar. Mereka hanya milik Farah," gumam Santi.
Santi berjalan bolak-balik di kamarnya memikirkan cara agar anaknya bisa bahagia, walau harus mengorbankan kebahagiaan Khanza.
"Tapi, bagaimana caraku melakukannya, aku sama sekali tak punya ide," geramnya.
Masih terlintas dengan jelas bayangan kegembiraan Farah saat mengurus Aziel selama ini, ia tak bisa membayangkan betapa sedihnya anaknya itu jika Khanza sadar dan mengambil putranya.
Aziel yang sedari tadi duduk mulai gelisah, sepertinya anak itu sudah mulai mengantuk.
Pegangan Khanza juga sudah mulai melonggar, sepertinya mereka berdua sudah cukup melepas kerinduan.
Fatah perlahan melepas genggaman Khanza dan membawa Aziel untuk kembali ke kamar dan menidurkannya.
Malam ini Abizar terus berada di kamar menemani Khanza, Ia ingin saat Khanza membuka mata ada dia di sampingnya.
Abizar tetap duduk di samping Khanza hingga tanpa di sadari nya Abizar tertidur. Hingga larut malam Khanza belum juga berbagun dari tidur panjangnya.
Jari tangan Khanza bergerak perlahan, perlahan khanza mengerjapkan matanya, mencoba untuk membukanya.
Ia serasa terbangun dari tidurnya, rasanya baru saja iya tertidur.
Khanza membuka mata dan melihat di sekelilingnya ini, ia merasa kesulitan menggerakkan seluruh tubuhnya, nyawanya seakan melemah.
Khanza baru menyadari jika ia bernafas dibantu oleh alat pernafasan.
Ia mencoba melihat sekelilingnya, ada Suaminya yang tertidur pulas di samping.
"Ini adalah kamarnya ku. Namun, dengan dekorasi yang berbeda." Pikir Khanza.
Khanza melihat begitu banyak alat-alat medis di sana, Khanza mencoba melepas selang oksigen yang menempel di hidungnya, ia merasa tubuhnya sangat lemah bahkan untuk mengangkat tangan ia melakukannya dengan sangat susah.
__ADS_1
"Kak, Kak Abi," ucapnya pelan, ia bahkan susah untuk mengeluarkan suaranya.
tubuhnya benar-benar lemas.
Lama Khanza mencoba memanggil Abizar. Namun, pria itu tak merespon panggilannya, ia baru saja tertidur setelah sedari tadi menunggunya tersadar.
Abizar tak mendengarkan panggilan Khanza,
Khanza melihat infus yang menempel di punggung tangannya, dengan perlahan melepaskannya, Ia masih berusaha terus mencerna apa yang terjadi dan di mana dia.
Khanza menatap lurus ke langit-langit kamarnya, nuansa di sana masih tetap sama dengan warna dan dekorasi yang menyenangkan.
*Bayiku," ucapkan sah merabah perutnya yang sudah rata
Ingin rasanya ia langsung berlari mencari bayinya. Namun, tubuhnya benar-benar lemah Khanza kembali mencoba memanggil Abizar. Namun, suara nanya tak bisa keluar dengan nyaring, mencoba berteriak, tetap saja suara yang dikeluarkan oleh Khanza tak mampu membangunkan Abizar yang sudah tertidur lelap.
Khanza menyerah, ia m pasrah dan hanya akan menunggu sampai suaminya benar-benar bangun.
Khanza sudah tidur selama berbulan-bulan, sudah cukup ia menutup matanya.
"Apa yang terjadi padaku, hingga aku mengalami semua ini," batin Khanza mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia ada di kamar dengan selang infus dan oksigen yang menempel serta beberapa peralatan lain, bahkan ada monitor di sana.sudah berapa lama aku tertidur," gumam.
Khanza tak tahu apa jawaban dari pertanyaannya, ia memilih untuk menunggu suaminya menjelaskan semuanya.
Sepanjang malam, Khanza terus memperhatikan wajah Abizar, ia merasa sangat merindukan suaminya itu.
Khanza memperhatikan mata, hidup, bibir dan semua yang ada di wajah suaminya yang membuat ia jatuh cinta.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah Membaca 🙏
Semoga kalian suka🤗 bab ini.
Jangan lupa ya like dan komennya
Terima kasih
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Sambil nunggu update terbaru mampir yuk Kak karya terbaruku 😉 mampir yuk.🙏
__ADS_1
makasih Kak 🤗 ditunggu 🙏