
Abizar mengerutkan keningnya melihat deretan chat di ponsel Khanza, sekitar 10 chat di sana dan semuanya berisi kalimat pujian dan rayuan untuk Khanza dan ada beberapa yang menanyakan keadaan Aziel.
"Ini nomor siapa?" gumam Abizar mencoba mencari pesan lain. Namun, tak ada pesan lain selain yang baru saja dibukanya, pesan dari nomor yang tak dikenal. Tak tersimpan di kontak Khanza.
Abizar mencoba menelpon nomor ponsel tersebut, pada deringan pertama panggilannya langsung diangkat, tapi tak ada suara dari seberang sana.
"Halo ini siapa?" tanya Abizar menunggu jawaban, bukannya menjawab pertanyaan Abizar justru orang tersebut mematikan panggilannya.
"Dimatikan," ucapnya melihat layar ponsel Khanza.
"Kenapa dia mematikan panggilanku," batin Abizar kembali memanggil nomor tersebut, nomornya tersambung. Namun, hingga panggilan terakhir tak juga diangkatnya.
"Siapa sebenarnya orang ini," ucapnya kesal. Abizar yang penasaran mengambil ponselnya memasukkan nomor tersebut dan memanggilnya. Matanya membulat sempurna saat tertera nama Daniel disana. Tertulis jelas siapa pemilik nomor yang sudah mengganggu istrinya.
"Kurang ajar, bisa-bisanya dia merayu istriku." geramnya. Abizar melakukan panggilan dengan ponselnya, tapi sama saja Daniel tak mengangkatnya.
Abizar tak putus asa dan terus memanggil nomor Daniel, Ingin rasanya ia memaki rekan bisnisnya itu, bisa-bisanya Ia mengirim chat berisi rayuan kepada istrinya dan bahkan sekarang mengabaikan panggilannya.
Abizar sangat gusar sementara di seberang sana Daniel terus tertawa melihat panggilan Abizar di layar ponselnya.
"Apa aku ketahuan merayu istri orang," ucapnya kembali tertawa, bukan menertawakan Abizar, tapi ia menertawakan dirinya sendiri dengan apa yang telah ia lakukan. Benar-benar di luar karakternya.
Abizar mengirim pesan meminta Daniel untuk mengangkat panggilannya. Namun, ia menunggu hingga beberapa saat chatnya tak juga dibuka oleh Daniel.
"Khanza," panggilnya pada Khanza yang setaunya ada di dapur bersama Farah.
"Khanza," panggil Abizar lebih keras lagi.
Khanza yang sedang duduk di dapur bersama Farah saling pandang tak biasanya suami mereka itu berteriak sekencang itu.
"Khanza," satu panggilan lagi yang lebih kencang dari sebelumnya membuat Khanza langsung berdiri dari duduknya dan berlari keluar menghampiri Abizar yang sedari tadi manggilnya, Farah yang merasa aneh juga ikut mempercepat langkahnya mengikuti Khanza yang berlari lebih dulu.
Khanza yang berlari langsung menghentikan langkahnya saat melihat Abizar memegang ponselnya dan terlihat sedang melihat apa yang ada di dalamnya.
"Jangan bilang Daniel kembali mengirim pesan untukku," batinnya menjerit.
Khanza yang melihat Abizar terus mengacak-ngacak ponselnya berjalan pelan, bahkan Farah yang berjalan di belakangnya kini melewati Khanza.
__ADS_1
"Ada apa sih! Mas, teriak-teriak?" tanya Farah duduk di sofa yang ada di depan Abizar.
"Khanza mana?" tanya Abizar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel milik Khanza, entah apa yang dilihatnya di sana.
Farah melihat Khanza yang berjalan pelan memberi kode agar ia cepat ikut bergabung bersama mereka.
Khanza sudah tahu jika sepertinya ada yang salah dengan sikap suaminya, memilih untuk duduk di dekat Farah.
Abizar yang melihat Khanza sudah datang langsung membuang ponsel Khanza di atas meja di depan Khanza, mengeluarkan suara nyaring membuat Khanza dan Farah sedikit tersentak dibuatnya.
"Kenapa Daniel mengirim pesan seperti itu untukmu?" tanyanya dengan raut wajah serius bercampur kesal
"Aku juga nggak tahu, Kak. Padahal tadi aku sudah mengirim pesan untuk melarangnya mengirim pesan ke ponsel ku," jawab Khanza.
"Oh jadi orang iseng yang kamu bilang tadi itu Daniel, jadi yang sejak dari tadi mengirim pesan kepadamu itu si Daniel brengsek itu?" tanya Abizar dengan penuh penekanan wajahnya sudah memerah menahan emosinya.
Khanza yang sudah mencium aroma Kemarahan hanya bisa mengangguk.
Farah mengambil ponsel Khanza dan melihat pesan yang dikirim oleh Daniel.
"Daniel tahu nomor ponsel Kamu dari mana?" tanya lagi tak menghiraukan omongan Farah.
"Aku juga nggak tahu, Kak."
"Kamu yakin kamu nggak tahu?" tanyanya semakin mempertegas pertanyaannya memberikan tekanan di setiap katanya.
"Mungkin dari teman-temanku," lirihnya.
"Dari mana Daniel tahu teman-teman kamu?"
Khanza terdiam, ia seperti sedang di interogasi.
"Dimana Daniel mengenal teman-teman kamu? Bagaimana bisa mereka mengenal Daniel?"
"Kami bertemu waktu di Mall beberapa hari yang lalu," jujur Khanza yang tak berani melihat wajah suaminya, ia tertunduk melihat jemarinya yang ia mainkan di atas pangkuannya.
"Apa kau ingin bercerita sesuatu?" tanya Abizar semakin mengintimidasi Khanza.
__ADS_1
Farah tak bersuara lagi, dia tahu jika sekarang suaminya tidak ingin diganggu.
Khanza menghela nafas kemudian menceritakan semuanya, menceritakan apa yang terjadi di Mall waktu itu. Dimulai dari ia bertemu Daniel hingga menyembunyikan Daniel di bawah kolong meja dan tak lupa ia juga jujur jika malam itu Daniel yang mengantarnya pulang.
"Tapi nggak cuman aku kok, ada Aqila di mobil. Kami bertiga dan aku duduk di belakang," sambung Khanza cepat.
Abizar memijat kepalanya, sepertinya ia harus memperingatkan Daniel untuk tak mengganggu istrinya lagi.
Abizar sudah mulai curiga jika Daniel menyukai istrinya Sejak pertama, tapi ia tak menyangka jika ia akan sejauh itu mendekati Khanza.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote komennya🙏
Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Selamat TAHUN BARU.🥳🥳🥳🥳🥳🥳
Dari semua komentar, keknya ada 3 tim deh.
🌹Abizar dan Khanza.
🌹Khanza dan Daniel
🌹Abizar, Farah dan Khanza ( poligami)
Absen dulu, kalian tim mana?🤭🤭😉
Sampai jumpa tahun depan. 🤭🤭🤭🤭
Semoga tahun depan jauh lebih baik dari tahun sebelumnya 🤲🤲.
__ADS_1