Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Kesalahan yang terus terulang.


__ADS_3

Pagi hari Abizar terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa pusing akibat alkohol yang diminumnya.


Ia duduk dan memijat kepalanya yang terasa sangat berat, ia menghentikan pijatannya dan melihat tubuhnya dalam keadaan polos, ingatannya langsung teringat pada Khanza dan apa yang telah dilakukannya semalam.


Abizar melihat pakaian Khanza yang ada di lantai, begitu juga dengan beberapa potong pakaiannya.


"Khanza," ucapnya dengan segera mengambil handuk dan mengecek di kamar mandi. Dia mengira Khanza ada di kamar mandi, tapi kamar mandinya kosong. Abizar bisa melihat jika semalam Khanza menggunakan kamar mandi, terlihat dari shampo dan sabunnya tak berada di tempatnya. Kemudian ia dengan cepat turun ke lantai bawah, memeriksa di area dapur dan tempat lainnya.


"Khanza," teriaknya. Abizar berpikir kalau Khanza masih ada di rumahnya, ia bahkan berkeliling mencari Khanza dengan hanya memakai handuk.


"Apa Khanza sudah pulang ya?" gumamnya kemudian berjalan keluar memanggil satpam.


"Ada apa Pak?" tanya satpam berlari menghampiri Abizar, ia sedikit heran melihat majikannya itu tak biasanya ia keluar hanya memakai handuk seperti yang ia lakukan sekarang.


"Dimana, istriku?" tanyanya.


"Maaf, Pak. Semalam Ibu pergi, kalau tidak salah lihat dia bersama dengan sahabatnya."


"Aqila, jam berapa dia pergi?"


"Mungkin kurang lebih sekitar jam 12 malam, Pak," jawab satpam.


"Ya sudah, kembali ke tempat bapak!" Seru Abizar dan ia pun kembali masuk ke dalam.


"Berarti semalam saat aku ketiduran Khanza langsung pulang," ucapnya kembali berlari ke kamarnya dan mengambil ponsel mencoba menghubungi nomor Khanza.


"Halo Papa?" jawab Aziel.


"Ziel lagi di mana, Sayang?" tanya Abizar.


"Ziel lagi di kamar main sama adik Aisyah. Kenapa Papa tidak memanggil video?"


"Iya, tadi Papa mau nelpon mama, mama mana, Nak?" tanyanya.


"Mama lagi di kamar mandi, Papa mau kesini?" tanya Ziel yang biasanya setiap Papanya mau datang ia selalu menelpon mengabarkan jika ia mau datang.


"Iya, Papa kesana! Papa mandi dulu. Ok?"


"Ok, Papa! Aziel tunggu," ucap Aziel merasa sangat senang dan mematikan panggilannya.


"Adek dengarkan, Papa mau datang nanti kita main sama papa!" ucapnya pada Aisyah yang dijawab tertawa ringan dari Bayi kecil itu seolah mengerti apa yang diucapkan oleh kakaknya.

__ADS_1


Khanza keluar dari kamar mandi, Ia baru saja mandi dan sudah berpakaian.


"Mama nggak ke kantor?" tanya Aziel yang melihat mamanya hanya memakai pakaian rumah.


"Iya, Mama lagi libur," jawab Khanza mencium pipi putranya kemudian ikut bermain bersama dengan Aisyah.


Khanza melakukan permainan dengan putrinya membuat putrinya itu terus tertawa hingga air liurnya sudah membasahi pipinya.


"Mama tadi papa menelpon, katanya mau datang." Aziel memberikan ponsel pada mamanya.


Khanza langsung menghentikan tawanya bersama dengan Aisyah.


"Papa bilang apa?"


"Papa cuman bilang katanya mau datang, mau mandi dulu," jawab Aziel kembali beralih pada Aisyah membelikan adiknya itu beberapa permainan untuk dipegangnya.


Khanza berjalan menuju ke jendela melihat ke bawah. Khanza bisa melihat di luar pagar ada beberapa penjaga, sepertinya semalam saat ia menghubungi pak Matteo dan meminta mengurus perceraiannya, pak Matteo langsung mengirimkan beberapa pengawalnya untuk menjaga rumah tersebut.


"Aku harap semoga cepat selesai," gumam Khanza menyandarkan kepalanya di kaca jendela.


Khanza kembali mengingat kejadian semalam di mana Abizar melakukannya dengan sangat kasar dan beberapa kata-kata hinaan yang merendahkannya keluar dari mulutnya sambil melakukan apa yang diinginkannya.


"Apa Papa sudah datang?" tanya Aziel berlari menyusul mamanya melihat keluar jendela.


"Belum Sayang, 'kan katanya tadi papa mandi dulu, jaraknya dari sini ke rumah Papa juga lumayan jauh, mungkin papa akan datang saat siang nanti," jawab Khanza menjelaskan pada putranya sambil merapikan rambut Aziel yang berantakan.


"Oh ... jadi papa datangnya masih lama ya, Mah?"


"Ia, sayang. Sabar ya?"


"Iya Mah, Ziel main sama adek Aisyah saja sambil tunggu papa datang.


"Iya, mainnya sama Mama juga ya, Mama nggak kerja kok," ucap Khanza. Mereka bermain bersama di dalam kamar itu, sedang Khanza meminta Aqila menggantikannya sementara.


Sementara itu di rumah lama Khanza.


Abizar mandi kemudian berpakaian dengan terburu-buru, dengan cepat ia mengambil kunci mobil dan melajukan mobilnya menuju ke rumah Khanza.


Ia kembali mengingat kelakuannya semalam pada Khanza.


Iya sangat bersyukur semarah apapun Ia semalam ia tak sampai bermain fisik pada Khanza. Namun, semalam itu ia termasuk memaksa istrinya untuk melayaninya. Walau Khanza sudah menangis, dia tetap melakukannya. ia benar-benar merasa bersalah lagi-lagi yang melakukan kesalahan yang fatal.

__ADS_1


Begitu sampai di kediaman Khanza, Abizar menghentikan mobilnya di depan gerbang, disana juga ada mobil dan Daniel sendiri sedang berbicara dengan para penjaga tersebut.


"Aku sudah sering ke sini dan Khanza tak masalah jika aku menemui mereka," ujar Daniel meminta untuk membukanan pintu gerbang.


"Ada apa ini? Kenapa banyak penjaga di sini?" tanya Abizar pada Daniel yang kembali berjalan ke mobilnya, negosiasinya tidak berhasil dengan para penjaga tersebut.


Daniel menatap tajam pada Abizar. "Apa yang kau lakukan pada Khanza semalam? Aku tahu kau yang membawanya pergi dari pesta semalam 'kan? Semua ini yakin ada sangkut pautnya dengan mu. Kau melakukan hal yang yang membuatnya kesal sehingga ia harus meminta penjagaan di depan rumahnya seperti ini.


"Aku hanya membawanya pulang. Dimana tempat seharusnya ia tinggal," jawabannya tanpa melihat ke arah Daniel.


Keduanya terus berpikir bagaimana cara mereka bertemu dengan Khanza.


Abizar langsung menelpon nomor Khanza berharap panggilannya kembali diangkat oleh putranya, tapi harapan pupus saat panggilannya tak terjawab.


Daniel juga mencoba menghubungi Aqila ternyata Aqila sudah ada di kantor.


"Kau sudah di kantor? Apa Khanza juga ada di kantor sekarang?" tanya Daniel.


"Tidak, Khanza tidak pergi bekerja, ia ada di rumah.bermain dengan Aziel dan Aisyah." Aqila menjawab sebisanya agar Daniel percaya dan tak menanyakannya lebih banyak lagi.


"Ya sudah, aku matikan," ucap Daniel lama menelpon Aqila.


Abizar menatap Daniel penuh tanya.


"Aqila sudah kekantor dan Khanza sepertinya tidak pergi dan masih ada di dalam?.'


"Aku ada rapat penting, aku permisi," ucap Daniel menyerah dan kemudian pergi dari sana.


Abizar terus meminta penjaga untuk membukakan gerbang dan mengatakan jika ia adalah suami Khanza, Namun, tetap saja mereka tak membukakannya dengan alasan, mereka hanya menjalankan tugasnya, Khanza sudah berpesan kepada mereka jika ingin diganggu.


Saat siang hari tak ada tanda-tanda Khanza. mengangkat panggilannya juga berniat membukakannya gerbang.


"Sepertinya Khanza kali ini sangat marah padaku. Kenapa aku terus saja melakukan hal bodoh itu." Abizar hanya bisa memandang rumah Khanza sambil bersandar di jok mobilnya. " Semalam menegurnya saja itu sudah cukup, kenapa aku harus melakukan di saat aku belum mendapatkan maafnya," kesalnya memaki kebodohannya sendiri.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


ohya kak, sambil nunggu bisa dengerin audio nya, udah ada lho kk. Kita kenang lagi pertemuan Abizar dan Khanza 😉🥰


__ADS_2