
Abizar, Farah dan Aziel keluar kamar dengan masih tertawa.
Saat keluar mereka melihat Khanza duduk di meja makan sambil memakan rujak pesanannya yang dipesan secara online.
"Kamu lagi makan apa?" tanya Farah ikut duduk di samping Khanza.
"Lagi makan rujak Mbak, enak deh. Tadi aku lihat postingan Aqila di sosmednya jadi aku juga pengen," jawab Khanza mengibas-ibaskan tangannya ke wajahnya, ia kepedesan dan berkeringat, tapi masih tetap saja memakannya.
Abizar ikut duduk dan mendudukkan Ziel di atas meja memberikan buah agar anak itu tenang.
Khanza menyuapi Abizar rujak yang dimakannya.
Abizar memakan apa yang Khanza berikan.
"Lain kali jangan dekat-dekat dengan Daniel," ucapnya sambil mengunyah rujak yang dimakannya menahan sensasi pedas yang langsung membakar mulutnya.
Abizar melihat rujak yang ada di depan Khanza, biji cabai nampak jelas memenuhi rujaknya. Namun, ia akui walau pedas rasanya sangat enak.
Khanza dan Farah saling tatap menyembunyikan senyum mereka dari Abizar.
"Khanza kamu mendengarkan apa yang aku katakan? Jangan temui Daniel lagi!" ucap Abizar
"Iya, Kak. Nggak lagi, kalau pak Daniel datang aku akan langsung masuk," ucapnya kembali menyuapi rujak tersebut kepada Abizar. Dengan ragu Abizar membuka mulut melihat biji cabai menari-nari disana.
"Oh ya, Kak. Boleh nggak aku jalan bareng sama teman-teman aku," mohon Khanza.
"Siapa aja?" tanyanya setelah menenggak segelas air.
"Aqila, Sinta dan Nindi aja, kok," ucap khanza yang tahu jika suaminya mengenal mereka semua.
"Mau kemana?" tanyanya lagi.
"Cuma nonton aja, Kak."
"Ya udah nanti aku temenin."
"Nggak usah. Aku mau jalan sama mereka aja."
"Kan lebih aman jika aku temanin," Sanggah Abizar.
Khanza melihat Farah meminta bantuan.
"Sudahlah, Mas. Lagian kita kenal Aqila biarkan saja mereka pergi, sudah lama 'kan ia tak keluar," ucap Farah.
Khanza mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Farah.
"Kapan kau ingin pergi?"
__ADS_1
"Besok siang kak, sepulang mereka dari kantor," jawab Khanza cepat, sangat antusias.
"Besok kamu ikut aja ke kantor, besok aku masuk kantor agak siangan. DariΒ kantor baru kamu pergi dengan Aqila.
" Jadi boleh, Kak?" tanya Khanza berbinar
"Hmmm."
"Ahhhh makasih," Seru Khanza senang. Ia sudah lama sangat menginginkan untuk kembali bersama dengan teman-temannya, selama ini Ia hanya melihat aktivitas mereka melalui media sosial. Khanza sering meminta mereka datang ke kediamannya. Namun, mereka tak berani dan meminta Khanza yang keluar kandang.
Mengingat kondisinya beberapa bulan lalu dan ada Aziel, Khanza tak berani meminta izin. Namun, sekarang ia merasa lebih baik.
"Sebentar, ya." Farah beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar, Farah mengambil beberapa gambar rumah dan memperlihatkannya kepada Khanza, ada sekitar 3 gambar.
"Mbak sudah memeriksanya, semuanya berada di lokasi yang aman dan rumahnya juga sangat nyaman, kau tinggal memilih kau suka yang mana," menyodorkan 3 rekomendasi rumah.
Khanza melihat ketiga rumah tersebut, rumahnya sangat bagus. Namun, ia memilih satu yang terlihat lebih hijau, lebih banyak tumbuhan dan terlihat di sekitarnya juga sangat baik untuk bermain anak-anak.
"Aku pilih ini aja," ucapnya memberikan satu gambar pada Farah.
"Kapan-kapan kita melihatnya langsung."
"Kamu yakin akan pindah?" tanya Abizar yang berharap Khanza membatalkan niatnya untuk pindah.
"Iya, Kak. Aku yakin. Aku sudah memikirkannya secara matang-matang dan akan lebih baik jika kita pisah, iya nggak Mbak Farah?" tanyanya melihat Farah yang duduk di sampingnya.
Warda melihat mereka bertiga dari lantai atas, dia merasa sangat senang tak ada lagi pertengkaran diantara mereka. Ia juga bisa melihat kalau putranya terlihat sangat bahagia.
Memiliki 2 istri dan sekarang sudah memiliki seorang Putra.
"Aneh ya mereka! Punya satu suamiku kok mereka terlihat sangat bahagia," ucap Santi yang baru datang dan ikut bergabung dengan Warda.
"Apanya yang aneh, bagus kan kalau mereka akur. Apa kamu suka kalau mereka terus bertengkar?" Menatap heran pada besannya.
"Aku yakin itu hanya sandiwara, Khanza pasti punya rencana di balik semua ketenangannya. kudengar dia meminta rumah dari Abizar," lanjutnya.
"Apa maksudmu?" tanya Warda tak mengerti.
"Jangan bilang kamu tak tahu jika abizar memberikan rumah mewah untuk Khanza, 'kan sebentar lagi Khanza akan pindah dari rumah ini."
Warda mengerutkan keningnya menatap Santi mencari kebenaran di setiap ucapan Santi..
"Kamu jangan terlalu percaya sama menantu baru mu itu, baru saja dia berada disini dia sudah minta ini dan itu. Aku yakin dia pasti punya niat jahat, dia 'kan orang kampung pasti matre lah," ucap Santi menunjuk Khanza dengan pandangannya.
Warda tak ingin menerka-nerka apa yang dikatakan Santi benar atau salah.
Warda langsung ikut turun ke bawah ingin menanyakan langsung apakah yang dikatakan oleh Santi itu benar atau tidak.
__ADS_1
Santi juga ikut turun ke bawah, ia yakin akan ada tontonan yang menarik dan dia tak ingin melewatkan hal itu.
Warda berjalan cepat menurut tangga berjalan ke arah mereka bertiga yang terlihat begitu bahagia dengan Aziel yang terus mencoba mengambil rujak yang dimakan oleh papa, mama dan ibunya. Namun, AbizarΒ terus menghalanginya.
Tidak mungkin Abizar memberikan itu pada anaknya, karena rasanya yang pedas dan hanya terus memberinya buah pisang yang telah dikupasnya.
"Abizar apa benar kamu sudah membeli rumah untuk Khanza?" tanya Warda yang sudah ikut bergabung dengan mereka, belum mendapat jawaban Warda sudah melihat Beberapa brosur rumah di sana, ia mengambilnya dan melihat ke 3 brosur tersebut.
"Khanza, apa kamu ingin pindah dari rumah ini? Apa benar seperti itu?"
Khanza tak tahu harus menjawab apa, dia hanya melihat Farah dan Abizar secara bergantian.
"Iya, Mah. itu akan lebih baik untuk Aku dan Khanza," bukannya dijawab Khanza, tapi Farah lah yang menjawabnya.
"Tapi, untuk apa kamu pindah, kamu bisa tinggal disini, rumah ini masih cukup luas untuk kita semua," tegas Mama Warda.
"Mah, nggak apa-apa, Farah sudah memilih lokasi yang dekat dari sini, jadi Mama masih bisa tetap bertemu dengan Ziel," kali ini Abizar yang buka suara. Abizar mengerti jika mamanya pasti tak mengizinkan Khanza pergi karena tak ingin berpisah dengan cucunya.
"Pokoknya Mama gak setuju kamu pindah, kalau kamu ingin keluar, keluar saja, tapi jangan bawa Aziel keluar dari rumah ini," ucap Warda kesal menyimpan kembali dengan kasar foto-foto rumah itu di atas meja dan kembali ke kamarnya.
Santi tersenyum sinis, rencananya berhasil. Ia tak rela jika Khanza memiliki rumah sementara ia masih tetap tinggal menumpang di rumah ibu mertua anaknya.
Farah melihat mamanya, dia yakin jika mertuanya itu tahu pasti dari mamanya.
Santi yang bisa melihat tatapan anaknya memilih untuk pergi, ia tak ingin bertengkar lagi dengan putrinya dan tak ingin disalahkan.
"Kak, gimana ini? apa mama marah dan tak mengizinkanku. Aku tetap ingin pindah, tapi aku nggak mau pindah tanpa Aziel," ucap Khanza berkaca-kaca. Ia tetap ingin pindah, walau berusaha ikhlas. Namun, hatinya tak bisa berbohong jika masih ada rasa sakit yang menyiksanya, ia berharap jika mereka tak seatap bisa mengurangi rasa sakitnya.
"Tenanglah, aku akan bicara sama mama," ucapan Abizar berdiri dan memberikan Aziel pada Farah.
"Sebaiknya kita ke kamarmu saja," ucap Farah mengajak Khanza ke kamar utama.
Mereka ke kamar utama di lantai dua sedangkan Abizar ke kamar mamanya.
Adapun Santi sedang merayakan keberhasilan rencananya. Santi memutar musik dan berdansa seolah ada seseorang yang menemaninya berdansa.
πππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Jangan lupa like, vote komennyaπ
πππππππππππ
Sambil nunggu update terbaru mampir ke karya TAMAT KE.
__ADS_1
Makasihπππ