
Aqila mulai membantu Khanza bekerja di perusahaan yang akan dipimpinnya beberapa hari lagi, ia menjadikan Aqila sebagai Asisten pribadinya.
Hari ini adalah hari pembukaan perusahaan sekaligus dimulainya kerjasama dengan beberapa perusahaan lainnya. Memulai proyek kerjasama mereka.
"Hufff," Khanza menghela nafas malas, ia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur, walau ini bukan rapat pertamanya, entah mengapa hari ini sangat gugup.
"Santai saja! Kamu 'kan sudah biasa menghadapi orang-orang penting seperti itu," ucap Aqila memilih-milih baju untuk Khanza.
"Entahlah! Aku sangat gugup hari ini aku harap aku bisa melakukan yang terbaik."
"Aku yakin kamu pasti bisa melakukannya, Apa mungkin kamu gugup karena pak Abizar juga akan ada disana?" tebak Aqila.
"Mungkin saja, aku harap aku tak bertemu dengannya."
"Itu tidak mungkin, kau pasti akan bertemu dengannya dia 'kan salah satu rekan bisnismu!"
"Aku harus tunjukkan padanya kalau aku bukanlah wanita yang lemah! Aku bisa hidup tanpanya, aku bisa membesarkan anak-anakku dengan baik tanpa dia di samping kami!" ucap Khanza mengembalikan semangatnya. Mengangkat kepalan tangannya.
"Pakai ini! Ini sangat bagus di badanmu." Aqila memberikan pakaian yang akan dipakai sahabatnya itu, ia juga memberikan sedikit make up tipis di wajahnya.
"Ok, aku siap!"
"Kamu pasti bisa," ucapnya menyamangati Khanza.
Semua sudah menunggu, beberapa pengusaha besar juga sudah datang termasuk Abizar dan Daniel. Mereka semua menunggu orang yang akan memulai acara tersebut.
Khanza datang bersama dengan Aqila semua mata tertuju kepada mereka, terlihat begitu cantik dan berwibawa.
"Maaf, kalian sudah menunggu lama ya? " Khanza menyapa mereka semua sambil terus tersenyum.
Khanza menyapa mereka semua, tak lama kemudian pak Matteo datang dan langsung bergabung dengan mereka.
Matteo melakukan pidato sebelum acara dimulai setelah melakukan pidatonya, pak Matteo meminta Khanza untuk menggunting pita sebagai tanda awal dimulainya kerjasama mereka.
Semua bertepuk tangan setelah Khanza menggunting pita tersebut.
Sepanjangan acara berlangsung Abizar terus memperhatikan istri keduanya itu, sudah sangat lama ia tak melihatnya ia benar-benar merasa kagum dengan sosok Khanza yang terlihat begitu berbeda dari sebelumnya. Namun, satu yang ia sadari Khanza sejak tadi terus saja menghindarinya, ia bahkan tak pernah melihat ke arahnya sekalipun.
Semua masuk ke dalam ruangan rapat dan memulai rapat pertama mereka, kali ini Khanza sendiri yang memimpin rapatnya, Ia menjelaskan rencana kerja mereka kedepannya, Khanza mampu melakukannya dengan sangat baik.
Sepanjang rapat Abizar tak memperhatikan apa yang Khanza jelaskan, Ia hanya memperhatikan cara Istri itu berbicara, cara duduk dan cara Khanza menjawab pertanyaan rekan bisnis mereka, ia bahkan memperhatikan hal-hal kecil yang Khanza lakukan. Semua tak luput dari pengamatannya.
Setelah Khanza melakukan presentasinya semua mulai mengeluarkan pendapat mereka masing-masing.
Aqila mendekatkan kursinya pada Khanza,
"Lihatlah suamimu itu, ia terlihat begitu mengagumimu."
"Jangan mengalihkan fokusku," jawab Khanza mengabaikan ucapan Aqila dan dan melihat ke arah orang yang sedang berbicara.
Khanza terus melakukannya, saat ada yang berbicara ia akan melihatnya dan melakukan diskusi dengan mereka dengan ramah. Namun, saat Abizar yang mengeluarkan pendapatnya Khanza sama sekali tak melihatnya, ia hanya menunduk dan berpura-pura mencatat sesuatu dan meminta Aqila untuk menjawab pendapat Abizar.
Daniel menahan tawanya melihat ekspresi Abizar mendapat perlakuan seperti itu dari Khanza. Sedari tadi ia juga tak fokus pada rapatnya, ia fokus memperhatikan Abizar dan Khanza.
__ADS_1
Rapat selesai.
Khanza dan Aqila memiliki jalan lain untuk keluar dari ruang rapat itu, Khanza mempercepat langkahnya saat melihat Abizar ingin menghampirinya, ia dengan cepat keluar dari ruangan itu disusul oleh Aqila.
"Dia sekarang bukanlah istrimu, tapi rekan kerjamu," ucap Daniel menepuk pundak Abizar yang menghentikan langkahnya saat melihat Khanza sudah masuk ke ruangan lain.
Abizar hanya melihat Daniel kemudian keluar dari ruang rapat tersebut.
Daniel hanya menggeleng melihat tingkah mereka.
Daniel menelpon Aqila,
"Halo Aqila! Apa kalian sudah makan?" tanya Daniel.
"Belum, ada apa, Pak Daniel?" tanya Aqila yang sedang berada di ruangan Khanza.
Aku hanya ingin mengajak kalian makan sekaligus ingin mengucapkan selamat kepada Khanza. Apa kalian tak keberatan?" pinta Daniel.
"Tentu saja. Bagaimana kalau kita bertemu di restoran depan?"
"Baiklah tak masalah," jawab Daniel.
"Kamu janjian makan siang dengan siapa?" tanya Khanza yang mendengar pembicaraan Aqila ditelepon.
"Ini Pak Daniel, dia mengajak kita untuk makan siang di restoran depan. Aku memang sudah sangat lapar, kita kesana sekarang, yuk!" ajaknya.
"Aku belum lapar, kamu pergi aja nanti aku nyusu,"
"Yaudah baiklah, demi kamu," ucap Khanza kemudian mereka pun menghampiri Daniel di restoran yang ada di depan perusahaan mereka.
Daniel melambaikan tangan saat melihat Khanza dan Aqila masuk ke restoran itu.
"Sudah lama ya, Pak?" tanya Aqila basa basi.
"Baru aja kok," jawab Daniel.
Mereka pun memesan makanan.
"Selamat ya, semoga kamu lebih sukses lagi kedepannya."
"Terima kasih Pak Daniel, aku mohon kerjasamanya."
"Tentu saja kita akan menjadi rekan bisnis mulai dari sekarang dan aku akan selalu ada jika kau membutuhkan bantuanku."
Mereka terus berbincang-bincang sambil memakan makanan yang sudah dihidangkan di meja mereka.
Daniel yang memang sifatnya periang mampu membuat Khanza dan Aqila terus saja tertawa diselah pembicaraan mereka membuat Abizar yang berada di restoran yang sama terlihat begitu kesal dan menahan diri untuk tak menghampiri mereka.
Setelah makan Khanza dan Aqila kembali ke perusahaannya, Daniel pun sama, ia juga kembali ke perusahaannya sendiri.
Mereka akan melakukan pertemuan kembali beberapa hari lagi.
Abizar mengikuti mereka hingga ia ikut masuk kembali Ke kantor.
__ADS_1
Saat Khanza masuk ke dalam lift, Abizar juga ikut masuk. Melihat Abizar ada di lift yang sama Khanza ingin keluar, tapi Abizar menarik lengan Khanza.
Pintu lift tertutup.
"Khanza kenapa kau selalu menghindariku? Aku ingin bicara denganmu!" ucapnya masih berusaha menahan emosinya melihat kebersamaan istrinya itu dengan Daniel.
Aqila langsung membalikkan badannya membelakangi mereka.
"Maaf Kak aku lagi sibuk!" ucap Khanza mencoba melepaskan genggaman Abizar dari tangannya.
"Aku sudah memperingatkanmu, jika aku tak suka kamu dekat dengan Daniel."
"Daniel? Kami hanya makan."
"Kau bersikap begitu ramah pada Daniel, tertawa lepas dengannya. Sedangkan denganku kau bahkan tak mau melihatku.
Aku ini masih suamimu!"
"Tapi aku sudah tidak menganggap kakak itu sebagai suamiku, hubungan kita sudah berakhir, Kak!"
"Berakhir? Apa maksudmu berakhir. Kamu masih istriku yang sah secara hukum dan agama!"
"Tapi bagiku kakak bukan siapa-siapa lagi sekarang, Aku sudah meminta kakak untuk mengakhiri semuanya. Aku sudah meminta Kakak menceraikanku, mengurus perceraian kita. Kakak mau melakukannya sekarang atau nanti bagiku sama saja, hubungan kita sudah berakhir!.
"Aku tak akan pernah menceraikanmu!"
"Terserah, tapi sampai kapanpun aku tak akan menganggap kakak adalah suamiku, hubungan kita sudah berakhir saat aku tau Kakak tak mencintai, tapi hanya menginginkan anak dariku."
"Khanza itu sama sekali tak benar. Aku sangat mencintaimu."
"Cinta, cinta apa yang kakak maksud. Apa kakak pernah berpikir sebelum menukar obatku, bagaimana jika aku hamil dan aku meninggal saat melahirkan, apakah itu cinta kakak padaku. Mungkin kah yang ada dalam pikiran kakak saat mengganti obatku tak masalah jika aku meninggal asal bayiku selamat? Itukah cinta kakak?"
"Khanza, kamu salah paham, aku Sama sekali tak bermaksud melakukan itu Semua."
"Aku benci sama kakak," ucap Khanza mendorong dada Abizar dan keluar saat lift terbuka.
Aqila langsung berlari keluar menyusul Khanza yang berjalan cepat sambil terus mengusap air matanya yang tak bisa di tahannya.
Air matanya kembali tumpah karena Abizar. Pria yang sangat dicintainya.
Abizar bersandar di dinding lift terus melihat Khanza hingga lift itu tertutup.
Abizar menekan dadanya, ia sama sekali tak pernah berfikir jika Khanza berfikir seperti itu tentangnya.
Tak pernah terbersit dalam pikirannya hal yang baru saja Khanza tuduhan padanya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️🤗
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1