
Semua orang-orang yang mengantar kepergian ibu Mentari kini sudah mulai pulang satu demi satu. Namun, tidak dengan mereka semua yang sejak tadi menemaninya, khususnya Azriel.
Mentari melihat batu nisan yang tertuliskan nama ibunya, rasanya semua terjadi begitu cepat, baru saja ia dan ibunya tertawa bersama di malam hari. Namun, kini ibunya sudah beristirahat dengan tenang di peristirahatan terakhirnya, tak ada lagi nasehat dan juga omelan ibunya saat ia melakukan kesalahan, tak ada lagi ibunya yang memberikan semangat di saat ia merasa terpuruk.
"Ini sudah malam, kita pulang ya? Malam ini ibu akan menginap di rumahmu," ucap Khanza, ibu dari kekasihnya itu. Mentari menatap khanza tanpa menjawab, hanya sebuah lelehan air yang keluar dari sudut matanya.
Mentari mengangguk dan dibantu Azriel dengan perlahan meninggalkan peristirahatan terakhir ibunya, walaupun dengan perasaan yang sangat sakit akan kehilangan orang yang ia cintai. Mentari mencoba ikhlas. Meyakinkan dalam hatinya jika yang hidup pasti akan mati. Ia hanya tinggal menunggu giliran kapan ia harus menyusul ayah dan ibunya yang telah lebih dulu meninggalkannya.
Sesampainya di rumah, Mentari langsung masuk ke kamar ibunya dan kembali menangis, ia menangis terseduh-seduh di sana, ia baca ayat suci Alquran untuk ibunya. Ia menyendiri di dalam kamar itu. Ia serahkan semua itu pada para tetangganya dan juga Khanza yang masih turut hadir dalam acara pembacaan doa tersebut untuk menjamu mereka yang hadir.
"Kakak makan dulu ya, siang tadi Kakak belum makan," ucap Aisyah menghampiri Mentari, Mentari hanya menggeleng dan terus berduduk di lantai sambil memeluk baju ibunya.Walaupun Ia mengatakan jika dia sudah ikhlas. Namun, hatinya masih belum ikhlas akan kepergian ibunya yang secara tiba-tiba itu.
****
Hari berlalu dengan begitu cepat hingga kini sebulan sudah ibu Mentari telah meninggalkan putrinya.
Mentari kembali masuk ke dapur, ini untuk pertama kalinya ia kembali masuk ke dapur itu. Dimana di sanalah tempat ia dan ibunya biasa membuat kue, mulai dari mereka hanya berdua hingga bertambahnya para pegawai. Selama sebulan ini juga Mentari tak menerima pesanan apapun, ia hanya terus fokus untuk mengobati rasa sakit di hatinya akan kehilangan ibunya. Ia terus melantunkan ayat suci Alquran dan menenangkan dirinya dengan pergi ke tempat-tempat yang bisa membuatnya tenang,
Setiap akhir pekan ia akan mengunjungi ibunya, awalnya terasa sakit. Namun, seiring berjalannya waktu dan ia sudah bisa mengikhlaskan ibunya rasa sakit itu pun semakin berkurang.
Setelah menyiapkan semua keperluan usahanya mentari seperti biasa mengunjungi ibunya.
Mentari menaburkan bunga mawar di atas makam sang ibu, ia selalu terisak saat menaburkan bunga itu. Namun, tidak untuk kali ini, sebuah senyum terukir di bibirnya.
"Aku minta doa ya, Bu. Semoga saja usaha dan cita-cita kita bisa berjalan dengan lancar, maaf karena Mentari tak melanjutkan usaha kita selama beberapa hari ini. Mentari mengecewakan pelanggan kita. Mentari ikhlas ibu pergi untuk menghadap sang pencipta, Mentari yakin saat ini ibu berada di tempat yang membuat ibu nyaman dan bahagia, ibu pasti sudah bertemu dengan ayah," gumam Mentari masih menaburkan bunga mawar di atas pemakam ibu dan ayahnya.
Sebuah helaan napas dan semangat membuat Mentari pun akhirnya bangkit dari makam kedua orang tuanya itu dengan semangat baru akan memulai kembali usahanya.
Begitu Mentari sampai di depan lorong gang sempitnya, ia melihat Azriel bersama dengan kedua orang tuanya ada di bangunan kosong yang ada di depan gang tersebut, di mana di sana Mentari dan ibunya pernah berkeinginan untuk membuat toko di sana. Namun, karena mereka kekurangan dana mereka belum sempat untuk membeli toko tersebut, Mentari pun menghampiri mereka.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanyanya melihat tokoh yang selama ini tertutup kini terlihat terbuka dan terlihat papan nama yang melekat pada bagian depan toko tersebut adalah kue yang selama ini dijualnya.
__ADS_1
Azriel memberikan sebuah map yang berisi surat pembelian toko tersebut, Mentari menatap mereka semua setelah melihat apa isi dari map tersebut.
"Ini bukan pemberian, tapi pinjaman. Bayar semuanya jika kamu sudah punya uang," ucap Azriel menunjuk harga toko tersebut yang tertera dalam surat jual beli toko itu.
Mendengar itu Mentari pun tersenyum, "Baiklah, akan aku bayar. Ingat ini adalah hutang, kamu harus menagiku jika aku lalai dan lupa membayar hutangku padamu," ucap Mentari membuat mereka pun semua tertawa. Azriel yakin jika hanya memberikannya saja Mentari tak akan menerimanya.
Saat Mentari masuk ke dalam toko tersebut ia kembali dikejutkan saat toko itu sudah siap beroperasi, ada begitu banyak kue-kue yang ada di etalase dan semua adalah menu kue yang selama ini dijualnya, begitupun dengan para karyawan, mereka juga sudah ada berdiri menyambut Mentari dengan sebuah kue yang lumayan besar untuk menyambut kedatangan Mentari. Di mana hari ini juga tepat ulang tahunnya.
Selama ini Rusmi tidak hanya mempekerjakan mereka. Namun, ia juga mengajari beberapa resep yang mereka jual kepada mereka semua, membuat kue-kue itu dibuat oleh para pegawainya dengan rasa yang sama sesuai yang selama ini mereka jual.
"Ini kue resep apa?" tanya Mentari melihat salah satu kue yang bukan merupakan resep kue yang dijualnya.
"Ini kue buatanku, Kak. Nggak papa kan aku coba menjualnya di sini, ini ide aku sendiri," ucap Aisyah.
"Iya, tentu saya nggak papa. Kamu boleh memasang kuemu apapun di sini," ucap Mentari membuat mereka pun semua tersenyum bahagia dan Mentari pun mulai memotong kue ulang tahunnya dan membagi-bagikannya kepada mereka semuanya yang ada disana.
Mentari memposting di akun media sosialnya di mana selama ini ia juga memposting jualannya di sana. Mengatakan jika hari ini ia sudah membuka toko baru, tak lupa Mentari menyertakan foto dan juga alamat tokonya dan mengatakan jika, Khusus hari ini semua yang ada di tokonya gratis, mereka bisa datang dan mencicipinya. Tetapi, jika mau dibawa pulang tentu saja harus dibeli, gratis hanya untuk makan di tempat mereka. Tulus Mentari dalam captionnya disertai dengan emoticon tersenyum. Di mana di toko kue itu lebih mirip seperti cafe, itu adalah ide Aisyah ada beberapa etalase kue dan juga mereka memproduksi kuenya di toko itu. Jika ada yang mau makan kuenya langsung mereka juga menyiapkan tempat untuk bersantai di lantai dua toko tersebut.
Khanza dan Aisyah turut membantu melayani para pembeli, mereka sangat terlihat bahagia membuat Lucia merasa kesal, ia terus merasa terabaikan karena keberadaan Mentari.
"Aku tahu Mentari sedang berduka atas meninggalnya ibunya, tapi tak harus kan dia mendapatkan kasih sayang sebanyak ini."
5 bulan berlalu dengan begitu cepat, toko Mentari sangatlah ramai, bahkan Mentari kembali harus menambah karyawannya untuk memenuhi pesanan. Toko itu telah dibayar lunas, Mentari benar-benar membayar toko itu walau Azriel tak mau menerima uangnya dan menganggap toko itu adalah hadiah ulang tahunnya. Namun, Mentari tak ingin merasa berhutang budi dan memaksa Azriel untuk mengambil uangnya dan dalam 5 bulan Mentari berhasil membayar toko tersebut, penghasilan selama 5 bulan ditambah dengan uang tabungan yang memang selama ini disiapkan untuk membayar toko itu.
Azriel hanya menerima uang itu, mungkin dengan menerimanya itu akan baik untuk Mentari dan kedepannya.
Mentari yang awalnya ingin melanjutkan kuliahnya bersama dengan Azriel kini telah mengambil keputusan akan fokus pada tokonya saja, ia merasa tak sanggup jika harus mengurus tokoh dan juga belajar.
****
Lucia berjalan bolak-balik di kamarnya, ini sudah 8 bulan ia tinggal di negara itu. Namun, sama sekali tak ada kemajuan, Azriel semakin menghindarinya begitupun Aisyah. Ia sangat frustasi, semalam ibunya sudah menelpon jika ia masih belum bisa mendapatkan hati Azriel, lebih baik ia pulang.
__ADS_1
"Baiklah, jangan salahkan aku jika aku harus melakukan semua ini," ucap Lucia, bulan depan adalah acara ulang tahunnya ia sudah meminta Azriel untuk merayakan ulang tahunnya di sebuah cafe dan Azriel tak masalah akan hal itu. Ia akan merayakan ulang tahun Lucia di cafe yang diinginkannya.
Malam hati Lucia masuk ke kamar Azriel. Saat itu Azriel baru saja selesai mandi. Azriel terkejut dengan kedatangan Lucia di kamarnya, saat ini jam sudah menunjukkan jam 11.00 malam. terlebih lagi melihat pakaian seksi yang digunakan Lucia yang duduk di sisi tempat tidurnya dengan gaya menggoda.
Azriel baru pulang dari kantor, ia harus lembur karena banyaknya pekerjaannya membuat ia baru pulang saat jam 10.00 malam tadi.
"Lucia, ngapain kamu ke sini?" tanya Azriel saat Lucia mendekat ke arahnya dengan senyum di wajahnya.
"Aku takut tidur di kamarku sendiri, apakah boleh malam ini aku numpang tidur di sini?" ucap Lucia, jari telunjuknya sudah menempel di dada bidang Azriel dan membuat pola-pola abstrak di sana.
Azriel yang merasa tak nyaman langsung menepis tangan Lucia.
"Keluar dari kamarku, Lucia. Ingat batasanmu," tegasnya.
"Ayolah, aku hanya ingin bersenang-senang. Aku janji setelah malam ini berlalu aku akan melupakan semuanya." Lucia membuka jubah pakaian tidurnya sehingga menampakkan lingerie seksi di dalam sana. Lusia tersenyum penuh kemenangan saat melihat Azriel menatap tubuhnya.
Dengan beraninya Lucia pun mendekat dan menarik tengkuk Azriel agar mendekat ke wajahnya. Azriel pria yang normal, melihat tubuh indah Lucia dan juga gerakan-gerakan Lucia yang membangkitkan hasratnya membuat ia pun terpancing.
Keduanya menikmati ciuman yang mereka lakukan. Namun, Azriel yang tiba-tiba tersadar dengan apa yang dilakukannya mendorong tubuh Lucia, membuat Lucia hampir saja terjatuh karena dorongan Azriel yang tiba-tiba.
"Wanita murahan! Keluar kau dari kamarku!" ucap Azriel yang langsung memungut jubah Lucia dan melemparkan ke wajahnya, ia langsung berjalan menghampiri pintu dan membuka pintu itu lebar-lebar.
"Lucia, keluar dari sini dan aku peringatkan sekali lagi kamu masuk ke kamarku tanpa izin akan kupastikan kamu akan keluar dari rumah ini!" ucap Azriel menatap Lucia dengan tatapan menyala, bukan lagi tatapan gairah yang ditunjukkannya. Namun, tatapan kemarahan atas kelancangan Lucia.
Walau merasa kesal, Lucia pun keluar dari kamar itu, ia mengapal tangannya dengan sangat erat.
Begitu ia sampai ke kamarnya, ia langsung mengambil ponselnya menelpon seseorang yang telah menawarinya kerjasama untuk menjebak Azriel agar menyentuhnya.
"Baiklah, aku akan membayarmu sesuai yang kamu inginkan. Pastikan Azriel masuk dalam perangkat kita," ucap Lucia pada orang di seberang sana, ia sangat kesal atas penolakan Azriel dan kali ini dengan kerjasama dengan orang yang ada di balik telepon itu ia yakin jika Azriel akan jatuh dalam perangkapnya. Satu tahun kesabarannya akan berbuah, jika Azriel tak mau bersamanya secara baik-baik ia akan melakukannya secara paksa.
Lucia hanya punya beberapa bulan lagi dan ia tak ingin ada kata kegagalan.
__ADS_1