
Khanza melemaskan otot-ototnya, memijat punggung yang terasa pegal, tak terasa sudah 3 minggu ia harus bekerja keras menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya sebagai pimpinan Perusahaan menggantikan Mr. Alvin, walau dengan bantuan pak Matteo dan beberapa orang lainnya tetap saja kehadiran Khanza sangat dibutuhkan.
Menjadi pimpinan dan seorang ibu sungguh sangat menguras tenaganya. Banyaknya pekerjaan membuat ia sedikit kelelahan, belum lagi harus mengasuh dua balitanya, walau ada yang membantu mengurus anak-anaknya, tetap saja Khanza mengutamakan anak-anaknya daripada apapun itu termasuk pekerjaannya.
Khanza sangat berterima kasih kepada semua yang membantunya, yang mengerti jika ia ingin tetap menjadi seorang ibu yang baik dan selalu ada untuk anak-anaknya, Khanza lebih banyak menghabiskan waktu bekerja di rumah membuat ia bisa bekerja sambil bermain bersama Aziel dan mengawasi Aisyah.
Terkadang saat kedua anaknya sudah tertidur Khanza baru mulai bekerja, mempelajari Semua materi yang diberikan oleh pembimbingnya dan mengerjakan beberapa berkas dari pak Matteo.
Saat ini Khanza lebih fokus mempelajari seperti apa perusahaan yang akan dipimpinnya beberapa bulan kedepan, ia ingin menunjukkan pada Abizar jika ia bisa walau tanpa dirinya. Untuk mempelajari semua itu memang sangat sulit, tapi Khanza terus berusaha melakukannya dengan baik.
"Aku pasti bisa melalui semua ini, walaupun terasa sangat melelahkan demi kalian mama akan terus kerja. Mama tak akan berharap banyak sama papa kalian," gumam Khanza menatap wajah tenang kedua anaknya yang sedang tertidur pulas.
Ponselnya berdering dan Khanza melihat itu panggilan dari Abizar.
Hampir setiap hari Abizar menelpon. Namun, Khanza tak pernah mengangkatnya, terkadang ia mengangkat panggilannya dan langsung memberikannya pada Aziel tanpa ingin berbicara dengan Abizar.
Saat ini Aziel sudah tertidur, tak ada alasan untuk Khanza mengangkat panggilan dari suaminya itu.
Abizar terus memanggil dan Khanza terus mematikannya, hingga terdengar bunyi notifikasi masuk, satu pesan dan pesan itu dari Abizar yang menyatakan ia ingin datang ke kampung untuk menemui anak-anaknya dan meminta izin kepada Khanza.
'Aku tak pernah melarang jika kakak ingin datang menemui mereka. Silahkan saja, kapanpun Kakak mau.' balas Khanza.
Abizar kembali membalas pesan Khanza menanyakan kabarnya, Khanza hanya membaca dan meletakkan kembali ponselnya, ia tak menjawab pesan yang menurutnya tak penting untuk di jawab.
Khanza bahkan mematikan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya, ia benar-benar melatih dirinya untuk hidup tanpa Abizar, Khanza tak ingin kecewa untuk yang kesekian kalinya.
Di rumah lama,
Warda sudah sibuk mengemas barang-barang yang akan di bawanya.
Warda membeli beberapa mainan untuk kedua cucunya, besok mereka akan berangkat ke kampung Khanza untuk menjenguk Aziel dan Aisyah.
Sementara Farah melakukan hal yang sama. Ia juga membeli beberapa mainan dan baju yang lucu-lucu untuk Aisyah.
Farah sudah sangat merindukan mereka, walau anak-anak itu tidak terlahir dari rahimnya. Namun, rasa sayangnya pada mereka berdua keramat dalam. Farah sudah menganggap mereka sebagai anaknya sendiri walau jarak memisahkan mereka.
"Bubu sudah ga sabar ingin bertemu kalian," ucap Fatah melihat baju-baju Aziel dan Aisyah yang baru di belinya.
Abizar menghampirinya,
__ADS_1
"Mas bagaimana, lucu kan." Farah memperlihat gaun kecil untuk Aisyah.
"Iya," ucap Abizar mengelus pakaian itu. Walau tak mengatakannya ia sangat merindukan anak-anaknya.
Setiap malam mereka akan melakukan panggilan video pada Aziel, dan meminta putranya itu memperlihat apa yang dilakukan Aisyah, mereka hanya bisa melihat Aisyah yang sedang bermain, bayi mungil itu semakin menggemaskan membuat mereka sudah tak tahan ingin segera bertemu dengannya.
Hari yang mereka nantikan tiba, mereka semua berangkat ke kampung Khanza. Begitu mereka sampai, sama seperti biasa mereka disambut dengan hangat. Mereka semua tak ada yang tau masalah Abizar dan Khanza, kecuali kakek dan nenek. Mereka hanya tau jika Abizar sedang sibuk dan Khanza sedang ingin tinggal di kampung bersama Kakek dan neneknya. Itulah jawaban yang sering nenek berikan jika ada yang bertanya.
"Mari masuk, Bu," ucap Bude menyambut mereka semua, saat Warda dan Farah sudah sampai begitu juga dengan Abizar.
"Terima kasih Bude," jawab Farah dengan senyuman ramahnya.
Seperti biasa pak Hendra selalu setia mengantar dan menjemput Abizar. Komunitas mereka tetap lancar, Abizar masih terus meminta Pak Hendra untuk mengelolah uang yang di sumbangannya membantu warga. Abizar masih membantu para warga disekitar sana untuk merenovasi rumah mereka agar layanan di tinggali.
"Bubu," teriak Aziel berlari dari dalam rumah saat melihat mereka datang. Khanza sudah memberitahu padanya jika Bubu dan papanya akan datang. Aziel sangat antusias menunggu mereka.
"Ya ampun anaknya Bubu makin tampan, makin besar," ucap Farah langsung gendong Aziel, menyambut Aziel dengan pelukannya, begitu juga dengan nenek langsung mencium kening cucunya.
Aziel berpindah ke gendongan Bubunya ke papanya, sambil mereka berjalan masuk ke dalam.
"Aisyah mana, Bude?" tanya Abizar yang sudah tak sabar ingin bertemu putri kecilnya.
Sampai sekarang Bude tak tahu apa masalah sebenarnya hingga rumah tangga mereka harus kandas. Mereka memutuskan untuk bercerai, tapi melihat Abizar yang tetap peduli pada mereka Bude pun menganggap mungkin itu hanya kesalahpahaman kecil dan semua akan kembali baik-baik saja.
"Khanza di luar ada Abizar, Farah dan juga mertua kamu, turunlah menemui mereka," ucap Bude menghampiri Khanza.
Khanza memberikan Aisyah pada Bude
"Mereka tak ingin bertemu dengan Khanza Bude, mereka hanya ingin bertemu dengan anak-anak Khanza," ucap Khanza. "Bude bawa saja Aisyah turun menemui mereka, Khanza masih ada pekerjaan," tambah Khanza mencari alasan.
Bude mengambil Aisyah, " Ya sudah, Bude bawa Aisyah turun, jika pekerjaanmu sudah selesai cobalah untuk menemui mereka," ucap Bude.
Khanza hanya tersenyum sebagai jawabannya.
Begitu Bude keluar, Khanza langsung mengunci pintunya, tak lupa ia memberikan beberapa stok ASI pada pengasuh Aisyah.
Khanza mempekerjakan pengasuh untuk membantunya mengurus Aisyah khususnya saat ia sedang bekerja ke luar negeri.
Khanza tak mau merepotkan Budenya apalagi neneknya sudah semakin tua. Menyewa pengasuh ada pilihan yang tepat.
__ADS_1
Bude membawa Aisyah turun dan langsung disambut oleh Warda. Warda sangat merindukan cucunya itu, cucunya yang sudah semakin membulat dan sangat menggemaskan, tak henti-hentinya Warda menciumi seluruh wajah cucunya yang terlihat begitu cantik.
"Cucu Nenek cantik sekali, maaf ya sayang, Nenek tak bisa menjaga kamu setiap saat," ucap Warda berkaca-kaca mencium punggung tangan Aisyah dan memeluk erat cucunya itu.
Hari ini mereka terus bermain bersama Aziel dan Aisyah, memanfaatkan waktu kebersamaan mereka. Saat sore hari mereka semua kembali ke kota, walau terasa berat. Namun mereka harus kembali.
Walau tak rela, Warda tetap harus kembali berpisah dengan cucunya, ia sudah janji pada Abizar untuk menuruti dan menghormati keputusan Khanza.
Mereka tak akan meminta anak-anak untuk ikut sampai mereka diatas 10 tahun.
Mereka hanya akan menjenguk.
Selama mereka di rumah itu Khanza tak pernah keluar dari kamarnya, bahkan ia meminta Bibi yang membantu bekerja di rumah itu untuk mengambilkan makanan atau mengambil sesuatu yang ada di luar kamar.
Abizar terus melihat kearah pintu kamar mereka, ia berharap bisa melihat Khanza walau tak berbicara dengannya setidaknya bisa melihat istrinya itu, dia sudah merasa senang, mengobati rasa rindunya. Namun, sampai mereka pulang Khanza juga tak keluar dari kamarnya.
Sepanjang perjalanan pulang Warda terus menangis, ia tak rela berpisah dengan mereka berdua, cucunya semakin menggemaskan. Hatinya sangat terasa sakit meninggalkannya. Namun, ia sudah sepakat untuk menerima apa yang Khanza inginkan.
"Abizar, tak bisakah kau membujuk Khanza untuk kembali bersama dengan kita," ucap Warda.
Abizar hanya menggeleng dan menunduk, ia sendiri sangat berharap itu bisa terjadi.
"Aku sudah menelepon Khanza beberapa kali. Namun, ia tak menjawab panggilanku. Aku juga mengirimkan pesan untuk bisa bertemu dengannya, ia juga tak menjawabnya. Sepertinya Khanza sudah tak ingin bertemu dengan kita," ucap Farah.
Semua terdiam dengan kesedihan mereka masing-masing, mengingat kembali kelucuan Aziel dan Aisyah.
Abizar terus saja melihat Foto yang ada di ponselnya, ia memotret Kembali foto yang ada di ruang tengah, foto yang berukuran besar tergantung di dinding. Foto Khanza bersama kedua Anaknya. Seharusnya ia juga ada di foto itu bersama mereka.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha 🥰🤗
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mampir ke karya temanku, 🙏
__ADS_1