
Puncak cinta tertinggi adalah,
πΉSelalu mencintai meskipun tak dicintai.
πΉ Selalu ingin bersama walaupun selalu ditinggal.
πΉ Selalu menyayangi meskipun sering dihina.
πΉ Selalu merindukan meskipun tak dirindukan.
πΉ Senantiasa bersama meskipun sering dilukai.
(Ustadz Handi Bonny)
Setiap hidup memiliki cobaan masing-masing ada orang yang diuji dengan suami, istri, mertua, menantu, anak, ataupun cucu.
Namun, semua bisa dilalui dengan keikhlasan dan rasa syukur.
Abizar mengerti jika Khanza memang sudah tak ingin menjalin hubungan rumah tangga mereka, ia tak ingin menjadi egois dengan terus memaksakan kehendaknya. Ia mengerti perasaan Khanza setelah berbicara berdua.
Abizar juga melihat jika istrinya itu benar-benar sudah yakin ingin berpisah dengannya. Walau terasa sakit dan kecewa. Namun, ia berusaha untuk mengerti apa yang diinginkan oleh istrinya kedua itu.
"Jika dengan berpisah denganku kau akan merasa lebih bahagia, aku tak bisa menahanmu. Baiklah kalau itu yang kau inginkan, izinkan aku mengantarmu, pada keluargamu, aku memintamu pada mereka secara baik-baik aku pun akan melakukan hal yang sama saat kita berpisah mengembalikan mu secara baik-baik. Maaf aku tak bisa menepati janjiku untuk membahagiakanmu," ucap Abizar berusaha untuk tetap menetralkan irama suaranya yang semakin tercekik.
Khanza hanya mengangguk dan terus menunduk. Ia tak berani menatap mata suaminya. Hatinya terasa sakit mendengar semua itu, tapi ia tetap teguh pada pendirian.
Walau hatinya sakit Khanza tetap ingin melanjutkan rencana perceraiannya. Cinta yang begitu besar sungguh sangat menyakitinya.
Khanza sadar, jika ia berpisah anak-anak akan mendapat dampak yang begitu besar, tapi untuk apa juga dia menjalani kehidupan rumah tangga jika dia sendiri akan merasa tersiksa. Bukan karena berbagi cinta suaminya, tapi karena ia merasa sangat kecewa dengan suaminya, merasa tak dihargai, merasa terkucilkan, merasa tak pantas berada ditengah-tengah mereka, perbedaan status sosial yang membuat ia semakin merasa sakit dan merasa terabaikan.
"Anak-anak tetaplah anak Kakak, Kakak boleh menjenguknya kapanpun," ucap Khanza tanpa melihat Abizar. Khanza tak ingin melihat wajah suaminya, ia takut jika hatinya menghianatinya, kembali terluka dan merasa sakit karena cintanya yang terlalu dalam.
Abizar mengulurkan tangannya memegang tangan putri kecilnya, mengusap lembut pipi memerah gadis kecilnya.
Tak ada pembicaraan di antara mereka Putri kecil itu seolah menjadi penghilang rasa sakit di antara keduanya, mata mereka tertuju pada gerakan-gerakan kecil dari bayi itu, keduanya menyembunyikan rasa sakitnya masing-masing.
Setelah lama Damar mengetuk pintu dan masuk sambil menggendong Aziel yang rewel karena sudah mengantuk.
__ADS_1
"Anak Papa kenapa?" tanya Abizar mengambil Aziel dari gendongan Damar.
"Ziel mau bobo sama Mama sama Papa," ucap Aziel dan mulai menutup matanya. Abizar menidurkan Aziel di ranjang disamping Khanza.
Aziel langsung tertidur sambil terus memegang tangan Papanya, Abizar hanya bisa duduk dan terus mengusap rambut putranya sampai Ziel terlelap.
Bayi kecilnya juga sudah tertidur, Khanza meletakkannya di samping Aziel yang juga sudah tidur pulas, Khanza ikut tidur dan membelakangi mereka bertiga.
"Maaf, Kak. Aku sangat mencintaimu, Aku sangat ingin kita hidup bersama. Namun, aku rasa pernikahan kita sudah tak bisa dilanjutkan lagi. Aku tak ingin merasakan sakit dan kecewa untuk kesekian kalinya semuanya sudah cukup," batin Khanza mencoba menutup matanya. Walau aliran air mata terus menetes membasahi bantalnya.
Khanza sudah bisa bersahabat dengan arti kata berbagi. Berbagi dengan istri pertama suaminya, Khanza sangat senang saat ia mencapai keikhlasannya berbagi cinta suami. Namun, rasa kecewa Khanza terhadap Abizar kembali menyerang perasaannya. Khanza merasa dia tak dianggap, tak dihargai dan itu sangat menyakiti hatinya.
Khanza terus mengingat saat mereka menertawakan ketakutannya dan suaminya ada di sana dan ikut bergabung dengan mereka, ingatan itu terus saja terbayang di benak Khanza dan setiap ia mengingat masa-masa itu rasa sakitnya kembali menyerang. Khazar yakin ia bisa kembali merajut lagi perasaannya dan mencoba memulai dari awal tanpa Abizar bersama mereka. Khanza memilih berpisah yang menyerahkan semua kehidupannya dan anak-anaknya kepada takdir, kemana takdir mereka membawanya, ia hanya akan mengikutinya. Ia hanya ingin terlepas dari belenggu cinta yang telah menyakitinya.
Suasana kamar menjadi hening kembali, semalaman Abizar terus duduk sambil melihat anak-anaknya, ia tak ingin melewatkan kesempatan itu, kesempatan memandangi wajah anak-anaknya yang belum tentu bisa dipandanginya setelah Khanza kembali ke kampungnya atau bahkan setelah mereka berpisah.
Pagi hari saat Khanza terbangun ia mendapati Abizar masih terus mengelus pipi Putri kecilnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Abizar saat melihat Khanza ingin turun dari tempat tidur.
Tanpa kata Abizar langsung menghampiri Khanza dan mengangkatnya, Khanza ingin menolak. Namun, Abizar sudah terlanjur mengangkatnya.
"Panggil aku jika kamu telah selesai," ucapnya setelah menurunkan Khanza. Berbulan-bulan tak bertemu menghadirkan kecanggungan di antara mereka.
"Iya Kak," jawab Khanza memulai ritual nya di kamar mandi, tak lupa ia menutup pintu.
Abizar bersandar di pintu kamar mandi, sambil terus menatap kedua anaknya yang sesekali bergerak, Azial bahkan sudah menjadikan adiknya sebagai gulingnya.
Gagang pintu berputar menandakan Khanza sudah membukaβ¦
"Tidak usah, Kak. Aku bisa jalan sendiri," tolak Khanza sebelum Abizar mengangkatnya.
"Izinkan Aku melakukan kewajibanku sebagai seorang suami sebelum kita berpisah. Aku hanya ingin ada disampingmu melewati masa pemulihan mu setelah kau melahirkan anakku," ucap Abizar dengan tatapan memohon.
Khanza terdiam dan membiarkan Suaminya mengurus segala keperluan mereka.
Hari itu Abizar benar-benar mengurus mereka bertiga, mulai dari memberi sarapan, memandikan Aziel, membantu suster membersihkan bayi kecil mereka, memberi makan Khanza dan mengurus obat-obat yang harus Khanza konsumsi hari itu.
__ADS_1
Kakek dan nenek serta Aqila memilih untuk pulang dan membiarkan hari ini Abizar yang mengurus mereka.
Siang hari Farah dan Warda kembali datang.
Farah merasa senang saat melihat khanza sudah mau mengizinkan Abizar untuk masuk ke ruangan itu, terlihat jelas jika Abizar yang mengurus mereka.
Farah berpikir semua sudah kembali baik-baik saja, begitupun dengan Warda. Ia berpikir jika Abizar sudah kembali memperbaiki hubungan mereka.
"Kami kembali ya dulu, jaga Anak dan istrimu baik-baik," ucap Warda yang ingin memberi waktu untuk mereka, begitu juga dengan Farah yang mengerti jika mereka butuh waktu untuk bersama.
"Mbak pulang dulu ya, jangan banyak berpikir itu bisa mempengaruhi produksi ASI mu. Istirahat, ya," ucap Farah memeluk Khanza.
Hingga malam hari Abizar merasa sangat puas, ia telah mengurus mereka bertiga, mengajak Aziel bermain dan juga selalu menjaga kedua anaknya saat Khanza sedang tidur, Abizar benar-benar merasakan menjadi seorang suami yang menemani istrinya saat bersalin.
"Malam hari , Abizar kembali tak tidur dan hanya memandangi ketiga orang yang sedang tertidur pulas, memandangi wajah cantik Khanza, wajah menggemaskan Aziel dan wajah imut dari bayi kecilnya.
Abizar menelpon Farah untuk menyiapkan beberapa barangnya dan mengatakan jika ia akan pergi mengantar Khanza besok ke kampung.
"Apa Khanza akan tetap pulang, Mas? Aku pikir Mas sudah berhasil menjelaskan permasalahannya dan dia akan tetap bersama dengan kita.
"Tidak, Khanza tetap pada pendiriannya, kami akan berpisah. Aku akan mengantarnya pulang."
Farah hanya diam tak tahu harus berbuat buat, tapi jika memang Itu sudah keputusan Khanza, Farah sama sekali tak berhak untuk memaksa, Farah sudah sudah pernah melakukan kesalahan dengan memaksakan secara tak langsung Khanza masuk ke dalam kehidupan rumah tangganya dan dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan biarkan apa yang kamu inginkan .
Kalau awalnya Warda tak menyetujui keputusan Khanza. Namun, setelah para menjelaskan dengan sangat hati-hati akhirnya Warda pun mengalah dan membiarkan Khazna kembali ke kampung halamannya membawa kedua cucunya.
Pagi hari mereka semua sudah datang, hari ini Khanza akan keluar dari rumah sakit dan langsung akan pergi ke kampung menggunakan pesawat jet pribadi yang telah disewa Abizar untuk mengantar mereka.
Saat akan pergi, tiba-tiba rombongan Mr. Alvin Alfaro datang dan ingin bertemu dengan keluarga Khanza, termasuk kakek, nenek dan Khanza sendiri.
πππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Salam kenal dariku Author M Anha β€οΈ
πππππππππππππ
__ADS_1