Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
kebenaran Khanza.


__ADS_3

Awalnya Khanza tak memberitahu teman-temannya jika ia sudah menikah dengan Abizar karena merasa malu nikahi Bosnya yang menjadi idola di kantornya, ia meresa bukan siapa-siapa dan tak pantas bersanding dengan sosok Abizar, mereka juga bisa dibilang tak pacaran karena Abizar langsung melamarnya untuk menjadi istrinya, semua begitu tiba-tiba membuat Khanza tak bisa memamerkan kepada teman-temannya jika Ia sudah menjadi kekasih dari seorang Abizar yang mereka kagumi.


2 bulan menjadi istri Abizar membuat Khanza begitu bahagia, ia bahkan lupa dengan kehidupan lamanya, dan lebih fokus menjadi istri yang baik untuk suaminya.


Abizar memanjakannya dengan cintanya, memberikan apa saja yang diinginkan dan banyak menghabiskan waktu bersama. Namun, semua itu hilang di bulan berikutnya.


Alasan saat ini Khanza hanya memberi tahu Aqila tentang pernikahan nya karena ia tak ingin disebut sebagai wanita perebut suami orang.


 Jika dilihat dari luar saja akan terlihat jelas jika dia lah yang menggoda lebih dulu, Abizar yang sudah berstatus sebagai suami.


Khanza menolak keras poligami, tapi justru ialah yang terjebak dalam situasi ini. Orang akan beranggapan dan bisa saja menyebutnya sebagai pelakor atau perusak rumah tangga dari Abizar dan Farah, seberapa besar pun ia menolak orang-orang akan tetap menganggapnya seperti apa yang selama ini ditakutinya.


Abizar tak pernah bermaksud untuk menyembunyikan pernikahannya, baik yang pertama dan kedua, dia hanya tak suka jika urusan pribadinya menjadi konsumsi publik dan  tak ada juga yang mempertanyakan masalah pribadinya selama ini. 


Sikap tak suka bercanda kepada rekan kerja dan karyawannya, membuat batasan kepada mereka membuat mereka semua enggan walau hanya bercanda apalagi mempertanyakan masalah pribadi Bos mereka, dalam pikiran mereka hanya perlu bekerja dan menerima gaji dari bos, hanya bisa mengagumi dari kejauhan itu sudah cukup.


****


Khanza sudah sampai di halaman kantor, berpikir sejenak sebelum membuka pintu taksi.


Lama Khanza duduk dan hanya melihat keluar jendela mobil, ia beruntung supir taksi yang ditumpanginya berhati baik, sehingga tetap sabar menunggu berharap Khanza keluar dari taksinya.


"Ibu mau turun atau mau saya antar ke tempat lain?" tanya sang sopir yang sudah sejak tadi tak ada kepastian dari penumpangnya.


"Kayaknya kita pulang kembali aja deh Pak," ucap Khanza yang tak berani turun dari mobil.


"Kita pulang ke tempat yang tadi ya, Bu?" tanya sang sopir.


Belum juga Khanza jawab bunyi deringan ponselnya terdengar nyaring di tasnya.


"Halo Kak Abi," jawabnya setelah mengangkat panggilan dari suaminya.


"Apa kamu belum berangkat?  Kenapa lama sekali, aku benar-benar membutuhkan berkas itu secepatnya," ucap Abizar dari balik telepon terdengar jelas suara kepanikan nya.


"Aku sudah ada di depan kantor Kak," jawab Khanza.


"Ya sudah kamu ke ruanganku saja, kamu tahu kan ruanganku di mana. Kenapa masih di bawah?" sahut Abizar.


"Kakak ambil sendiri ya berkasnya, aku tunggu di taksi di depan kantor."


"Lho kenapa?"


"Aku capek Kak, tadi aku habis jalan-jalan pagi sebelum ke sini, mau pulang langsung istirahat," alasan Khanza.


"Ya sudah, kamu titip di resepsionis saja dan pulanglah, aku akan meminta staf ku mengambil nya, istirahatlah," tambahnya.


"Ok Kak, aku titip di resepsionis," jawaban Khanza matikan panggilannya.


"Pak tunggu sebentar ya, aku simpan dulu berkas ini pada resepsionis nya," ucap Khanza.


"Iya Bu," jawab sang sopir matikan kembali mesin mobilnya.

__ADS_1


Sebelum turun Khanza merapikan penampilannya, memakai masker yang menutupi wajahnya dan kemudian memakai penutup kepala jaketnya.


Dengan perlahan turun sambil membawa berkas yang diminta oleh Abizar.


Dia menghampiri resepsionis, berharap resepsionis tersebut tak mengenalnya.


"Khanza?" ucap Anisa sang resepsionis.


Khanza tak menjawab, ia hanya memberikan apa yang dipegangnya.


"Ini pesanan Pak Abizar" tolong disampaikan ya," ucapnya.


"Kamu Khanza 'kan, kamu lupa dengan aku," ucap Anisa yakin jika orang yang ada di depannya ada Khanza.


Sewaktu bekerja di kantor dulu, Khanza  adalah karyawan wanita yang sangat periang, ramah dan juga cantik tentunya, sehingga hampir seluruh karyawan kantor mengenalnya.


"Iya kak, saya Khanza," ucapnya menyerah, tidak mungkin ia terus menutupi dirinya yang sudah ketahuan. 


"Kamu sedang hamil? Selamat ya, jadi selama ini kamu berhenti kerja karena mau nikah ya," tebak Anisa.


"Iya Kak, aku sudah menikah dan sekarang sudah hamil 9 bulan," ucap Khanza membuka maskernya, merasa tak enak berbicara sambil masih memakai masker, ia juga sudah ketahuan pikirannya.


"Terus ini untuk Pak Abizar?" tanya Anisa perlihatkan berkas tersebut.


"Iya, tadi ketinggalan dirumah makanya dia minta aku membawanya, Kak," jawab Khanza refleks.


"Di rumah? Maksudnya??" tanya Anisa mengernyitkan keningnya menetapkan penuh tanya pada Khanza.


Khanza bingung harus menjawab apa, jawaban itu refleks keluar dari mulutnya.


"Maaf ya Kak, taksinya sudah menunggu," ucap Khanza mengalihkan pembicaraan mereka saat suara klakson taksi terdengar dari halaman kantor.


Khanza dengan cepat berbalik dan meninggalkan Anisa yang masih menatapnya heran. 


"Aku harus cepat pergi dari sini, sebelum ada lagi yang melihat dan menanyakan berbagai pertanyaan kepadanya," gumam pelan Khanza.


"Khanza tunggu," teriak seseorang.


"Aduh itu …  mati aku, itu 'kan suara Nindi," batin Khanza mengenali siapa yang memanggilnya.


Khanza berbalik dengan pelan dan benar saja Nindi, Sinta dan Aqila sedang berjalan cepat menuju ke arahnya.


Karena sudah ketahuan, Khanza hanya membalas senyuman mereka dengan senyuman terpaksa nya. 


"Ya ampun, kamu sedang hamil. Ini berapa bulan?" Tanya Sinta memegang perut buncit Khanza.


"9 bulan," jawabnya singkat.


"Kamu gitu ya, udah nikah nggak ngundang-ngundang kami. Datang,  tiba-tiba sudah mau brojol begini," protes Nindi.


"Maaf ya, pernikahan nya mendadak jadi nggak sempat mengundang kalian."

__ADS_1


Nindi mendekat, "Kamu hamil duluan?" Tanya Nindi pelan, tapi menusuk.


"Enak aja kalau ngomong!" Menggeplak lengan Nindi spontan hingga terdengar bunyi akibat pukulan Khanza. "Nggak lah, aku hamil setelah 2 bulan menikah tau, gini-gini aku masih tahu batasan," kesal Khanza melipat tangannya di dada, tidak terima mendengar tuduhan dari Nindi.


Nindi memeluk Khanza dengan manjanya, "Iya, maaf, ya cantik," memasang wajah menyesal dan sok imutnya.


"Ke Kantin, yuk. Kita ngobrol ngobrol disana aja."


"Aku udah mau pulang, itu taksi ku lagi nunggu," tunjuk Khanza pada taksi yang terparkir di dalam depan perusahaan.


"Kalian ke kantin saja pesan makanan,  taksi biar aku yang ngurus," ucap sinta berlari menuju taksi dan membayarnya. Sedangkan Aqila dan Nindi sudah mengapit Khanza, membawanya ke kantin lebih dulu.


"Khanza hanya bisa pasrah, ia tahu benar jika temannya itu tak akan meloloskannya, ia takkan bisa menolak kemauan mereka.


Mereka makan sambil mengobrol, beberapa pertanyaan terus ditanyakan oleh Nindy dan Sinta.


Di mana alamat Khanza, siapa suaminya, dan masih banyak lagi. Khansa mencoba mencari-cari jawaban yang tepat dibantu oleh Aqila.


Untuk saat ini Khanza belum siap memberi tahu kepada mereka jika ia adalah istri kedua dari sosok Abizar yang mereka kagumi.


"Kamu udah tahu nggak, gosip terhot abad ini?" Tanya Nindi pada Khanza.


Khanza menggeleng,


"Ternyata pak Abizar itu sudah menikah loh," ucap Nindi yang membuat Khanza terbatuk-batuk. Nindi mengatakan nya di saat Khanza sedang minum.


"Hati-hati dong minumnya," tegur Sinta mengusap punggung Khanza.


"Iya, sayang banget, ya" kata Sinta menambahkan.


"Kok Sayang?" Tanya Nindi tak mengerti.


"Iya Sayang, kita kan udah nggak bisa lagi mengaguminya. Nanti istrinya marah lagi terus kita dilabrak," sahut Sinta tertawa membayangkan dirinya di labrak oleh ibu Farah.


"Ih, ga apa-apa dong, kita kan cuma mengagumi bukan berarti mau merebutnya 'kan."


"Iya juga ya, gue membayangkan aku tuh  istrinya," ucap  Sinta membuat mereka tertawa kecuali Khanza, ia hanya tersenyum canggung mendengar canda mereka.


Saat mereka asyik mengobrol sambil tertawa, tiba-tiba Abizar menghampiri mereka.


"Khanza, kamu ngapain disini? Bukannya kamu bilang tadi mau pulang?" Tanya Abizar yang sudah berdiri di samping Khanza.


Sinta dan Nindi melongo mendengar apa yang baru dikatakan Oleh Abizar pada Khanza. 


"💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Beri dukungan kalian ya dengan memberi like, vote, dan komennya 🙏💗


Salam dariku Author m anha ❤️😘

__ADS_1


Love you all 💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2