
Pagi hari yang cerah di kediaman Abizar mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, Farah yang sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan seperti biasanya, menyiapkan sarapan adalah tugas utama nya. sedangkan Warda sedang asyik bermain dengan cucunya di halaman, menikmati matahari pagi. Santi seperti biasa, hanya duduk sambil membaca majalah menunggu sarapan yang dibuat anaknya siap.
Sementara di kamar utama Abizar masih tidur nyenyak dengan Khanza yang masih terus memperhatikan setiap inci wajah tampan suaminya yang begitu di rindukannya.
Cahaya matahari pagi menyilaukan mata Abizar, membuat ia mengerjapkan matanya mencoba untuk bangun.
Ia baru menyadari jika dirinya ketiduran semalam.
Abizar membuka mata dan langsung melihat ke arah Khanza, mereka berdua terdiam dan saling menatap cukup lama.
Abizar yang masih belum mengumpulkan semua nyawanya, seakan bermimpi melihat Khanza yang juga menatapnya, Abizar masih terdiam seribu bahasa, tak bisa berkata apa-apa saat melihat wajah istrinya yang tersenyum dan matanya yang sudah terbuka.
"Khanza," panggil Abizar merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Iya, Kak," jawab Khanza yang melihat tingkat suaminya itu sangat lucu.
Abizar yang mendengar jawaban Khanza langsung duduk dan memastikan semua ini bukanlah mimpi, Abizar bernafas lega kini wanita yang selama ini dirindukan yang telah kembali padanya, telah bangun dari tidur panjangnya.
Abizar langsung memeluk Khanza, mencium seluruh wajahnya dan kembali membawa ke pelukannya.
Abizar benar-benar bahagia, bahkan ia meneteskan air mata. Namun, ditepis dengan cepat.
"Kak, bagaimana dengan bayi kita?" tanya Khanza. Dari semalam Khanza sudah siap dengan apapun yang akan terjadi jika memang ia tak bisa melihat bayinya lagi.
"Baik kita baik-baik saja, ia tumbuh menjadi anak yang tampan dan menggemaskan," ucap Abizar.
Khanza mendongak melihat wajah suaminya, Abizar menunduk mencium kening Khanza.
"Kakak nggak bercanda 'kan?" tanya Khanza tak percaya, dalam pikirannya saat itu mungkin saja bayinya sudah tak ada.
"Iya, sayang. Bayi kita baik-baik saja, namanya Aziel.
"Aziel?" ucap Khanza berkaca-kaca.
Abizar mengiyakan.
"Kak, aku ingin bertemu dengan bayiku," pintanya.
"Iya, tunggulah aku bawa Aziel kemari, ia pasti senang bertemu dengan mu," ucap Abizar dengan cepat bergegas keluar dari kamar dan sedikit berlari menuruni tangga.
__ADS_1
"Farah Ziel mana?" tanya Abizar yang melihat Farah sibuk di dapur.
"Ada di halaman depan sama mama, lagi main. Mas, ada apa, Mas?" tanya Farah melihat Abizar terburu-buru.
"Khanza sudah sadar," ucap Abizar " Ia ingin bertemu dengan Ziel," bicara sambil terus berjalan cepat menjawab pertanyaan Farah.
"Alhamdulillah, akhirnya khanza sadar juga," ucap Farah mencuci tangannya dan ia lebih dulu naik ke kamar utama.
Santi yang mendengarkan bahwa Khanza sudah sadar mencengkram majalah yang dipegang, majalah itu robek. Santi mengeratkan giginya, ia tak mengerti dengan anaknya, mengapa ia sangat menyayangi madunya, bukannya seharusnya dia harus saling berebut suami, ini malah mereka saling dukung," pikir santi yang kini ******* ***** sobekan majalah yang dibacanya tadi.
"Khanza," ucap Farah menghampiri khanza dan langsung memeluknya.
"Bayi aku mana, Mbak?" tanya Khanza yang sudah tak sabar ingin bertemu bayinya.
"Mas Abi sedang mengambil nya, ia baik-baik saja, Ziel sedang main di luar bersama ibu."
"Mbak seneng, akhirnya kamu bisa sadar. sudah lama kau tak bangun- bangun," ucap Farah.
"Berapa lama, Mbak?" tanya Khanza.
Kamu terus tidur hampir 6 bulan ini," ucap Farah.
Khanza sangat terkejut, ia merasa baru saja kemarin ia melahirkan. Namun, ternyata kenyataan ia tertidur hampir 6 bulan.
Abizar datang dan menggendong Aziel.
Khanza tak bisa menahan tangis nya, ia menagis, ia bisa bertemu dengan putranya.
Bayi yang selama ini hanya dirasakan dalam perutnya kini tumbuh menjadi bayi yang sangat menggemaskan.
"kak, ini bayiku?" tanya Khanza tak percaya melihat Aziel yang begitu menggemaskan.
"Iya, ini bayi kita, namanya Aziel" jawab Farah.
"Mbak, makasih ya sudah membantu persalinan ku, aku tak tahu jika tak ada Mbak mungkin aku dan bayiku."
"Jangan diingat lagi, sekarang kamu dan bayimu sudah baik-baik saja," ucap Farah menggenggam tangan Khanza.
"Ma-ma," ucap Ziel mendekat menatap Khanza, hati Khanza sungguh benar-benar merasa senang, baru saja yang mendengar bayinya memanggilnya dengan sebutan mama. Khanza kembali mencium seluruh wajah bayi itu.
__ADS_1
"Iya sayang ini Mama. Mama sayang Ziel, maafkan Mama ya, selama ini Mama tak bisa merawat Aziel." Khanza memeluk erat putranya, tak ada rasa bahagia di atas bahagianya saat ini.
"Makasih ya Mbak, sudah merawat anakku dengan sangat baik.," Ucap Khanza bisa melihat jika Farah merawat bayinya dengan sangat baik.
"Jangan pernah ada rasa terima kasih di antara kita, Aziel adalah bayi kita," ucap Abizar menegaskan jika Aziel bukan hanya miliknya dan milik Khanza, tapi juga milik Farah dan itu disetujui oleh Khanza.
Abizar tak membuang waktu. ia langsung menelpon dokter, tak butuh lama dokter sudah datang memeriksa kondisi Khanza dan menyatakan khanza sudah sehat.
Semua peralatan medis sudah dikeluarkan dari kamar utama. Namun, Khanza masih merasa lelah, masih butuh banyak istirahat dan memulihkan tenaga nya.
Malam ini Abizar tidur bersama Khanza, Khanza terus menatap wajah putranya yang tertidur begitu nyenyak, dia tertawa senang tapi ada air mata yang menetes dari matanya. Kak, ini anak kita?" tanyanya masih tak percaya, sesekali ia mengecup tangan putranya .
"Iya, terima kasih ya sudah memberiku anugerah yang sangat indah, Aziel adalah hal terindah yang pernah ku dapatkan, terima kasih sudah menjadi ibu dari anakku," ucap Abizar membawa Khanza ke pelukannya.
Malam ini Abizar dan khanza terus aja berbincang-bincang, mereka sudah terlalu lama tak menghabiskan waktu bersama.
Abizar juga menceritakan bagaimana saat neneknya datang, bagaimana perasaan kakek saat melihat nya terbaring koma.
"Kak, apakah Kakek sudah tahu tentang Mbak Farah?" tanyanya.
"Iya, semua sudah tahu jika di hubungan kita ada Farah, aku berharap kakek mau menerima Farah. Hari itu kakek begitu marah padaku, karena sudah menyakitimu."
"Aku mau menelepon kakek dan nenek," ucap Khanza baru mengingat jika iya belum menghubungi kakek dan neneknya.
Mereka pasti sangat senang saat mengetahui jika Khanza sudah sadar.
"Ini sudah larut malam, kita teleponnya pagi saja ya," ucap Abizar yang di jawab anggukan oleh khanza dan kembali merebahkan kepalanya di dada suaminya.
Abizar terus mengusap lembut rambut khanza sambil terus bercerita panjang lebar.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca
Terima kasih atas komentarnya dan likenya.
Adakah tim Mama Santi???🤭🤭🤭
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
mampir kak, ke karya terbaru ku.