
Warda terus menggerutu saat berjalan menuju ke parkiran.
"Kenapa sih Khanza harus melarang kita membawa Aziel, besok pagi kita akan membawanya lagi kembali ke sini, dia sudah sering bersama Aziel apa salah kalau Mama ingin membawanya pulang, nggak kan? Mama ini neneknya," ucap Warda terus menggerutu merasa kesal. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa Khanza adalah mamanya.
"Sudah lah, Mah. Besok 'kan kita bisa ke sini lagi untuk menjenguk mereka, Khanza pulangnya masih sehari lagi, besok masih bisa kita bersama dengan mereka," ucap Farah mencoba menenangkan suaminya.
"Mereka akan pulang ke mana?" tanya Warda.
"Aku dengar Khanza ingin pulang ke kampung."
"Apa ... Ke kampung?" Pekik Warda.
"Iya, Mah! Mas Abi juga sudah setuju jika memang Khanza ingin pulang ke kampung halamannya, Mas Abi akan setuju. Mas Abi tak ingin memperkeruh suasana."
"Nggak, Mama nggak setuju, Khanza sudah punya rumah sendiri, kenapa dia tidak pulang ke rumahnya. Kakek dan neneknya juga bisa tinggal di sana. Lagian kenapa dia harus memisahkan kita dari anak-anaknya. Mama tahu kita sudah salah, tapi semua itu sudah berlalu tak bisakah ia memaafkannya kita, toh sekarang dia sudah memiliki seorang putri dan dia baik-baik saja."
"Mah, aku setuju dengan mas Abi, sebaiknya Khanza kita biarkan menenangkan diri dulu, pasti dia masih kesal dengan kita. Semua tindakan mas Abi yang menukar obat itu memang sangat keterlaluan menurut Farah, Mah."
"Abizar tujuannya baik, kalau Abizar tak menukar obatnya apa mungkin dia bisa melahirkan putrinya, mungkin dia kan terus menunda entah sampai kapan."
Farah hanya menghembuskan nafasnya pelan, percuma saja berdebat dengan mertuanya itu.
Mereka melihat Abizar yang turun dari taksi.
"Mas Abi, Kamu dari mana naik taksi?" tanya Farah menghampiri Abizar.
"Aku habis berbicara dengan Daniel, sepertinya dia tidak bisa diajak berbicara," ucap Abizar berjalan diikuti oleh Farah dan juga mamanya.
"Mas mau pulang?" tanya Farah.
"Aku ingin pulang sebentar untuk mengganti pakaian dan datang lagi, Naik apa ke sini?" tanya Abizar melihat deretan mobil yang ada disana dan tak melihat mobil Farah.
"Tadi kamu naik taksi," jawab warda yang sudah masuk ke dalam mobil Abizar.
"Ya sudah, kita pulang sama-sama," ucapnya.
Abizar mulai menjalankan mobilnya.
__ADS_1
"Apa benar Khanza ingin pulang ke kampung?" tanya Warda.
Farah dan Abizar hanya diam dan saling melihat mereka tau pasti mamanya pasti tak akan setuju.
"Aku tahu kita salah, tapi haruskah dia juga mengorbankan anak-anak dalam hal ini, anak-anaknya sangat membutuhkan dirimu. Pokoknya mama tidak setuju jika Khanza pulang ke kampung, apapun alasan bya
"Mah, biarkan Khanza tenang dulu aku akan mengantarnya ke kampung besok," ucap Abizar.
"Tapi kenapa harus ke kampungnya, jarak dari kampung dan kota ini sangat jauh, Khanza 'kan bisa tinggal di rumahnya yang lama, ia sudah memiliki rumah sendiri statusnya juga masih istrimu, kamu bisa kan memintanya untuk kembali ke rumah nya, kamu juga punya hak atasnya dan anakmu."
"Khanza tak mau bertemu denganku, Mah. Bagaimana mungkin aku memintanya, apalagi memaksanya untuk tinggal di sini."
Mamanya tak mendengarkan jawaban dari Abizar, dalam hati ia tak tega melihat cucunya berpisah dengan anaknya, begitu juga sebaliknya. Ia juga tak kuat jika harus dipisahkan dengan kedua cucunya.
Warda tahu betapa anaknya selama ini sangat merindukan sosok Khanza dia sangat menyayangi anak-anaknya.
Begitu mereka sampai di rumah Santi sudah menunggu di teras rumah.
Abizar menyapa Santi kemudian masuk begitu juga dengan gula dengan kakamha, masih dengan wajah kesalnya ia langsung masuk Melawati Santi dan langsung ke kamarnya.
"Drama apalagi yang terjadi di keluarga kalian," ucap Santi masuk berjalan berdampingan dengan putrinya.
"Dasar kalian ini, sudah tahu rumah tangga kalian sudah berantakan seperti ini masih saja dipertahankan," sahut Santi.
Fardah tak mendengar celotehan warda dan menyusul suainya.
Malam hari Daniel kembali menemui Khanza juga kakek serta Damar. Aqila dan Nenek juga ada di ruangan.
"Khanza. Bagaimana keputusan mengenai Abizar. Apakah kamu masih ingin mempertahankan pernikahanmu atau memilih untuk mengakhirinya?" tanya Daniel.
"Aku sudah menetapkan hatiku untuk bercerai Kak. Aku sudah tidak bisa bersama dengan kak Abizar lagi, adapun masalah anak-anak aku tak mempermasalahkannya. Mas Abi adalah papanya ia juga berhak atas anak-anaknya. Aku takkan melarang siapapun bertemu dengannya, aku ingin anak-anak bersamaku."
"Sudah pasti hak asuh anak akan jatuh ke tangan mu. Itu lebih baik, jangan pernah membatasi mereka, lagi tak baik saling berebut masalah anak," ucap Damar.
"Mungkin setelah 3 bulan baru perceraian bisa diurus. Apa kamu benar-benar sudah yakin? jika kamu yakin aku akan membantumu sampai semuanya selesai," ucap Daniel.
"Iya, Kak. Aku sudah yakin, aku akan pulang ke kampung, pulang ke rumah. Aku ingin tinggal bersama kakek dan nenek dan anak-anakku. Jika mereka ingin menemuinya silahkan, aku tak akan melarang, tapi aku tak akan membiarkan mereka memisahkanku hingga usia mereka diatas 10 tahun. Mungkin mereka bisa sesekali membawanya saat mereka sudah besar nantinya," ucap khanza.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu keputusanmu, aku akan mendukungmu," ucap Daniel melihat pada Damar.
"Aku juga akan bersamamu, aku akan pastikan kamu akan dapatkan apa yang kau inginkan," tambah Damar.
Mereka bertiga melihat kakek yang duduk tak jauh dari mereka.
"Kakek terserah kalian saja, lakukan yang terbaik asalkan selama itu tak berdampak bagi anak-anak nantinya," ucap kakek.
"Apa memang sudah tak bisa diperbaiki lagi, pikirkan anak-anakmu," ucap nenek yang hanya diam mendengar perkataan mereka.
"Aku sudah capek, Nek. Aku sudah lelah, khanza merasa berbeda dan tak ada yang menghargaiku dalam hubungan ini. Aku merasa seperti orang lain di keluarga kak Abi. Aku sudah banyak berkorban dan menerima hubungan kami, tapi sepertinya memang kami tak bisa bersama lagi.
Setauku kak Abi menikahiku karena menginginkan anak, karena Mbak Farah tak bisa memberikannya, aku tak yakin jika kak Abi mencintai ku. sudah memberikannya anak aku rasa itu sudah cukup aku tak bisa lagi hidup bersama kak Abi, Nek."
"Kalau memang itu yang kau inginkan, Nenek hanya bisa mendukung apapun keputusanmu, selagi itu bisa membuatmu bahagia.
"Khanza akan mencoba bahagia walau tanpa Kak Abi Nek, kehadiran anak-anak ku sudah sangat membantuku.
"Aqila. Bagaimana denganmu?" tanya Damar.
"Besok Khanza dan yang lainnya akan kembali ke kampung. Bagaimana denganmu? Apakah kamu ingin ikut bersama dengan mereka?" tanya Daniel.
"Nggak kak, Aqila akan tetap di sini, Aku akan coba mencari pekerjaan di tempat lain aku sudah tak ingin bekerja di tempat Pak Abizar," ucap Aqila.
"Kau bisa bekerja di tempatku, kau bisa memilih bekerja di bagian apa saja yang kau inginkan, asalkan tak menggeser posisiku," canda Daniel mencairkan suasana.
"Terima kasih kak Daniel." Aqila tersenyum sambil menggendong bayi mungil Khanza.
"Khanza," ucap Abizar berdiri mematung di depan pintu, ia mendengar semua percakapan mereka, ia tak menyangka jika khanza ingin benar-benar bercerai dengannya.
"Kalian bicaralah, kami akan memberikan kalian waktu," ucap Daniel mengajak Aziel keluar begitu juga dengan Damar, nenek, dan kakek. Meraka juga keluar Aqila memberikan bayinya pada kanza dan juga ikut menyusul keluar.
Tinggalah Abizar, khanza dan Putri kecil mereka dalam ruangan itu.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
__ADS_1
Salam kenal dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖