
"Kamu itu perusak hubungan orang, aku dan Azriel selama ini baik-baik saja, tapi semenjak ada kamu hubungan kami jadi renggang, kamu jangan senang dulu ya Azriel pasti akan menjadi milikku!" kesal Lucia mendapat perlawanan dari Mentari.
"Nggak salah tuh? Kamu yang perusak. Aku dan Azriel sudah bersama sejak kami masih SMP, hanya kebetulan keluarga kalian dekat jadi kalian bisa akrab. Dengar ya Lucia, aku tahu kamu dekat dengan keluarga Azriel, kamu berasal dari keluarga kaya raya, tapi bukan berarti kamu boleh seenaknya menghinaku seperti yang selama ini kamu lakukan dan mengenai masalah Azriel. Jika memang kamu ingin hubungan kami berakhir jangan memperingatkanku, peringatkan saja Azriel untuk tak mendekatiku lagi, itupun jika kamu berani. Jika memang dia mendengarkan peringatanmu kami tentu saja akan berpisah. Karena jika kamu hanya memperingatkanku, aku tak akan menjauhinya karena aku mencintainya."
"Cinta? Cinta katamu? Aku yakin kamu hanya memanfaatkan Azriel, kamu sengaja kan tebar pesona padanya karena dia berasal dari keluarga kaya dan bisnis kuemu itu, aku yakin jika tanpa bantuan Azriel kamu hanya menjual kue-kue di tepi jalan sana."
"Lucia, kenapa kamu malah membawa-bawa bisnis kueku? Dengar, kamu juga menyukai kueku kan? Oh ya ada kok kueku yang harganya sampai satu juta, jika kamu mau pesan aku bisa membuatkan untukmu, itupun jika kamu mampu membelinya dan aku jamin rasanya tak kalah dari kue-kue yang biasa kau beli di luar negeri," ucap Mentari menyombongkan harga kuenya, dimana Lucia pernah menghina hanya karena harga kuenya yang murah, tapi kini Mentari sudah berani mematok harga yang cukup mahal, tentu saja bukan hanya harga, tapi kualitas kuenya juga tak main-main bahkan ada beberapa resep kue yang hanya mendapat untung sedikit saja dan modalnya cukup mahal.
Mentari menjadi lebih berani untuk memainkan harga dan memperbanyak pilihan menu kue-kuenya. Semua itu karena dorongan Azriel dan Dewa.
"Sorry ya, walau kamu sudah menjualnya dengan harga yang sama dengan kue-kue yang biasa aku beli, tapi tetap saja aku tak suka karena memang kita beda level, aku sama sekali tak suka kue buatan orang kampung sepertimu," sarkas Lucia yang mendorong bahu Mentari. Mentari ingin mendorong balik, tapi ia melihat Aisyah kini juga masuk ke dalam kamar mandi tersebut membuat ia hanya mengepalkan tangannya.
"Kak Lucia, ada apa?" tanya Aisyah menatap mereka.
"Nggak papa, ini wanita kampung menawarkan kuenya padaku, tapi sayang aku tak tertarik. Aku lebih baik kelaparan daripada memakan kue buatannya," ucap Lucia kemudian menarik Aisyah pergi dari sana, Aisyah hanya mengikuti Lucia saja. Namun, sebelum keluar ia memberi sapaan pada Mentari dengan anggukan dan senyuman.
__ADS_1
Mentari hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan juga, ia menghela napas panjang.
Sepertinya ia harus menghadapi Lucia dengan cara Lucia menghadapinya, ia akan berbuat baik pada seseorang yang baik padanya. Namun, ia juga akan membuat kasar jika ada orang-orang yang berbuat kasar padanya, satu keuntungan ia berteman dengan Dewa ia menjadi lebih berani, semua keberanian itu berasal dari Dewa.
Dewa sudah mewanti-wantinya untuk tak lemah dan tak menangis jika ada yang menghinanya, tapi membalasnya.
Baru saja Mentari ingin masuk ke bilik kamar mandi, ponselnya berdering dan itu dari Azriel.
"Mentari, apa kamu belum selesai?" tanya Azriel di mana ia sudah menunggu di depan pintu masuk bioskop sejak tadi dan Mentari belum juga datang padahal film yqng ingin mereka tonton sudah mulai. Mentari hanya mengatakan jika ia tak lama, tapi sudah lebih 30 menit ia belum juga datang membuat Azriel khawatir.
Setelah buang air kecil Mentari pun dengan terburu-buru menghampiri Azriel yang masih menunggunya di depan bioskop.
"Maaf ya, aku lama tadi aku bertemu dengan Lucia di kamar mandi dan dia kembali mengancamku untuk tak mendekatimu," jelas Mentari dengan raut wajah kesal, kemudian ia pun mengambil tiket dan memberikan kepada petugas tiket, ia pun langsung menarik Azriel masuk ke dalam bioskop tersebut.
Azriel yang membawa minuman dan popcorn memberikan satu untuk Mentari, ia masih menatap Mentari, mencerna apa yang dikatakan oleh Mentari tadi. Apakah ia tak salah dengar.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Apa tadi Lusia bersamamu? Apa saja yang dikatakannya?" tanya Azriel dengan wajah panik, takut jika terjadi sesuatu pada Mentari dan Lucia mengatakan hal-hal yang bisa menyakiti hati Mentari.
"Nanti saja kita bahas, kita nonton dulu. Ini kita sudah ketinggalan. Aku sangat suka dengan film ini," ucap Mentari memakan santai popcorn yang dipegangnya, Azriel memperhatikan raut wajah Mentari yang senyum-senyum menonton film tersebut, sepertinya dari raut wajah Mentari. Lucia tak melakukan hal-hal yang menyakiti hatinya. Ia pun dengan sabar menunggu sampai film itu berakhir dan akan menanyakan apa yang terjadi padanya.
Begitu mereka keluar dari gedung bioskop, Azriel yang sejak tadi penasaran kembali menanyakan hal tersebut.
"Iya, Lucia kembali mengecamku dan mengatakan jika aku harus menjauhimu. Aku sudah bilang aku tak akan menjauhimu karena aku mencintaimu. Jadi, kamu tenang saja. Walau Lucia mengancamku dengan kata-katanya, aku tak akan menurutinya, tapi kamu nggak keberatan kan jika aku membalas jika dia menyakitiku secara fisik?"
"Iya, tentu saja. Bahkan jika dia sampai menyakitimu katakan saja padaku, aku akan memperingatkannya."
"Tak perlu, aku bisa menghadapinya. Bagiku Lucia bukan sesuatu yang hal yang aku takutkan, aku hanya takut jika kamu sampai tak percaya padaku dan mendukung Lucia. Aku bisa melihat jika dia itu sangat pandai untuk mengarang cerita, takutnya kamu malah percaya jika aku yang menyakitinya lebih dulu."
"Aku akan percaya padamu 100%. Apapun yang dikatakan Lucia aku anggap itu hanya sebuah kebohongan saja. Ya sudah, kamu mau kemana lagi?" ucap Azriel, ia sangat senang saat mendengar penjelasan Mentari yang terbuka padanya. Mentari juga akan memperjuangkan cinta mereka.
Malam itu mereka menghabiskan malam bersama, mereka berjalan- jalan ke tempat-tempat yang membuat mereka sangatlah bahagia dan semua itu dilihat oleh Lucia. Hal itu semakin membuat Lucia sangat kesal.
__ADS_1
Aisyah yang sejak tadi hanya ikut kemana Lucia membawa mobilnya, hanya terdiam saja. Dalam hati ia ikut bahagia melihat kakaknya bahagia, walau ia harus menutupi wajah kebahagiaan itu dari Lucia dan pura-pura-pura seolah ia mendukung hubungan kakaknya dengan Lucia.