Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
CINTA DAN KEBOHONGAN


__ADS_3

Sepanjang acara berlangsung Khanza terus memperhatikan ke arah Abizar dan anak-anaknya yang terlihat begitu ceria.


Melihat wajah Aziel dan Aisyah yang terus tertawa saat papa mereka merayunya dengan potongan daging yang sengaja dimakannya sendiri.


'Apa mereka bisa sebahagia itu jika bersama dengan Damar,' batin Khanza terus memperhatikan mereka. Tanpa disadarinya Sedari tadi Damar juga memperhatikannya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Damar menghampiri Khanza dan membuang daging yang sedang dipanggang Khanza karena daging tersebut sudah gosong dan tak dapat dimakan lagi.


"Damar? Nggak aku nggak mikirin apa-apa," jawabnya cepat.


"Jika kamu tak memikirkan sesuatu lalu apa ini?" tunjuknya pada daging yang baru saja dibuang ke tempat sampah.


Khanza terdiam dan menunduk ia tak tahu harus menjawab apa.


"Jika kau ingin berbicara padaku, bicara saja! Aku memang calon suamimu, tapi aku tetap sahabat," ucapnya mengacak-ngacak rambut Khanza.


Khanza kembali melihat ke arah Abizar dan anak-anaknya.


"Aku hanya merasa senang melihat kebahagiaan anak-anak."


Damar hanya mengusap punggung Khanza, jika menyangkut anak-anak ia tak bisa berbuat apa-apa, tak ada yang bisa menggantikan Abizar di hati mereka.


Damar membawa Khanza ikut bergabung dengan yang lain.


Malam semakin larut, Abizar menghampiri Khanza meminta izin untuk membawa anak-anak mereka.


"Kamu pasti akan semakin sibuk menjelang pernikahanmu, aku akan menjaga mereka beberapa hari ini."


"Apa boleh?" tanya Abizar saat Khanza tak menjawab dan hanya menatapnya.


"Iya, Kak. Boleh." Khanza senyum canggung menjawab pertanyaan Abizar.


Ada sesuatu yang aneh di hatinya saat mendengar jika Farah dan mantan suaminya itu sudah bercerai. Merasa senang, kasihan. Ia sendiri tak tau perasaan apa yang dirasakannya.


Kasihan mengetahui jika Papa dari anak-anaknya itu sekarang sendiri.


Khanza melambaikan tangan mengantar kepergian mereka, ia mengantar mereka hingga ke teras rumah sementara yang lainnya masih sibuk dengan acara mereka di taman.


"Semakin aku mengenal Abizar semakin aku merasa dia pria yang sangat baik dan beruntung," ucap Damar yang tiba-tiba ada di belakang Khanza.


Khanza berbalik dan menatap Damar yang juga melihat ke arah mobil Abizar yang semakin menjauh.


"Iya, kak Abi memang orang yang sangat baik," ucapnya ikut kembali menatap ke arah mobil mantan suaminya itu.


"Aku tahu kau masih memiliki perasaan padanya, aku tak tahu apakah aku bisa menggantikan dirinya di hatimu dan di hati anak-anak."


"Kamu ini bicara apa sih," ucap Khanza ingin kembali masuk ke dalam dan bergabung dengan yang lain.


"Abizar yang memintaku untuk menikahimu," ucap Damar membuat Khanza menghentikan langkahnya.


Khanza berbalik dan menatap penuh tanya.

__ADS_1


Damar yang masih berdiri mematung di tempatnya mengangguk.


"Apa lagi ini? Jangan mengada-ada sebentar lagi kita akan menikah, jangan buat aku semakin ragu untuk melanjutkan pernikahan kita."


Damar menarik Khanza untuk masuk ke mobilnya, kemudian melajukan meninggalkan acara barbeque yang masih berlangsung.


Tak ada pembicaraan diantara mereka, hingga Damar memarkirkan mobilnya di sebuah pantai.


Damar keluar dan membukakan pintu mobil untuk Khanza.


Khanza duduk di kap depan mobil dan Damar sendiri berdiri di hadapan Khanza.


"Aku serius mengatakannya, sejak awal Abizar adalah yang membantuku agar aku bisa mengatakan perasaanku padamu. Bukan hanya itu ia juga yang memintaku untuk melanjutkan hubungan kita ke jenjang pernikahan."


Khanza mengalihkan pandangannya mendengar ucapan Damar.


"Aku bisa melihat cinta di mata Abizar untuk mu sampai saat ini. Dia melepaskanmu karena dia mencintaimu dia ingin kau bahagia."


"Apa dengan melepasku dia pikir aku akan bahagia? Apa itu maksudnya?"


"Karena dia merasa gagal membuatmu bahagia? Itulah yang menyebabkan dia pikir kau akan bahagia denganku. Harga dirinya tak mengizinkan untuk mempertahankanmu setelah apa yang kau alami karenanya."


Khanza memandang ke depan, melihat samar ombak yang menggulung.


"Mengetahui orang yang sangat kita cintai membohongi kita itu sangat sakit, Damar. Tak ada yang tau rasa sakit dan kecewaku, disaat aku merasa tak punya siapapun di dunia ini selain kak Abi, aku harus menerima kenyataan yang sangat menyakitkan. KEBOHONGAN. Aku sudah memaafkannya, tapi sakit itu masih bisa kurasakan sampai saat ini. Aku masih merasa orang yang sangat bodoh yang mencintai kak Abi, aku merasa malu pada diriku sendiri, aku dengan percaya dirinya mengira jika cinta kak Abi lebih besar dari cintaku, ternyata aku salah. Kenapa dia harus berbohong, jika ia jujur itu lebih baik walaupun pasti juga sama menyakitiku." Menghapus air matanya. "Apa kau bisa membahagiakanku dan anak-anak?" tanya Khanza menatap Damar yang masih berdiri di depannya.


Damar berjalan menghampiri Khanza dan ikut duduk di sampingnya.


"Kenapa kau begitu baik padaku?"


"Karena aku Damar sahabat mu."


"Apa jika bukan karena kak Abi kau tak akan menikahiku?"


"Mungkin saja aku akan memendam rasa cintaku dan hanya menganggapmu sebagai sahabat. Aku sendiri tak tahu aku mencintaimu atau menyayangimu, tapi yang pasti aku tak suka melihat kau bersedih. Aku ingin melihatmu bahagia dan juga anak-anakmu."


"Perasaan kita Sama. Aku juga belum tahu pasti aku mencintaimu atau hanya sekedar menyayangimu sebagai sahabatku. Yang jelasnya aku merasa nyaman berada didekatmu, aku merasa kau selalu melindungiku dan membuatku merasa berharga."


Damar mengusap air mata Khanza yang kembali menetes di pipinya.


"Kita sudah melangkah sejauh ini, mari kita lanjutkan pernikahan ini." ucap Damar yang dijawab anggukan oleh Khanza sambil terus mengusap air matanya.


"Jujur aku masih sangat mencintai Kak Abi, tapi aku sudah tak ingin kembali padanya. Aku takut akan tersakiti lagi, aku juga tak yakin akan bahagia menjalankan kehidupan rumah tangga untuk yang kedua kalinya dengannya."


"Aku akan berusaha membahagiakan kalian. Kita akan menikah dan hidup berumah tangga walau 0tanpa adanya cinta, setidaknya kita saling menyayangi saja sudah cukup untukku. Cinta akan datang seiring berjalannya waktu," ucap Damar sambil menggenggam erat tangan Khanza dan mengecup punggung tangannya.


Mereka berdua saling tatap kemudian tertawa.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Khanza di sela-sela tawanya.


"Aku merasa aneh saat mencium punggung tanganmu."

__ADS_1


"Aku juga merasa geli mendengar kata-katamu," ucap Khanza tertawa tapi air matanya masih tak berhenti menetes.


Damar menarik Khanza ke pelukannya.


"Kau jangan bersedih lagi, aku tak suka melihatmu bersedih," ucapnya mengusap lembut rambut Khanza.


Di kediaman Abizar.


Abidzar sudah menyiapkan anak-anaknya untuk tidur, mengajak mereka ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


Aisyah yang masih meminum susu dari botol dot. Sudah berbaring sambil memegang dotnya.


Abizar mengusap-usap punggung anaknya sampai Aisyah menutup matanya dan tertidur pulas.


Sementara Aziel masih bermain dengan ponsel Papanya.


"Ziel Adek sudah bobo, Ziel bobo juga ya!" ucap Abizar lembut dan mencoba mengambil ponselnya.


Aziel menurut dan ikut berbaring di samping papanya, Abizar tidur di tengah Kedua anaknya.


"Papa kenapa bukan Papa yang menikah dengan mama? Ziel sayang ayah Damar, tapi Ziel mau Papa sama mama."


"Ziel walaupun Papa tak menikah dengan mama lagi, itu tak ada bedanya. Kita akan terus bersama, Papa kan selalu ada untuk kalian berdua." Abizar memeluk erat putranya, ia tau Aziel sudah mengerti perpisahan mereka dan ia juga tak ingin itu terjadi.


Mereka terus berbincang-bincang layaknya kedua pria dewasa, bisa menjawab pertanyaan anaknya sambil menepuk-nepuk bahu Azriel yang memeluknya.


"Papa?"


"Iya, Nak?"


Aziel mendongak menatap Papanya.


"Mama akan menikah dengan Ayah Damar. Bubu menikah dengan Daddy.


Apa Papa juga akan menikah?"


Abizar mencium kening putranya, ia tak menyangka jika Aziel akan menanyakan hal itu.


"Papa tak akan menikah lagi, Papa hanya akan bersama dengan Kalian. SELAMANYA."


Aziel tersenyum bahagia mendengar ucapan Papanya.


Aziel memeluk erat Papanya yang di balas pelukan hangat Abizar.


Tak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulut putranya itu, Abizar perlahan melihat Aziel dan ternyata putranya itu sudah tertidur.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha (Ig anha5569)

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2