Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Ke Kampung Halaman.


__ADS_3

Pagi hari semua sudah bersiap-siap, Khanza juga sudah mengetahui jika Abizar  tidak akan menemaninya ke kampung, tapi justru Farah yang akan pergi ke kampung bersama dengannya sedangkan Abizar sendiri akan pergi keluar negeri menyelesaikan masalah Farah.


"Kamu nggak papa 'kan ditemani Farah?' tanya Abizar menggenggam tangan Khanza.


"Nggak apa-apa kok Kak, semoga kakak bisa menyelesaikan masalah Mbak Farah dengan cepat dan bisa menyusul ke kampung, Kakak nggak usah khawatir aku akan menjaga Aziel dengan baik disana."


"Makasih ya kamu sudah mengerti," ujar Abizar mencium punggung tangan Khanza kemudian mencium keningnya.


Khanza hanya tersenyum membalas perlakuan suami. Khanza tahu jika Farah juga sedang membutuhkan Suami mereka, dan ia tak boleh egois dalam hal ini, para juga adalah istri dari suaminya, itu adalah fakta.


Di kamar Farah.


"Apa kamu yakin akan pergi menemani Khanza ke kampungnya?" tanya Santi berdiri di samping putrinya.


"Iya, Mah. Mas Abi yang akan keluar negeri menggantikanku dan aku yang akan menggantikannya menemani Khanza ke kampungnya," jawabnya tanpa melihat ke arah mamanya, masih sibuk memasukkan beberapa alat makeup nya.


"Mama heran sama kalian, kalian selalu memanjakan Khanza bahkan kalian lupa dengan diri kalian sendiri. Khanza itu tak selemah itu, ia pasti bisa pergi sendiri ke kampungnya, dia pergi di rumah kakeknya kenapa kamu harus menemaninya. Kamu sebaiknya ikut suamimu pergi ke luar negeri bersama, menghabiskan waktu berdua."


Farah tak menjawab, ia hanya mendengarkan apa yang mamanya katakan dan hanya terus merapikan barang-barangnya.


Santi menghentikan anaknya, memegang tangan Farah dan menariknya duduk disisi tempat tidur.


"Apa kau benar-benar bahagia menjalani pernikahan seperti ini? Jangan pernah sembunyikan kesedihanmu dari Mama," tanya Santi yang masih percaya jika anak itu pasti merasa sedih dengan pernikahannya.


"Mah. Mama salah paham, Farah tak menyembunyikan kesedihanku, Farah tidak pura-pura bahagia, aku benar-benar bahagia, Mah. Sekarang aku bisa merasakan menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu dan aku bisa merasakan juga menjadi seorang kakak. Aku sama sekali tak pernah menganggap Khanza itu maduku, jadi jika Mama mengkhawatirkan perasaanku Mama tenang saja, aku baik-baik saja," kata Farah mencoba meyakinkan mamanya jika ia salah menilai pernikahan mereka.


Santi hanya menghela nafas mendengar penjelasan anaknya, selama ini yang selalu memperhatikan Farah dan Khanza, memang mereka terlihat semakin bahagia, Santi juga memperhatikan sikap Khanza yang sudah mulai menyesuaikan diri dengan hubungan mereka.


Pernah sekali Santi melihat Khanza tak jadi pergi ke halaman belakang karena melihat Farah dan Abizar serta Aziel bermain di sana, Khanza memilih untuk ke halaman depan dan mengobrol dengan tukang kebun mereka. Memberikan waktu untuk ketiganya bersama. Namun, tetap saja Santi merasa tak rela dengan hubungan pernikahan anaknya.


Abizar mengetuk pintu sebelum masuk, Farah dan Santi menengok ke arah pintu dan melihat Abizar berjalan masuk menghampiri mereka.


"Abizar, tak bisakah kau ke luar negeri bersama  Farah, biar Warda saja yang membawa Khanza ke kampung, kalian sudah lama tidak bepergian bersama, anggap saja sesekali kalian pergi liburan berdua."


"Maaf Mah, untuk saat ini biar aku sendiri saja yang pergi, saat ada waktu luang, aku akan mengajak Farah untuk liburan, mungkin kita semua bisa pergi liburan bersama," kata Abizar.

__ADS_1


"Ibu tak ingin pergi berlibur, Ibu hanya ingin kalian memperbaiki hubungan kalian, bahagia seperti dulu."


"Mah, hubungan kami baik-baik saja, bahkan lebih bahagia. Hubungan kamu masih sama seperti dulu, Kehadiran Khanza tak merubah apapun," jelas Farah.


"Terserah kalian saja lah, Mama hanya tak ingin rumah tangga kalian sampai hancur," ujar Ibu mendengus kesal mendengar jawaban Farah, kemudian ia keluar dari kamar.


"Percuma saja aku mengeluarkan unek-unekku, tak ada juga yang mendengarnya" kesal Santi.


"Ada apa dengan Mama?" tanya Abizar.


"Mama mengira aku tak bahagia dan pura-pura bahagia dengan pernikahan ini," jawabnya mengancingkan kopernya kemudian memberi  kepada Abizar.


"Apa kamu bahagia?" tanya Abizar menatap lekat mata Farah.


"Apa Mas bahagia?" tanya balik Farah.


Abizar  mengangguk samar.


"Kalau Mas bahagia aku juga akan bahagia, menjadikan Khanza sebagai maduku bukanlah hal yang buruk, aku tak pernah menyesali sedikitpun keputusanku, terlebih lagi sekarang sudah ada Aziel tengah-tengah kita, Aku sangat bahagia."


Mereka keluar kamar saling menggandeng tangan, Abizar menggandeng tangan Farah dan tangan satunya menarik koper Farah.


Khanza dan Aziel sudah siap di teras rumah, sebelumnya Abizar sudah memasukkan semua barang-barang mereka ke dalam mobil.


"Mama mau kemana?" tanya Abizar yang melihat warda juga menyeret sebuah koper besar.


"Ya Mama mau ikut lah," ucap Warda memberikan kopernya kepada Bibi untuk dimasukkan ke dalam mobil.


"Mama juga mau ikut ke kampung?" tanya Khanza bahagia.


"Iya lagian ngapain juga Mama sendiri disini, lebih baik kita liburan ke kampung," ucap Warda mengambil cucunya dari gendongan Khanza.


Semalam Warda tak sengaja mendengar pembicaraan Abizar dengan Farah yang menyatakan jika mereka akan tukaran. Farah yang akan ke kampung dan putranya yang akan keluar negeri. Warda berpikir untuk ikut, dengan begitu ia akan bisa dekat dengan keluarga Khanza, jika ia tak ikut pasti ia akan kesepian di rumah sebesar itu, sudah pasti ia juga akan sangat sangat merindukan Aziel cucunya, dan dengan segera ia kembali ke kamar dan membereskan pakaiannya.


Khanza langsung berjalan beriringan dengan Warda menuju ke mobil dengan Aziel yang juga terlihat sangat senang, sepertinya ia sudah mengerti jika mereka akan pergi.

__ADS_1


"Apa Mama mau ikut juga?" tanya Farah pada Santi.


"Buat apa juga Mama ikut ke kampung, gak ada bagus-bagusnya." Kesal Santi melipat tangannya ke dada, tak ada sedikitpun terbesit dalam dirinya ingin ikut dengan mereka.


"Tapi Mama akan sendiri disini," ucap Farah  merasa tak enak meninggalkan Mama nya sendiri.


"Apa Mama mau ikut denganku ke luar negeri ?" tanya Abizar mendekati mertuanya.


"Iya, Mama itu kamu saja, Farah bantu Mama mengemas barang," ucap santi pada putrinya.


Farah membantu Mamanya mengemas barang, "Mama yakin akan ikut dengan mas Abi ke luar negeri?" tanya Farah sekali lagi.


"Yakinlah, ngapain juga Mama ikut kamu  ke kampung, mendingan Mama pergi ke luar negeri bertemu teman-teman Mama, itu jauh lebih menyenangkan."


Farah memberikan kartunya kepada Mamanya.


"Mama bisa pakai kartu ku saja, beli yang Mama inginkan," ucapnya menyodorkan kartu miliknya.


Santi tahu itu adalah kartu yang diberikan Abizar.


"Berapa limitnya?" tanya Mama mengambil kartu dari tangan Farah.


"Terserah aja Mama mau berapa," ucap Farah mengangkat koper dan menyeretnya keluar.


Senyuman tipis terbit di bibir Santi melihat kartu yang ada di tangannya, "Ini baru menyenangkan," ucapnya memasukkan kartu itu ke dalam tasnya dan terus tersenyum berjalan mengikuti Farah.


****


Terlebih dahulu Abizar mengantar mereka ke bandara memastikan mereka semua pergi dengan aman kemudian baru ia dan mertuanya mengambil penerbangan ke luar negeri.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


sambil menunggu update terbaru, yuk mampir ke karya temanku 🙏

__ADS_1



__ADS_2