Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
keinginan Aziel


__ADS_3

Abizar akan pergi ke kantor, Aziel langsung berlari menahannya.


"Papa, Ziel ikut," rengek Aziel.


"Ziel di rumah aja ya, Papa kan mau kerja!"


"Tapi, Ziel bobonya sama Papa lagi ya?" ucap Aziel dengan pandangan memohon.


Abizar melihat pada Farah.


"Ya udah Mas, sepulang kantor Mas jemput Aziel, malam ini kalian menginap di rumah Khanza saja," ucap Farah merasa kasihan mengingat semalam Aziel terus menangis ingin bersama dengan papanya.


"Sepulang kantor Papa jemput ya, kita tidur di rumah Mama," ucap Abizar memberi penjelasan pada Aziel.


"yeeeee, Iya Papa," ucapnya sambil melompat kegirangan.


Abizar berangkat ke kantor.


"Ziel sarapan, yuk," ucap Farah menggendong putranya itu sampai ke meja makan, di sana masih ada Warda dan Santi.


"Sepertinya Aziel sudah tak bisa lagi dipisahkan sama papanya, dia sudah mengerti kalau kalian selama ini sering memisahkannya," ucap Warda merasa kasihan dengan cucunya.


"Tentu saja, dia semakin besar akan semakin protes dengan keadaan rumah tangga kalian, belum lagi nanti kalau dia sudah sekolah pasti teman-temannya akan mempertanyakan siapa mamanya siapa Bubunya, mengapa ia punya dua mama, semoga saja dia tak jadi korban bullying," ucap Santi sambil mengupas buah jeruk.


"Aku rasa memang benar keputusan agar Khanza hamil lagi," ucap Warda. "Setidaknya Aziel bisa lebih lama tinggal disini dan Khanza akan mengurus anak keduanya."


"Emang kenapa sih dia itu ga mau melahirkan, dia bisa melahirkan beda dengan Farah yang memang tidak bisa melahirkan anak, kalau masalah trauma dia kan bisa berkonsultasi dengan dokter untuk menghilangkan traumanya, Khanza saja yang tak mau melawannya. Ditambah lagi kalian yang selalu memanjakannya, Khanza bisa melahirkan anak lebih dari dua," ucap Santi memberikan sepotong jeruk pada Aziel.


Farah hanya diam mendengar ucapan kedua mamanya, dalam hatinya ia sangat takut bagaimana jika Khanza tak menerima dengan apa yang dilakukan Abizar.


Abizar di kantor terus saja memikirkan tindakannya, ia melihat kotak obat yang ada di atas mejanya.


"Apakah aku harus memberikan obat ini pada Khanza," gumamnya terus melihat obat tersebut.


Abizar mengambil ponsel dan menelpon dokter kandungan kanza


"Halo, Dokter. Apa dokter yakin Khanza akan baik-baik saja saat hamil nanti?" tanyanya meyakinkan dirinya, dalam hati ia masih takut, tapi Abizar juga sangat ingin memiliki bayi lagi.


Iya Pak kondisi ibu Khanza sudah sangat baik, rahimnya juga sudah sangat siap. Insyaallah tak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Dokter kandungan Khanza.


"Baiklah Dokter saya akan memulai program kehamilan untuk Khanza," putusan Abizar.


"Iya, Pak. Selama ini Ibu Khanza minum pil penunda kehamilan, sebaiknya untuk sementara Ibu Khanza mengkonsumsi obat penyubur terlebih dahulu."


"Baik Dokter. Nanti saya telpon lagi," Abizar mengakhiri panggilan nya.

__ADS_1


Ia mengambil kotak obat tersebut dan meyakinkan dirinya untuk menjalankan rencananya.


Memasukkan obat itu ke dalam saku jasnya kemudian Ia pun kembali ke rumah lama.


"Papa lama sekali sih, BuBu," ucap Ziel yang sudah menunggu di teras.


"Sabar ya. Kata Papa, Papa sudah di jalan," jelas Farah pada putranya.


Abizar sudah menelpon, jika ia sudah ada di jalan dan meminta Farah untuk menyiapkan Aziel, malam ini mereka akan menginap di rumah Khanza.


Aziel terus berjalan bolak-balik di teras, ia sudah tak sabar ingin pergi ke rumah mamanya.


Farah bahkan merekam apa yang Putranya itu lakukan. Sungguh sangat menggemaskan.


"Itu Papa," tunjuknya berlompat-lompat gembira saat melihat mobil papanya memasuki gerbang.


"Ziel di rumah mama yang baik-baik ya jangan merepotkan mama," ucap Farah menasehati.


"Iya Bubu, Bubu di rumah sama Nenek ya," jawab Aziel.


"Ziel nggak kasihan sama Bu, bobonya sendiri. Papa kan sama mama," ucap Farah berpura-pura memasang wajah sedihnya.


"Ziel sama Mama sama Papa dulu, nanti Bubu sama Papa sama Ziel lagi," ucap Ziel menjelaskan layaknya orang dewasa.


Farah tersenyum, sepertinya anaknya ini sudah benar-benar pintar dan tak lagi mau dirayu.


Abizar keluar dan membuka pintu mobil untuk Aziel.


"Kamu nggak apa-apa 'kan aku dan Aziel ke rumah Khanza."


"Iya, Mas. Aku kasihan sama Ziel, aku nggak ingin kejadian semalam terulang lagi. Sepertinya mulai sekarang kita harus lebih mementingkan Aziel, ia sudah mulai semakin pintar," ucap Farah memperbaiki dasi Abizar yang terlihat miring.


"Papa, ayo," panggil Ziel pada Papanya yang masih berdiri di luar. Ia sudah tak sabar ingin ke rumah mamanya.


"Kami pergi dulu, ya," ucap Abizar mengecup kening Farah.


"Mas hati-hati, ya."


Farah melambaikan tangan pada mereka berdua, saat mobil sudah mulai berjalan menjauh darinya.


Fatah terus berdiri dan menatap mobil itu menjauh, rasa sedih di hatinya tiba-tiba muncul.


"Kenapa! Kamu merasa sedih kan? ucap Santi menghampiri.


Farah tak menjawab, ia hanya menghela nafas berat.

__ADS_1


"Ini baru awalnya saja, lihat saja nanti Khanza akan pelan-pelan mengambil mereka berdua darimu," tambah Santi.


Farah melihat ke arah mamanya, mencerna apa yang dimaksudnya.


"Dengar Farah, walau bagaimanapun Aziel adalah anak Khanza, suatu saat nanti dia akan meminta Aziel untuk tinggal dengannya, begitu juga dengan Abizar. Suamimu itu pasti memilih untuk bersama dengan Khanza. Mama yakin suatu saat nanti mereka berdua akan menetap di rumah Khanza dan hanya mengunjungimu sekali."


"Mama, Khanza bukan orang seperti itu, dia tidak akan melarang Mas Abi dan Ziel untuk bertemu denganku."


"Itu tidak mungkin, mama yakin suatu saat nanti Khanza akan menguasai putranya dan kau akan tinggalah sendiri.


Menurut mama, kamu harus terus mempengaruhi Abizar untuk tetap menjalankan rencananya agar Khanza bisa hamil lagi, dengan begitu kau bisa meminta salah satu Putra mereka untuk kau jadikan anakmu, dengan begitu Abizar akan tetap datang padamu, akan tetap adil pada kalian berdua, karena ada anaknya juga bersamamu, atau jika Khanza melahirkan nanti, biarkan dia mengurus bayinya dan kau bisa meminta untuk mengurus Aziel sepenuhnya. Mama lihat Aziel sudah sangat menyayangimu."


"Entah lah, Mah," jawab Farah.


"Khanza bisa melahirkan lebih dari dua atau tiga anak, mama rasa meminta salah satu anaknya tak masalah dan tak berlebihan, toh Kau juga akan menyayanginya seperti anakmu sendiri. Papanya juga akan selalu bersamanya."


"Sudahlah, Farah mau masuk dulu, Farah sendiri bingung apakah harus menyetujui usul mamanya atau tetap menjalankan pernikahan seperti ini."


*****


"Mama," teriak Aziel begitu sampai di rumah mamanya.


Khanza yang memang ada di lantai bawah langsung menyambut putranya dengan pelukan yang erat.


"Anak mama tambah ganteng sih," ucap Khanza mengecup seluruh wajah putranya.


"Aziel anak Papa," ucapnya membanggakan jika ia adalah anak papanya.


"Kak, kok Aziel ikut sih?" tanya Khanza menggandeng tangan Aziel,berjalan menuju ke kamar mereka.


"Iya, Farah kasihan padanya, Ziel ingin ikut bersamaku. Farah takut jika Ziel menangis lagi saat akan tidur," ucap Abizar menggendong Aziel saat mereka menaiki tangga.


"Sepertinya putra kita ini sudah semakin besar, ia sudah sangat merindukan kebersamaan denganmu, Kak."


"Kamu benar," ucap Abizar. Batinnya merasa senang, sudah sejak dulu ia ingin seperti itu, tapi tak ingin menyakiti hati kedua istrinya dengan meminta Aziel ikut bersamanya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Bisa mampir kak ke karya temanku,

__ADS_1



__ADS_2