Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2: bab 16


__ADS_3

Azriel sudah berada di kediamannya, mereka baru tiba di rumah setelah salat isya.


"Ada perlu apa Lucia pulang dengan mendadak begitu? Dia bahkan tak berpamitan pada kami," ucap Abidzar terkejut saat Farah mengatakan jika Lucia sudah pulang sore tadi. Bukan hanya Abidzar yang terkejut, Azriel juga terkejut akan hal itu, apakah karena perkataannya tadi Lucia langsung pergi ke rumahnya dan langsung pulang ke negaranya.


"Katanya ia lupakan tugas kuliahnya dan harus segera dikerjakan, makanya dia langsung pulang," jelas Farah membuat Abidzar pun hanya mengangguk percaya, mengingat saat datang Lucia datang, ia juga terburu-buru, mungkin saja memang ia tak ada memikirkan mengenai kuliahnya saat mendapat kabar Azriel yang mengalami kecelakaan.


"Ya sudah kalau begitu, aku pikir itu memang harus ia pentingkan," ucap Abidzar melihat ke arah Azriel, pikirannya sama dengan Azriel jika Lucia pergi karena penolakan cintanya.


"Ya sudah, sebaiknya kita makan malam, makanannya sudah siap," ucap Khanza mengakhiri pembicaraan tentang Lucia, ia juga berpikir hal yang sama dengan anak dan suaminya. Mereka pun menuju ke meja makan, Farah juga mengungkapkan jika ia juga harus pulang keesokan harinya.


"Iya, Bu. Terima kasih ya sudah mengkhawatirkanku, maaf sudah mengganggu rutinitas Ibu. Ibu pasti sangat sibuk di sana," ucap Azriel membuat Farah pun hanya memberikan senyuman dan mengusap punggung tangannya, di mana Azriel makan duduk di dekatnya.


Setelah makan malam, Azriel pun beristirahat di kamarnya dan Khanza menemani putranya.


Sementara itu, Abidzar yang sedang bekerja di ruang kerjanya fokus dengan laptopnya. Fokusnya teralihkan dengan kedatangan Farah.


"Mas, aku mau bicara," ucap Farah mengalihkan pekerjaannya dan melihat ke arah Abidzar.


"Ada apa?" tanya Abidzar.


"Besok aku pulang. Aku ingin mendengar keputusanmu! Tentukan malam ini kamu ingin menjodohkan anak kita atau tidak, menjodohkan Azriel dengan Lucia atau tidak?" tegas Farah yang langsung menanyakan hal tersebut.


"Maaf, aku sudah bicara pada Azriel dan sepertinya Azriel tetap menginginkan menjalin hubungan dengan Mentari, ia sudah mencintainya dan ingin segera serius dengan Mentari. Jadi, maaf mungkin memang mereka lebih baik hanya sekedar saudara saja."


"Kamu tak mau memberikan kesempatan pada putriku untuk merebut hati putramu? Mengapa?"

__ADS_1


"Farah, kita yang egois jika kita memaksakan kehendak kita pada Azriel, dia bukan anak kecil lagi, dia sudah tahu mana yang terbaik untuknya dan menurut Azriel. Mentari adalah yang terbaik untuknya. Kita tak bisa memaksanya untuk memberi kesempatan kepada Lucia jika memang hatinya sudah terpaut pada Mentari."


"Tapi, Mas!"


"Farah, semua itu justru akan menyakiti Lucia nantinya."


"Apa kamu tak berkaca pada masa lalu, kamu juga dulu tak mencintai Khanza kan? Kamu hanya menikahinya karena menginginkan anak darinya, tapi nyatanya apa, Mas? Semua tak sesuai dengan rencana kita. Kamu justru meninggalkanku dan memilih menikah dengannya?"


"Farah, cukup!" bentak Abidzar, ia tak menduga jika mantan istrinya itu kembali mengungkit masa lalu mereka.


"Kenapa, Mas? Aku hanya memberikan contoh saja jika kamu bisa mencintai Khanza dengan begitu dalamnya dan melupakanku. Begitupun dengan anak-anak. Aku yakin Azriel juga akan melakukan hal yang sama, ia bisa mencintai Lucia seiring berjalannya waktu dan melupakan cintanya pada Mentari, kita hanya perlu mendukungnya saja, Mas. Mereka sudah bersama sejak kecil, tak akan sulit untuk menyatukan mereka." Farah terus mwncoba meyakinkan Abidzar akan pendapatnya.


Abidzar mengepal tangannya erat, dia sangat tak menyukai pembahasan tentang kehidupan mereka yang dahulu, di mana ia memang mendatangkan Khanza ke keluarga mereka hanya karena tujuan ingin memiliki anak.


"Tapi Azriel sudah menyukai seseorang, berbeda jika dia tak menyukai siapapun, Farah."


"Mas. Aku tak mungkin mencarikan calon istri yang tak baik untuknya, kita tak tahu seperti apa sebenarnya sifat asli gadis itu. Mungkin dia hanya gadis matre yang mendekati Azriel hanya karena materi yang dimiliki oleh anak kita," ucap Farah membuat Abidzar langsung mengangkat tangannya, meminta Farah untuk menghentikan ucapannya menghina Mentari. Jika Azriel mendengar hal itu, ia pasti akan marah.


"Farah, aku juga seorang pria dan aku tahu bagaimana perasaan Azriel pada Mentari dan keputusanku sudah bulat. Aku akan mendukung apapun yang dipilih olehnya, ia mencintai Mentari dan ingin bersamanya, itulah keputusanku juga. Jadi, aku minta maaf padamu dan putrimu. Farah tolong mengertilah. Bukannya aku tak yang menyayangi Lucia, sekali lagi aku minta maaf," ucap Abidzar menegaskan kalimatnya.


Farah terdiam. Ada rasa kesal di hatinya. Namun, ia sadar ia tak bisa berbuat apa-apa, walau dia juga menyayangi Azriel seperti ia menyayangi putranya Lucia sendiri. Namun, tetap saja Azriel bukanlah putranya, ia adalah putra Abidzar dan juga Khanza.


Khanza yang mendengar pembahasan mereka di ruang kerja tadi menghampiri Farah di kamarnya.


"Mbak, boleh aku masuk?" ucap Khanza di ambang pintu, membuat Farah pun hanya mengangguk pelan. Khanza pun masuk dan menghampiri wanita yang pernah menjadi madunya itu, ia duduk di samping tempat tidur di mana Farah sedang menyusun pakaiannya, dimasukkan ke dalam koper. Besok pagi-pagi sekali ia akan langsung berangkat ke luar negeri.

__ADS_1


"Mbak, aku minta maaf. Mungkin menurut Mbak ini egois. Namun, percayalah kami juga tak punya pilihan lain, kami juga ingin Lucia menjadi menantu di keluarga kami, menjadi istri dari Azriel, tapi fakta jika Azriel mencintai wanita lain tak bisa kami abaikan, Mbak. Aku harap semua ini tak membuat hubungan kita jadi renggang," ucap Khanza dengan hati-hati agar tak memicu permasalahan di antara mereka berdua yang sudah mulai membaik.


"Khanza, dulu walau hatiku sangat hancur. Aku tetap merelakan Mlmas Abidzar untuk hidup bersamamu, aku pergi dari kehidupan kalian karena aku tahu mas Abidzar lebih mencintaimu daripada mencintaiku. Aku tahu dia akan bahagia jika bersama denganmu walau hatiku sangat sakit dan sekarang karena pengorbananku kamu telah memiliki keluarga yang bahagia, kamu telah memiliki Aisyah, dan Azriel. Kalian hidup bahagia bersama. Kamu tak tahu kan bagaimana rasanya aku berpisah dengan Azriel? Putra yang sudah aku anggap sebagai putraku sendiri."


Khanza hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Kamu tak tahu bagaimana rasanya, mencoba mengubur rasa cinta yang ada di hati kita karena kita merasa tak dicintai oleh pria yang kita cintai, kamu tak tahu rasanya kan? Tetapi aku tahu bagaimana rasanya! Rasanya sangat sakit dan aku tak ingin putriku merasakan hal yang sama seperti apa yang pernah aku rasakan."


Khanza tak tahu harus berkata apa pun, mungkin dia akan langsung mengiyakan bahkan mungkin akan sedikit memaksa agar Azriel membuka hati untuk Lucia, tapi fakta cinta di hati putranya hanya untuk Mentari tak bisa ia abaikan.


"Khanza, mas Abidzar sangat mencintaimu. Aku yakin jika kamu membujuknya untuk setuju dengan usulanku dia pasti setuju. Kita takkan memaksa, setidaknya beri waktu Lucia untuk memenangkan hatinya walau hanya satu tahun saja, jika dalam satu tahun Lucia tak bisa menghapus rasa cinta Azriel untuk Mentari aku yang akan memintanya untuk menjauhinya. Jangan biarkan ia menyerah dengan cintanya tanpa berusaha."


"Baiklah, Mbak. Aku akan coba membujuk mas Abidzar dan juga Azriel, tapi aku tak janji jika semuanya akan berjalan sesuai apa yang kita inginkan."


Mendengar itu Farah memegang tangan Khanza.


"Tentu saja, jika memang Azriel tak terima dan tak mau menjalin hubungan dengan Lucia setelah mencoba membuka hatinya. Aku sama sekali tak keberatan dia menikah dengan siapapun yang menurutnya baik untuknya."


"Iya, Mbak. Aku akan bicara pada Azriel untuk memintanya memberi waktu kepada Lucia," jawab Khanza. Mungkin memang tak ada salahnya mengizinkan Lucia untuk membuka hati putranya, benar apa yang dikatakan Farah saat di ruangan kerja Abidzar tadi, dulu Khanza juga tak mencintai Abidzar, bahkan dulu juga ia pernah membenci suaminya yang pernah membohonginya. Namun, karena waktu dan kebersamaan mereka cinta di hati mereka semakin besar.


"Terima kasih ya, aku lega mendengarnya. Lucia juga pasti senang kamu sudah setuju. Aku akan memberitahu kepada Lucia jika semua sudah sesuai dengan yang kita inginkan. Aku tak ingin membuat dia kecewa setelah memberinya harapan."


"Iya, Mbak. Itu lebih baik, aku akan bicara dulu pada mereka berdua. Jika mereka berdua sudah setujuz aku akan menghubungi Mbak."


"Iya, kuliahnya juga sudah beberapa bulan lagi. Lucia sudah memutuskan akan melanjutkan kuliahnya di negara ini, jika memang Azriel ingin memberinya kesempatan padanya," ucap Farah membuat Khanza pun hanya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2