
Setelah Azriel meminum obatnya, mereka pun dengan santai berbincang hingga Farah ada urusan, dia mendapat telepon dari teman lamanya yang ada di kota itu dan ingin bertemu dengannya.
"Khanza, aku ingin bertemu dengan seseorang, kami sudah lama tak bertemu kalian tak apa-apa kan aku tinggal di sini? Aku nggak lama kok, setelah bertemu dengannya aku langsung kembali."
"Iya, Mbak pergi saja. Nggak papa kok, lagian aku dan Lucia ada di sini, Azriel juga baik-baik saja," ucap Khanza melupakan perdebatan mereka semalam, bagi mereka semua itu sudah berlalu dan tak usah diungkit lagi, mereka sudah seperti saudara yang akan bertengkar dan akan melupakan setelahnya.
"Ya sudah, aku berangkat dulu ya," ucap Farah mengambil tas tangannya dan menghampiri Azriel dan berpamitan.
"Ingat, jika sore nanti aku belum kembali dan kalian sudah akan pulang hubungi aku ya, takutnya aku sudah sampai ke sini, kalian sudah nggak ada," ucap Farah lagi membuat Khanza dan Lucia yang ditatapnya pun hanya mengangguk.
20 menit setelah Farah pergi, Khanza mendapat pesan jika Aisyah cedera di sekolah saat melakukan olahraga.
"Azriel, adikmu katanya pingsan di sekolah, kamu nggak papa kan ibu tinggal?" ucap Khanza membuat Azriel pun juga hanya mengangguk.
"Nggak papa kok, Ibu urus Aisyah saja," jawab Azriel.
"Ya sudah, Lucia titip Azriel ya. Tante pergi dulu," ucap Khanza yang sudah berjalan menuju ke arah pintu, Lusia yang hanya fokus pada ponselnya mendengar itu pun hanya mengangguk dan melihat ibu dari Azriel itu sudah berjalan cepat keluar dari pintu ruangan tersebut.
Keduanya kembali diam, ada kecanggungan diantara keduanya saat mereka sudah tahu apa yang mereka rasakan jika Lucia menyukai Azriel.
"Lucia, bisa tolong berikan kuenya," ucap Azriel menunjuk kotak kue yang cukup jauh darinya.
"Oh iya," ucap Lucia yang langsung berjalan dan menghampiri kotak kue tersebut, ia memberikan kotak kue yang tadinya di atasnya nakas itu dipindahkan di atas tempat tidur, diletakkannya di samping Azriel.
Azriel membuka kotak tersebut, ternyata penampilannya memang berbeda dari kue kotak yang biasa dibelinya dari Mentari. Ia pun mulai mencicipi satu potong kue tersebut.
__ADS_1
"Hmm bener, rasanya memang enak," ucapnya kemudian kembali menggigit kue tersebut dengan cara menikmatinya. Lucia yang melihat hal itu menelan salivanya. Lucia juga mengakui jika kue itu sangat enak dan ia masih sangat ingin memakannya. Namun, mengingat jika kue itu adalah buatan Mentari, ia merasa gengsi untuk kembali memakannya.
Satu potong habis, Azriel kembali mengambil potongan lainnya.
"Bukankah kamu bilang kamu suka kue ini? Ayo makanlah." Azriel sedikit memajukan kotak itu ke arah Lucia, menyodorkan agar Lucia mencicipinya.
"Nggak, aku nggak suka kue murahan, aku nggak terbiasa makan kue yang harganya murah," jelas Lucia yang masih dengan nada menghina Mentari, padahal ia sudah janji kepada ibunya tak akan melakukan itu di depan Azriel.
"Kamu salah, ini harganya nggak murah kok, ini 250.000 sekotak. Ini kotaknya kecil, tapi harganya lumayan," ucap Azriel di mana dalam satu kotak itu hanya terdapat 10 potong kue saja. Abidzar sudah memakan satu potong, Lucia sudah memakan satu potong juga dan Azriel sendiri sudah mencicipinya dua potong, tersisa 6 potong lagi di sana.
"Tetap saja bagiku itu masih murahan," ucap Lucia kemudian ia ingin jalan kembali ke tempatnya. Namun, Azriel menghentikannya.
"Apa kamu menyukaiku?" tanya Azriel membuat langkah Lucia berhenti dan berbalik melihat ke arah Azriel, lama mereka terdiam dengan tatapan yang masih terus bertemu.
"Aku dengar dari ayah semalam jika kamu menyukaiku, menyukaiku sebagai seorang pria bukan sebagai seorang kakak. Apa itu benar?" tanya Azriel masih menatap pada Lucia yang masih berdiri di tempatnya.
"Terima kasih atas cintamu Lusia, tapi maaf. Aku tak bisa membalas cintamu. Aku mencintai wanita lain."
"Apa wanita lain itu Mentari?" tebak Lucia.
"Iya, kamu benar. Dia adalah Mentari, aku sangat mencintainya dan sama halnya denganmu, aku juga mencintainya sejak dulu. Namun, aku tak berani mengungkapkan perasaanku dan aku akan mengungkapkannya begitu aku sembuh nanti. Jadi, aku mohon hilangkan perasaan cinta itu untukmu untukku, karena itu adalah cinta yang salah, kita tak seharusnya saling mencintai karena kita ini adalah saudara, bagiku kamu adalah adikku sama seperti Aisyah."
"Adik? Tidak! Kita ini bukan saudara, kita tak ada hubungan apa-apa jadi sah-sah saja jika aku mencintaimu."
"Iya aku tahu, secara biologis kita tak memiliki hubungan apapun, tapi kita memiliki ibu yang sama, kamu menyebut ibu Farah sebagai ibumu dan aku juga menyebut ibu Farah sebagai ibuku, kita memiliki ibu yang sama ibu Farah. Apakah itu tak cukup untuk menegaskan jika kita ini bersaudara? Kamu adik perempuanku dan tak sepantasnya kamu menaruh rasa cinta di hatimu untukku."
__ADS_1
"Apakah aku salah jika aku mencintaimu? Aku tak bisa menahan diri, aku tak bisa memilih siapapun pria yang aku cintai karena hatiku memilih sendiri siapa pemiliknya."
"Tidak, Lucia. Hatimu adalah milikmu, kamu yang harus mengendalikannya dan sebelum semua terlambat kamu harus meminta hatimu untuk berhenti menyukaiku, berhenti mencintaiku karena cinta itu sampai kapanpun tak akan terbalas. Kamu takkan bahagia dengan cinta itu, tapi cinta itu akan menyakitimu."
"Aku tak peduli cinta itu menyakitiku atau membawa kebahagiaan untukku, tapi yang aku tahu aku mencintaimu dan ingin hidup bersamamu, lagian kenapa kamu tak bisa membalas cintaku kita tak ada hubungan persaudaraan yang tak memperbolehkan kita untuk bersama."
"Iya, aku tahu akan hal itu, tapi aku mencintai wanita lain, Lucia. Aku juga ingin bersama dengan wanita itu, maaf aku benar-benar tak bisa membalas cintamu. Jadi. mulai sekarang berhentilah berharap cinta itu terbalas, aku tak ingin menyakitimu."
"Kamu sudah menyakitiku!" bentak Lucia dengan mata berkaca-kaca, ia tak terima penolakan dari Azriel, ia mencintainya dan akan mencintainya selamanya, tak akan berusaha sedikitpun menghilangkan rasa cinta itu. Namun, ia akan semakin memupuknya.
"Tidak, Lucia. Sebentar lagi kita akan lulus kuliah dan aku berencana akan melamar Mentari untuk menjadi istriku. Jadi, jangan lakukan apapun yang bisa menyakiti dirimu sendiri, keputusanku sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat. Apapun alasannya."
Mendengar kata menikah dan istri, semua itu membuat Lucia sangat syok, tadinya ia berpikir jika mereka hanya akan menjalin hubungan sebatas pacaran saja sehingga ia masih bisa memiliki peluang untuk menghancurkan hubungan mereka dan menjadikan Azriel miliknya, Lucia menggeleng ia tak boleh membiarkan mereka menikah, ialah yang harus menikah dengan Azriel bukan Mentari.
"Tidak, Azriel. Jangan lakukan itu, kamu sudah tahu aku mencintaimu tak bisa kah kamu mencoba untuk mencintaiku juga? Aku mohon cobalah. Kamu takkan tahu jika kamu mencintaiku atau tidak, jika kamu tak mencoba membuka hatimu untukku, tak menutup kemungkinan aku akan lebih berarti bagimu daripada Mentari, kamu mungkin hanya sekedar kagum padanya, bukan rasa cinta."
"Tidak, Lucia. Perasaan ini sudah lama dan perasaan ini sudah aku rasakan sejak kami pertama bertemu, Mentari adalah cinta pertamaku dan cintaku sampai saat ini. Mantari yang akan menjadi pendampingku," tegas Azriel.
"Tidak, aku tidak setuju!" tolak Lucia dengan mata berkaca-kaca, ia terus menggeleng menegaskan jika ia sama sekali tak terima dengan apa keputusan yang telah dibuat Azriel.
"Setuju atau tidak aku sama sekali tak peduli, kalau kamu tak setuju aku akan tetap bersama dengan Mentari. Aku peringatkan padamu berhenti menyakiti dirimu sendiri dengan terus mempertahankan rasa itu, singkirkan rasa itu dari hatimu dan berikan cintamu pada pria lain."
"Kamu jahat! Kamu jahat! Kamu sangat jahat! Aku takkan membiarkan siapapun memiliki cintaku! Hanya kamu pemilik cintaku dan akan aku pastikan kamu bersamaku. Kamu setuju atau tidak kamu akan menjadi milikku, bukan Mentari!" teriak Lucia yang merasa kesal. Ia pun berbalik dan berlari dari kamar itu, Azriel memanggil Lucia. Namun, gadis itu sudah berlalu pergi dari sana dengan menangis.
Ada rasa bersalah di hati Azriel melihat kondisi Lucia. Semua itu terjadi hanya karena rasa cinta kepadanya. Namun, ia sadar itu lebih baik, lebih cepat menyakitinya lebih baik dibanding rasa cintanya semakin dalam untuknya, jika hal itu terjadi rasa sakitnya juga pasti akan semakin terasa.
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa Lucia menjauhi ruangan Azriel, ia berlari tanpa tujuan hingga saat di parkiran sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.