Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2 : bab 28


__ADS_3

"Apa yang kau katakan, ini sudah malam sebaiknya kita pulang ya?" Mentari berusaha agar mereka mengalihkan pembahasan itu ke pembahasan yang lain, ia belum siap untuk menjawab pertanyaan tersebut.


Tiba-tiba Azriel menarik tangan Mentari, menggenggam tangan yang terasa dingin karena sejak tadi memegang minuman dingin yang mereka minum.


"Mentari, aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak lama, tapi aku tak berani mengungkapkannya karena aku takut persahabatan kita akan terganggu. Namun, aku sadar dengan memendam perasaan ini bukanlah sesuatu yang baik untuk kita berdua terutama untukku, aku takut jika kamu akan menjadi milik orang lain yang mendahuluiku dan meninggalkanku." Azriel menatap dalam mata Mentari.


Mendengar itu Mentari terdiam, apakah karena melihat ia bersama dengan Dewa tadi membuat Azriel mengungkapkan perasaannya itu saat ini.


"Mentari, kamu mau kan menjadi kekasihku?" ucap Azriel yang lagi masih menggenggam erat tangan Mentari.


"Aku tak bisa menjawabnya sekarang, berikan aku waktu," ucap Mentari menarik tangannya dari genggaman Azriel, ia tak mau melihat ke arah mata Azriel, ia takut jika air matanya akan menetes. Di mana ia sudah tahu jawaban yang harus diberikannya yaitu tidak. Walau hatinya ingin mengatakan iya. Namun, jawaban yang harus diambilnya adalah tidak, karena kembali teringat perkataan Farah padanya beberapa waktu yang lalu. Mentari ingin memberi waktu pada pertemanan mereka, ia belum siap untuk membuat hubungan mereka renggang karena kata tidak yang akan diberikan pada Azriel.


"Jawab saja sekarang, cepat atau lambat jawabannya tetap sama. Mentari, kita sudah mengenal sejak lama, aku tahu pasti kamu sudah memiliki jawaban kan dan aku harap jawaban yang kamu pilih adalah iya, aku mohon katakan iya," ucap Azriel dengan senyum di wajahnya dan itu semakin membuat Mentari tak bisa menjawab pertanyaan tersebut, ia tak bisa mengatakan kata tidak untuk senyuman sahabatnya itu.


"Kita pulang sekarang ya, aku mohon beri aku waktu untuk menjawabnya." Mentari kembali menohon. Ia tak ingin mengambil keputusan ya g akan ia sesali.


"Apa jika aku memberi waktu kamu akan menjawab iya?" ucap Azriel yang sangat percaya jika Mentari akan menjawab iya untuk ungkapan cintanya.

__ADS_1


Mentari terdiam, ia berpikir apakah dengan menunda menjawab tidak itu hanya akan menambah rasa sakit yang akan diterima oleh Azriel? Apakah ia harus menjawab sekarang dan mengatakan tidak untuk pernyataan cinta dari pria yang sudah lama dikenalnya, pria yang sebenarnya sudah bertahta di hatinya itu juga sejak lama.


Tanpa Azriel ketahui selama ini Mentari juga menantikan ungkapan tersebut. Namun, ungkapan itu datang setelah ia mendapat peringatan dari ibu Lucia, menerima fakta jika Azriel sudah dijodohkan dengan gadis lain.


"Apa kamu akan menerima apapun jawabanku walau itu mungkin bukanlah jawaban yang kamu inginkan?"


Azriel terdiam, apakah Mentari akan menolak pernyataan cintanya.


"Apapun jawabanku, maukah kamu tak merubah pertemanan kita?" ucap Mentari lagi menatap mata Azriel yang juga menatap ke arahnya.


Azriel kembali tercekat. Entah mengapa mendengar kata-kata itu ia merasa cemas, akankah Mentari menolaknya.


"Azriel tunggu, aku rasa memang lebih baik aku menjawabnya malam ini juga agar tak membuatmu terlalu berharap padaku."


Deg.


Jantung Azriel terasa berhenti berdetak. Apa maksudnya tak ingin membuatnya terlalu berharap. Apakah itu tandanya tak ada harapan untuknya.

__ADS_1


"Mentari," ucap Azriel menatap dalam mata wanita yang dicintainya itu, ia bisa melihat mata Mentari yang juga berembun. Terlihat jelas butiran-butiran bening yang tergenang di pelupuk matanya. Apakah Mentari benar-benar akan menolaknya.


"Maaf, aku pikir kita tak bisa bersama. Maaf karena aku tak bisa membalas perasaanmu, maaf untuk kata tidak yang aku berikan untuk jawaban pertanyaanmu tadi," ucap Mentari kemudian ia pun memalingkan wajahnya karena saat ini setetes air mata sudah jatuh di pelupuk matanya.


Azriel langsung menggenggam tangan Mentari, ia tak percaya dengan kata tidak yang diucapkan Mentari.


"Mentari, aku mohon jawab dari hatimu. Apakah kamu memang menolakku? Apakah itu jawaban dari hatimu?" tanyanya.


Mentari hanya mengangguk, ia tak bisa lagi menjawab pertanyaan dari Azriel, tenggorokannya terasa tercegah karena menahan isakannya.


"Tidak, itu bukan kata hatimu. Apa aku boleh tahu apa alasan kamu mengatakan tidak?" tanya Azriel lagi membuat Mentari hanya menggeleng.


"Aku ingin pulang, aku mohon antar aku pulang," ucap Mentari membuat Azriel hanya menghela napas frustasinya, kemudian ia pun kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke kediaman Mentari.


Keduanya kembali terdiam, Azriel tak percaya apakah ini adalah sebuah penolakan, apakah Mentari memang tak pernah mencintainya.


Apakah dugaannya salah jika Mentari juga menyimpan perasaan untuknya selama ini.

__ADS_1


Begitu mereka sampai di kediaman Mentari, Mentari langsung turun dan berlari ke kediamannya tanpa menoleh ke arah mobil Azriel yang masih terparkir di depan gangnya, karena mobil tak bisa masuk di lorong tersebut, Mentari sedikit berlari agar cepat sampai ke kediamannya sementara Azriel hanya menatap Mentari dari tempatnya, ada perasaan sakit terasa di hatinya. Entah mengapa walau mendengar kata tidak dari Mentari hatinya mengatakan jika itu bukanlah jawaban yang ingin Mentari jawab atas pernyataannya. Azriel merasa Mentari menyembunyikan sesuatu darinya, mengapa ia mengatakan tidak. Namun, ia tak berani menatap matanya dan ia bisa melihat ada kesedihan di wajah wanita cantik yang selama ini menghiasi hatinya.


"Mentari, aku takkan menyerah. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan jujur pada hatimu sendiri, kamu akan mengatakan iya untuk cintaku," gumamnya kemudian melajukan mobilnya kembali ke kediamannya. Ia akan membuat Mentari tenang dahulu dan akan menanyakan apa yang membuat ia menolaknya.


__ADS_2