
Abizar sejak tadi mendengar semua pembicaraan mereka, mendengar semua apa yang di katakan Farah pada mamanya. Tadinya ia ingin mengambil berkas di Kamar Farah. Namun, ia menghetikan langkahnya saat mendengar kegaduhan.
Santi gelagapan saat menyadari perbuatannya pada Khanza dilihat oleh Abizar.
Santi melepas cengkramannya dan sedikit menjauh dari Khanza. Mencoba berlagak jika tak terjadi apa-apa. Berharap menantu itu tak mengetahui perbuatannya.
"Apa yang akan Mama lakukan pada Khanza? Sebenarnya apa yang telah Khanza lakukan sehingga membuat Mama Semarah itu padanya. Jika Mama ingin marah, lebih baik Mama marah pada aku, akulah yang bersalah dalam hal ini," ucap Abizar lembut, tapi mata tajamnya terus tertuju pada Santi membuat nyali Santi langsung menciut.
"Tak ada, Mama tidak berkata apa-apa. Mama hanya memberi tahunya agar ia memahami jika Farah juga adalah istrimu. Abizar, cobalah untuk adil pada mereka berdua, jangan hanya mementingkan Khanza, Farah juga istri mu 'kan," ucap Santi mengalihkan pembicaraan.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan, jadi tolong Mama jangan ikut campur, aku bisa mengurus mereka, mengurus rumah tangga ku. Aku masih menghormati Mama sebagai mertuaku, jadi tolong jangan lewati batasan Mama dan jangan pernah menyakiti Khanza lagi," ucap Abizar melihat lengan Khanza yang memerah.
Santi bisa melihat kemarahan yang tertahan di wajah menantunya itu, ia dengan cepat pergi dari sana tak ingin jika Abizar semakin marah padanya.
"Kamu tak apa-apa?" Tanya Abizar setelah Santi menjauh melihat lengan Khanza yang memerah karna cengkraman tadi.
"Nggak kok, aku mau kekamar," ucap Khanza berbalik dan berjalan meninggalkan Abizar yang hanya mematung.
"Sebaiknya kamu istirahat di kamar, aku masih banyak pekerjaan yang harus aku bereskan," ucap Abizar.
Khanza menghentikan langkahnya,
"Malam ini kakak tidur di kamar mbak Farah saja," ucap Khanza tanpa melihat Abizar dan langsung pergi tanpa menunggu jawabannya.
Abizar hanya melihat punggung Khanza yang semakin menjauh, menaiki anak tangga menuju ke kamar nya dan menghilang di balik pintu.
Ia tak tau harus apa, apakah Khanza marah atau ia memang mengizinkannya bersama Farah malam ini. Sebaiknya memang malam ini ia tidur di kamar Farah. Ia harus mulai bersikap adil kepada keduanya. pikir Abizar.
Setelah melihat Khanza masuk ke kamarnya, Abizar baru kembali ke tempat kerja.
Tadinya ia akan ke kamar Farah setelah pekerjaanya selesai, tapi ternyata pekerjaan kantor yang menumpuk tak kunjung selesai.
Malam ini Abizar tak tidur di kamar Khanza, maupun dikamar Farah. Ia sedang berkutat dengan tumpukan berkas yang harus ia periksa dan selesai malam ini juga. Di tambah ia harus memimpin rapat siang besok dan mempelajari meteri rapatnya. Tak ke kantor selama 2 bulan membuatnya banyak kehilangan Klien penting, Abizar harus berusaha mendapatkan mereka kembali dalam rapat besok.
Farah terbangun dan ingin menambah air di gelasnya, samar ia melihat lampu ruang kerja Abizar yang masih menyala,
"Apa mas Abi masih di ruang kerjanya, ya," batin nya. Farah berjalan menghampiri ruang kerja Abizar dan ternyata dugaannya memang benar, suaminya masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Mas, mas masih bekerja?" Tanya Farah sesaat setelah membuka pintu dan melihat Suaminya itu masih bekerja.
"Hmm, aku harus menyelesaikan semua ini." Menunjuk tumpukan berkas di depannya.
Farah yang memang bisa membantu pekerjaan Abizar akhirnya ikut membantunya.
"Ini sudah larut, sebaik kamu istirahat."
"Nggak apa-apa kok, Mas. Aku udah nggak ngantuk lagi," jawab Farah.
__ADS_1
Mereka akhirnya bekerja hingga pukul 3 pagi.
"Akhirnya selesai juga," gumam Farah merenggangkan otot nya.
"Semua berkat bantuan mu," ucap Abizar mengedipkan mata pada istri pertamanya itu.
Farah hanya tersenyum menanggapi godaan suaminya itu.
Farah kembali membereskan apa yang telah mereka kerjakan.
"Mas juga istirahat, jangan terlalu dipaksakan," ucap Farah memijat bahu Abizar.
"Makasih atas semuanya," ucap Abizar menarik tangan di Farah dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Aku sangat merindukanmu, Mas," ucap Farah menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
Malam ini Abizar akhirnya tidur bersama Farah, ia juga sangat merindukan sosok wanita yang sudah menemaninya bertahun-tahun itu.
Pagi hari, Abizar masuk ke kamar Khanza, tapi Khanza sudah tak ada di kamarnya.
"Kemana dia sepagi ini," batin Abizar mencari setiap ruangan di kamar itu.
Karena tak menemukan nya, Abizar keluar dan mencoba mencari di luar. Namun, Khanza juga tak ada, Abizar bahkan ke taman belakang dan menanyakan pada semua asisten rumah tangga berharap Khanza ada disana.
Abizar kembali ke kamar Farah, ia melihat istrinya itu masih terlelap.
Abizar mencoba menelpon nomor Khanza, sambil menajamkan pendengarannya saat mendengar samar deringan ponsel milik istri mudanya itu.
Abizar memicingkan matanya saat menangkap suara dering tersebut berasal dari salah satu kamar. Abizar perlahan mendekati pintu dan membukanya.
"Khanza," lirihnya saat melihat istrinya itu lagi-lagi tidur di sofa yang ada di kamar itu.
Perlahan Abizar memindahkan Khanza ke tempat tidur, dan melihat isi kamar itu.
Kamar itu adalah kamar untuk bayi mereka yang telah disiapkan oleh Farah.
"Kak," lirih Khanza dengan suara seraknya.
Mendengar panggilan Khanza Abizar langsung menghampiri nya.
"Kamu sudah bangun?" Mengusap rambut Khanza, ia bisa melihat mata sembab Khanza.
Semalam Khanza tak bisa tidur, ia tak bisa menahan rasa sakit hatinya mengetahui suaminya bersama dengan istrinya yang lain.
walau sudah mencoba ikhlas, Namun, tetap saja sakit.
Khanza mengingat jika Farah pernah mengatakan tentang kamar bayi, ia pun memutuskan untuk ke kamar yang di maksud madunya itu.
__ADS_1
Khanza semalaman menghabiskan waktu dengan menata ulang ruangan itu, rasa sakitnya berganti dengan rasa bahagia saat membayangkan bayinya akan tidur di kamar itu.
Hingga ia bisa melupakan kesedihannya, dan tanpa sadar tertidur di sofa.
Khanza memandang lekat mata Abizar yang juga menatap, "Aku membencimu, Kak." Berbarengan dengan butiran air mata yang menetes dari pelupuk mata indahnya. Mengatakannya tanpa mengubah posisinya.
Abizar tau apa yang membuat istrinya itu mengatakan hal itu padanya.Ia tak bisa berbuat apa-apa, itulah yang harus mereka lalui.
Kenyataan yang menyakitkan. Namun, harus dilaluinya.
Abizar tanpa menjawab ikut masuk kedalam selimut dan membawa Khanza kepelukannya, tak ada pembicaraan di antara mereka, mereka hanya diam dan menikmati pelukan masing-masing.
Khanza bisa merasakan detak jantung suaminya yang pelukannya semakin erat, mengecup berulang-ulang puncak kepalanya.
"Kak?" tanyanya tanpa melihat Abizar.
"Hmm."
"Seperti apa sifat mbak Farah?" Tanya Khanza mempererat pelukannya.
"Kenapa kamu menanyakannya?" Memainkan rambut Khanza.
"Kenapa dia sangat baik padaku?"
"Dia memang wanita yang baik," jawab Abizar yang kini mengusap-usap perut Khanza, sedari tadi ia bisa meresakan tendangan kecil dari bayinya.
"Aku juga baik, tapi aku masih belum bisa menerima kenyataan jika aku harus berbagi cinta dan tubuh kakak padanya."
"Jangan memikirkan tentang berbagi dengan nya, itu hanya akan menyakitimu. Aku akan coba berbuat adil pada kalian."
"Aku tak memikirkan nya, pikir itu datang sendiri ke kepadaku," ucap Khanza mendongak menatap wajah tampan suaminya.
Abizar tertawa melihat ekspresi wajah kesal, tapi menggemaskan menurut nya.
"Kita pasti bisa melewati ini semua, semua akan terbiasa seiring berjalannya waktu."
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
salam dariku Author m anha❤️
Love you all 💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1