Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Hati Yang Tersakiti.


__ADS_3

Semua sedang asyik bermain dengan bayi kecil yang baru dilahirkan Khanza. Aziel sangat senang bisa bersama adiknya, ia bercerita banyak pada neneknya apa yang dilakukan nya sebelum mereka datang.


Aziel juga protes pada Neneknya, mengapa tak membelikan adiknya mainan seperti miliknya.


"Iya, Nenek lupa, nanti kita beli sama-sama ya, kita bawa Ade juga pilih mainannya," ucap Warda.


"Iya, Nek. kita beli mainan yang banyak untuk Adek Ziel," ucap Ziel yang sedari tadi berbicara sambil sesekali mencium pipi adiknya yang berada di pangkuan Warda.


Khanza hanya melihat bagaimana anaknya itu berceloteh dengan lucunya.


kelucuan Aziel mampu membuat hatinya selalu tentang.


Bersyukur, itulah Khanza lakukan untuk menenangkan hatinya.


Farah merasa ada yang aneh, mengapa Abizar tidak masuk dan menemui bayinya, mereka sudah hampir setengah hari di sana. Namun, Abizar tetap duduk di luar.


Farah menghampiri Abizar yang sedang berbincang dengan Damar dan kakek.


Melihat Farah keluar kakek pamit dan juga ingin melihat cicitnya.


Damar juga meminta permisi ia akan pulang dan membersihkan badannya, sejak kemarin dia belum pernah pulang ke rumah.


"Mas ada apa? kenapa kau tak menemui Khanza dan bayi mu?" tanya Farah.


menggenggam tangan suaminya, Farah bisa melihat kesedihan di mata Abizar.


Khanza tak ingin bertemu denganku. Aku tak bisa memaksanya," ucap Abizar menunduk.


"Apa maksud kamu Mas, selama ini kau mencarinya, sekarang Khanza sudah ada di sini, Mas bisa menjelaskan permasalahannya, aku yakin Khanza pasti mengerti."

__ADS_1


"Aku merasa bersalah dan malu padanya, jangankan memintanya untuk tetap bersama kita, meminta maaf saja aku sudah sangat malu padanya."


"Mas jangan bilang Mas akan menyetujui perceraian yang diajukan Daniel, Mas ingin berpisah Khanza dengan Khanza?"


"Tentu saja aku takkan menyetujui perceraian itu, aku takkan pernah melepaskan khanza sampai kapanpun, tapi jika ia memang tak ingin bertemu denganku, aku akan menghormati keputusannya," ucapnya.


"Maksud Mas apa? Sekarang apa yang akan Mas lakukan, apa Mas akan membiarkan situasinya seperti ini!"


"Aku harus apa, Khanza saja tak mau bertemu denganku.


Aku sudah berjanji pada kakek, jika aku menyakiti perasaan Khanza aku takkan keberatan jika kakek membawakan. Mungkin inilah jalan yang terbaik, aku sudah bicara pada kakek, dan kakek ingin membawa Khanza pulang,"


"Itu berarti Mas akan berpisah dengan Aziel dan Adiknya? Bayi yang baru Mas lihat, apa Mas sanggup?"


"Kau tahu betapa aku ingin gila saat mencari mereka, saat berpisah dari mereka. Kamu pasti tahu bagaimana perasaanku saat ini pada mereka, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa aku tak mungkin menolak permintaan kakek yang akan semakin menambah jarak diantara keluarga kita, Kakek merupakan orang tua Khanza dan kakek juga punya hak atas Khanza. Apalagi dalam situasi ini. Aku tak bisa berbuat apa-apa!"


"Apa tidak ada jalan lain Mas, kita bisa membicarakan baik-baik dengan khanza. Dia masih bisa tinggal di rumahnya."


Farah tak berbicara apa-apa lagi, ia langsung beranjak dari duduknya dan kembali masuk ke dalam ruangan Khanza.


Abizar hanya melihat punggung istri pertamanya itu yang berjalan masuk ke dalam ruangan perawatan Khanza.


Farah menghampiri khanza yang masih terbaring lemah, luka bekas operasi masih terasa perih, ia masih belum berani untuk terlalu banyak bergerak.


Farah duduk di samping Khanza memegang tangan madunya itu.


"Khanza Mbak mohon maafkanlah mas Abi dia benar-benar tak bermaksud menyakitimu, kalian sangat berharga baginya. Mbak mohon tetaplah di sisi-nya," pinta Farah.


"Mbak, keputusanku sudah bulat. Aku akan kembali ke kampung bersama anak-anakku, aku benar-benar sudah tak sanggup hidup dengan kalian. Aku hanya ingin hidup tenang dengan anak-anakku Mbak, aku mohon sudah cukup Mbak, semua yang aku alami itu sangat menyakitkan, Kalian masih bisa menjenguk mereka kapanpun, aku tak akan melarangnya, tapi tidak untuk membawanya."

__ADS_1


"Khanza Mbak mohon kau adalah sumber kehabisan bagi mas Abi, jika kau meninggalkannya Mbak yakin dia akan benar-benar hancur," ucap Fatah.


"Aku yakin Mbak, kak Abi akan baik-baik saja, walau tanpa kami. Lagian kan ada Mbak yang akan menjaga kak Abi seperti yang selama ini Mbak lakukan, ia suami Mbak juga 'kan," ucapkan.


"Khanza Mbak mohon, jika perlu Mbak akan pergi dari kalian, tetaplah berada di samping mas Abi, biar Mbak yang pergi jika memang kau tak ingin bersama dengan mas Abi Karena kehadiran Mbak diantara kalian."


Khanza melepas genggaman tangan Farah.


"Semua tak semudah itu Mbak, aku tahu Mas Abi juga sangat mencintai Mbak. Semua ini bukan masalah kita sama-sama menjadi bagian dari kak Abi, aku hanya merasa lelah dengan semua ini aku ingin mengakhiri semua ini. Aku yakin tanpa Aku pun kak Abi bisa bahagia bersama dengan Mbak sama sebelum aku hadir di antara kalian. Bukan Mbah yang ada di antara kami, tapi akulah yang ada di antara kalian dan akulah yang harus pergi. Anggap saja aku ini yang hanya singgah, dan sekarang harus pergi, maaf jika kehadiranku mengacaukan kebahagiaan kalian. Aku memilih bercerai dengan kak Abi, biarlah kak abi menjadi suami Mbak satu-satunya takkan lagi ada aku Yang mengganggu kebahagiaan kalian," ucap Khanza, setetes air mata menetes saat mengatakan semua itu.


"Khanza jangan seperti ini, kita masih bisa memperbaiki ini dari awal. Apa kamu nggak kasihan sama anak-anak kamu sama Aziel dan bayimu mereka Pasti sangat membutuhkan papanya."


"Selama ini kami sudah bisa bahagia tanpa kehadiran kak Abi Mbak, seiring berjalannya waktu aku yakin kami akan bisa menyesuaikan diri dan bisa mengerti jika mama dan Papanya tidak bisa bersama dan bayiku dia masih terlalu kecil untuk mengenal Papanya."


"Apakah putusan kamu benar-benar sudah bulat, coba pikirkan sekali lagi bicaralah pada mas Abi," ucap Farah memohon. "Temuilah dia, izinkan mas Abi menjelaskan semuanya."


"Aku nggak mau menemui kak Abi, aku takut hatiku tak akan luluh, aku masih sangat mencintai kak Abi aku sangat menginginkan kita bisa bersama tapi semua sudah cukup Aku benar-benar sudah lelah," batin khanza memilih untuk diam.


Mereka hanya saling diam Farah sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk khanza.


Abizar bersandar di tembok rumah sakit membentur-benturkan, kepalanya saat mendengar ucapan Khanza, Farah sengaja menyambungkan teleponnya kepada Abizar agar bisa mendengarkan jawaban khanza. Namun, sepertinya keputusannya salah, bukannya memperbaiki keadaan tindakannya justru semakin membuat Abizar merasa bersalah atas apa yang selama ini dilakukannya.


"Baiklah kalau memang kau ingin berpisah denganku," gumam Abizar beranjak dari duduknya dan pergi dari sana.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2