Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Cinta Dalam Diam.


__ADS_3

Abizar terus mencoba memberi pengertian kepada Aziel jika ia dan Mamanya sudah tak bisa bersama lagi. Mencoba menjelaskan jika mamanya merasa tak bahagia apabila disampingnya. Abizar terus mencoba menjelaskan perlahan-lahan hingga anaknya itu mengerti mengapa mereka selama ini tak bisa bersatu lagi, mereka tinggal dirumah yang berbeda. Menjelaskan arti kata bercerai dengan kata-kata yang bisa Aziel pahami.


Satu pesan masuk di ponsel Abizar dan melihat itu adalah pesan chat dari Khanza yang menanyakan keadaan Aziel.


Abizar membalas jika mereka sedang makan es krim dan Aziel baik-baik saja ia akan membawa Aziel bersamanya beberapa hari kedepan.


Khanza membalas dengan kata 'Oke' sebagai jawaban dari pesan Abizar.


Di gedung tempat berlangsungnya acara pernikahan Aqila.


Semua merasa panik saat melihat sikap penolakan Aziel terutama Dr Dewi, ia merasa bersalah karena mengatakan itu pada Aziel. Melihat kedekatan Damar dan Aziel membuat Dokter Dewi beranggapan jika Aziel pasti tak keberatan jika mamanya menikah dengan Damar.


"Maaf ya Khanza, Tante benar-benar gak bermaksud untuk menyakiti hati Aziel," ucap Dokter Dewi.


"Nggak apa-apa kok Tante, kata kak Abi Aziel sudah lebih tenang sekarang."


"Mah, Aziel itu masih kecil, di usianya sekarang ia sudah mulai meraba-raba pengetahuan luar, sudah banyak yang ia dapatkan dari teman sekolahnya, dan bisa mendapat informasi dari teman-temannya. Ia bisa membandingkan apa yang ia milikinya dan temannya. kita harus lebih berhati-hati mengambil hatinya, dia sangat sayang Papanya. Mama lihat sendiri 'kan tadi Aziel sangat berharap papa dan mamanya bus bersama seperti kebanyakan temannya."


"Iya belum siap jika mendapat kenyataan akan ada yang menggantikan posisi Papanya. Mama sabar dulu, Aku masih berusaha mengambil hatinya." Damar mencoba menjelaskan keadaan mereka saat ini.


"Maaf, Mama tak bermaksud. Mama hanya ingin kalian cepat menikah, Mama sampai lupa jika ada Aziel yang harus kita jaga perasaannya jaga psikisnya.


"Ga apa-apa, Mah. Damar akan coba mendekatinya lagi."


Acara pun selesai mereka kembali ke rumah masing-masing sedangkan Aqila sudah bersama dengan Daniel.


Sepanjang malam Khanza tak bisa tidur, ia terus memikirkan putranya.


Khanza mengambil ponselnya mencari nomor Abizar. Ia ingin menekan tombol panggil, tapi tangannya tiba-tiba terasa kaku dan terhenti.


"Kenapa aku harus takut menekan tombolnya, Aku mau nelpon hanya untuk menanyakan keadaan Aziel, nggak ada salahnya 'kan," ucapnya kembali mengambil ponselnya yang sudah diletakkannya di atas tempat tidur, ia berjalan ke balkon kamarnya dan kembali mencoba mencari nomor ponsel Abizar.


Belum juga ia menekan tombol panggil tersebut jantungnya sudah berdebar kencang, tangannya bahkan terasa dingin dan ia kembali mengurungkan niatnya dan menyimpan ponselnya itu diatas meja dan duduk bersandar sambil terus memperhatikan ponselnya, berharap ponselnya itu berdering dan Abizar memanggilnya lebih dulu.


Tak lama kemudian ponselnya benar-benar berdering, dengan cepat Khanza menyambar ponselnya dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


Senyumannya menghilang saat nama yang tertera di layar adalah Damar.


"Kau belum tidur?" tanya Damar saat Khanza mengangkat panggilannya.


"Bagaimana aku mau tidur, aku sangat khawatir dengan Aziel."


"Kamu tak usah khawatir, Abizar pasti tahu apa yang harus dilakukannya. Cepat atau lambat Aziel harus diberitahu kalau kalian tak bisa bersama lagi, aku akan coba bicara dengan Aziel secara langsung dan meminta persetujuan darinya untuk melanjutkan hubungan kita. Aku rasa Aziel Sudah cukup besar yang dapat menangkap apa yang akan kita beritahukan padanya."


"Aku serahkan masalah itu padamu, aku benar-benar tak bisa membahas masalah itu dengan Aziel."


"Hmmm,,, Saat dia kembali aku akan mencoba berbicara pada."


"Aku harap Ini tak mengganggu putraku,"


"Aku akan mencoba menjelaskan tanpa melukai perasaan. Tidur lah, ini sudah larut malam. Abizar pasti menjaganya dengan sangat baik,"


Karena saran dari kakek dan neneknya akhirnya Khanza setuju untuk menerima lamaran Damar.


Mereka hanya menunggu persetujuan dari Aziel. Jika Aziel mengatakan ia untuk pernikahan mereka maka mereka akan menikah.


"Damar sudah dulu ya, kak Abi menelpon," ucapnya kemudian mematikan panggilan Damar dan mengangkat panggilan dari Abizar.


"Halo Kak, Aziel gimana?" tanya Khazan begitu panggilannya tersambung dengan mantan suaminya itu.


"Aziel sudah tidur. Aku baru saja menidurkannya dia hanya sedikit syok dengan apa yang didengarnya dari Dokter Dewi, tapi tenang saja aku sudah menjelaskannya kondisi kita dan dia sudah sedikit menerima kenyataan.


"Syukurlah kalau Aziel baik-baik saja, aku sangat cemas jika terjadi sesuatu pada anak Kita."


Abizar tersenyum saat Khanza mengucap kata Anak kita. Ia seakan merasa jika mereka masih bersama.


"Bagaimana dengan kamu sendiri? Apakah kau sudah menerima Damar?"


"Aku akan mencoba demi anak-anak," jawab Khanza dan langsung membekap mulutnya ia tak ingin Abizar mendengar suara bergetarnya saat menjawab pertanyaan itu.


"Damar pria yang baik, dia pasti bisa menjaga anak-anak dan bisa membahagiakanmu lebih dari apa yang aku lakukan," ucap Abizar, setetes butiran air mata jatuh saat mengatakan kata-kata itu.

__ADS_1


"Sudah ya, aku matikan teleponnya. Selamat istirahat," ucap Abizar mengakhiri panggilannya, ia tak sanggup berbicara banyak dengan Khanza, semakin mendengar suaranya semakin rasa sakit di hatinya mulai menyerangnya.


Khanza memeluk ponselnya, ia masih ragu dengan pernikahannya dan Damar.


Namun berkat dukungan keluarga kedua akhirnya ia memberanikan diri mencoba untuk meyakinkan hatinya jika itu adalah pilihan yang terbaik untuk mereka semua khususnya untuk hatinya.


Sekarang Aziel sudah tahu mengenai hubungan mamanya dan juga Damar serta hubungan mamanya dan papanya.


Ia Sudah mulai mengerti jika papa dan mamanya telah bercerai.


Aziel menginap dirumah lama selama satu minggu, di setiap kesempatan Abizar dan juga Warda selalu menjelaskan jika semua akan baik-baik saja walaupun Papa dan Mamanya tak menikah lagi, mereka akan tetap ada untuknya dan adiknya.


Abizar dan Warda sudah tahu jika Khanza sudah menerima lamaran Damar dan hanya tinggal menunggu sampai Aziel siap dengan pernikahan kedua mamanya.


Damar yang tahu bagaimana cara menghadapi masalah tersebut terus berusaha untuk mengambil hati Aziel.


Terkadang Damar membuat janji dengan Abizar untuk jalan bersama, menghabiskan waktu bertiga dengan Aziel untuk mengakrabkan mereka bertiga. Damar bertujuan agar Aziel yakin jika antara dia dan Papanya semua baik-baik saja mereka berdua akan menjaganya dan juga adiknya.


Usaha mereka berhasil, Aziel mengatakan jika ia setuju jika Mamanya menikah dengan Damar.


Aziel mengatakan semua tanpa beban sedikitpun, ia bahkan mereka senang karena ia akan memiliki dua orang papa yang akan menjaganya dan adiknya.


Semua merasa bahagia, keluarga Khanza di kampung juga ikut bahagia mendengar kabar bahagia itu. Mereka sudah mengenal Damar sejak masih kecil dan mereka yakin bahwa Damar pria yang baik dan akan membahagiakan Khanza.


Begitu juga dengan keluarga Damar mereka juga sudah mengenalkan Khanza dari kecil bahkan Ibu Khanza dan ibu Damar pernah menjodohkan mereka sewaktu mereka masih kecil dan yang paling bahagia dengan pernikahan itu adalah kakek dan nenek Khanza, ia tahu bagaimana penderitaan cucunya dan berharap semua akan berakhir bahagia saat mereka menikah Nanti.


Kakek dan nenek sangat khawatir jika Khanza terus memutuskan untuk sendiri dan tak ada yang menjaganya. Usia mereka sudah semakin tua. Kakek dan nenek takut jika mereka menghadap sang pencipta dan meninggalkan cucunya itu tanpa ada yang menjaga.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 💖


Salam dariku Author M Anha 🥰🥰


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2