
Azriel dengan semangat membuka bingkisan tersebut dan melihat kue yang sangat cantik di sana, ia pun dengan cepat mencicipinya.
"Rasanya benar-benar enak, ini bahkan lebih enak dari kue spesial buatan Mentari sebelumnya, "Mengapa dia tidak menjual resep ini juga, ini pasti lebih laris lagi," gumam Azriel sambil kembali mengambil potongan lain kue tersebut, rasanya benar-benar enak di mulutnya, lembut dan juga rasanya sangat pas.
"Terima kasih ya kuenya, sangat enak. Oh ya mengapa kamu tak menjualnya juga, ini rasanya benar-benar enak. Aku yakin peminatnya akan lebih banyak lagi," ucap Azriel dalam pesannya karena sejak tadi ia menghubungi Mentari. Namun, Mentari tak menjawab panggilannya.
Setelah 15 Mentari yang baru memeriksa ponselnya melihat pesan yang dikirim oleh Azriel, ia pun melakukan panggilan pada temannya itu, teman yang memiliki tempat tersendiri di hatinya.
"Halo. Maaf ya aku sibuk dan baru melihat pesanmu."
"Iya, ga papa. Rasanya sangat enak. Ini aku masih memakannya. Kenapa ga ada di daftar jualanmu?"
__ADS_1
"Nggak bisa, jika dijual harganya mungkin bisa di atas 500.000, modalnya terlalu banyak sampai 400.000. Aku nggak berani."
"Aku yakin kamu pasti bisa, coba saja. Sama halnya dengan kue spesial dulu kamu juga tak berani kan?"
"Iya, suatu saat nanti aku akan mencobanya. Namun, untuk saat ini aku hanya akan mengembangkan kue spesial dulu, begitu sudah banyak orang yang percaya dengan pelayanan kami pasti aku akan coba. Akan semakin banyak pelanggan barulah, mungkin aku akan berani mencoba membuat resep-resep kue lainnya yang lebih enak, ya tentu saja dengan harga yang juga lebih mahal."
"Apapun rencanamu aku selalu mendukungmu. Oh ya, aku bukan bermaksud menghinamu. Jika kamu membutuhkan modal kamu bilang saja ya padaku, walau nggak banyak aku sudah memiliki beberapa tabungan kok dan itu uangku sendiri aku tak masalah jika kamu ingin memakai ini dulu dan bisa menggantinya kapan-kapan saja."
"Wah, benarkah? Terima kasih banyak ya, nanti jika aku membutuhkannya aku pasti akan menghubungimu. Namun, untuk saat ini aku masih ada kok."
"Kamu ini bicara apa sih, kamu sudah sangat banyak membantuku, tapi jika kamu ingin lebih berusaha lagi tentu saja aku terima, tapi tetap saja kesehatanmu yang paling utama untuk saat ini. Jadi, jangan dipaksakan ya."
__ADS_1
"Tentu saja aku harus sehat agar bisa merebut hatimu dan menjadikan hatimu itu milikku," ucap Azriel membuat Mentari di seberang sana pun tersenyum mendengar kata-kata tersebut, semakin hari Azriel semakin menunjukkan jika ia mencintainya, walau Azriel tak mengatakannya ia sudah tahu dari Farah dan ia juga bisa merasakan perhatian-perhatian Azriel selama ini padanya.
Namun, ia tak berani memberikan tanggapan dan tak berani memberikan harapan pada hatinya. Ia tau jika Azriel milik Lucia. Ia yang sudah tahu akan perasaan Azriel mencoba untuk tak begitu merespon perasaan tersebut dan sebisa mungkin ia terus ingin berada di situasi jika mereka hanyalah sahabat saja.
"Sudah dulu ya, aku sedang mengantar pesanan."
"Hmm ... Hati-hati di jalan." Sambungan terputus.
Satu tangan Azriel terus saja mengambil kue tersebut dan satu tangan lainnya mengambil kertas yang terselip di samping kue itu, ia tersenyum saat membaca kata-kata ucapan terima kasih yang ditulis oleh Mentari, ia tahu jelas jika itu adalah tulisan Mentari. Namun, senyumnya langsung menghilang saat melihat nama Dewa disana.
"Siapa Dewa?" tanya Azriel, ia pun mengambil gambar ucapan tersebut dan mengirimnya kepada Mentari.
__ADS_1
"Mentari, kue ini untukku atau untuk orang yang bernama Dewa? Kamu nggak salah kirimkan?" tanya Azriel dalam pesannya.
"Siapa Dewa?"