Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Buatlah dia bahagia.


__ADS_3

Malam hari di saat semua sedang berkumpul ada kakek, nenek, Khanza dan juga anak-anak. Aqila menghampiri mereka dan duduk di samping Khanza.


"Kakek, nenek, Khanza aku ingin bicara," ucap Aqila terlihat serius.


"Aqila, kalau mau bicara, bicara saja! Sejak kapan kamu harus minta izin?" ucap Khanza yang sedang bermain dengan Aisyah.


"Aku serius," ucap Aqila.


"Yang bilang kamu bercanda itu siapa? emangnya ada di rumah ini yang melarang kamu bicara? Apa Aisyah yang larang tante Aqila bicara?" tanya Khanza pada putrinya.


Aisyah yang ditanya mengangguk membuat mereka semua tertawa dan dia pun ikut tertawa.


"Ayo sini dekat Kakek!" ucap kakek memanggil Aqila untuk duduk di dekatnya.


Aqila sudah lama bersama dengan mereka kakek dan nenek sudah menganggap Aqila juga sebagai cucunya sama seperti Khanza.


Aqila jarang pulang ke desanya ia lebih banyak menghabiskan waktu di kota bersama dengan Khanza. Ia juga berasal dari keluarga sederhana dan hanya mengirimkan uang kepada keluarganya setiap bulannya.


"Iya memang ke kota untuk menjadi tulang punggung keluarganya, Aqila sangat beruntung bertemu dengan Khanza begitupun sebaliknya. Khanza sangat beruntung bisa bertemu dengan Aqila, mereka sahabat, tapi lebih dari sekedar saudara.


"Kamu ingin bicara apa? Biar kakek yang dengarkan."


Aqila memainkan bantal sofa yang ada di pangkuannya, Ia terus memutar pernak-pernik yang menempel di sana, Aqila ingin berbicara. Namun, entah mengapa ia terasa sulit untuk mengeluarkannya.


Semua menunggu apa yang akan Aqila ucapkan. Namun, mereka tak mendengar apa-apa. Aqila hanya bergumam tak jelas.


"Aqila, Kamu sebenarnya mau ngomong apa sih? Bicara aja ngapain juga kamu malu Sama kami. Apa kamu malu sama Aisyah?" tanya Khanza lagi pada Aisyah membuat Aisyah kali ini tertawa terpingkal-pingkal.


"Daniel ngelamar aku," ucap tertunduk malu.


"Alhamdulillah, Kakek senang mendengarnya, Daniel pria yang baik dia memang cocok untukmu," ucap kakek.


"Apakah Kakek yakin Daniel cocok denganku? Aku ini hanya gadis dari keluarga biasa, aku takut Daniel tak menyukai keluargaku," ucap Aqila memasang raut wajah sedih. Ia takut jika Daniel melihat kondisi keluarganya di kampung ia tak mau melanjutkan hubungan mereka lagi.


"Kalau Daniel menyukaimu dia pasti juga menyukai keluargamu, memangnya apa salahnya keluargamu? Mereka keluarga yang baik, Daniel juga pria yang baik Nenek rasa tak ada alasan membuat Daniel tak suka dengan keluargamu. Jadi jangan pernah berfikir seperti itu."


"Iya benar, kami juga berasal dari keluarga sederhana menjadi keluarga sederhana Itu bukan sebuah aib atau dosa kan. Baik kaya ataupun miskin tinggi atau rendah sebuah status sosial aku rasa sama saja selagi kita mau berusaha menjadi lebih baik, dan tak menyusahkan orang lain. Lagian Daniel sepertinya bukan orang yang memandang dari status sosial jadi kamu terima saja lamarannya."


"Jadi aku terima lamaran dia?" tanya Aqila menatap mereka semua.


"Tanya hati kamu, apakah kamu memang menyukai Daniel dan ingin dia menjadi pendampingmu?" tanya kakek.


Aqila mengangguk.


"Ya sudah, terima saja lamarannya. Bismillah, semoga kalian berjodoh hingga maut yang memisahkan," ucap kakek.


Yang diaminkan ketiganya.


"Aku telepon kak Daniel dulu," ucap Aqila berlari ke kamarnya akan meminta Daniel untuk melamarnya langsung ke keluarganya di kampung.


"Aqila anak yang baik dia pantas mendapatkan kehidupan yang baik, rumah tangga yang bahagia kelak," ucap kakek.


"Kamu sendiri bagaimana? Damar juga anak yang baik apa kamu belum mau menikah lagi?" tanya nenek.


"Iya, Nek. Damar pria yang baik juga sangat menyayangi Khanza dan anak-anak, tapi Khanza tak tahu rasa Sayang kami ini bentuk rasa cinta atau sayang sesama sahabat. Aku merasa nyaman saat berada di dekat dan untuk menikah lagi Khanza belum siap, Nek. Khanza masih butuh waktu."

__ADS_1


"Menikah adalah hal yang penting, memikirkannya secara matang memang sangat penting, tapi nenek sangat ingin melihat kamu mengakhiri kesendirian mu dan cobalah untuk kembali menjalin rumah tangga. Mungkin saja rumah tanggamu kali ini jauh lebih bahagia dari sebelumnya."


Khanza hanya mengangguk, dalam hatinya ia masih merasa takut jika ia harus mengalami kegagalan lagi dalam sebuah ikatan rumah tangga.


Hari ini di sekolahan Aziel akan mengadakan kegiatan sosial, untuk mengajarkan anak tentang berbagi sedini mungkin.


Sekolah sudah mengundang orang tua murid untuk mengadakan pertemuan. Kedua orang tua murid dipanggil begitu juga dengan kedua orang tua Aziel.


Abizar menjemput mereka, khanza, Aziel dan juga Aisyah mereka akan pergi ke sekolah Aziel memenuhi undangan dari sekolah.


"Memangnya ada rapat apa di sekolahan Aziel?" tanya Abizar yang tak membaca undangan rapat, ia hanya mendapatkan kabar dari khanza jika mereka harus menghadiri rapat orang tua murid tersebut.


Sepertinya anak-anak akan diajarkan untuk berbagi ke beberapa panti asuhan dan pihak sekolah ingin mengumpulkan dana dalam acara tersebut.


Abizar hanya mengangguk mendengarkan perkataan Khanza, ia sedang fokus membawa mobil sambil memangku Aisyah yang ikut menyetir. Aziel duduk di pangkuan Khanza.


Ponsel Khanza berdering, itu panggilan dari Damar.


"Ya, Damar. Ada apa?" jawab Khanza.


"Kamu lagi di di kantor?" tanya Damar.


"Enggak, aku lagi mau menuju ke sekolahan Aziel. Aku sedang bersama kak Abi. Memangnya ada apa?"


"Aku hanya ingin mengundang kalian semua malam ini untuk makan malam di rumah, Ibu mengundang kalian hari ini ulang tahunnya."


"Oh ya? Malam nanti acara ulang tahun Tante Dewi? Yaudah nanti aku ajak kakek dan nenek sekalian."


"Kamu lagi sama abidzar kan sekalian aja ajak ke rumah! Kita makan malam."


Abizar mendengar pembicaraan mereka dan Khanza terlihat begitu senang mendapatkan panggilan dari Damar.


"Kak, Damar mengajak kita untuk makan malam di rumahnya. Dokter Dewi ulang tahun, Kakak ikut ya!" ajak Khanza.


Abizar yang merasa berhutang banyak dengan Dokter Dewi saat Khanza hamil dan melahirkan Aisyah akhirnya mengiyakan ajakan untuk merayakan ulang tahunnya bersama.


"Apa kakak lagi sibuk?"


"Nggak, hari ini nggak ada rapat yang penting."


"Selesai rapat kita langsung cari kado ya untuk Dewi!"


"Baiklah," ucap Abizar menoleh sebentar dan kembali fokus ke jalan.


"Kita mau shopping, Mah?"


"Iya, kita mau shopping ?" Jawab Abizar yang mendapat seruan gembira dari Aziel.


Mereka pun sampai di sekolah Aziel. Jika ada yang melihat mereka,mereka sangatlah terlihat seperti keluarga bahagia pada umumnya.


Abizar dengan setelan jas lengkapnya berjalan sambil menggendong Aisyah dan memegang tangan Azriel berjalan masuk ke gerbang sekolah, sedangkan Khanza berjalan di sampingnya membawa perlengkapan sekolah Aziel.


Rapat pun selesai, Abizar menjadi donatur terbesar dalam acara galang dana amal tersebut.


Setelah dari sekolah Aziel mereka langsung menuju ke pusat perbelanjaan untuk membeli hadiah Dokter Dewi.

__ADS_1


Khanza memilih sebuah tas yang bisa dibawa Dokter Dewi saat pergi bekerja.


"Kak, kalau yang ini gimana?" tanya Khanza memperlihatkan dua tas yang bentuknya sama dengan warnanya berbeda.


"Pilih warna gelap aja, Itu netral biasanya Dokter memakai warna seperti itu," ucap Abizar menunjuk warna navi.


Khanza memilih warna yang ditunjuk Abizar, dan meminta petugas toko untuk membungkusnya menjadi sebuah kado.


Setelah seharian berjalan-jalan di Mall, mereka pun pulang, Abizar terlebih dahulu mengantar mereka kemudian kembali ke rumah untuk bersiap-siap.


Abizar mengajak mamanya untuk ikut bergabung dengan mereka jam 7 malam nanti.


Jam 7 malam Abizar kemudian menyambangi kediaman Khanza bersama mamanya.


Aziel langsung duduk di pangkuan Warda yang duduk di jok belakang, nenek dan kakek juga ikut duduk di jok belakang sedangkan Khanza memilih duduk di jok depan sambil memangku Aisyah.


Sepanjang perjalanan Aziel dan Aisyah terus saja membuat kelucuan, membuat mereka terus tertawa. Warda bisa merasakan kehangatan dan bisa melihat senyuman bahagia dari anaknya.


Dokter Dewi menyambut mereka dengan penuh hangat dan langsung mengajak mereka untuk makan malam.


Di kediaman Dokter Dewi sangat ramai dengan datangnya semua saudara-saudara Damar.


Khanza ikut berbaur dengan mereka begitu pun dengan anak-anaknya.


Damar meminta waktu kepada Abizar untuk bicara berdua.


Damar mengajak Abizar pergi ke taman di samping rumahnya.


"Apa Anda benar-benar rela jika Khanza bersama dengan saya?" tanya Damar saat mereka sudah duduk di bangku taman tersebut.


"Kenapa kamu masih menanyakannya? bukannya kamu sekarang sudah bersama dengan Khanza? Dan aku lihat selama bersama denganmu Khanza terlihat begitu bahagia, anak-anakku juga sudah dekat denganmu. Aku sudah tak ada hubungan dengan Khanza, aku tak punya hak mengatur hidupnya."


"Walau bagaimanapun Anda masih tetap Papa dari anak-anaknya sebelum mengambil keputusan Aku ingin meminta izin dulu kepada Anda," ucap Damar menatap lekat pada Abizar yang juga menatapnya


"Maksudmu?"


"Kedua orang tuaku meminta agar aku melamar Khanza! Sebelum mengutarakan maksudku, aku ingin meminta pendapat Anda. Sebagai Papa dari Aziel dan Aisyah.


Abizar terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Apakah dia benar-benar ikhlas melepas Khanza untuk Damar.


Awalnya Damar ragu untuk menjalin hubungan dengan Khanza, ia ragu dengan perasaannya apakah itu cinta atau hanya sekedar sayang.


Tapi, Abizar yang bisa melihat kebahagiaan Khanza saat bersama dengan Damar memutuskan terus meyakinkan Damar jika hanya dia yang bisa menggantikan dirinya menjaga Khanza.


Membuat Damar akhirnya memutuskan untuk menetap hatinya pada Khanza. Damar juga tak rela jika khanza nanti mendapatkan pengganti Abizar dan ia kembali tak bahagia.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha 🥰🥰


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Mampir kak ke karya temanku

__ADS_1



__ADS_2