
Hari-hari mereka lalui dengan kegiatan mereka masing-masing, Azriel sibuk dengan tugas-tugas di kampus begitupun dengan Lucia. Sementara Mentari sibuk membuka cabang baru yang ada di luar kota, beberapa pelanggannya kini banyak yang berasal dari luar kota dan Azriel mengusulkan untuk mereka membuka cabang di sana dan ide itu ditanggapi oleh Mentari.
Benar saja, setelah konsultasi pada Azrel dan Dawa mereka juga setuju akan hal tersebut, dibantu model dari Azriel dan juga Dewa. Mentari pun mampu mendirikan toko yang tak kalah besarnya dari toko yang tempatnya sekarang, lagi-lagi Mentari menganggap hal itu adalah hutang kepada keduanya.
Kesuksesan Mentari semakin membuat Lucia semakin kesal, ia harus bersabar ia harus menunggu sampai ulang tahunnya tiba. Jika saat hari ulang tahunnya ia masih gagal untuk mendapatkan Azriel, ia memutuskan untuk pulang, usaha itu akan dijadikan usaha terakhirnya.
Azriel yang merasa sangat yakin dengan Mentari memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Ia pun sudah mengutarakan niatnya itu kepada kedua orang tuanya dan kedua orang tuanya sangat setuju akan keinginan anaknya itu. Dan disinilah Azriel sekarang, ia berada di toko perhiasan bersama Aisyah dan Ibunya, ia sedang memilih cincin. Ia berencana untuk melamar Mentari.
Semua itu didukung juga oleh Abidzar, ia sengaja memesan tempat untuk acara lamaran tersebut. Ayah Azriel itu sangat tau jika sebuah lamaran istimewa dan romantis akan berkesan di hati seorang wanita.
Mentari yang sedang sibuk dengan toko barunya mendapat pesan dari Azriel, mengatakan jika memintanya untuk menyiapkan waktunya makan bersama malam nanti.
"Baiklah, aku juga kebetulan nggak ada acara kok malam ini," ucap Mentari membalas pesan dari kekasihnya itu, Azriel membaca pesan itu dengan jantung berdebar, ia sangat bahagia. Ia sudah bertekad akan melamar Mentari malam nanti. Cincin sudah mereka putuskan pilihan mereka bertiga.
Malam yang dinanti pun tiba, bukan hanya Azriel yang ada di restoran tersebut. Namun, semua keluarga juga ada di sana. Ada Khanza, Abidzar dan juga Aisyah, Lucia juga datang. Namun, ia tak tahu untuk apa mereka semua datang ke restoran tersebut. Ia hanya berpikir jika itu hanyalah makan malam keluarga biasa. Keluarga Khanza dan Abidzar juga datang.
'Ini kenapa acaranya nggak dimulai sih? Memangnya siapa lagi yang ditunggu,' batin Lucia saat mereka semua sudah duduk di sebuah meja. Namun, belum ada yang mau mulai memesan makanan.
Lucia terus memperhatikan sekitarnya, sepertinya akan ada acara lamaran di restoran tersebut, terlihat tertata dan sangat cantik. Namun, ia tak memusingkannya, mungkin itu acara tamu lainnya yang tak mereka kenal.
"Kak Mentari sudah datang," ucap Aisyah yang berlari menghampiri kakaknya membuat Azriel langsung berdiri dan berjalan cepat entah ke mana.
Lampu tiba-tiba padam membuat Lucia terkejut. Namun, begitu pintu terbuka, lampu sorot langsung mengarah ke arah Mentari.
"Apa jangan bilang ini adalah lamaran Mentari?" Lucia menggeleng, jika benar acara ini adalah acara lamaran Mentari, ia sudah dipastikan akan kalah darinya.
Mentari juga terkejut saat lampu sorot langsung terarah padanya, ruangan yang ada di depannya sangat gelap membuat ia pun perlahan berjalan dan lampu sorot itu terus mengikutinya, hingga lampu sorot di ujung ruangan itu juga menyala dan terlihat Azriel berdiri di sana.
Sebuah lampu-lampu kecil langsung membentuk hati di sekitaran Azriel dan membentuk jalan menuju ke arah dimana Mentari berdiri, kedua lampu sorot yang tadi menerangi mereka pun dimatikan, membuat ruangan gelap gulita itu hanya diterangi lampu-lampu kecil yang mengiringi langkah Mentari menyusuri lampu ke arah Azriel.
__ADS_1
Mentari tak tahu apa dan siapa orang-orang yang ada di ruangan tersebut, matanya hanya tertuju pada Azriel yang terlihat berpakaian rapi dan tersenyum ke arahnya. Sangat tampan.
'Apa ini? Apa Azriel ingin melamarku?' batin Mentari menerka-nerka, ia beberapa kali menyaksikan temannya di posisinya saat kekasih mereka melamarnya. Mentari pun terus melangkah maju hingga ia tepat berdiri di depan Azriel yang sudah menunggunya. Azriel memakai setelan jas lengkap sementara ia hanya mengenakan baju sederhana.
Tiba-tiba Azriel berjongkok dan menyerahkan sebuah kotak cincin di hadapannya.
"Mentari, maukah kamu menikah denganku?" ucap Azriel membuat Mentari membekap mulutnya, apa yang tadi dipikirkannya ternyata benar.a Azriel benar-benar melamarnya.
Tanpa berpikir panjang Mentari pun mengangguk membuat Azriel mengembangkan senyum di bibirnya, dia pun berdiri dan langsung memasangkan cincin berlian di jari manis Mentari. Lampu pun menyala, suara tepukan bergemuruh terdengar seisi ruangan, Mentari sangat terkejut sekaligus terharu. Ternyata di ruangan itu ada begitu banyak orang termasuk di salah satu meja ada keluarga besar Azriel.
"Terima kasih ya, Mentari. Aku janji akan selalu membahagiakanmu," ucapnya membuat Mentari pun hanya mengangguk, saat ini ia sudah tak punya siapapun, dia hanya memiliki Azriel sebagai sandarannya, selama ini mereka hanya sebatas hubungan berpacaran saja, membuat Mentari tak mau berharap banyak dari hubungan mereka.
Namun, jika hubungan mereka sudah resmi sebagai sepasang suami istri. Mentari merasa jika dia memiliki seseorang yang menggantikan posisi ibunya yang berada di sampingnya selama ini dan akan selalu menjaganya..
Sebuah tetesan air mata jatuh dari sudut matanya, ada kebahagiaan yang memenuhi ruang di dadanya, "Ibu, kini aku tak sendiri lagi," batin Mentari tak bisa membendung air matanya.
Di saat semua tersenyum dan bertepuk tangan menyambut sambutan Mentari yang menerima pernyataan Azriel. Lucia menghentakkan kakinya dan keluar dari acara tersebut, ia tak ingin menyaksikan kekalahannya terjadi di depan matanya.
Q
"Ya sudah, bagaimana jika pernikahannya kita lakukan dua minggu dari sekarang?" ucap Khanza membuat mereka pun setuju, akhirnya tanggal sudah ditetapkan dan pernikahannya akan dilakukan dua minggu dari hari lamaran tersebut.
Lucia terus saja mengomel kesal, ia menemui orang yang selama ini ingin bekerja sama dengannya. Rencana mereka masih ada tiga minggu lagi, ia harus melakukan rencananya sebelum pernikahan Azriel dan juga Mentari. Namun, tanpa disadari ia melakukan kesalahan dengan pergi dari restoran tersebut, ia menjadi kehilangan informasi dan berpikir jika mungkin mereka tak akan langsung menikah, ia harus memantapkan rencananya agar pernikahan mereka bisa dibatalkan.
Kabar pernikahan Mentari pun langsung tersebar. Namun, mereka sengaja merahasiakan tanggal pernikahannya sesuai dengan keinginan Azriel. Entah mengapa ia memiliki firasat buruk tentang Lucia setelah malam itu, sehingga tanggal pernikahan tersebut hanya diketahui oleh keluarga dekat mereka saja dan akan terungkap begitu undangan beredar dua hari sebelum acara pernikahan.
Malam hari Lucia menghampiri Aisyah di kamarnya.
"Aisyah, kapan acara pernikahan kakakmu dan Mentari?" tanyanya karena samar-samar ia mendengar jika pernikahan mereka akan dipercepat.
__ADS_1
"Kalau nggak salah bulan depan," jawab Aisyah asal.
Mendengar itu sebuah senyuman terbit di bibir Lucia, ia masih punya kesempatan untuk menggagalkan rencana pernikahan tersebut.
Azriel dan Mentari pun mulai melakukan beberapa persiapan sesi foto prewedding.
Sementara Lucia berpikir jika apa yang dikatakan oleh Aisyah malam itu benar, jika ia masih punya waktu. Lucia hanya memperhatikan mereka dari kejauhan, tersenyum penuh arti menatap kebahagiaan mereka.
"Berbahagia lah, aku yakin kebahagiaan kalian akan berakhir sebelum kebahagiaan itu dimulai," gumam Lucia, ia selalu meminta seseorang untuk memata-matai keduanya.
Semua persiapan pun siap, gedung, catering, undangan dan beberapa perlengkapan lainnya sudah siap, dua hari sebelum acara gaun pengantin pun sudah berada di gedung dimana acara itu akan dilaksanakan, di mana Mentari akan bersiap dengan gaun pengantinnya di gedung tersebut, tak ada acara khusus yang dilakukan oleh keluarga Mentari mengingat Mentari hanya memiliki para karyawannya begitupun dengan Azriel. Ia tak begitu banyak mengadakan acara hanya sedikit persiapan untuk menyambut hari pernikahan mereka.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Abidzar membuat Azriel pun mengangguk.
"Iya, Yah. Hanya tinggal menyebar undangannya saja," jawab Azriel membuat Abidzar pun mengangguk, ia mengambil ponsel dan meminta orang-orang yang sudah dimintanya mengurus sebaran undangan itu. Dengan perintah Azriel undangan pun mulai disebarkan.
Teman-teman kampus Azriel juga beberapa teman-teman Mentari sudah mendapatkan undangan mereka, begitupun para karyawan dan rekan bisnis lainnya. Undangan juga sudah disebar secara merata di kantor, semua sudah mendapat undangan tersebut termasuk Lucia.
Lucia membelalakkan matanya saat melihat tanggal pernikahan yang tersisa dua hari lagi.
"Tidak! Ini tidak mungkin terjadi!" gumam Lucia di mana rencananya masih akan dilaksanakannya seminggu lagi, ini tak seperti rencananya, membuat ia langsung menelepon seseorang dan mengubah semua rencana mereka, ia harus melaksanakan rencananya sebelum akad nikah berlangsung.
"Baik, akan kami atur," ucap seseorang dari balik telepon, baru saja Lucia mematikan panggilannya sebuah panggilan masuk dari ibunya.
"Lucia, ibu sudah mendapat kabar akan pernikahan Azriel dan Mentari dua hari lagi, kamu baik-baik saja kan, Nak?" tanya Farah.
"Iya, ternyata Ibu juga sudah dengar acara pernikahan tersebut, apa Ibu mau datang?" tanya Lucia.
"Tentu saja, ibu akan datang. Ibu akan berangkat hari ini juga," jelas Farah.
__ADS_1
"Kamu beneran nggak papa kan, Nak?" tanya Farah lagi yang khawatir akan putrinya, ia tahu juga putrinya masih sangat mencintai Azriel dan juga masih berusaha untuk mendapatkan cinta pria yang dicintainya itu.
"Iya, Bu. Aku tak apa-apa, aku tunggu Ibu di sini, nanti kita akan pulang bersama-sama," ucap Lucia dengan nada suara setenang mungkin, membuat Farah yang mendengarnya di seberang sana pun merasa lega, sepertinya anaknya sudah sadar jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.