
Khanza terus berjalan bolak-balik di teras rumah Damar, terus saja melihat kearah pintu gerbang berharap Daniel segera datang membawa Aziel.
"Khanza tenanglah, Nenek yakin Daniel pasti akan membawa Ziel pulang. lagi pula Abizar pasti tak akan menahannya, dia sudah tahu kondisimu sekarang, dia tak sejahat itu membuat kamu khawatir dengan menahan Aziel," ucap Nenek.
"Tapi, bagaimana kalau mereka mengambil Aziel, Khanza ga mau Nek berpisah dari Aziel."
"Itu mereka datang," ucap Aqila berdiri dan melihat mobil Daniel memasuki gerbang
Khanza langsung berlari menghampirinya, dia baru bernafas lega saat melihat putranya sedang tertidur di jok belakang.
"Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Daniel ikut turun dari mobil dan membantu Khanza membawa Aziel ke gendongannya.
"Aku hanya khawatir, Kak. Aku tahu kak abi seperti apa."
"Abizar sudah tahu kamu sedang hamil dan dia tidak akan ambil resiko dengan memisahkanmu dengan Aziel," ucap Daniel memberikan Khanza satu amplop yang sama dengan yang diberikannya pada Abizar.
Aqila mengambilnya karena Khanza sedang menggendong Aziel.
"Aku pulang dulu, aku akan kabari jika aku akan ke sini lagi. Tetaplah di rumah dan jika ingin keluar sebaiknya telepon aku. Aku yang akan mengantar kalian," ucap Daniel.
Mereka berdua mengangguk, Daniel melihat kakek dan nenek yang juga berada di teras dan hanya mengangguk meminta pamit.
Daniel pergi dari sana, masih banyak hal yang harus diurus nya termasuk mencari tahu siapa Mr. Alvin, mengapa ia ikut mengawasi Khanza. Apa tujuannya selama ini mengawasi Khanza dari kejauhan.
Khanza dan Aqila masuk ke kamar dan menidurkan Aziel di kasur.
Aqila duduk disisi tempat tidur dan membuka amplop yang diberikan Daniel tadi.
Aqila membaca dan ia tahu persis apa maksud dari isi amplop itu.
"Itu apa?" tanya Khanza ikut duduk di samping Aqilah dan melihat apa yang tadi diberikan Daniel pada mereka.
"Sepertinya ini adalah surat gugatan perceraian."
"Perceraian?" tanyakan Khanza kaget.
"Kak Daniel Sudah mendaftarkan perceraian mu."
Khanza tertegun dan melihat ke arah Aqila.
"Ini baru pengajuan saja, kau tidak bisa bercerai saat kau masih hamil dan menunggu beberapa bulan setelah lahiran. Prosesnya juga sangat panjang dan akan memakan waktu yang cukup lama, jadi kau harus menyiapkan dirimu dan jangan terlalu dipikirkan. Fokus pada bayimu saja."
"Apa keputusan yang aku ambil benar?"tanya khanza yang masih ragu.
__ADS_1
"Tanyakan pada dirimu, tanyakan pada hatimu. Jangan memaksa jika memang kamu tak sanggup."
Sementara itu di jalan X, Abizar yang tadinya ingin mengejar Daniel dihalangi oleh beberapa orang. Mereka adalah orang-orang Daniel yang menghalang mobil Abizar.
Abizar yang tak terima dengan sikap Daniel yang mengajukan perceraian tanpa membicarakan dulu padanya, ia merasa sangat kesal. Abizar berniat untuk menyusul Daniel, tapi saat sedang mengendarai mobilnya tiba-tiba beberapa mobil menghalangi jalannya.
Abizar menelepon beberapa orangnya untuk mengikuti Daniel, mencari tahu dimana Daniel membawa Aziel. Namun, lagi-lagi usahanya gagal, orang-orangnya berhasil dikacaukan oleh orang-orang Daniel dan yang lolos dari pantauan Daniel tak bisa lolos dari orang-orang Mr. Alvin.
"Sial," ucap Abizar melempar ponselnya ke jalan hingga hancur berantakan.
Abizar baru saja mendengar kabar dari beberapa anak buahnya jika mereka kehilangan jejak Daniel.
"Daniel, aku pikir kau akan membantu ku kembali pada Khanza, tapi ternyata kau tak berubah. Kau masih saja ingin memiliki Khanza, kau masih saja ingin merebutnya dariku," kesalnya.
"Mas, sebaiknya kita pulang dulu, kita pikirkan cara yang lain agar kita bisa bertemu dengan Khanza dan menjelaskannya secara baik-baik."
Abizar mengambil surat gugatan cerai yang diberikan oleh Daniel dan merobeknya hingga beberapa bagian.
"Sampai matipun aku tak akan melepaskan Khanza," ucapnya melempar kertas itu hingga berserakan di jalan raya.
Abizar menatap tajam Orang-orang Daniel yang masih berdiri tak jauh dari mereka.
Farah dan Abizar pun kembali ke rumah. Mereka tak punya cara lain orang-orang Daniel dan Mr. Alvin terlalu banyak membuat orang-orang yang ia sewa tak bisa berbuat apa-apa.
Malam hari di kamarnya, di saat semua orang sedang tidur Khanza menatap putranya kemudian teringat akan sosok Abizar sambil memegang gugatan cerai yang diberikan Daniel padanya.
Khanza hanya bisa termenung sambil terus mengusap perutnya, merasakan tendangan kecil dari bayi yang ada di rahimnya.
"Apa aku bisa melewati semua ini tanpa adanya kamu, kak."
Khanza ingin terlepas dari Abizar. Namun, ia masih sangat mencintainya.
Ia ingin bersama dengan suaminya itu. Namun, hatinya sudah sangat lelah, ia tak ingin merasakan sakit Lagi. Terluka untuk kesekian kalinya.
"Mama," panggil Aziel yang terbangun.
"Iya sayang," ucap Khanza menghampiri Putranya.
Aziel terbangun di malam hari. Karena kelelahan bermain dengan Abizar dan Farah ia tertidur hingga baru bangun saat tengah malam.
"Mama, Ziel lapar," ucapnya memegangi perutnya.
"Yuk, kita kebawa! Mama sudah menyiapkan Aziel makanan," ucap Khanza yang sebelumnya sudah memisahkan makanan untuk Aziel. Ia yakin putranya itu akan bangun saat lapar di tengah malam.
__ADS_1
Aziel memakan makanannya dengan lahap dengan disuapi oleh Khanza.
"Mama tadi Ziel main sama papa dan Bubu, Kita main di taman," ucap Aziel berbicara, ia bercerita dengan raut wajah yang begitu gembira.
"Tadi, Ziel ketemu sama bubu juga?" tanya Khanza mengira jika Aziel hanya bertemu dengan Abizar.
"Iya Mah, Bubu juga tadi datang, kita bermain ayunan, prosotan, lari-lari, makan es krim," ucap Aziel terus menyebut beberapa permainan sambil menunjuk jari-jarinya seolah menghitung permainan apa yang ia mainkan dangan raut wajah bahagia tak lepas dari wajah putranya, membuat Khanza lagi-lagi merasa bimbang.
Aziel sayang sama papa, sama bubu?" tanya Khanza.
"Iya, sayang. Aziel sayang sama Mama, sama adek, sama papa, dan sama Bubu, sama nenek" ucapnya merentangkan tangannya seolah memperlihatkan jika ia menyayangi mereka semua.
"Jika nanti kita balik ke kampung, papa akan kerja di sini. Aziel mau ikut mama ke kampung atau ikut Papa di sini?" tanya khanza dengan sangat hati-hati mencoba menjelaskan situasi yang mungkin saja terjadi jika Ia benar-benar bercerai dengan Abizar.
Aziel terdiam. Kemudian sesaat kemudian mengangkat bahunya dan kembali makan.
Mungkin Aziel tidak mengerti dengan pertanyaan mamanya atau ia bingung harus memilih siapa, Khanza tak ingin terlalu memaksa untuk Aziel memilih di usianya yang masih sangat belia.
Selesai makan Aziel kembali bermain, rasa kantuknya sudah.
Khanza menemani Aziel sambil terus mencari informasi tentang hak asuh anak di internet, jika ia benar-benar berpisah dengan Abizar akan kah ia bisa mengambil kedua anak atau kemungkinan akan diasuh salah satunya oleh papanya.
"Kamu lagi apa?" tanya Damar menghampiri mereka.
Kak Daniel sudah mengajukan gugatan cerai Antara Aku dan kak Abi. Apa jika kami bercerai apakah hak asuh anak-anak akan jatuh ke tangan ku?" tanya Khanza.
"Aziel baru berusia hampir 3 tahun sedangkan anak kedua mu masih dalam rahimmu, sekuat apapun Abizar menginginkan hak asuh mereka, tetap saja hak asuh akan jatuh sepenuhnya ditangan mu, jadi masalah hak asuh anak kamu tak usah khawatir. Lagian ia tak akan setega itu memisahkan kalian.Saranku sebaiknya kamu jangan membatasi jika Abizar ingin bertemu atau mengambil beberapa hari anaknya. Anak tetaplah anak, tak ada mantan anak itu juga sangat bagus untuk perkembangan anak walau bagaimanapun Abizar tetap papa kandungnya."
Khanza mengangguk mendengar penjelasan Damar.
"Apa kamu sudah yakin akan benar-benar berpisah?"
Khanza menghela nafas dan mengelus perutnya.
"Setelah perceraian nanti, aku akan kembali ke kampung dan memulai hariku dengan anak-anakku, jika kak Abi ingin menemuinya silahkan saja datang ke kampung. Tapi, aku takkan membiarkan dia membawa Aziel ke sini. Aku benar-benar sudah tak sanggup dan ingin memulai nya dengan anak-anak ku. Aku sudah pernah memaafkan kak Abi dan berharap ia tak lagi menyakiti ku. Namun, aku salah. Jika ada kedua kalinya aku takut akan ada ketiga dan keempat kalinya ia akan menghancurkan hatiku jika aku kembali padanya," ucap Khanza menatap Aziel yang sedang asyik bermain.
"💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖