
Nenek yang mendengar kabar tentang kondisi cucunya langsung segera mengemasi barang-barangnya.
Kakek yang duduk di ruang tengah terkejut saat melihat nenek menangis berlari masuk ke kamar, nenek sambil terisak mengemas barang-barang yang akan mereka bawah.
"Ada apa?" tanya Kakek menghampiri.
"Khanza sudah melahirkan," ucap nenek.
"Alhamdulillah, lalu kenapa nenek menangis, bukankah itu kabar yang menggembirakan?" tanya kakek yang kini duduk di samping tas yang sedang dikemas nenek.
Nenek mengusap air matanya, tapi air matanya itu terus saja mengalir di wajah tuanya.
"Ada masalah dengan persalinannya," jawab dengan suara bergetar.
"Masalah, masalah apa?" tanya kakek terkejut
"Abizar tak menjelaskannya secara detail apa yang terjadi pada Khanza, jelasnya dia meminta kita sekarang ke sana," ucap nenek.
"Baiklah, kita siap-siap, aku minta Hendra mengantar kita ke bandara," ucap Kakek.
Kakek yang mendengar keadaan cucunya tak membuang waktu dan langsung menelpon menantunya untuk mengantar mereka, memesankan tiket pesawat dan mengatur semua keberangkatannya, tangan kakek bergetar saat memegang ponsel, kekhawatiran pada cucunya membuat ia panik.
Mereka pun berangkat, sepanjang perjalanan nenek terus saja meneteskan air matanya sedangkan kakek terus menatap kosong dan terus mengirimkan doa untuk Cucunya, yang ada dalam pikirannya hanya ingin cepat sampai melihat kondisi cucunya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama mereka akhirnya sampai di Bandara, Abizar yang menjemput mereka.
Nenek berlangsung menghampiri cucu menantunya itu.
"Bagaimana kondisi cucuku, dimana dia sekarang?" tanya nenek tetap berusaha menahan isakannya walau air matanya tak berhenti menetes.
"Ayo kita ke rumah sakit, Nek," jawab Abizar.
Dalam perjalanan Abizar terus melihat kepada kedua orang tua Khanza itu, Abizar merasa bersalah, apa yang dialami Khanza saat ini semua karena kecerobohannya.
Mereka sampai rumah sakit, Abizar membawa kakek dan nenek Khanza menuju ke ruangan perawatan Khanza.
Ibu Abizar yang melihat kedatangan kakek dan nenek Khanza langsung menghampiri mereka memberi pelukan hangat kepada nenek mengusap punggung nenek, ia tahu perasaannya saat ini, mereka juga bersedih. Namun, mungkin Nenek lah yang paling bersedih dalam hal ini.
"Dimana cucuku?" tanya nenek.
Abizar menunjuk salah satu pintu.
kakek dan nenek masuk ditemani oleh Abizar sedangkan Farah Sudah menemani bayi Khanza yang sudah dipindahkan ke kamar lain, kondisinya berangsur membaik.
Nenek langsung berhamburan menghampiri Khanza, memegang tangan cucunya itu yang tak bergerak.
__ADS_1
"Khanza ini nenek, Nak. Ayo buka matamu jangan membuat nenek bersedih," ucap nenek mengusap pipi cucunya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya nenek melihat Abizar dengan tangannya masih tetap menggenggam tangan Khanza. " Kenapa Khanza ku bisa seperti ini?"
Abizar pun menceritakan semuanya, semua kejadian malam itu tanpa menutupinya sedikitpun. Nenek berhak tahu apa yang terjadi pada cucunya.
Saat dalam perjalanan, di dalam pesawat nenek menceritakan apa yang dialami oleh Khanza kepada kakek, nenek menceritakan jika Abizar memiliki istri lain sebelum ia menikahi Khanza.
Hati kakek semakin sakit mendengar hal itu. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa mengelus dadanya membayangkan rasa sakit yang dirasakan oleh cucunya.
Kakek berdiri mematung, mendengar penjelasan Abizar, ia tak sanggup menghampiri cucunya yang berbaring di ranjang rumah sakit, hati kakek benar-benar sesak melihat kondisi cucunya.
Perlahan ia menghampiri Khanza, selangkah demi selangkah yang begitu lambat. Nenek yang melihat kakek sudah mendekat menyingkir dan membiarkan kakek mendekati cucu mereka.
Kakek perlahan mengulurkan tangannya menggapai tangan Khanza, kakek tak bisa lagi membendung tangisnya walau tak bersuara tapi air matanya mulai menetes bahunya bergetar.
"Malang sekali nasibmu, Nak. Di usia yang muda kamu sudah ditinggal oleh kedua orang tuamu, saat menikah kau malah mendapat suami yang sudah memiliki istri, dan membuatmu seperti ini, kakek tak kita bisa membayangkan bagaimana perasaanmu saat mengetahui kenyataan itu dan lihatlah saat kau melahirkan kau harus dalam kondisi seperti ini, kau tak bisa melihat bayi yang selama ini kau nantikan," batin kakek mengasihani nasib cucunya, harinya benar-benar sangat pedih.
Kakek tak bisa berkata apa-apa hanya terus memandang cucunya mengelus lembut tangannya sesekali mengusap air matanya terus menetes.
Abizar yang melihat pemandangan itu hanya bisa berdiri mematung menunduk.
Mungkin walau Abizar berlutut didepan kedua orang tua itu meminta maaf atas segala kesalahannya, mereka tak akan memaafkannya. Bukannya memberikan kebahagiaan kepada cucu mereka ia justru memberikan berbagai macam penderitaan.
Lama mereka dalam kondisi itu, mereka hanya bisa memandang Khanza memberi semangat agar Khanza bisa segera sadar.
"Dimana bayinya?" tanya nenek tiba-tiba memecah keheningan.
"Dia ada di ruangan lain bersama Farah, kondisinya baik-baik saja."
"Farah. Itu kan nama istri pertama mu?" tanya kakek tanpa melihat Abizar.
Pertanyaan menohok dari kakek Khanza walau terdengar pelan. Namun, pertanyaan kakek mampu membuat Abizar tak berkutik.
"Sepertinya Kakak sudah mengetahui tentang pernikahan pertamaku," batin Abizar yang semakin merasa bersalah..
"Tunjukkan ruangannya dimana, Nenek ingin melihat cicit nenek."
Nenek mengusap punggung kakek yang kembali bergetar menahan tangisnya.
Abizar hanya bisa mengangguk dan mempersilahkan nenek ikut bersamanya.
Nenek mengikuti kemana Abizar pergi dan kakek masih tetap setia menemani cucunya, mengajaknya berbicara walau kakek tak tahu cucunya itu bisa mendengarkannya atau tidak.
Abizar membawa nenek ke ruang perawatan bayinya yang tak jauh dari kamar Khanza.
__ADS_1
Farah, Santi serta mamanya menemani bayi itu.
"Apa ini istri pertama dari suami Khanza," batin nenek melihat Farah yang duduk di sofa sambil memangku bayi Khanza.
Nenek menghampiri dan mengambil bayi itu dari pangkuan Farah, mengecupnya dan mengusap lembut pipi bayi kecil itu yang terlihat menguap dan mencoba kembali tidur.
"Seharusnya kau berada di pangkuan mamamu, membuatnya tersenyum dengan kelucuanmu," ucap nenek tersenyum menatap bayi itu, air mata belum bisa meninggalkan mata tuanya
"Sampai kapan Khanza akan mengalami hal ini, kapan dia akan sadar," Melihat abizar yang duduk di dekat mereka.
"Dokter juga tidak bisa memastikan kapan Khanza akan bangun, akan tersadar dari komanya," Ucap Abizar merasa bersalah.
Nenek menghela nafas. Ingin rasanya nenek memaki menantunya itu. Namun, nenek sadar semua itu tak ada gunanya sekarang, nenek menyesal telah membiarkan Khanza mempertahankan pernikahannya, nenek merasa akan lebih baik jika waktu itu nenek menahan Khanza di kampung, hidup bersamanya dan kakek membesarkan cicit mereka, tapi semua kembali lagi, semua itu sudah terjadi tak ada yang perlu disesalkan penyesalan takan merubah situasi tak akan membuat Khanza tersadar dari komanya.
"Nenek pasti capek, Nenek bisa kembali ke rumah untuk istirahat dan datang lagi nanti," ucap Farah pada nenek.
"Nenek akan tetap ada disini menemani cucu dan cicit ku, kami baik-baik saja," ujar nenek menolak tawaran Farah.
Farah dan Abizar hanya saling melihat, mereka benar-benar tak tahu harus berbuat apa saat ini, situasinya sangat canggung, mereka hanya diam melihat nenek yang terus menciumi cicinya.
Kelahiran yang seharusnya disambut suka cita justru harus disambut dengan deraian air mata.
"Apakah bisa Khanza dipindahkan ke kampung?" tanya nenek tiba-tiba.
Abizar dan Farah tersentak mendengar apa yang baru saja nenek katakan.
"Maksud Nenek?" tanyanya bersamaan.
"Pindahkan Khanza ke rumah sakit yang ada di kampung dan bayi ini biar nenek yang merawatnya, lepaskan cucu nenek dari semua penderitaan yang kau berikan nenek bisa merawat cucu dan cicit nenek," ucap nenek membuat Abizar dan Farah terhenyak.
"Apa ini artinya nenek ingin memisahkanku dari mereka," batin Abizar menolak keras.
Farah menatap Abizar dan menggeleng. Tatapan matanya seolah berkata jangan biarkan ini memisahkan kita.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Sambil menunggu update terbaru silahkan mampir ke karya teman sesama author
Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏
Salam dariku Author m anha ❤️
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖