
Semua kembali membaik, Khanza sudah bisa mengurangi rasa takutnya. Setiap pagi ia akan rutin melakukan yoga bersama dengan Aqila dan juga Aziel.
Aqila selalu ada disampingnya, membuatnya tenang. Khanza menjadikan Aqila sebagai tempatnya bercerita keluh kesahnya. Perhatian seluruh keluarga Darma dan juga nenek, kakeknya membuatnya jauh lebih tenang.
Kini usia kandungan Khanza sudah memasuki 7 bulan, perutnya sudah buncit.
Iya melalui hari-harinya dengan sangat bahagia, Dokter Nita tak pernah absen untuk datang menghibur dan memberi nasehat-nasehat pada Khanza begitu juga dengan dokter Dewi, Ibu Damar itu tak pernah lupa memberikan obat yang bisa membantu Khanza melalui hari-harinya.
Hari ini Khanza sangat ingin makan es krim, entah mengapa bayangan nikmatnya es krim dan dinginnya es krim sudah terasa di mulutnya.
"Aqila, aku kok pengen makan es krim ya," ucap Khanza.
"Ya sudah, aku minta Bibi membelikannya untukmu," ucap Aqila ingin beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi, aku ingin membelinya sendiri," ucap Khanza memasang wajah memohonnya dan mengelus perutnya.
"Kita sudah Aman selama ini, kita berhasil menghindar dari suamimu. Jadi jangan mencari penyakit, duduk tenang disini dan tunggu es krim mu."
Khanza melihat Aqila pergi meninggalkannya sambil masih mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"Mama, Ziel juga mau es krim," ucap Ziel yang tadi mendengar ucapan mamanya.
"Kita tunggu tante Kila yah, beli es krimnya," ucap Khanza mengelus rambut putranya.
Aziel mengangguk dan ikut mengelus perut mamanya.
"Adek tunggu es krimnya ya, dibeliin tante," ucap Zial mencium perut khanza.
Awalnya Aziel selalu menangis saat ingin digendong oleh Khanza. Namun, Aqila dan yang lainnya terus menjelaskan kalau di perut mamanya sedang ada adiknya yang sangat kecil, lama-kelamaan Aziel mulai mengerti dan mulai menyayangi bayi yang ada di perut mamanya, Aziel juga selalu mengajaknya bicara layaknya adiknya itu sudah ada di depannya. Tak jarang Aziel menyimpan makanannya dan mengatakan kalau itu untuk adiknya dan tak boleh ada yang mengambilnya.
Sekarang Khanza dan Aziel sudah terbiasa tanpa Abizar, berbeda dengan Abizar ia semakin terpuruk dan merindukan mereka.
Abizar sudah kembali ke rutinitasnya, bekerja di kantor seperti biasa. Namun, ia tak pernah sekalipun melupakan untuk mencari Khanza dan putranya.
Abizar bahkan tetap melakukan rutinitas seperti biasa saat Khanza masih ada bersamanya. Ia masih membagi waktu, ia akan menginap di rumah lama dan juga di rumah khanza seperti biasanya.
Saat ini Abizar sedang menginap di rumah Khanza.
Abizar masuk ke kamar putranya dan melihat di setiap sudut kamar itu. Mengusap lembut foto yang ada di atas nakas, di foto itu terlihat jika Ia, Khanza dan Aziel tersenyum begitu bahagia.
__ADS_1
Abizar mengelus lembut foto mereka.
"Di mana kalian, Papa sangat merindukan kalian. Khanza, bisakah kau memaafkanku dan kembali kepadaku," lirih Abizar, setetes air mata lolos dari pelupuk matanya. Ia membawa foto itu kepelukannya kemudian tertidur di kamar Ziel sambil memeluk foto itu.
"Papa ... Papa, bangun. Papa ini sudah pagi, ayo bangun Papa …."
"Ziel," Abizar terbangun dari tidurnya dan langsung mencari putranya,
"Ziel, Aziel," teriak Abizar manggil nama Putranya, ia berjalan keluar dan mencari Aziel, membuka pintu kamarnya berharap Aziel ada di dalam. Namun, setelah mencari Ia baru menyadari jika yang tadi didengarnya hanyalah ilusinya, hanyalah mimpi yang mungkin terbawa karena terlalu merindukan mereka
Abizar duduk ditangga, ia mengusap wajahnya.
"Di mana kalian, kenapa aku tak bisa menemukan kalian hingga saat ini. Aku sudah mencari ke semua tempat, tapi kenapa tak ada jejak kalian. Aku harap kalian baik-baik saja," lirih Abizar menekan dadanya yang terasa sesak dan perih. Ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada mereka berdua.
Abizar kembali ke kamarnya, ia harus kembali ke kantor untuk melaksanakan kewajibannya sebagai pemimpin perusahaan.
Abizar sedikit telat ke kantor, ia melajukan mobilnya ke perusahaannya dan tak lama kemudian Fahri meneleponnya dan mengatakan jika ada rapat penting yang akan di adakan beberapa menit lagi di restoran X, dan ia sendiri sudah ada di restoran yang di maksudnya.
"Aku akan segera kesana," ucap Abizar kemudian melanjutkan mobilnya ke tempat yang dituju, begitu sampai Fahri sudah di sana menunggunya.
Abizar berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Fahri, "Rapat apa yang mereka adakan secara tiba-tiba seperti ini?" tanya Abizar.
"Sudahlah tak apa, kita masuk sekarang, apa rapatnya sudah dari tadi dimulai?" tanya Abizar sambil terus berjalan menuju tempat diadakannya rapat dengan terburu-buru.
" Rapatnya baru saja di mulai dan Mr Alvin hanya di wakili asistennya."
"Hanya asistennya?"
"Iya, pak. Mr Alvin akan hadir di pertemuan berikutnya," jalas Fahri.
Mr. Alvin Alfaro adalah Pebisnis yang di segani di kanca internasional, ia merupakan pebisnis yang banyak di incar oleh para pengusaha termasuk Abizar. Menjalin kerjasama dengan perusahaannya dipastikan Perusahaan mereka akan lebih maju lagi.
Abizar ikut bergabung dengan yang lainnya.
Mereka pun membahas masalah rencana kerjasa mereka. Mereka membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga mereka semua mengambil kesepakatan yang sama, mengingat Rapat tersebut dihadiri oleh para pemimpin perusahaan-perusahaan besar dan cukup sulit menyatukan mereka semua, menyatuhkan pendapat dan keinginan mereka.
Mereka akan menjalin proyek kerjasama yang cukup Besar.
Salah satu pengusaha yang ikut berpartisipasi adalah Daniel.
__ADS_1
"Senang bisa bekerjasama dengan kalian semua, kami akan menghubungi kalian lagi untuk rapat berikutnya," ucap asisten dari orang yang mengundang mereka semua.
Beberapa pemimpin perusahaan tersebut di tawarkan kerjasama yang cukup besar dan melibatkan beberapa pemimpin perusahaan, membuat mereka tergiur akan keuntungan yang bisa mereka dapatkan, mereka tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Semua peserta rapat termasuk Asisten Mr. Alvin Alfaro sudah meninggal ruang rapat. Yang tersisa hanya Abizar dan juga Daniel serta asisten mereka masing-masing.
Abizar hanya melihat Daniel sekilas kemudian ia beranjak dari duduknya.
"Apa kau sudah punya kabar tentang Khanza?" tanya Daniel membuka suara.
Abizar hanya melirik dan kembali berjalan, tak ada niatnya untuk menjawab pertanyaan Daniel.
"Aku punya sedikit informasi, apa kau mau mendengarnya?" Ucap Daniel bernada sombong, yang sukses membuat Abizar menghentikan langkahnya begitu juga dengan Fahri.
Meraka berdua berbalik menatap Daniel,
"Apa maksudmu?" tanyanya pada Daniel. "Informasi apa, katanya!" Abizar kembali berjalan menghampiri Daniel yang ada di depannya dan meletakkan tasnya di meja.
Jarak Abizar dan Daniel cukup jauh antara ujung meja dengan ujung yang lainnya. Meja yang cukup panjang, tempat dilaksanakannya rapat tadi.
Daniel melempar sebuah kartu nama hingga ke tengah meja dan juga sebuah Flashdisk. Fahri dengan sigap mengambil kartun nama dan Flashdisk tersebut dan memberikannya kepada Abizar.
"Mr. Alvin Alfaro?" tanya Abizar.
"Ya, Mr, Alvin Alfaro pimpinan dari perusahaan Federico, yang baru saja mengajak kita kerja sama.
"Lalu apa hubungannya dengan Khanza?" tanya Abizar tak mengerti.
"Aku juga tak terlalu paham, tapi menurut informasi yang ada di flashdisk itu, orang yang menghapus jejak Khanza adalah orang-orang suruhan Mr. Alvin Alfaro.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1