
Mentari yang sudah selesai dengan tugasnya langsung menghampiri orang yang memintanya tadi untuk membantu melayani para tamu di perusahaan tersebut, Mentari sangat terkejut ternyata dari jasanya tadi ia mendapat uang 500.000, padahal ia hanya menyediakan kuenya pada pelanggan tamu tersebut, bukanlah hal yang begitu sulit. Terlebih lagi ia mendapat keuntungan dari sana, ia mendapat beberapa pelanggan baru. Semoga saja ia mendapat orderan dari mereka semua.
"Ya sudah, Mbak. Terima kasih banyak ya, jika Mbak masih membutuhkan kue lagi tinggal order saja ya Mbak, kami akan melayani dengan baik berapapun pesanannya," ucap Mentari memberikan kartu namanya kepada kakak temannya itu.
"Tentu saja. Kue kamu sangat enak. Banyak yang menyukainya."
"Makasih sekali lagi, Mak." Mentari pun langsung bergegas menuju ke parkiran, baru saja ia menyalakan motornya terdengar seseorang berteriak entah memanggil siapa. Mentari menoleh dan ternyata orang yang dipanggil adalah dirinya.
"Aku?" tunjuk Mentari pada dirinya sendiri saat melihat pria yang bernama Dewa itu berjalan cepat ke arahnya.
"Iya, kamu. Oh ya kenalkan namaku Dewa, namamu siapa?" tanya Dewa mengulurkan tangannya saat berdiri di hadapan Mentari.
"Namaku Mentari, senang berkenalan denganmu. Kamu anak pemilik perusahaan ini ya?" tanya Mentari.
"Mungkin bisa dibilang seperti itu," jawab Dewa.
Mentari langsung merogoh tasnya dan memberikan kartu namanya kepada anak pemilik perusahaan tersebut.
__ADS_1
"Ini, ambil ini. Jika kamu ada acara lagi pesan kue di tempatku lagi ya," ucap Mentari yang mengambil kesempatan tersebut, ia bisa melihat jika Dewa bukanlah orang yang sombong seperti anak pemilik perusahaan lainnya, mungkin saja ia akan kembali mendapat pesanan dari perusahaan tersebut.
"Kebetulan sekali besok ada acara lagi, nanti aku akan koordinasi dengan yang mengatur masalah kuenya, apakah mereka sudah memesan ke tempat lain atau belum, jika belum nanti aku akan rekomendasikan tempatmu ini."
"Wah, terima kasih ya. Aku lihat tadi ada dari beberapa tempat mereka memesan kuenya. Moga salah satu dari tempatku juga."
"Kalau masalah itu aku sama sekali nggak tahu, itu urusan mereka dan perusahaan," jawab Dewa.
Mentari mengambil beberapa kartu lainnya dari tasnya, ada sekitar 10 dan langsung memberikannya kepada Dewa.
Dewa terlihat bingung. Namun, ia tetap mengambil kartu nama tersebut.
Mendengar itu Dewa hanya tertawa kecil dan memasukkan 11 kartu nama yang sudah ada di tangannya itu di saku jasnya.
"Hadiah apa? Tergantung dari hadiahnya. Jika hadiahnya menarik aku akan berusaha untuk mencapai target agar mendapatkan hadiah darimu."
"Ya tentu saja kue, tapi aku janji akan membuat kue yang lebih enak untukmu. Bagaimana? Tapi kamu harus mencapai target yang aku berikan," ucap Mentari, entah mengapa ia merasa akrab mengobrol dengan Dewa, seolah mereka sudah lama berkenalan padahal mereka baru hari ini bertemu setalah kecelakaan beberapa waktu lalu begitupun dengan Dewa. melihat Mentari yang langsung akrab dengannya membuat ia pun juga melayani apa yang diucapkan oleh Mentari.
__ADS_1
"Baiklah, aku setuju. Berapa target yang harus aku capai untuk mendapat satu hadiah?" tanya Dewa.
"100, targetnya 100 kotak. Jika kamu sudah menjual 100 kotak aku akan memberikan satu hadiah untukmu. Sudah dulu ya, aku harus pulang sekarang. Lihat, aku punya beberapa pesanan lagi yang harus aku buat dan antarkan," ucap Mentari memperlihatkan buku catatan kecil yang sejak tadi digantung di lehernya. Itu adalah catatan dari pesanan kue yang beberapa orang order secara online, ia akan langsung mencatatnya takut jika sampai ia lupa. Mentari sudah mencatat 5 kue spesial dan 8 kue biasa.
"Ya sudah, senang bertemu denganmu," ucap Dewa membuat Mentari pun mengangguk dan kembali menyalakan motornya. Namun, baru saja Mentari ingin melajukan motornya, Dewa menghentikan Mentari dan melihat motor Mentari yang masih baret di bagian kanan body motornya dan ia yakin itu adalah bekas jatuh kemarin.
"Kamu belum memperbaiki motormu?" tunjuk Dewa pada beberapa kerusakan di motor Mentari.
Mentari hanya tersenyum lebar.
"Nggak papa kok, motorku masih bisa dipakai, daripada memperbaikinya lebih baik uangnya aku pakai buat modal saja. Lagi butuh modal banyak," jawabnya dengan sedikit malu-malu mengakui kebenarannya.
"Jangan bilang kamu juga nggak ke rumah sakit untuk mengobati luka-lukamu?" ucap Dewa lagi yang terkejut mendengar pengakuan Mentari.
Mentari hanya menarik garis senyum di wajahnya, kemudian ia pun dengan cepat melajukan motornya meninggalkan Dewa yang terlihat terkejut. Mentari lebih mementingkan menyimpan uangnya sebagai modal daripada mengobati dirinya sendiri.
"Hai, Tunggu!" panggilnya. Namun, Mentari sudah melaju pergi dan meninggalkan gerbang kantor. Dewa menggelang melihat tingkah Mentari.
__ADS_1
"Mentari," gumam Dewa dengan senyum tipis di wajahnya.