Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
keputusan Akhir


__ADS_3

Abizar yang sudah tak bisa menahan amarahnya membawa Khanza ke mobilnya secara paksa, yang ada dalam pikiran saat ini hanya menjauhkan Istrinya itu dari Daniel. Abizar bisa melihat tatapan berbeda dari Daniel saat melihat Khanza malam ini dan ia tak terima semua itu.


"Kak, Abi!" seru Khanza saat melihat orang yang menyeretnya secara paksa adalah Abizar, suaminya sendiri.


"Ikut aku!" ucap Abizar tanpa melihat ke arah Khanza dan menjalankan mobilnya.


"Kakak mabuk ya?" tanya Khanza yang bisa mencium aroma alkohol dari Abizar." Kak, Khanza mau turun, hentikan mobilnya! Kakak itu lagi mabuk," pinta Khanza mencoba membuka pintu, tapi pintunya terkunci.


"Diamlah dan duduk dengan tenang!"


"Kakak sudah gila ya? Membawa mobil setelah meminum alkohol."


"Aku tidak mabuk, aku masih sadar," ucap menambah kecepatan mobilnya meninggalkan tempat berlangsungnya acara.


Khanza mengeratkan pegangannya, "Kakak mau bawa aku kemana? Aku ingin pulang," teriak Khanza mulai ketakutan.


Abizar tak menjawab dan fokus pada jalan.


"Kak, pelankan mobilnya! Kita bisa celaka," teriaknya lagi, Namun Abizar tak mengurangi kecepatan mobilnya justru menambah kecepatannya.


"Awwww," pekik Khanza Saat Abizar hampir saja menabrak pejalan kaki yang tiba-tiba menyeberang jalan. Beruntung Abizar langsung menginjak remnya dan membanting stir mobilnya sehingga bisa menghindari tabrak itu. Mobil mereka berhenti dan menabrak pembatas jalan.


"Kakak ini kenapa sih, kakak mau bunuh aku?" Seru Khanza geram, tubuhnya masih bergetar karena kaget.


"Membunuh,?" menggelang tak percaya mendengar ucap Khanza. "Apa dalam pikirmu aku sejahat itu? Kamu ibu dari anak-anakku mana mungkin aku berpikir seperti itu, baik saat itu ataupun sekarang, semua itu tak pernah ada dalam pikiran, Khanza. Aku mencintaimu dan ingin melindungimu." Abizar menatap kesal pada Khanza. bayangan saat Daniel memegangnya terus terbayang dan memancing emosinya.


"Untuk apa kakak membawaku dan kebut-kebutan seperti ini? Ini semua ga lucu, Kak."


"Kamu pikir berdansa dengan laki-laki lain itu lucu? Ha? Itu juga nggak lucu." Napas Abizar memburu, menahan emosinya. "Pakaian apa yang kau pakai ini? sejak kapan kamu memakai pakaian seperti ini? Apa kau sengaja ingin merayu Daniel dengan mengumbar tubuh?" ucap menatap tajam pada Khanza, kilatan kemarahan terlihat jelas disana.


"Cukup! Apa kakak pikir aku serendah itu menggoda kak Daniel, aku hanya ingin menghormati tamu, aku masih waras kak. Kami hanya berdansa tak melakukan hal yang aneh."

__ADS_1


"Menghormati tamu dan Hanya berdansa katamu. Kamu berdansa dengan pakaian seperti ini dengan pria lain dihadapan suamimu. Apa itu tidak keterlaluan? Selama ini aku membiarkan apa yang kau lakukan karena aku sadar aku salah padamu, tapi malam ini ku sudah melewati batasanmu."


"Ada apa dengan pakaianku? Banyak yang lebih terbuka dari ini." Khanza tak kalah meninggikan suaranya. "Tuduhan kak tak beralasan, aku dan kak Daniel tak ada hubungan apapun kami hanya berteman. Berdansa di tengah pesta itu hal yang wajar. Pasang yang berdansa tadi juga bukan pasangan mereka 'kan?!" sahutnya tak mau kalah dan menganggap dirinya benar dan tak melakukan kesalahan.


Khanza mencoba menelpon Aqila, Abizar langsung merebut ponselnya dan melemparnya keluar jendela.


Abizar yang masih marah kembali menjalankan mobilnya dan melajukannya ke rumah lama Khanza, rumah itu sudah kosong, para pembantu hanyalah datang sesekali dan membersihkannya sesekali. Hanya satpam yang masih berjaga di rumah itu.


Khanza melipat tangannya di dada, dan melihat ke arah luar, menggigit bibir bawahnya agar isakannya tak keluar. Membiarkan setetes air matanya lolos dari pelupuk matanya. tak ada pembicaraan semua meresa benar.


"Turun!" ucap Abizar membuka pintu mobil saat mereka sudah sampai.


"Aku ingin pulang ke rumahku," ucapnya tak mau turun dari mobil.


Mendengar penolakan Khanza, Abizar langsung menarik Khanza untuk masuk ke dalam rumah secara paksa tak memperdulikan Khanza yang terus memukul lengannya dan menolak masuk.


Abizar membawanya ke kamar mereka dan melemparnya ke atas kasur.


Khanza menatap Abizar dengan membuka jasnya dan melemparnya ke sembarang tempat, membukanya dasinya dan mulai membuka kancing kemejanya satu persatu sambil terus melihat ke arah Khanza.


"Aku meminta hakku sebagai seorang suami dan lakukan kewajibanku sebagai seorang istri."


Khanza meremas kain sprei mendengar apa yang Abizar ucapkan, Khanza masih menatap Kesal pada suaminya itu, ia ingin menolak tapi ia sadar posisinya. Walau bagaimanapun Abizar masih suaminya yang sah secara hukum dan agama dan ia wajib melayaninya.


Malam ini Khanza kembali melayang suaminya, menjalankan kewajiban sebagai seorang istri, air matanya menetes saat suaminya itu mencapai pelepasannya.


Air mata dan aroma alkohol melengkapi penyatuan mereka.


Khanza menarik selimut menutupi tubuh polos dan membelakangi Abizar, memeluk erat bantal guling dan mencoba menguatkan dirinya.


Abizar ambruk di samping Khanza dan mengalungkan tangannya di pinggang Khanza.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Khanza bisa merasakan jika Abizar sudah tertidur pulas bahkan suara dengkuran kecil sudah terdengar jelas di telinganya.


Secara perlahan Khanza menyingkirkan tangan Abidzar yang masih melingkar di perutnya, turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Khanza memilih pakaiannya yang masih tersusun rapi di lemarinya, kemudian keluar dari kamar itu meninggalkan Abizar yang masih tertidur pulas.


Khanza berjalan turun dan dengan menggunakan telepon rumah ia menelpon Aqila meminta Aqila untuk mengirim sopir menjemputnya di rumah lamanya.


Khanza duduk di teras menunggu jemputannya, begitu sopir dan Aqila datang , Khanza langsung masuk ke mobil dan mereka pun pergi dari rumah itu, sepanjang jalan Khanza terdiam dan menyandarkan kepalanya di kaca mobil. Melihat ke arah jendela, Aqila juga tak berani untuk bertanya. Ia bisa melihat jika Khanza sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja matanya bengkak dan wajahnya sembab terlihat jelas jika ia baru saja menangis .


Khanza meminta sopir membawanya ke lokasi, dimana Abizar membuang ponselnya dan dia sangat bersyukur ponsel itu masih ada di sana. Dengan cepat khanza mengambil dan mereka pun pulang.


"Khanza, apa kau baik-baik saja?" tanya Aqila yang cemas melihat sahabatnya itu terus diam.


"Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menjemput ku, kau istirahatlah aku juga ingin istirahat," ucap Khanza naik ke kamarnya.


"Selama ini aku mencoba memberikan waktu kepada kakak dan mencoba menata hatiku kembali agar bisa mempertahankan rumah tangga kita, tapi ternyata aku salah ternyata Kakak memang tidak bisa berubah, Kakak masih saja egois dan tak menganggap perasaanku penting. Sepertinya kita memang harus mengakhiri hubungan ini," ucapnya mengambil ponsel dan mengetik sesuatu.


Lama Khanza menatap ponselnya kemudian


ia menghela nafas dalam dan memantapkan hatinya dan menekan tombol kirim.


Pesan terkirim, Khanza bisa melihat jika pesannya sudah terkirim dan telah dibaca oleh si penerima pesan.


'Aku ingin melanjutkan proses perceraianku,' isi pesan Khanza.


"Khanza sudah memutuskan akan berpisah dari Abizar, urus semuanya dan pastikan hak asuh jatuh ke tangan Khanza, urus secepatnya dan lakukan yang terbaik," ucap pak Matteo pada bawahannya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏

__ADS_1


Salam dariku Author M Anha 🥰🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2