
Abizar masuk ke dalam kamar mamanya, ia melihat mama yang duduk di sudut kasur dengan masih ada raut wajah kesal tersirat di sana, dengan perlahan Abizar menghampiri dan menggenggam tangan mamanya.
"Mah, Aku tahu mama nggak ingin berpisah dari Aziel, tapi mama juga harus mengerti perasaan Khanza, aku sadar Mah, dengan menjadikannya istri kedua aku sudah sangat menyakitinya. Aku sangat bersyukur Khanza bisa mencoba memperbaiki hubungan kami. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk tak menyakitinya, aku hanya bisa terus berusaha untuk membahagiakan mereka berdua. Kalau memang Khanza akan lebih bahagia jika ia pindah ke rumah yang lain, kenapa kita tidak menurutinya saja, Mah."
Warda tak menjawab, ia justru memutar badannya membelakangi Abizar.
Abizar berdiri dan kemudian kembali duduk di depan mamanya, aku mohon, Mah. Jangan bersikap seperti ini, aku sudah sangat pusing menghadapi semua masalahku. Mama bisa bertemu dengan Ziel kapan saja Mama mau. Bahkan Mama bisa membawanya ke sini sesekali, aku yakin Khanza tak akan melarang dia juga tahu jika Mama sangat menyayangi anak kami."
"Apa kamu tak bisa membujuknya untuk tetap tinggal bersama kita di sini. Lagian kalau dia pindah dia akan tinggal sama siapa? Apa dia mampu merawat diri sendiri dan Aziel,"
"Kalau masalah itu, Mama jangan khawatir. Kita bisa menyewa baby sister 1/2 pastikan Khanza akan sangat terbantu, jika Khanza ingin pergi atau tak bisa menjaga Ziel, Aku yakin dia pasti menitipkan kepada Mama atau Farah, aku mengenal Khanza, Mah. Dia bukan orang yang egois dia pasti akan mau berbagi bersama kita membesar Aziel.
Wardah terdiam, dalam hati ia membenarkan jika Khanza memang lebih baik tinghal di rumah yang berbeda, tinggal bersama dengan madunya itu memang sangat menyakitkan, Ia juga seorang perempuan. Namun, semua fakta itu ditepisnya karena rasa sayang pada cucunya.
"Baiklah aku akan setuju, tapi kamu bicarakan sama Khanza, jika Mama ingin membawa Ziel dan menginap di sini dia tak boleh melarang mama."
"Kalau masalah itu aku yakin pasti Khanza akan setuju, aku akan bicara pada Khanza, jika Azil akan sesekali bermalam bersama mama di rumah ini."
Warda akhirnya mengalah dan mengganggu, Abizar memeluk mamanya. "Aku menyayangi kalian semua, aku akan berusaha untuk membuat kalian bahagia, jadi Mama tolong mengerti aku.
Warda kembali mengangguk dalam dekapan putranya, Abizar selama ini sudah menjadi pelindungnya, semenjak suaminya yang telah meninggalkan mereka.
****
Saat makan malam, semua makan dengan tenang. Santi sesekali melirik kepada mereka, terlihat biasa saja.
"Apa ini, kenapa tak ada pertengkaran lagi. Apa Warda sudah memaafkan semua dan setuju jika Khanza pindah," batinnya yang melihat sikap Warda sudah kembali melunak dan sesekali Wardah memberikan lauk kepada Khanza dan juga Farah dengan wajah tersenyum ramah dan mengajak mereka berbincang-bincang. Seperti biasanya, seperti tak terjadi masalah apa-apa siang tadi.
Selesai makan malam Khanza membawa Aziel ke kamarnya, menidurkan anak itu dengan terus menyanyikan lagu tidur yang sering dinyanyikan oleh ibunya saat dia masih kecil.
Khanza kembali mengingat kedua orang tuanya, mengingat masa-masa Ia kecil dan begitu dimanja oleh ayah dan ibunya.
Khanza mengusap lembut penuh sayang rambut putranya. "Mama janji, Mama akan menahan semua rasa sakit demi membuatmu merasakan kasih sayang dari kami semua, Kamu akan mendapatkan kasih sayang dari nenek dari ibu dan dari papamu," liriknya tersenyum kemudian mencium kening putranya.
__ADS_1
"Aziel sudah tidur?" tanya Abizar, yang baru masuk.
"Iya Kak, baru saja," jawabnya.
Abizar duduk disisi tempat tidur, ikut mengusap rambut putranya dan mengecup keningnya menatap wajah yang begitu tenang tak berdosa wajah yang sangat menggemaskan.
"Kak! Apa mama sudah setuju jika aku ingin pindah ke rumah lain?" tanya Khanza menebak-nebak arti dari sikap mertuanya tadi.
"Iya, mama sudah setuju jika kamu akan pindah dan membawa Aziel, tapi jika suatu saat nanti mama ingin membawa Aziel untuk menginap beberapa hari di sini nggak apa-apa 'kan? mama bersikap seperti itu hanya tak ingin berpisah dengan cucunya."
"Aku ngerti kok, Kak. Mama, mbak Farah pasti sangat menyayangi Aziel, aku tak masalah jika sesekali mereka ingin membawanya ke sini. Ziel juga sangat menyayangi mama dan mbak Farah, aku sama sekali tak masalah tentang hal itu."
"Makasih ya, sayang!" Mengecup punggung tangan Khanza. Abizar ikut bergabung tidur sambil memeluk mereka berdua.
*****
Pagi hari Khanza sudah bersiap-siap akan ke kantor, ia sudah membuat janji dengan teman-temannya, mereka akan pergi ke mall sekedar untuk menonton dan shopping.
"Mbak aku titip Aziel ya," ucap Khanza memberikan Aziel ke gendongan Farah.
Farah sengaja membawa Aziel ke taman, Farah yakin jika Aziel melihat Khanza ke kantor bersama papanya pasti Aziel itu akan menangis jika melihat keduanya pergi.
Saat di perjalanan Khanza terlihat sangat tegang.
Abizar mengambil tangan Khanza dan menggenggamnya sambil menyetir,
"Kamu kenapa terlihat tegang seperti itu?" tanya Abizar
"Kak, apa nggak apa-apa aku ke kantor?" tanyanya pelan.
"Memangnya kenapa?"
"Aku merasa takut. Bagaimana kalau mereka semua kembali berbicara yang tidak-tidak tentang ku."
__ADS_1
"Kalau ada karyawan yang berbicara seperti itu, berbicara yang tak baik tentangmu berarti ia memiliki nyali yang sangat besar dan menentang ku," ucap Abizar tanpa melihat ke arah Khanza.
"Sombong sekali sih, mentang-mentang dia bosnya," batin Khanza menatap suaminya, mencoba menarik tangannya yang digenggam Suaminya, Abizar menahan dan justru meletakkannya di dadanya, memberi kecupan sesekali di punggung tangannya. Khanza pun mengalah dan membiarkan nya.
Mereka sampai, Abizar memarkirkan mobilnya di parkiran khusus para petinggi di kantor tersebut.
Khanza kembali menghela nafas berat, dan Abizar tertawa mendengarnya.
"Kamu tahu nggak, kamu itu lucu sekali sih! Abizar memegang kedua pipi Khanza dengan Kedua telapak tangannya kemudian menarik wajah istrinya itu mendekat dan memberikan kecupan gemes beberapa kali di bibirnya.
"Ih! Kakak, nanti lipstikku rusak," ucap Khanza kembali memperbaiki lipstiknya melihat pada kaca spion.
"Enggak kok, masih cantik," ucap Abizar mengacak-ngacak rambut Khanza.
"Kakak, Aku tuh capek ngarahin rambut kok malah diacak-acak sih," protes Khanza mencoba kembali merapikan rambutnya.
"Kamu tuh ingin tampil cantik di depan Siapa? Kamu itu hanya boleh tampil cantik di depanku," ucap Abizar sebelum membuka pintu dan saat sudah berdiri di luar Khanza tetap berada di dalam mobil.
Abizar berputar dan membuka pintu mobil untuk Khanza.
"Ayo turun," ucap Abizar mengulurkan tangannya.
"Aku tunggu di sini saja ya, kakak masuk aja duluan. aku mau nunggu yang lainnya di sini saja," jawab Khanza, ia masih takut untuk masuk ke sana.
"Keluar, ayo kita masuk," ucap Abizar dengan mode perintah, tak ingin di bantah. Khanza perlahan keluar dan melihat perusahaan Suaminya yang menjulang tinggi, dia bisa melihat beberapa karyawan datang lebih pagi, membuat jantung berdebar kencan.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote, dan, komennya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Sambil menunggu update terbaru, bisa mampir ke karya tamanku,