
Walau sudah mendapat pertolongan dari dokter. Namun, nyawa ibu Mentari sudah tak bisa diselamatkan, dengan berat dokter pun mengatakan jika Rusmi telah meninggal.
Mendengar perkataan dokter Mentari sangat syok, dia menggeleng cepat dan menatap dokter dengan lelehan air matanya.
"Dokter pasti bercanda, ibuku nggak mungkin meninggal!" ucapnya semakin terisak, ia terus menggoyang-goyang lengan ibunya yang sudah tak bernyawa.
"Ibu, bangun! Ibu bangun! Ayo kita pulang, Bu. Ibu ga boleh ninggalin Mentari. Ayo kita pulang, masih banyak pesanan yang harus kita buat, Ibu bilang kan kita nggak boleh mengecewakan pelanggan, ayo bangun, Bu! Mentari hari ini punya banyak pelanggan baru," ucap Mentari terus menggoyangkan lengan ibunya dengan menagis histeris membuat Azriel yang sejak tadi ada di samping kekasihnya itu pun menarik dan langsung memeluknya.
"Mentari, ikhlaskan ibumu," ucap Azriel, ia tahu saat ini kekasihnya itu pasti sangat terpukul, ibu adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki. Sekarang ibunya telah meninggal dan tak ada lagi yang menjadi tempat sandarannya kecuali dirinya.
"Ibu ... Kembalikan ibuku."
__ADS_1
"Mentari, ibumu sudah tenang disisi sang pencipta. Kamu harus ikhlas melepaskan kepergiannya."
"Enggak mau, aku nggak mau. Ibu pasti akan sembuh, aku mohon bawah ibu ke rumah sakit yang lebih besar, Ziel. Apapun akan aku lakukan untuk membayar biaya rumah sakitnya," ucap Mentari yang menatap mata kekasihnya dengan lelehan air matanya. Namun, Azriel hanya bisa menggeleng dan kembali menarik Mentari ke dalam pelukannya, biarkan kekasihnya itu menangis dalam dekapannya.
Dewa, Aisyah dan juga Erwin hanya bisa tertunduk ikut merasa sedih dengan kepergian dari ibu Mentari, mereka bisa mendengar tangisan memilukan dari Mentari. Namun, mereka tak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan ibu Mentari untuk kembali bersama dengan Mentari.
Tak lama kemudian Khanza dan Abidzar pun datang, mereka mendapat kabar jika ibu Mentari sudah meninggal dari Aisyah.
"Mentari, kamu yang sabar ya, Nak," ucap Khanza yang kini memeluk kekasih dari putranya itu, ia bisa melihat raut wajah kesedihan di wajah Mentari yang kini hanya terduduk lemah sambil menatap jasad ibunya yang sedang diurus kepulangannya oleh beberapa perawat, Azriel dan juga Dewa.
"Yang sabar ya, Nak," ucap mereka semua yang kini sudah berkumpul di kediaman Mentari, semua para tetangga Mentari mencoba menyemangati Mentari agar bisa ikhlas menerima kepergian ibunya.
__ADS_1
Mentari hanya terus mengangguk dengan Aisyah yang terus ada di sampingnya, sementara itu Khanza mengurus hal-hal lainnya untuk pemakaman tersebut begitupun dengan Azriel dan juga Abidzar. Dewa juga tak ketinggalan, ia ikut hadir di acara pemakaman dari ibu Mentari.
"Ibu, kenapa Ibu meninggalkan Mentari? Nanti Mentari sama siapa, Bu?" ucap Mentari yang hanya bisa melihat jasad ibunya yang sudah terbungkus kain kafan dan siap untuk dibawa ke pemakaman.
"Mentari semuanya sudah siap, apa kita bawa ibumu sekarang?" ucap Azriel, bukannya menjawab Mentari kembali terisak. Ia tak rela ibunya di bawah pergi darinya. Namun, ia sadar ibunya telah meninggal dan harus segera dimakamkan.
Mereka semua memberi waktu untuk Mentari, membiarkan Mentari meratapi nasibnya. Biarkanlah dia menangis, hal itu wajar. Rusmi adalah ibu kandungnya, selama ini mereka hanya berdua berjuang bersama, kedekatan mereka membuat Mentari tak bisa kehilangan sosok ibu yang sangat dicintainya itu.
Khanza terus mengusap punggung Mentari yang kini menangis di pelukannya. "Ayo, Nak. Kita harus segera memakamkan ibumu," ucap Khanza di mana hari sudah menjelang sore.
Mentari pun dengan hati yang sangat terpuruk mengangguk, membuat Abidzar dan Azriel segera membawa jasad ibu Rusmi menuju ke pemakamannya.
__ADS_1
"Ibu, Mentari ikhlas. Ibu yang tenang di sana, Ibu tak usah mengkhawatirkan Mentari, Mentari akan selalu mengingat kata-kata Ibu, mengingat pesan-pesan Ibu, mengingat ajaran Ibu. Mentari akan membuat Ibu bangga pada Mentari," ucap Mentari begitu melihat ibunya diturunkan ke liang lahat. Mentari mencoba mengikhlaskan dirinya melihat kepergian sang ibu tercinta ke peristirahatan terakhirnya.
Taburan bunga mawar dan siraman air mawar serta kiriman doa-doa Mentari persembahkan sebagai persembahan terakhirnya kepada sang ibu.