
"Mentari, kamu serius, Nak?" tanya Rusmi terkejut saat Mentari mengabarkan jika mereka mendapat orderan 12 kotak, saat Mentari pulang untuk mengambil kue pesanan yang akan diantarkannya ke pemesannya via online.
"Iya, Bu. Bahannya apa cukup? Jika tidak catatkan untuk Mentari beli, nanti sekalian Mentari antar pesanan ini," jawabnya membuat Rusmi langsung mengecek bahan-bahan yang masih ada di dapur.
Selain pesanan 12 kotak kue yang resep baru mereka juga mendapat pesanan kue biasa sekitar 8 kotak membuat bahannya yang di butuhkan cukup banyak. Juga untuk di titipkan di 10 warung seperti biasanya. Mereka akan membuatnya malam nanti.
Rusmi yang melihat masih banyak kekurangan di bahan-bahannya mulai mencatat apa-apa yang akan dibeli oleh putrinya.
"Begini saja, kamu antar lah kue-kue itu, belanjaan ini biar ibu yang ke pasar. Ibu nanti pakai ojek saja kesana. Biar nanti setelah ke pasar ibu langsung buat saja sebagian agar kita tak terlalu begadang malam nanti," jelas ibu membuat Mentari membenarkan akan hal itu, ia mungkin akan pulang selepas magrib selesai mengantar pesanannya, karena jaraknya cukup jauh. Jika ia harus kembali berbelanja mereka akan kehilangan banyak waktu. Walau bekerja mereka juga harus beristirahat yang cukup.
"Ya sudah, Bu. Kalau begitu aku antarkan kue-kue ini dulu," ucap Mentari membuat Rusmi pun juga bersiap untuk ke pasar.
Mentari sudah berangkat mengantar kue-kue tersebut ke tempat tujuannya, sementara Rusmi juga sudah berbelanja di pasar, akan membeli bahan-bahan yang kurang. Ia sengaja membeli bahan yang lebih dari yang mereka butuhkan agar jika ada pesanan lagi keesokan harinya mereka sudah memiliki bahan untuk membuatnya.
"Wah, Bu. Ibu punya pesanan banyak ya?" tanya penjual di mana ibu Mentari itu sering membeli bahan-bahan kuenya di sana.
"Iya, Bu. Alhamdulillah, teman-teman Mentari banyak yang order, selain dititipkan di warung sekarang Mentari juga menjual ke teman-temannya dan juga menjual melalui internet," jelas Rusmi.
"Iya, Bu. Sekarang serba modern, kita juga harus mengikuti trend, banyak anak-anak muda yang lebih memilih memesan melalui media sosial begitupun dengan ibu-ibu rumah tangga lainnya, karena selain mereka bisa melihat dan banyak pilihan. Pemilik barang juga mengantarkannya langsung ke tempat tujuan," ucap ibu tersebut.
__ADS_1
"Iya, benar. Semoga saja ke depannya kue-kue kami lebih laris," ucap Rusmi yang diaminkan oleh beberapa ibu-ibu yang berbelanja di sana, mereka sudah saling kenal karena sering berbelanja bersama di toko itu. Beberapa dari mereka juga merupakan pengusaha yang baru merintis dalam bidang kuliner, sehingga beberapa dari mereka sering bertukar resep masakan baik itu kue ataupun masakan-masakan lainnya.
Setelah membeli semua barang-barang kebutuhannya, ibu Mentari pun pulang dan ia tak membuang waktu. Rusmi langsung membuat beberapa adonan sambil menunggu Mentari pulang.
Sedangkan Mentari telah selesai mengantar pesanannya, ia pun langsung pulang, ia sudah tidak sabar untuk membuat pesanan teman-temannya.
Mentari melihat jamnya sekarang sudah hampir pukul 06.00 membuat ia pun melajukan motornya dengan cukup laju, ia tak ingin sampai di kediamannya sebelum magrib.
Di saat tengah melajukan motornya sebuah mobil tiba-tiba menabraknya dari belakang. Mentari yang tak bisa menguasai kendaraannya pun terjatuh.
Mentari meringis kesakitan. Namun, ia tetap mencoba untuk berdiri dan melihat siapa si pemenabrak tersebut.
"Keluar kamu, keluar! Kamu ga punya mata ya. Dasar, mentang-mentang punya mobil seenaknya saja menabrak orang. Memangnya ini jalan punya nenek moyang kamu? Ha? Keluar lho! Seenaknya saja menabrak orang, sakit tau. Kamu harus tanggung jawab. Motor saya juga rusak," kesal Mentari Karena ia merasa ia tak punya salah, ia tak merebut jalan orang.
Mentari memundurkan langkahnya dengan napas yang memburu menahan amarah saat melihat pintu mobil itu pun terbuka.
"Maaf, saya sedang buru-buru. Saya tidak sengaja, ini ambil ini, ini kartu nama saya dan ini uang akan mengganti rugi motor kamu yang rusak dan juga pergilah ke rumah sakit, mengobati lukamu." Orang tersebut menyodorkan sebuah amplop coklat. "Maaf saya harus pergi sekarang. Jika masih kurang hubungi saja nomor yang ada di kartu nama itu. Permisi," ucap orang tersebut menyodorkan kartu nama nya kemudian ia kembali masuk ke mobilnya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan Mentari dan motornya yang masih terbaring di aspal.
Mentari yang masih melongo melihat orang tersebut dan membaca kartu namanya. "Dewa." Mentari membaca nama yqng tertera di sana.
__ADS_1
Ia yang tadinya ingin melabrak orang tersebut tak bisa berkata apa-apa saat sosok pria tampan keluar dari mobil itu.
Mobil itu pun melaju pergi meninggalkan Mentari, sesaat kemudian barulah Mentari tersadar jika orang yang menabraknya sudah pergi.
"Mengapa aku tak marah?" gumamnya memaki dirinya sendiri kemudian ia pun langsung melihat isi amplop tersebut yang penuh dengan lembaran berwarnah mereh. "Waw."
Mentari dengan cepat memasukkan kembali uang itu ke dalam amplop dan mengamankannya di tasnya. Ia berjalan menuju motornya, mengecek motornya apakah ada yang rusak atau tidak. Semuanya baik-baik saja hanya lecet di bagian kap motornya. Namun, itu tak masalah untuknya. Lukanya juga tak begitu parah hanya lecer di bagian siku dan lututnya saja.
"Daripada dipakai untuk memperbaiki motor dan ke rumah sakit mending dipakai buat modal saja," ucap Mentari saat melihat uang lembaran 100.000 yang ada di amplop dari lumayan banyak.
Ia yang tadinya marah mendapatkan uang yqng lumayan membuat ia kembali tersenyum walau dengan sedikit mengalami beberapa luka. Namun, itu sama sekali tak masalah untuknya, Mentari kembali melajukan motornya menuju ke rumahnya.
Mentari yang melihat ibunya sudah sibuk di dapur memilih untuk masuk ke kamarnya terlebih dahulu, ia tak ingin membuat ibunya khawatir dengan melihat kondisinya.
Celananya robek dan ada tetesan darah terlihat di sana, ia pun mandi dan membersihkan lukanya dan memastikan luka itu tak dilihat oleh ibunya.
Setelah ia membersihkan diri ia pun membantu ibunya di dapur.
Malam itu mereka sibuk membuat pesanan tersebut dan baru bisa tidur saat lewat tengah malam dan akan lanjut saat subuh besok, itulah rutinitas mereka setiap harinya demi mengasilkan rupiah.
__ADS_1
Semakin banyak pesanan akan semakin terkuras waktu mereka. Namun, Mentari tak akan menyerah, ia akan berusaha untuk mencari pelanggan lebih banyak lagi.