Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Keinginan Aziel


__ADS_3

Malam ini Abizar tak bisa tidur, dia terus memikirkan Khanza dan anak-anaknya yang ada di luar negeri. Bagaimana jika mereka akan menetap di sana.


"Ada apa Mas?" tanya Farah yang melihat Abizar yang sejak tadi berbaring di sampingnya dan terlihat begitu gelisa.


"Khanza dan anak-anak ada di luar negeri sekarang," ucapnya.


"Luar negeri? Apakah mereka akan tinggal di sana?" tanya Farah melihat Abizar penuh tanya.


"Mas juga tidak tahu pastinya, tapi menurut Pak Matteo mereka hanya seminggu di sana. Aku hanya takut Khanza memutuskan untuk tinggal di sana." Abizar menatap lurus kedepan ia bersandar di sandaran tempat tidur.


"Aku rasa tak masalah jika Khanza tinggal di sana, dia bisa belajar banyak di bawah bimbingan Pak Matteo langsung. Lagian kalau Khanza tinggal di luar negeri kita masih bisa menjenguknya, kita kan bisa kesana," ucap Farah ikut bersandar di sandaran tempat tidur.


"Iya itu benar, tapi entah mengapa aku lebih suka jika mereka tinggal di kampung," bersama kakek dan neneknya.


"Sudahlah Mas, Khanza pasti bisa menjaga anak-anak walau dia di luar negeri. Khanza ibu yang hebat sebaiknya Mas tidur, kalau Mas mengkhawatirkannya kita bisa pergi kesana jika Mas tak banyak pekerjaan, Aku juga ingin mengunjungi bisnis ku disana, aku sudah sangat lama meninggalkannya.


Abizar melihat pada Farah, Farah benar tak ada salahnya mereka menyusul ke sana.


"Ya sudah, Mas selesaikan pekerjaan Mas di kantor sebelum kita pergi," ucap Abizar kemudian mereka pun tertidur.


Di luar negeri,


"Mama aku mau telepon Papa," rengek Aziel yang terus meminta ingin berbicara dengan papanya.


"Sayang di negara kita sekarang sudah malam Papa pasti sudah tidur, Mama nggak enak bangunin papa." Khanza mencoba membujuk putranya yang sudah hampir menangis ingin menelpon Papanya.


"Tapi, Ziel ingin memperlihatkan gambar gambar Ziel ke Papa, Mah" ucap Aziel masih terus memberikan ponselnya mamanya agar mamanya melakukan panggilan video ke ponsel papanya.


"Memangnya gambar apa sih, yang jagoannya Mama gambar?"


Ziel berlari mengambil gambarnya dan memperlihatkan gambarnya pada Mamanya, Ia baru saja selesai menggambar dan ingin memperlihatkan hasil gambar pada papanya.


"Emangnya Aziel gambar apa ini, sayang?" tanya Khanza melihat coretan acak anaknya. Khanza yang tadinya duduk sambil bekerja dengan laptopnya menghampiri membawa Aziel ke pangkuannya dan memperhatikan gambar anaknya itu.


Khanza sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya, ia membiarkan Aziel menggambar dengan pewarna yang sudah ia siapkan, membiarkan alat gambarnya berserakan di hampir setiap sudut kamar itu, Bibi hanya terus mengawasinya. Mereka membiarkan Aziel melakukan apa saja yang di inginkannya selagi itu tak melukainya dan ia meresa senang.

__ADS_1


Aziel gambar Mama, Papa, Bubu, Ziel dan ade Aisyah," ucap Aziel menunjukkan gambarnya. Gambarnya tak jelas. Namun, Khanza bisa mengerti jika itu adalah gambar mereka, Aziel sepertinya sangat menginginkan mereka tinggal bersama.


"Ziel kangen Papa?" tanya Khanza.


Aziel mengangguk, "Kenapa papa dan bubu tidak tinggal di sini juga sama kita. Rumah ini sangat besar Papa dan Bubu bisa tinggal di sini juga sama kita, nanti Ziel izin sama paman Matteo," ucapnya menerangkan keinginannya.


Aziel suka tinggal di sini?" tanya Khanza membawa putranya itu kepelukannya.


"Iya Mama, apa kita akan tinggal di sini?"


"Tidak sayang, kita akan tinggal di rumah kakek, tapi sesekali kita akan pergi ke sini jika Mama ada kerjaan," jelas Khanza menatap wajah tampan putranya.


Wajah Aziel semakin besar samakin mirip dengan papanya, terkadang Khanza kesal sendiri saat memandang nya.


"Papa akan tinggal bersama kita juga?" tanyanya lagi masih berharap mereka bisa tinggal bersama.


Khanza hanya tersenyum menjawab pertanyaan anaknya sambil mengusap rambutnya lembut.


"Ziel gambar lagi ya, mama ingin lihat gambar Aziel yang lainnya." Mengajaknya kembali ke tempat Aziel menggambar.


Aziel langsung mengambilnya dan kembali menggambar serupa ia menggambar coretan dan menyebut kalau itu adalah Papanya, mamanya, dirinya dan juga adiknya.


"Ini untuk mama," ucap Aziel memberikan gambar nya lagi pada mamanya.


"Makasih ya sayang," ucap Khanza tersenyum melihat gambar putranya. Itulah impiannya saat pertama kali melihat Abizar, hidup bahagia bersama pria yang pertamakali mengajarinya apa itu perasaan jatuh cinta dan membesarkan anak-anak mereka bersama-sama.


Kemudian Aziel mengambil satu kertas lagi.


"Aziel menggambar apalagi sayang?"


"Aziel lagi menggambar bubu," jawab Aziel masih sibuk menyalakan gambar nya.


Aziel kembali menggambar coretan dan


mengatakan kalau itu adalah bubunya dan dirinya.

__ADS_1


"Mama sama papa sama adek Aisyah nya mana?" tanya Khanza saat melihat hanya ada dua coretan disana.


"Papa biar jaga Mama saja sama adek Aisyah, Aziel yang jaga Bubu," ucapnya dengan senyum polosnya.


"Ziel nggak mau ya tinggal sama Mama sama Adek Aisyah?"


"Mau Mama, tapi kasihan adik Aisyah dia pasti ingin tinggal sama papa, kalau Papa yang jaga bubu Papa tidak akan bertemu dengan adik Aisyah. Ade pasti kangen papa. Kalau Aziel yang jaga bubu nanti biar Papa yang ke sini biar bisa bermain dengan adik Aisyah," jelas Aziel panjang lebar.


Khanza sangat terharu mendengar ucapan Aziel, Ia sudah menjadi kakak yang sangat dewasa, dia sudah memikirkan kebahagiaan adiknya membuatkan Khanza merasa sangat bahagia. Namun, Ia juga merasa sedih karena telah memberikan keluarga yang tak lengkap kepada mereka berdua. Memilih menjadi ibu yang egois dan memisahkan mereka dari Papanya.


"Maafin Mama ya sayang, Mama jahat sama kalian, karena Mama Ziel dan adek nggak bisa ketemu sama papa," ucap Khanza mengecup kedua tangan Aziel yang penuh dengan pewarna.


"Iya, Aziel maafin Mama," celetuknya dengan polosnya. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud oleh mamanya. Hanya mengerti kata maaf dan ia ingin menjadi orang yang pemaaf.


Selama ini Aziel berpikir jika ia dan Papanya berbagi tugas, jika Papanya menjaga bubu berarti ia harus bersama dengan mamanya dan begitupun sebaliknya jika Papanya yang menjaga mamanya dialah yang menjaga bubunya.


Khanza akhirnya menutup laptopnya dan menghentikan pekerjaannya kemudian mereka belajar menggambar bersama.


Khanza juga membawa Aisyah yang sudah mulai aktif ikut bermain bersama walau Ia hanya duduk di kursi bayinya dan tertawa melihat mama dan kakaknya yang juga tertawa.


Bibi tersenyum melihat kebahagiaan mereka, dia merasa kasihan melihat anak-anak asuhnya, tapi disisi lain dia merasa bahagia melihat kegigihan Khanza untuk menghibur mereka di sela-sela kesibukannya.


Khanza sudah terbiasa mengurus keduanya, ia menjadi ibu yang baik untuk kedua anaknya dan mulai menjadi pemimpin perusahaan.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like vote dan komennya 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Mampir kak ke karya ku yang lainnya ya 🙏

__ADS_1


__ADS_2