
Tatapan tajam Santi menjemput mereka semua yang baru pulang, Santi melipat tangannya didada berdiri di teras rumah melihat mobil mereka memasuki gerbang dan mengarah kepadanya.
Abizar bisa melihat kemarahan di wajah mertuanya itu. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, dalam hal ini Ia memang telah melakukan kesalahan.
"Pasti yang akan jadi sasaran adalah aku," batin Khanza.
Kakek dan nenek saling melihat. Sepanjang perjalanan pulang, mereka semua terus membahas tentang Santi, kakek dan nenek mengerti jika mertua dari suami cucunya itu pasti sedang sangat marah kepada mereka semua.
Semua turun dari mobil tanpa ada yang bersuara.
"Mah," sapa Farah menghampiri mamanya mencium punggung tangannya kemudian dengan cepat masuk kedalam saat Mamanya tak menggubrisnya.
Abizar mendekat,
"Kamu tega-tega nya ya, ninggalin Mama di sana. Apa kamu segitu tak menghargainya Mama sampai lupa jika kita pergi bersama ke luar negeri, apa saat pulang kamu tak merasa ketinggalan sesuatu?! tanya Santi bertolak pinggang, nafasnya memburu menatap tajam pada menantunya itu.
Warda yang tak ingin ikut campur langsung mengajak kakek dan nenek masuk ke dalam, Aziel juga ikut di gendongannya.
Khanza berjalan pelan tadinya dia juga ingin segera masuk menyusul yang lainnya.
"Khanza," panggil Santi membuat Khanza yang sudah akan masuk ke dalam menghentikan langkahnya dan berbalik berjalan menuju ke arah Santi yang memanggilnya.
"Semua ini pasti gara-gara kamu 'kan." Khanza terkejut mendengar ucapan Santi. "Kamu yang memanggil suami kamu, iya kan?" tuduh Santi menunjuk pada Khanza.
Khanza tak bisa berbicara, dia hanya menggeleng, mengatakan jika ia tak tahu apa-apa mengenai masalah itu.
"Mah, Khanza tak ada sangkut-pautnya tentang kepulanganku ini, semua murni kesalahanku. Aku yang terburu-buru untuk pulang dan melupakan Mama di sana," jelas Abizar tak ingin jika Khanza lagi-lagi dipersalahkan dalam situasi ini, yang jelas dia yang melakukan kesalahannya.
"Kamu jangan terus-terusan membela istri kamu, itulah yang membuatnya besar kepala. Kau terus saja berada di depannya menjadi pelindungnya walau dia berbuat kesalahan."
"Aku bener-bener nggak tahu tentang masalah ini," ucap Khanza membela dirinya sendiri.
"Diam, kamu," bentak Santi pada Khanza.
"Khanza. Abizar dan Farah menyayangimu, Jangan jadikan alasan itu membuatmu menjadi besar kepala dan merasa diatas angin, dan kamu bisa mengatur mereka berdua. Bahkan mereka berdua sudah kurang ajar padaku sekarang ini, itu semua karena kamu, asal kau tahu Farah selama ini selalu menurut apa yang aku katakan, tapi semenjak kau hadir di keluarga kami semua menjadi kacau tak terkendali. Menantuku sendiri sudah tak menghormatiku lagi sekarang."
"Mah, Khanza benar-benar tidak tahu masalah ini. ini murni kesalahanku, jika Mama ingin marah, marahlah padaku jangan pada Khanza," tegas Abizar tak terima ucap Santi.
__ADS_1
"Bela terus dia, bela terus istri mudamu ini," ucap Santi tak kalah meninggikan suaranya, kemudian berjalan masuk meninggalkan mereka.
Khanza tertunduk, ada butiran air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
Abizar mendekati Khanza,
"Maafkan mama ya, jangan diambil hati. kamu tak salah apa-apa dalam hal ini," ucap Abizar mengelus punggung Khanza.
Khanza menepis tangan Abizar dengan kasar kemudian berlari masuk menuju kamarnya.
Farah mendengar apa yang Mamanya katakan pada Khanza. Ia tak bisa berbuat apa-apa untuk membela Khanza atau membela suaminya, Farah tak ingin membuat mamanya semakin marah.
Warda yang sudah tahu pastikan Khanza ada kemungkinan akan mendapat imbasnya, sengaja membawa kakek dan nenek menjauh.
Warda sengaja membawa kakek dan nenek ke taman belakang bermain bersama Aziel.
Abizar berjalan gontai ikut masuk ke dalam.
"Mas, maafin mama aku ya," ucap Farah merasa tak enak.
"Sudahlah, aku tak masalah jika Mama marah padaku karena ini memang salahku, tapi mengapa dia harus marah pada Khanza dan melampiaskan kemarahannya padanya."
"Nggak usah, Biar aku saja. Sebaiknya kau beritahu mamamu agar jangan menyalahkan Khanza lagi kedepannya, aku tak mau kakek dan nenek beranggapan yang buruk pada kita," ucap Abizar yang mendapat anggukan dari Farah.
Abizar masuk ke kamar Khanza dan melihat istrinya itu sedang menutup tubuhnya dengan selimut. Lebih tepatnya melilitkan nya ke tubuhnya.
Abizar menarik selimut itu. Namun, Khanza semakin mempererat melilitan tubuhnya.
"Aku minta maaf, ini semua salahku, karena aku kau jadi mendapat imbasnya. Maaf ya," ucap Abizar terus mencoba membuka lilitan selimut yang melilit tubuh istrinya itu.
"Khanza berhenti bergerak," ucap Abizar yang kesulitan membuka lilitannya.
Semakin Abizar mencoba membukanya, semakin Khansa memberontak hingga mereka berdua layaknya dua pegulat yang sedang beradu, tanpa mereka sadari mereka sudah ada di pinggiran kasur dan satu gerakan membuat mereka berdua terjatuh ke lantai.
"Awww," pekik Khanza yang terjatuh ke lantai dan berada di bawah tubuh Abizar.
"Khanza, kau tak apa-apa?" tanya Abizar dengan cepat membuka lilitan selimut tersebut dan melihat penampilan Khanza yang acak-acakan, rambutnya sudah tak beraturan lagi menutupi seluruh wajahnya.
__ADS_1
Khanza terus mengusap-usap bagian belakang yang terasa sakit.
"Kamu nggak apa-apa 'kan?" tanya Abizar setelah berhasil menemukan istrinya.
"Sakit tau, Kak. Kakak itu berat," keluh Khanza.
"Kamu sih pake acara melilit tubuhmu segala dengan selimut, 'kan kita jadi jatuh."
"Kakak, keluar sana. Aku ingin sendiri, Aku nggak mau lihat wajah Kakak," kesal Khanza.
"Jangan ngambek dong nanti cantiknya hilang."
"Tau, Ah! Aku masih kesel, kenapa sih Tante Santi terus saja memarahiku, tak pernah menghargai ku, Walau hal kecil saja dia akan membesar-besarkan nya dan mengambil kesempatan untuk memakiku."
"Mama Santi memang seperti itu, tapi dia orangnya baik kok," ucap Abizar.
"Baik, Tante Santi hanya baik sama Kak, baik sama kalian saja, tapi nggak dengan ku. Dia itu masih beranggapan jika aku memang benar-benar merebut Kakak dari Mbak Farah." Tangisnya pecah.
"Lihatkan, Kak .Tante Santi saja yang tahu permasalahannya, permasalahan mengapa aku bisa berada dalam situasi ini terus saja menghujatku, apalagi mereka diluar sana yang tak tau apa-apa, mereka pasti menganggapku sebagai wanita yang jahat, wanita yang merusak rumah tangga kakak dan mbak Farah," ucap Khanza yang tadinya kesal kini berderai air mata hingga ia sesegukan.
Walau Khanza diam. Namun, ia tahu saat di kampung banyak yang mencibirnya, ia terus berusaha untuk menutup telinganya dan berpura-pura tuli dengan semua yang mereka katakan.
"Jangan pikirkan apa yang orang lain katakan, aku janji akan selalu membahagiakanmu, membahagiakan Aziel anak Kita." Menghapus air mata Khanza.
"Aku sudah berusaha, Kak. Berusaha untuk melakukannya. Namun, tetap saja hatiku sakit saat orang-orang harus menyebut ku sebagai β¦," Khanza tak mampu meneruskan kata-katanya.
Abizar menarik khanza ke dalam pelukannya. Mempererat pelukannya memberikan kekuatan pada Istrinya. Hatinya ikut merasa sakit mendengar suara tangis wanita yang di cintai nya.
π₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ί
Janganlah menilai seseorang dari luar saja, jangan selalu menghujat seseorang sebelum tahu kebenarannya.
Jika tak mampu mencari tahu kebenaran yang terjadi, diam adalah pilihan yang terbaik.
ππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
__ADS_1
Sambil menunggu update terbaru bisa mampir ke karya temanku ceritanya nggak kalah seru lho kak π€π ini ga berbagi Suami yaπ€